
Aku langsung saja mengalihkan pandangan setelah Yanwu beraninya menggodaku secara terang-terangan, lagian aku tidak terlalu suka dengan sejenis gombalan seperti itu.
Hanya kenapa jantungku jadi berdebar-debar, mana mungkin kan aku suka sama dia?
"Kenapa, terlalu senang sampai susah untuk bicara?" ucap Yanwu yang mana membuatku kesal dan gemas padanya. Tapi mengingat diriku tidak memiliki kemampuan aku jadi susah untuk mengerjainya.
"Siapa yang senang, malah aku tidak suka berada di sisimu terlalu lama!" sahutku ketus.
"Oh, baiklah sesuai dengan keinginanmu."
Yanwu langsung saja melepaskan diriku yang tengah berdiri di bersamanya sebelumnya di atas pedang berukuran besar, entah mengapa dia menjauhi dirinya dariku.
Dengan terbang kemudian berada di depan pucuk pedang, sementara diriku seperti halnya di tinggal olehnya. Bahkan diriku merasa jika ketinggian ini dan angin yang berhembus bisa saja membuatku jatuh.
Pada akhirnya aku mengerti jika hal ini disebabkan oleh perkataan ku tadi, tapi apa benar Yanwu sampai marah segitunya padaku. Membiarkan diriku lemah sekarang tanpa pengawasan.
Merasa tidak enak aku akhirnya memutuskan untuk mendekati Yanwu, namun hawanya terasa begitu dingin saat aku mendekatinya secara perlahan.
Hawa ini seperti halnya mengisyaratkan kepadaku agar diriku tidak mendekatinya sekarang hanya saja aku tidak memperdulikan anggapan itu.
"Ah!!"
Grep.
"Terlalu memaksakan diri sampai nekat ingin menghibur ku, hingga sampai lupa dengan keselamatan, dasar kucing liar!" ucap Yanwu setelah diriku ditangkap olehnya saat aku terpeleset, sembari menyebut diriku dengan sebutan asal.
Jujur aku merasa kesal dan di satu sisi aku dibuat tersipu malu, saat dirinya berbicara padaku dalam jarak yang begitu dekat.
Bahkan wajahku dengannya hanya berjarak beberapa inci saja darinya. Momen ini sungguh membuatku sangat panas.
"Psh..."
Pada akhirnya diriku berakhir dengan ditertawai olehnya.
Serta sekarang ini aku harus berada dekat dengannya untuk beberapa saat.
Tak lama perjalanan ini akhirnya sampai di tujuan.
Kami berdua mendarat di tempat yang sepertinya dikhususkan bagi para pendatang, terlihat banyak orang yang sedang mengantri untuk dapat masuk ke wilayah perbatasan tempat ini.
Didepan sana terlihat hijau dan segar dengan pemandangannya yang indah, bahkan aku melihat sekumpulan orang-orang yang terbang depan menggunakan pedang miliknya. Dan masih banyak lainnya yang aku lihat.
"Kamu sudah tak sabar ingin segera masuk kesana?" tanya Yanwu saat aku mengedarkan pandangan, dia ternyata peka juga.
"Hmm, Aku tidak suka mengantri!"
"Hehe.. baiklah jika itu mau mu."
Tiba-tiba saja salah satu dari mereka yang bertugas pada perbatasan ini mendekat ke arahku dengan sambutan ramah darinya sembari membungkukkan badannya sedikit.
"Ah..." diriku langsung saja gelagapan, apalagi beberapa orang melihat ke arahku.
"Maaf saya membuat anda menunggu putri, silahkan ikuti saya agar anda bisa langsung melewati perbatasan ini!"
"Putri?"
Beberapa saat hingga akhirnya kami bisa memasuki perbatasan tadi rasanya aku lega setelah Yanwu menjelaskan kepadaku bahwa dirinya menggunakan kemampuan ilusi sebelumnya.
"Selanjutnya kita kemana?" tanyaku bingung lantaran tidak tahu dimana ras manusia dewa itu tinggal.
"Cukup andalkan diriku saja."
"Hu... apa coba," gumam ku.
Melewati beberapa tempat dengan jalan kaki sembari melihat-lihat aku merasakan berbagai kenikmatan di tempat ini.
Seperti merasakan kuliner dan jajanan lalu membeli aksesoris sebagai oleh-oleh untuk mereka yang tidak ikut misi.
__ADS_1
Ternyata tempat ini memiliki mata uangnya sendiri, aku sampai terpukau jadinya.
