Last Life

Last Life
Kepedulian Dan Ketidakpedulian


__ADS_3

"Terimakasih atas pujiannya nyonya, saya sangat senang anda datang kemari untuk saya," ucapku sopan dan merendah kepada wanita yang menjadi juri penilaian. Dia adalah juri wanita satu-satunya.


"Gadis yang sopan, jika boleh aku ingin berkenalan dengan keluargamu diwaktu waktu senggang?" ucapnya lagi membuatku gelagapan.


"Maaf nyoya, saya memiliki banyak urusan dengan dia kedepannya. Saya takut tidak ada waktu sama sekali bagi dirinya untuk memenuhi permintaan nyonya barusan," ucap Marin dengan suara dibuat laki-laki berusaha untuk membantuku.


Tampak wanita paruh baya didepan ku ini menatap Marin dengan intens dari atas sampai bawah.


"Hmm, tidak apa. Mungkin ada alasan pacarmu tidak ingin menyebutkan marga keluarganya. Kalau begitu terimalah ini," ucapnya kemudian sembari menyodorkan hadiah kepadaku.


Hadiah pemberian wanita paruh baya ini kelihatannya dimasukkan kedalam kotak persegi seukuran kotak sepatu.


Dia menyodorkannya kepadaku dengan senyuman manis diwajahnya, lalu pergi sambil melambaikan tangan kepadaku.


Tak lama setelah beristirahat selama 10 menit akhirnya penilaian ketiga dimulai yaitu penilaian kekuatan tempur ketika melawan suatu makhluk atau monster.


Dan kini para peserta seleksi yang tersisa hanya 16 orang saja dari mulanya berjumlah 20 orang. Dan jumlahnya sekarang ini relatif.


Karena akan dibagi menjadi 8 kelompok 1 kelompok berisi dua orang sebagai partner sementara guna menghadapi makhluk maupun monster mengerikan nantinya.


Yang aku dengar dari penjelasan orang itu ada level tertentu pada penilaian daya tempur ini dan berakhir di level 3 dimana monster terkuat dan mahluk mengerikan akan di munculkan.


"Mohon bantuannya, nama aku Mark. Bisakah kita bekerjasama dengan baik nanti?" ucapnya dalam bahasa nasional.


"Ya, nama aku Jisan. Senang berkenalan dengan anda," balasku dengan senyum ramah menjawabnya menggunakan bahasa pria bule ini.


Ternyata aku akan berpasangan dengan pria berambut cokelat dan mata biru ini, kemungkinan dia berasal dari negara yang berbeda denganku.


Seperti biasa aku menyebutnya ronde pertama di bagi menjadi dua tahap, setiap tahap terdapat dua kelompok.


Sayangnya aku masuk di tahap pertama, dan hilang sudah harapan mencari tips dan trik saat melihat Marin beraksi mengalahkan monster dan makhluk di penilaian ini.


Marin sendiri masuk pada tahap dua dan kini sedang menyemangati diriku di kursi penonton, meskipun kelihatannya hanya mengangkat satu lengannya tanpa berteriak dengan wajah datar. Tapi itu cukup buatku.


"Level pertama disebut Nature biasanya akan dimunculkan monster atau makhluk tipe kekuatan alam seperti kayu, air, dan sebagainya!" ujar pria bernama Mark yang menjadi rekanku saya ini.


Sudah memasuki arena yang lebih luas dari sebelumnya didepan kami keluar monster dari dalam penjara berukuran besar yang sebelumnya terpanggil dari mantra seseorang.


Setelah kerangkeng yang mengurungnya lenyap monster berwujud serigala dengan sekujur tubuh penuh tumbuhan dan batu yang menempel kini mendekati kami berdua.



"Menghindar!!"

__ADS_1


Splash!


Cakarannya meninggalkan bekas dalam dan mengerikan pada tanah saat diriku menghindar dari serangan cakarannya barusan, dan sempat menengok kebelakang.


"Pertunjukkan seperti ini tidak ada habisnya, kalian para manusia akan aku habisi demi menghilangkan rasa lapar ku. Karena berani-beraninya mengurung diriku seperti ini," ucap monster serigala itu.


Dia menaruh satu tangannya di tanah, kemudian bereaksi didalamnya seperti halnya ada yang menuju kemari.


Kletak!


Blush...


Blush...


"Hiyaat!" ucapku seraya menghindari serangan tumbuhan berakar yang muncul dari dalam tanah. Tak lupa aku memunculkan pedang berlian guna menebas akar-akar yang mengganggu.


Crak!


Swosh...


