
"Kino, menurut kamu kemampuan seperti ini berhubungan dengan imajinasi yang Brain pikirkan?"
"Hmm pendapatku juga begitu, apalagi kemampuan seperti ini butuh fokus dan imajinasi yang tinggi. Maksudku Brain dapat menciptakan mobil ini dengan akurat dan nyata dalam imajinasinya karena dia menciptakannya secara detail!"
"Untuk memperkuat argumen kamu bisa lihat sekitaran mobil ini, didalam dan luarnya. Persis seperti gabungan mobil di dunia kita bukan?"
"Yah, benar apa yang kamu katakan. Jadi Brain seperti halnya mendesain ciptaannya didalam pikiran."
"Begitulah cara dia menciptakan pesawat besar itu, tapi aku tidak nyakin pesawat canggih itu akan dia gunakan untuk menyelamatkan manusia tidak berkemampuan nantinya."
Aku diam dan merenung atas perkataan Kino barusan.
'Memangnya kenapa Kino?"
"Aku mengamatinya bahwa bentuk pesawat itu mirip dengan pesawat tempur yang pernah aku lihat ketika aku masih hidup. Dulu aku pernah mencari tahu soal kekuatan militer dan mempelajari berbagai pengetahuan yang berkaitan dengannya."
Firasat buruk yang pernah aku rasakan sebelum rencana ini dimulai mungkin saja merujuk pada spekulasi yang mengarah pada Brain.
Bahwa dia mungkin saja akan menyerang para penduduk desa melalui pesawat canggih itu untuk mengadu domba antar ras. Yang berkebalikan dengan ucapannya mengenai tujuan pesawat itu diciptakan.
"Tunggu, itu artinya..."
"Dia menginginkan perang antar ras terjadi!"
"Ada apa Anita, kamu terlihat seperti shock gitu. Apa aku mengatakan hal yang membuatmu tersinggung, apa cara berkendara ku yang tidak..
"Bukan apa-apa, hanya saja aku ingat pengalaman pertama diriku saat menaiki mobil, itu momen memalukan sekali dalam hidupku."
"Oh... aku paham maksudnya."
Tenang saja, aku nyakin Brain tidak akan melakukan hal senekat itu. Mengetahui ras manusia tidak berkemampuan memiliki senjata terkuat " pemusnah manusia" ada akibat berbahaya jika dia menjalankan aksi tidak baiknya.
Dan yang terpenting hal tersebut masih sebuah spekulasi didasari oleh dugaan dan firasat buruk yang aku rasakan.
Selama bukan kebenaran diriku sekarang ini masih bisa bernafas lega, namun jika ada maksud lain dari tujuan pesawat itu diciptakan.
Mungkin aku akan mencari tahunya sendiri dengan memasuki ingatan Brain.
"Aku juga paham."
"Tentu saja, kamu ini kan anak kecil yang pintar," ucap Kino memuji Yin seraya menoleh kebelakang dengan senyum ramah.
__ADS_1
"Emm... perkataan kakak sangat manis, tapi sayangnya masih kalah sama orang yang aku..."
Bip!
"Di depan ada yang menghadang kita!" ujar Kino, karena aku pun melihatnya melalui navigasi mobil. Ada dua orang yang sepertinya menunggu kedatangan kami di arah jam dua belas.
Mobil yang dikendarai Brain pun berhenti di depan kami kemungkinan dia hendak membuat keputusan. Apakah kabur guna menghindari konflik atau melawan mereka si penghadang?
"Tenang saja, aku sudah memasang jebakan dibawah mereka. Kita akan melanjutkan perjalanan setelah aba-aba dariku!" ucap Brain suaranya terdengar begitu jelas pada mobil yang aku tumpangi, sepertinya mobil ini dilengkapi oleh sistem canggih didalamnya yang memungkinkan dapat saling berkomunikasi.
"Bahkan mobil ini dilengkapi aksesoris seperti ini juga ya, Anita. Yang dapat memudahkan kita untuk berbicara satu sama lain."
"Hmm."
"Jika perkiraan ku benar, Brain saat ini pasti sedang fokus pada imajinasinya demi menciptakan sesuatu untuk mencegah mereka berdua."
Tapi mereka menyadari jika kami sedang menyiapkan suatu rencana sehingga mereka saat ini menuju kemari dengan berlari.
