Last Life

Last Life
Pelampiasan Karena Urusan Percintaan


__ADS_3

Aku dan Sekai berusaha untuk mengejar Reina, namun sayangnya dia sudah jauh tidak memiliki jejak dirinya akan pergi kemana.


Hanya sebuah dugaan yang menuntun kami berdua untuk pergi kesana walaupun belum pasti Reina ada disana.


Beberapa saat, Sekai membenarkan bahwa Reina memang pergi ke wilayah sebelah negara ini untuk membalaskan dendam, begitulah spekulasi Sekai.


Dari perkataannya barusan aku mengetahui kelebihan Sekai yang bisa melihat sesuatu dari warna.


Misalnya suara alat musik, dia akan melihat warna pada bunyi alat musik itu. Ataupun jejak seseorang yang sebelumnya telah terbaca olehnya.


Aku berada didalam kapal selam terbang transparan, tapi tidak diketahui oleh siapapun dari luar.


Transportasi ini sangat unik dan aku sangat menginginkannya.


"Kamu sepertinya bahagia sekali?" tanya Sekai mungkin dia bisa melihatku senyum-senyum sendiri, karena dia pengecualian.


Untuk Sekai sendiri dia hanya melesat di udara sembari berpijak dari satu bangunan dan rumah jika diperlukan.


Disini aku hanya menyaksikan dirinya maupun pemandangan di bawah terlihat sangat indah, meskipun tidak semuanya. Karena aku melihat sebuah kawasan dengan rumah-rumah tua dan reyot, namun masih ditempati.


"Um... itu karena aku lagi kepengin punya kendaraan seperti ini! Kalau punya sih enak, bisa jadi kendaraan kemanapun aku pergi tanpa diketahui oleh orang lain, sedangkan aku melihat mereka hihi.."


"Kamu bisa memilikinya."


"Eh...? Serius, tapi apa kamu mau memberi aku kemampuan atau semacamnya?" tanyaku.


"Bukan, maksudku jika dirimu bersama denganku terus kamu bisa menikmati kendaraan ini, bahkan aku mempunyai yang lebih unik dari ini!"


"Kalau begitu aku setuju, kita kan akan selalu bersama sampai tujuan kita tercapai."


"Benar, hanya saja aku mau kita lebih..."


Aku masih memandanginya sembari menunggu ucapannya yang sempat tertahan, jadi apa yang mau Sekai katakan?


Dia terlihat tidak berani untuk mengatakannya dari samping aku bisa melihat wajah keraguannya itu, lucu sekali ternyata.


"Huh... bukan saat yang tepat aku mengatakannya."


"Apa kamu bilang?" tanyaku pura-pura tidak mendengar apa yang Sekai ucapkan sebelumnya.

__ADS_1


"... Itu perbatasan wilayah sebelah sudah terlihat!"


Mengejutkan, saat diriku maupun Sekai sedikit lagi akan berpindah wilayah tiba-tiba saja hal tidak disangka-sangka terlihat oleh mata.


Wilayah sebelah terangkat ke atas secara tiba-tiba membuat siapa saja yang melihatnya menjadi panik.


Bahkan orang-orang di bawah yang berada di wilayah ini ia ikut merasakan hal serupa dengan orang yang nampak panik di wilayah itu.


Kecepatan terangkatnya bertambah bersamaan dengan orang-orang yang jauh dari ketinggian gedung pencakar langit.


Diriku sekarang ini membantu mereka yang tidak memiliki kemampuan terbang atau yang kehabisan penggunaan kemampuan hari ini. Menurut aturan di negara pertengahan peradaban maju dan kuno.


"Terimakasih banyak sudah menyelamatkan diriku, kemampuanku sudah aku pakai, makanya aku tidak bisa menggunakannya untuk menyelamatkan diri!" ucap seorang anak muda kira-kira dia masih sekolah kelas 10 menurut perkiraanku.


"Iya sama-sama."


Lalu aku menyelamatkan orang lain lagi dibantu oleh Sekai membuat mereka mengapung di udara.


Beda denganku yang memasukan mereka kedalam kendaraan paus ini.


Krak!


Dharr!!!


Dharr!!!


Akibat wilayah itu tergulung di udara sebuah ledakan beruntun terdengar dan terlihat asap ledakannya.


