
"Apa kami dijebak, jika iya... rencana utama maupun cadangan tidak berguna sama sekali sekarang. Tapi bagaimana bisa mereka melakukan jebakan seperti ini dengan mengorbankan banyak nyawa, itu sangat tidak berprikemanusiaan!"
Tap..
Tap..
Tap.. ×10
Dibelakang aku menyadari kedatangan seseorang berjumlah dua belas orang berisikan pria dan wanita.
Sepertinya mereka adalah orang-orang yang diutus untuk mengawasi kami bertiga sebelumnya.
Sebenarnya ada celah dari rencana Luu yang sebelumnya aku katakan kepadanya, namun dia menjamin kemenangan menggunakan rencana itu.
Dengan sebuah kartu truf sebagai bala bantuan.
Cela itu berhubungan mengenai kejadian yang terjadi di pusat kota dimana kereta kuda berisi tamu terhormat, dianggap sebagai mata-mata.
Tentu saja saksi mengatakan seperti itu tentang diriku maupun Sekai, walupun pembunuh dan pemicu itu berasal dari Luu.
Mereka semua mengepung, bahkan ada yang bersiap-siap untuk menghabisi atau menangkap kami.
Menjijikkan lagi para lelaki melihat ke arahku dengan tatapan mata intens, tentu saja aku tahu apa yang mereka pikirkan.
Dan jika aku memiliki kemampuan aku pasti akan membunuh mereka.
"Pertarungan sengit sepertinya akan berlangsung!"
"Eh!? Kalian berada di pihak kami?" tanyaku kebingungan saat tiga belas orang dibelakang berpihak pada kami.
Jelas dari tatapan dan wajah mereka menunjukkan hubungan rekan atau mungkin sahabat saat berbicara kepada Luu.
"Bodohnya aku, sebelumnya aku mengira jika mereka adalah mata-mata. Yang ternyata mereka adalah kartu truf milk Luu!"
Tanpa ada yang memulai kedua belah pihak terutama Luu bergerak maju kedepan melawan pihak lawan, aku sebut saja begitu.
Sementara Sekai masih berdiam diri melihat ketiga belas orang yang memihak tadi bergerak lebih dulu bersamaan dengan Luu.
"Gunakan ini Anita, ini adalah semacam tongkat sihir milikku! Salah satu kemampuannya adalah memanipulasi air, aku harap kamu gunakan untuk membantu mereka saat ini!" ujar Sekai kepadaku seraya memberikan tongkat hampir sama dengan tinggi badanku guna dijadikan senjata dalam melawan orang-orang itu.
"Apa tidak apa-apa aku menggunakannya?" tanyaku lagi sembari memastikan. Bahkan aku sendiri belum tahu cara menggunakan tongkat ini.
"Tidak apa-apa, kamu pasti mudah dalam menggunakannya, dan aku percaya kamu bisa. Rasakan saja penyerapan spiritual yang kamu rasakan saat menyentuh tongkat ini, lalu lebih mudahnya bayangan dirimu mengendalikan air. Meskipun ini terlalu cepat, tebakanku tentang dirimu tidak akan meleset. Coba kendalikan air mancur yang ada disana, gunakan airnya untuk menyerang orang-orang itu!"
"Tidak usah berbelas kasih pada mereka, karena mereka memang pantas untuk dibunuh. Lalu untuk antisipasi seperti biasa aku akan melindungi dirimu dengan pelindung air, jadi kamu bisa tenang dalam menghadapi keadaan ini."
__ADS_1
Usai berbicara panjang kepadaku Sekai lalu pergi membantu Luu dan yang lainnnya.
Kini aku merasakan sesuatu yang seakan dalam diriku terserap pada tongkat ini, kemudian langkah selanjutnya aku fokuskan diri agar rileks dan mengarahkan tongkat yang aku pegang ke arah air mancur.
Tidak disangka aku dapat mengendalikan air mancur itu dari jarak lumayan jauh ini.
Sebelumnya menggunakan air yang kini dalam kendali aku harus mencari timing yang tepat.
Karena aku tidak ingin salah dalam menargetkan seseorang apalagi dua belas orang itu belum aku hafal wajahnya.
Maka pilihanku adalah menargetkan banyak orang sekaligus, yang berada jauh dibelakang arah musuh datang.
Ku bentuk pusaran air yang dapat berputar cepat layaknya tornado.
