Last Life

Last Life
Setujunya Mereka Berempat


__ADS_3

"Dengan ini aku bergabung dengan tim kalian untuk mengalahkan raja, masalahnya, kemampuan yang dimiliki olehmu bisa saja tersebar luas saat kita menyerang kerajaan!" ucap Kwen menegaskan dirinya yang ikut bergabung dengan kami disertai permasalahan sebab akibat.


"Dampak buruknya, dirimu bisa saja dicari-cari. Bila perlu ras manusia tidak memiliki kemampuan akan mengancam kita untuk yang ketiga kalinya menggunakan senjata as mereka itu," ujar pria beraura dingin.


"Itu sebabnya aku belum bisa memutuskan dengan pasti akan bergabung dengan kalian," tandasnya.


Jadi itu sebabnya, mengapa Hiyou sebelumnya tidak asal menegaskan akan membantu kami dalam melawan orang-orang kerajaan. Dia hanya mengatakan akan membantuku dalam melarikan diri dari mereka, bukan melawannya.


"Lalu bagaimana akhirnya, apa kita sepakat dalam kerjasama ini?" tanya Willy sepertinya dia tidak sabaran. Dan tidak mengetahui situasinya.


"Situasinya rumit, jadi aku tidak terlalu percaya pada orang-orang yang belum aku kenal. Aku menolak untuk bergabung!" ucap pria berotot seraya bersedekap.


"Huh... kamu ini tidak mengerti juga ya. Baiklah, besok langsung saja kita menuju ke kerajaan bersama tim mu yang lain!" tandas Hiyou.


"Itu yang aku tunggu-tunggu," sahut Willy dengan senyumannya.


"Kenapa kamu setuju dan terburu-buru mengikuti rencana mereka itu, Hiyou?" tanya pria berotot terkejut setelah Hiyou memutuskan setuju dalam membantu kami.


Sementara pria beraura dingin tetap pada wajah poker face nya, meskipun sebelumnya dia memilih untuk tidak memastikan pilihannya itu, antara menolak dan setuju dalam membantu kami mengalahkan orang-orang kerajaan.


"Alasannya karena Ryu sendiri setuju dan sudah menyiapkan rencana repot-repot untuk kita berempat.


"Oke. Aku akan ikut membantu mereka," ucap singkat pria beraura dingin.


"Papa akan ikut, yee..."


Hari sudah mulai sore kini aku keluar sendirian demi mencari udara segar. Meluangkan waktu sendirian agar jiwaku kembali terisi, itu adalah perasaan seorang introvert sepertiku.


Melihat indahnya Padang rumput sejauh mata memandang sembari sesekali melirik keadaan alam sekitaran tempat ini.


Seingat ku sudah seminggu lebih aku berada di dunia ini setelah sesuatu buruk terjadi padaku. Kematian akibat bunuh diri, apa aku pernah melakukannya sehingga berada di dunia yang aneh ini?


Jujur saja aku ingin mengetahui kejelasannya namun hukum dunia ini melarang diriku untuk mengetahuinya.


Yang mana jika aku mengingat kenangan detik-detik terakhir aku bunuh diri maka diriku di dunia ini akan segera lenyap.


Sudah pernah aku buktikan sendiri pada orang yang telah aku ingatkan kenangan buruk itu yang pada akhirnya mereka mati mengenaskan.


Jasadnya bahkan tidak bisa dilakukan tindakan khusus setelahnya, karena lenyap begitu saja seperti debu yang tertiup oleh angin.

__ADS_1


"Haa... aku tiduran di bangku taman ini saja sambil memandangi langit sore."


Istirahat sebentar untuk merilekskan tubuh dan pikiran.


Kemudian mataku terbuka dan baru saja tersadar jika diriku ketiduran entah berapa lamanya aku tertidur di bangku taman ini.


"Kamu sudah bangun, Anita? Kamu sudah satu setengah jam tidur di tempat ini, itu menurut perkiraan ku."


Aku tidak mengenalinya, karena dia membelakangi diriku sambil menengadah menatap langit. Awan oranye sudah terlihat sempurna bersamaan dengan burung-burung yang pulang kerumahnya masing-masing.


"Yanwu? Kenapa kamu bisa ada disini? Bukannya kita akan bertemu di tempat itu?" tanyaku saat orang itu membalikkan badannya yang ternyata dia adalah Yanwu.


