
Ada alasan lain mengapa diriku tertarik untuk pergi ke pasar di desa ini, alasannya demi mencari informasi terkait dunia didalam cincin ruang ini. Yang sekarang aku tempati bersama rekan yang lain.
Menurutku jika benar setiap ras manusia dewa dapat menciptakan dunianya sendiri pasti memiliki kemampuan yang sangat luar biasa, tidak mungkin terkalahkan.
Dan satu pertanyaan selalu terbayang bayang dalam kepalaku, mengapa Yanwu bisa pergi secepat itu. Sekedar terkena serangan senjata manusia tidak berkemampuan.
Harusnya dia berhasil lolos dan menyerang balik, kecuali memang benar demi menolong diriku dan Yin dia sampai segitunya berkorban nyawa.
"Sate apa nona?" tanya penjual sate yang membuatku tersadar dari lamunan.
"Emm ada sate apa aja?" jawabku spontan.
"Hmm, seperti tinggal sate ini aja, sate domba!"
Sambil makan diriku mengobrol dengan Lina didalam gubuk kecil sebagai tempat diriku berteduh sembari menikmati sate domba berbumbu wangi.
"Kebetulan sekali aku kelaparan, dan beruntung sekali aku ikut," ucap Lu Yang sambil melahap setiap sate dengan elegan.
"Ya, gapapa. Kamu memang beruntung sekali," sahutku.
Selesai menyantap sate diriku memutuskan untuk pergi sebentar dengan alasan ingin membeli sesuatu sebagai penghilang dahaga, dan tidak cukup dengan air putih.
Mereka berdua menyetujui karena mereka sendiri masih sibuk pada porsi sate yang belum habis.
Sekarang ini aku mencari seseorang yang bisa dengan mudah aku aja bertanya tanya bila perlu orang bengis sekalipun bisa aku manfaatkan dirinya.
Berjalan sembari melihat aktivitas transaksi jual beli akhirnya aku melihat seseorang cocok sebagai target utamaku.
"Maaf tuan, bisa saya bicara dengan tuan sebentar, ada hal yang ingin aku tanyakan?" ucapku dengan nafas tersengal berlari kecil mengejarnya.
"Boleh, boleh, silahkan kamu mau bertanya apa?"
"Emm... sebaiknya kita bicara di tempat yang sepi, tidak apa kan?" tanyaku sambil menggodanya.
Saat ini aku berada di gang sempit tanpa ada seseorang yang lewat, gang yang diapit oleh rumah penduduk.
"Disini tempatnya sepi, sekarang apa yang ingin kamu tanyakan gadis kecil?"
__ADS_1
Benar benar om tua yang berpikiran mesum tak sabar menahan hasrat diri terpendamnya. Kalau tidak karena tujuan utama diriku pasti tidak mau sekedar dekat dekat dengannya.
"Liat dibelakang!" ucapku sembari menunjuk.
"Eh?"
Gubrak!
"Kenapa kamu malah menyerang ku, apa gadis kecil sepertimu suka adegan tuan dan majikan?"
"Ya enggaklah, aku cuma ingin memasuki ingatan dirimu aja hihi."
Sembari mengikatnya dengan tali yang sempat aku bawa, pria tua ini lalu aku sadarkan pada tembok.
Dirinya yang hendak berteriak aku diamkan dengan dalih seperti gambaran yang dipikirkan olehnya.
"Tidak apa kan, aku yang main pertama..."
"Dengan senang hati gadis kecil."
Mereka semua adalah orang orang berkemampuan yang sengaja di tahan karena kejahatan dirinya.
Beberapa saat berjalan pada gadis ingatan ruang gelap akhirnya aku menemukan ingatan masa kecil pria ini.
Menjelajahi dari umur dari 4 tahun sampai dirinya berumur 45 sekarang ini. Hingga beberapa menit aku mencari, sama sekali tidak ada ingatan dirinya pernah membicarakan tentang manusia berkemampuan maupun melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Merasa tidak puas aku pun terus mencari menggunakan peningkatan kemampuanku.