Selain itu bebatuan berukuran kecil maupun besar melesatkan ke arahku saat aku melihat monster itu melemparkannya kemari.


Sementara Mark langsung berhadapan dengan serigala itu tanpa ragu, dan sampai saat ini aku belum mengetahui pasti kemampuan dirinya seperti apa.


Splash!


"Jadi kemampuannya pada fisik dan cahaya di tangannya, serta... dia sebelumnya loncat pada udara?"


Setelah berhasil menghindar dari cakaran lurus aku melihat Mark menghantam wajah monster itu dengan pukulannya.


Hanya bergeser dan meninggalkan bekas dalam pada wajah serigala itu.


"Cuih, dasar manusia yang menginginkan mati! Seharusnya kalian berterimakasih karena diriku tidak membunuh kalian dengan rasa sakit." dia kemudian menuju kemari dengan kecepatan yang dimilikinya, setelah melesatkan giginya yang copot.


Diriku berusaha menghindarinya sembari menyerang balik, namun kulitnya yang tebal terlalu susah untuk dibuat terluka.


Menggunakan jebakan berlian yang mampu menahan pergerakan monster ini diriku sekarang berjuang untuk tetap menahannya. Karena setiap detik monster itu berusaha meronta untuk meloloskan diri, berlian yang menyelimuti sebagian tubuhnya mulai pecah.


"Sialan kau, wanita bodoh. Beraninya menahan diriku!" umpat monster itu padaku.


Bugh!


"Luar biasa..." ucapku terpukau saat Mark melakukan aksi terakhir pada monster itu hingga membuatnya tumbang. Pukulannya mengincar kepala serigala itu.

__ADS_1


Brak!


Level pertama akhirnya diselesaikan dengan mudah tanpa cidera yang aku alami, bahkan Mark terlihat baik-baik saja.


Sama seperti sebelumnya tidak ada sorakan dan suara dari para penonton. Mengingatkan diriku pada perkataan orang itu, dia mengatakan jika sebagian penduduk wilayah kerajaan menghilang terbawa oleh pesawat besar yang sekarang ini entah kemana.


Yah. Sebuah pesawat ciptaan Brain guna menyelamatkan para penduduk atas rencana Hiyou.


Keberadaannya sampai saat ini masih belum terdeteksi sama sekali. Terakhir pesawat besar itu menghilang secara perlahan-lahan.


Level kedua dimulai. Kali ini orang itu memunculkan sebuah portal pada arena lalu terlihat monster kedua yang akan kami lawan.


Ajaibnya arena yang rusak ini kembali pada keadaan semula, sebelum diriku maupun Mark melawan monster serigala. Mungkin arena ini telah di selimuti oleh kemampuan ilusi.



"Dia mungkin salah satu dari iblis kegelapan, yang aku tahu dirinya memiliki kemampuan meregenerasi."


"Jika benar apa yang dikatakan oleh pria ini, pasti... melawan iblis kegelapan akan lumayan sulit, tch!"


Mark mulai bersiap untuk menyerang, sementara diriku menunggu strategi darinya.


"Kita akan menyerang makhluk itu sendiri-sendiri, karena di level kedua ini terdapat aturan tidak tertulis. Siapa yang mampu mengalahkan monster atau makhluk seorang diri maka dirinya akan mendapatkan nilai tambah!"


"What!? Apa dia bilang?"


Bodohnya aku hampir lengah karena seseorang bersikap baik kepadaku sebelumnya. Kali ini aku harus memenangkan level kedua, meskipun hanya aku seorang diri.


Mark mendekati iblis itu yang masih tak bergeming setelah keluar dari portal. Sampai akhirnya iblis itu kini mencengkeram ke atas Mark dengan satu tangannya.


Pukulan keras yang meleset membuat Mark harus dalam posisi kesulitan sekarang ini.


Tidak aku ambil pusing, diriku akan tetap membantunya meskipun dia telah melukai hati kecilku.


Namun saat aku mendekat ke arah iblis itu Mark sudah terlepas dari cengkeramannya hingga terjadi perkelahian adu fisik.


Baju yang Mark pakai langsung koyak setelah ia memperlihatkan otot berurat nya itu.


Disela-sela keduanya sibuk aku berusaha mencari celah untuk menyerang iblis ini.


"Heh?"


Tidak kusadari diriku terdorong oleh sesuatu yang rupanya dilakukan oleh Mark dengan teknik hempasan hingga diriku berada dekat dengan iblis ini.

__ADS_1


Sementara Mark mundur kebelakang saat aku melihat gerakan loncatannya lalu berpijak dari posisiku yang dapat merenggut nyawa.


__ADS_2