Keduanya memegang senjata salah satunya memegang tongkat baseball.
"Apa yang harus kita lakukan? Tidak mungkin menunggu didalam dan hanya melihat mereka kemari bukan?" tanya Kino mencoba berkomunikasi dengan Brain, aku lihat mulut Kino mendekati bagian disebelah stir kemudi.
"Cepat lakukan sesuatu untuk mencegah mereka kemari! Atau aku akan menggunakan kemampuan ku!" ucap Nie dari seberang sana yang terdengar jelas didalam mobil yang aku tumpangi.
Posisi mobil yang Brain kendarai berada di depan lumayan jauh dariku yang pertama bakal bertemu dengan mereka berdua.
Brak!! Dap!
"Suaranya..."
"Masalah sudah aku bereskan, sekarang mari lanjutkan perjalanan!"
"Apa yang dia lakukan untuk mengatasi dua orang yang menghadang itu? Apa jebakannya berhasil?" ucap Kino.
"Kayaknya cuma jebakan biasa deh, seperti tanah berlubang, lalu mereka jatuh kedalamnya." sahutku menebak.
"Aku harap seperti itu."
Kino mengucapkannya dengan ekspresi datar seketika.
Sementara Yin aku lihat sedang fokus melihat wajahnya di cermin.
__ADS_1
Saat mobil ini melewati titik dua orang menghadang tadi aku tidak melihat jebakan bawah tanah disekitarnya, dan hanya bekas tanah seperti ada sesuatu yang keluar didalamnya. Itu lumrah karena disebabkan oleh kemampuan Brain.
Bagiku jebakan bawah tanah tidaklah benar, melainkan telah terjadi sesuatu kepada mereka si penghadang sehingga mereka hilang begitu saja beserta sesuatu yang diciptakan oleh Brain.
Keberadaan kami akhirnya sudah dekat dengan kerajaan. Brain lalu menyuruh kami untuk turun dari mobil guna berpindah kendaraan, dia menyebutnya kendaraan lintas bawah tanah.
"Padahal aku suka naik mobil itu, kenapa harus pindah sih!" gerutu Yin setelah turun dari mobil tadi. Dia sepertinya kesal karena harus pindah kendaraan.
Satu hal lagi yang aku pahami dari kemampuan milik Brain, kemampuannya yang bisa menciptakan apapun dalam imajinasinya yang dapat menjadi nyata bisa dihilangkan olehnya.
Menurutku dia bisa menghilangkannya sesuka hati bukan karena ada batas tertentu, tapi perkataannya saat itu mungkin saja hanyalah gertakan agar kami fokus pada misi.
"Jangan bersedih ya."
Sembari mengelus kepalanya dan memeluknya diriku berusaha untuk menenangkan Yin. Kurasa melibatkan anak seumurannya pada rencana ini ada maksud tertentu saat dia diputuskan untuk ikut, Hiyou mungkin saja merencanakan sesuatu yang tidak diketahui oleh siapapun.
"Brain. Kamu sepertinya sudah berubah ya, jadi sering bicara sekarang. Apa dikarenakan posisimu sekarang sebagai ketua tim?" ucap Kino saat Brain sedang fokus. Aku sendiri tidak mengerti kenapa Kino mencoba mengusiknya.
"Kamu jangan mengganggunya..." sahut Nie.
"Yah. Diriku berubah karena misi ini."
"Hehe aku lega jadinya."
Tak lama keluar sesuatu mirip mobil, namun dengan bentuk yang lebih runcing karena didepannya ada semacam mesin bor.
Cuma ada satu dan ukurannya lumayan besar dapat dimasuki lima orang sekaligus.
Kamipun memasukinya pada pintu yang tersedia di samping kiri dan kanan.
Didalamnya sangat menyegarkan karena tercium bau wewangian lemon. Ditambah tempat duduk yang lebih nyaman diduduki.
Hingga tumpangan kami ini mulai masuk kedalam tanah tanpa ada suara berisik yang ditimbulkan dari mesin maupun pengerukan tanah. Itulah yang membuatku bertanya-tanya.
Beberapa menit kemudian, didalam mobil ini terasa hangat dengan sendirinya. Sampai-sampai Yin hendak tidur namun aku cegah.
"Jangan tidur dulu ya Yin!"
"Emm..."
Dia mengangguk menuruti perkataan ku.
__ADS_1