"Kami sudah menunggumu terlalu lama Anita, meskipun ada kemungkinan hari ini kami tidak bertemu lagi denganmu dihari yang sama, tetapi lebih baik kami mencarimu. Siapa tahu kamu sedang membutuhkan bantuan."


Bodohnya aku yang tidak mengenali dia ini adalah Yanwu sebelumnya. Dan perkataannya tadi ada benarnya juga.


"Hm, maafkan aku. Kamu tahu sendiri kan, aku ketiduran disini," jelasku.


"Tidak apa-apa, yang terpenting kamu baik-baik saja sekarang. Dan ingat untuk selalu waspada pada sekitaran tempatmu ini jangan tidur seenaknya tanpa pengawasan seperti ini!"


"Iyaa, aku akan mengingatnya selalu. Lain kali aku tidak ceroboh seperti ini," ucapku sembari merenggangkan kedua tangan pada posisi terlentang.


Yanwu mengelus-elus rambutku dengan lembut, entah mengapa aku tidak keberatan sama sekali saat dia melakukannya seperti halnya aku telah terhipnotis olehnya.


Sesekali dimanjakan oleh orang lain tidak apakan, lagipula hari aku sangat lelah.


"Biar aku yang membawamu kedalam, bagaimana?"


"Ehh...!? Tidak usah! Aku bisa jalan sendiri."


Yanwu tertawa kecil sembari menutup mulutnya dengan satu tangan, dia kelihatannya menikmati sekali saat mengerjai ku.


"Lihat saja nanti, aku akan membalas perbuatannya!"


Aku beranjak bangkit dan duduk di bangku taman tempat aku tiduran tadi.


Yanwu kemudian duduk sambil mengeluarkan sebuah buku dari telapak tangannya yang keluar cahaya keemasan pada awalnya.


Tentu saja aku terkejut saat melihatnya bisa mengeluarkan buku dari telapak tangannya semacam aktraksi sulap yang dulu pernah aku mainkan di pesta ulang tahun anak-anak.

__ADS_1


Bedanya Yanwu melakukannya seperti tidak ada trik sama sekali.


"Kamu terkejut bukan, aku mengeluarkan buku dari telapak tanganku tadi?" ucap Yanwu yang membuatku tak habis pikir dia bisa menyadarinya, padahal wajahku sudah aku atur sedemikian rupa.


Wajah tanpa ekspresi dan tenang dalam menghadapi situasi, dulu aku pernah keterusan menggunakannya.


Sampai-sampai teman baikku merasa aneh dengan diriku, ceritanya saat kami menonton film horor di bioskop yang mana aku tidak menunjukkan ekspresi apa-apa sama sekali.


Padahal pria di sampingku terlihat ketakutan dan terkaget-kaget pada saat jumpscare film horor tersebut secara mendadak muncul.


"Padahal yang seharusnya takut pada munculnya sosok itu kan harusnya aku, tapi aku tidak takut sama sekali, malahan aku anggap biasa-biasa saja. Daripada cowo itu yang ketakutannya udah nggak ketulungan."


"Pfff,"


"Eh? Kenapa kamu tertawa, memangnya ada yang lucu ya?" tanyaku kebingungan melihat Yanwu yang terkekeh tanpa sebab.


"Hmm buku ini lucu sekali, ternyata ada cerita pengocok perut didalamnya."


"Oh... kirain apa."


"Hmm oh ya, kamu bisa nggak membuat aku terbang, cuma beberapa menit saja! Dari dulu aku ingin sekali merasakan rasanya terbang dengan diriku sendiri."


"Bisa, tapi kamu harus menyeimbangkan dirimu di udara pada angin kencang saat ini, lihat!" ucapnya sembari menunjuk hamparan Padang rumput yang terdapat angin berputar disana.


"Dan lihat pepohonan disini."


"Anginnya memang sedang tidak bersahabat sekarang ini, tapi kenapa ya aku malah ingin terbang-terbangan. Kayak orang sedang ngidam aja?"


Aku lihat Yanwu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil membaca buku. Dia lalu menatap ke arahku yang sudah beranjak dari bangku, aku yang tidak sengaja melihatnya pun jadi malu.


"Hehe.." tawa kecilku menetralisir rasa malu pada diriku dibalas hembusan nafas kasar dari Yanwu.


Dia kemudian menutup buku yang dibacanya lalu beranjak bangun.


Puk!


Dia menghampiriku dan menepuk pundak ku lalu pergi begitu saja meninggalkan diriku.


"Dasar orang aneh!"

__ADS_1


__ADS_2