Sampai diriku merasa sudah dua jam didalam ingatan orang lain melalui ingatan utama pria ini. Dan sama saja tidak ada hasil yang kutemukan.
Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari ingatan pria ini dan bergegas pergi setelahnya. Meninggalkannya dengan sedikit imbalan.
"Kamu lama sekali Anita, ngapain aja?" tanya Lina dirinya sekarang ini masih belum menghabiskan satenya.
"Iya, kayaknya sembilan menit dirimu pergi," sambung Lu Yang.
"Tadi aku mencari ini dan membeli tiga sekalian, minuman dari sari buah!" ucapku seraya membuka keranjang kecil berisi minuman jus buah.
__ADS_1
Setelahnya aku berkeliling mencari sesuatu yang menarik untuk dibeli bersama mereka berdua. Aku bahkan sempat berpikir akan pulang setelah menghabiskan uang pemberian dari Brain yang dia dapatkan dari pihak tertentu setelah menyelamatkan nyawa orang orang.
Berakhir kembali ke tempat sebelumnya aku tinggal semalaman. Sementara rekan baru itu dimasukkan kedalam penjara lagi sementara sampai waktunya membahas rencana utama malam ini.
Di kamar aku bersila untuk fokus memasuki ingatan seseorang dari jauh tanpa melihatnya terlebih. Sesuai dengan peningkatan kemampuan pertamaku yang belum aku latih.
Saat aku memejamkan mata seketika diriku berada di ruang hampa yang hanya ada kegelapan, kemudian berangsur angsur berwarna sekitaran nya persis menggambarkan diriku saat ini.
"Ini kan diriku yang sedang bersila sambil memejamkan mata. Hmm, jadi saat ini aku seperti arwah gentayangan hihi."
Berjalan keluar tanpa diketahui oleh siapapun meskipun aku memanggil Lina yang sedang menonton siaran televisi bersama Yin.
Kemudian meninggalkan rumah ini dengan cara terbang tanpa sayap sama sekali, tapi aku akan memastikan terlebih dahulu peningkatan kemampuan ini.
Terbang lebih tinggi sampai ada batas tertentu yang tidak bisa aku lewati sehingga aku menyimpulkan peningkatan kemampuan ini terbatas pada saat diriku menggunakannya.
Cara satunya agar aku bisa menjelajahi dunia ini dalam wujud seperti ini dengan aku berpetualang dan mengingat gambaran lingkungan yang aku lihat, hingga menjadi memori dalam kepalaku.
"Tinggi sekali aku terbang, dan bagian itu berwana hitam. Berarti aku belum memiliki kenangan yang menggambarkan tempat disana."
"Eh, aku dapet ide untuk bereksperimen. Aku akan memasuki ingatan Brain, lalu akan aku gabungan kan dengan peningkatan baruku untuk memasuki ingatan asli diri Brain dan menjelajahi tempat ingatan aslinya. Aku jadi tidak sabar."
Aku pun turun dari ketinggian yang lumayan tinggi dari permukaan menuju penjara mistik, karena Brain sebelumnya bilang akan mencari tahu informasi tentang para tahanan lebih detail. Jadi dia sekarang ada disana.
Saat ini Brain sedang mengobrol di depan salah satu tahanan berperawakan tinggi semampai darinya.
Aku pun langsung memasuki ingatan Brain sebelumnya dengan cara seperti hantu memasuki seseorang hingga kesurupan. Tapi kalau aku tidak berefek sama sekali.
Menakjubkannya aku berhasil menjelajahi ingatan aslinya ini yang tengah berada di suatu ruangan agak minim cahaya.
Dirinya sedang mengamati keadaan di luar, saat aku menembus tembok untuk keluar ternyata Brain berada di bangunan pencakar langit.
Lebih membuatku bertanya tanya lagi kenapa dia berada di wilayah yang tak asing bagiku.
Secepat mungkin aku menjelajahi semua tempat yang sudah ada dalam ingatan Brain.
Sampai aku melihat kapal besar yang aku ingat pernah melihatnya saat di waktu normal di dunia misterius saat aku Kwen, Hiyou, Nie memasuki wilayah manusia tidak berkemampuan.
__ADS_1