Tidak diketahui siapa pelaku kejahatan besar ini aku prediksi membunuh banyak nyawa yang tidak sempat aku dan Sekai selamatkan.


Sebenarnya aku sangat shock apalagi membayangkan diriku berada di sana. Tapi aku kuatkan diri agar tidak larut dalam kesedihan.


Dalam beberapa detik beberapa detik saja wilayah sebelah ini yang begitu luasnya menyatu di atas udara menjadi bentuk tak beraturan.


"Hiks... disana ada anakku..."


"Kenapa ini bisa terjadi... siapa pelakunya...?"


"Kejam sekali dia, aku harap dia mendapatkan karma!!"

__ADS_1


"Ini adalah tragedi terburuk yang tercatat di negara ini, karena melibatkan orang berkemampuan luar biasa seperti ini. Bisa mengangkat wilayah luas ini, bahkan dirinya saja tidak diketahui wujudnya!"


Ucap orang-orang yang berada didalam paus besar ini, aku sebut sebagai kendaraan unik.


Sekai turun kebawah sembari menyuruhku untuk menurunkan orang-orang yang telah diselamatkan.


Aku pun melakukannya agar mereka bisa menenangkan diri karena tempat tinggalnya hancur lembur. Mungkin saja tak tersisa sudah menjadi serpihan kecil.


Usai membawa semua orang di dalam paus yang aku tumpangi turun aku langsung saja mengecek keadaan di sekitar wilayah itu.


"Tunggu Anita, aku yang memimpin!"


Karena mataku awas aku melihat dua orang dari kejauhan nampak kecil sekali terlihat dari sini, tapi aku bisa memastikan bahwa itu adalah manusia.


Aku langsung saja memberitahukan apa dilihat kepada Sekai kemudian kami berdua bergegas menuju kesana, kali ini aku yang memimpin.


Sebelumnya aku melihat dua orang disekitar wilayah itu yang masih berada di udara tak jauh dari sana.


Dan ternyata salah satu orang itu adalah Reina dan orang berpakaian kelas atas, aku menebak beliau adalah pemimpin negara ini.


"Reina? Apa yang akan kamu lakukan padanya, dia kan adalah..." tanyaku sempat tertahan karena melihat wajah penuh darah orang yang aku duga pemimpin itu, setelah wajahnya diperlihatkan oleh Reina menggunakan kemampuan psikis.


"Dia pemimpin paling aku benci, karena dia berani merenggut nyawa orang yang paling aku cintai!! Dan dia pantas mati dengan cara menyakitkan secara perlahan-lahan!"


Ucapan Reina barusan begitu memperlihatkan bahwa dirinya sangat membenci pemimpin negara ini.


Kemarahan dirinya aku rasa sangat besar aku melihatnya jelas dari raut wajah dan perilakunya yang tentu saja melanggar hukum. Dan tidak terpuji lantaran telah membuat banyak orang mati.


Aku sudah menyimpulkan bahwa Reina lah yang telah membuat wilayah lain dari negara ini dalam kehancuran yang sangat besar.


"Tapi Reina, kamu tidak boleh melampiaskannya kepada orang-orang yang tak bersalah. Kamu terlalu berlebihan, apalagi akan melakukan hal paling kejam kepada pemimpin negara ini. Walaupun dia bersalah harusnya dengan cara manusiawi untuk menghukumnya!" ujarku.


"Nasi sudah menjadi bubur, dan kekasihku tidak akan kembali lagi. Lagian untuk apa aku menggunakan cara manusiawi dalam menghukumnya, lebih baik membuatnya menyesal telah di lahirkan!"


Dalam situasi ini aku tahu jika diriku tidak mungkin mematikan api kemarahannya begitu mudah.


Satu-satunya adalah langsung ke akar keinginan mustahil Reina, yaitu membuat kekasihnya hidup kembali.


"Hei, aku bisa menghidupkan kembali kekasihmu itu, tapi dengan satu syarat. Kamu harus ikut dengan kami dalam mencapai tujuan itu!" ucap Sekai setelah aku lihat dirinya guna meminta bantuan kepadanya.

__ADS_1


Aku sampai dibuat terkejut karena Reina sudah ada didepan Sekai dalam sekejap. Padahal saat ini diriku maupun yang lain berada udara.


"Apa kamu serius!?" tanya Reina dengan tatapan hilang sudah kemarahannya.


__ADS_2