Lalu menerjang orang-orang disana dengan sangat kerasnya.
Beberapa dari mereka aku lihat ada yang menghindari karena mereka memiliki kemampuan khusus untuk itu.
Maupun menghindari dengan cara normal menggunakan replek yang tepat.
"Ini menyenangkan sekali, membunuh orang-orang yang sudah seharusnya harus dilenyapkan. Karena tidak akan meninggalkan kesal bersalah setelah aku membunuhnya!"
Dharr!!!
"Uhuk! Uhuk! Apa itu...?"
"Argh!!!"
"Argh!!"
Serta menciptakan ledakan kecil namun memiliki efek berasap yang begitu menganggu penglihatan.
Mengejutkannya, materi itu tidak hancur saat di lesatkan sebelumnya dan mempunyai daya hisap begitu kuat hingga mampu membunuh Dua orang dari pihakku berserta dua tumbal rekannya.
Untungnya karena aku sigap aku langsung menjauhi arah datangnya materi itu sembari menghindari serangan asal dari lawan.
Untuk saat ini aku memahami perbedaan mereka dan rekanku selain dari mereka yang memakai zirah bercorak naga, rekanku polos tidak memiliki corak apapun.
Meskipun begitu aku harus berhati-hati dalam bertindak dan menyerang.
Kini aku mengendalikan air lebih lihai lagi seakan diriku sudah menjadi seorang pro dalam mengendalikannya. Sesuai apa yang dikatakan oleh Sekai, aku mudah dalam menggunakan kemampuan tongkat ini.
"Oh ya, aku baru ingat lagi, Sekai sebelumnya bilang kemampuan mengendalikan air hanyalah salah satu dari kemampuan tongkat ini. Hmm, aku penasaran kemampuan lainnya seperti apa?"
Seiring waktu pertarungan serentak ini berlangsung sengit dengan banyaknya pihak musuh yang terbunuh.
__ADS_1
Mengartikan pihak ku unggul untuk sekarang ini.
Crak!
Crak!
Slash!
Jleb!
Beberapa saat dalam keadaan kemenangan yang sudah berada di depan mata hal tidak diinginkan terjadi, itupun tidak aku sangka sangka sebelumnya.
Seseorang dengan kemampuan aneh yang mampu melesat cepat membunuh rekanku dengan mudah.
Beberapa diantara mereka pun mati dengan tubuh tinggal tulang berbalut kulit.
Dari yang aku pahami aura yang terpancar dari orang itu dapat berakibat fatal bagi siapa saja yang berada didekatnya.
"Anita, cepat menjauh dari sini terlebih dahulu. Orang itu sepertinya akan menjadi lawan tangguh selanjutnya!" pinta Sekai dia serius saat mengatakan agar diriku menjauhi medan pertarungan ini.
Halaman yang sebelumnya bersih kini menjadi pemandangan yang mengerikan dipenuhi oleh darah dan tubuh manusia tergeletak tiada artinya.
Sebab, bagi mereka yang telah tewas seakan menjadi pijakan atau lantai bagi mereka yang masih hidup maupun sedang bertarung.
Grep!
Aku terkejut saat Sekai melindungi diriku dari serangan dadakan berupa pukulan berasal dari lawan yang tangguh itu.
"Eh... Sekai... jangan dekat-dekat dengannya!!" ujar ku sesaat setelah mundur kebelakang sembari memperingatkan Sekai bahaya berada di dekat orang itu.
Bugh!
Bugh! ×30
Saat Sekai akan meloloskan dirinya yang sebelumnya menahan serangan orang itu, dia mengalami kesulitan hingga memberi kesempatan bagi lawannya menyerang Sekai dengan pukulan beruntun bertubi-tubi.
Splash...
Splash...
"Rasakan ini!!"
Melihat darah keluar dari wajah Sekai pada posisiku saat ini membuatku emosi dan langsung saja mengendalikan air tadi ke arah orang itu.
Membuatnya mundur kebelakang dan menjauhi dari Sekai.
__ADS_1
"Kamu dalam kondisi terluka... lebih baik kamu jangan bertarung lagi ya!" ujarku menyarankan agar Sekai tidak bertarung lagi. Meskipun tadi dia tidak tumbang dan masih berdiri tegak tapi kondisinya terluka parah di wajah dan bagian leher.
Orang itu benar-benar kejam menyerang titik vital.