Kenyang dengan semua yang aku rasakan selama perjalanan menuju kediaman ras manusia dewa itu, tiba-tiba saja langkah Yanwu terhenti.
"Kita berpisah disini!"
"Ke-kenapa kita berpisah?"
"Kamu lupa dengan rencana itu, menggoda maupun merayu ras manusia dewa itu yang hanya bisa dilakukan oleh dirimu seorang!" jelas Yanwu mengingat diriku akan rencana yang sempat aku lupakan.
"Aku..."
"Apa karena kamu sulit berpisah denganku hingga tidak mau lepas dari..."
"Ya udah sana pergi! Aku bisa jaga diri baik-baik!"
"He.. kalau begitu aku akan memberimu kemampuan pendekar beberapa saja!"
Akhirnya setelah aku tunggu dia mau memberiku kemampuan, ku harap adalah kemampuan yang lumayan berguna di waktu waktu kapanpun.
"Tapi hanya bisa digunakan sementara saja..."
"Huh...?"
Hilang sudah harapan besar aku mempunyai kemampuan lagi.
"Ya, selama dirimu berada di tempat ini. Kemarilah, aku akan menyalurkannya!"
Selang beberapa waktu diriku akhirnya di tinggal pergi oleh Yanwu yang dalam sekejap menghilang setelah menyalurkan kemampuan entah apa kepadaku.
Padahal dia sebelumnya mengajakku bersenang-senang, mungkin akal-akalannya saja agar diriku luluh dan mau menjalankan misi dengan hati lapang.
Tapi sama saja dengan orang yang meninggalkan kekasihnya di saat senang-senangnya. Apa Yanwu tipe orang seperti itu.
"Argh! Kenapa aku jadi memikirkannya, lebih baik aku fokus pada misi!"
Snap.
Snap.
Snap.
Tak ku sangka diriku berjalan tanpa arah dari tadi hingga diriku sudah berada jauh dari tempat tinggal penduduk.
Melihat sekitaran ku saat ini dipenuhi oleh pohon dan semak belukar serta bebatuan besar seperti gua di depan sana.
Ya, ini semua gara-gara memikirkan pria yang membuatku kesal saat berada didekatnya.
Melihat anak panah yang sebelumnya melesat membuat jadi siaga dan memperhatikan sekeliling.
Drep.
Drep × 15
Orang-orang dengan pakaian yang tertutup sampai muka kini menampakkan dirinya menatapku dengan pandangan berbeda seperti halnya memiliki niat buruk.
"Tangkap perempuan cantik itu hidup-hidup!"
"Jadi.. mereka benaran menargetkan diriku. Baiklah, sekarang sudah waktunya aku beraksi!"
Bugh!
Bruk.
Wosh...
Bugh!
__ADS_1
Bruk.
Bugh!
Bruk.
Tiga orang sudah aku lumpuhkan sebelum menggunakan kemampuannya tinggal sebelas orang lagi di tambah satu orang yang menjadi ketua kelompok ini yang tak ikut menyerbu.
Melihat beberapa dari mereka yang mulai mempersiapkan untuk menggunakan kemampuannya, aku langsung saja mendekatinya.
Bugh!
Bruk.
Dash...
Bruk.
Bugh!
Bruk.
Tiga orang sekaligus aku tumbangkan sekali lagi, tinggal delapan orang lagi.
Sebenarnya aku hanya menghajar mereka dan tidak menggunakan serangan elemen yang muncul untuk mengalahkannya.
Tapi dengan tangan kosong sepertinya sangat efektif.
Apalagi gerakan ku menjadi ringan dan cepat, digabungkan dengan keahlian beladiri kurasa aku percaya diri sekali mengalahkan mereka semua.
Bugh!
Dash...
Dash...
Bugh!
Bugh!
Dash...
"Hahaha menyerahlah atau aku akan menghabisi kalian!" ucap ku penuh penekan dengan raut ku buat mengintimidasi, serta seringai khusus.
Tinggal dua orang lagi yang harus ku urus.
"Perempuan ini ternyata hebat juga, ketua kita harus..."
Bugh!
"Sudah ku bilang untuk menyerah, tapi malah memilih jalan yang sukar!" ucapku setelah melesat cepat dan menghajar pria yang satunya, menyisakan ketua dari kelompok ini.
Melihat barang-barang yang tergeletak di sana sepertinya mereka adalah pencuri atau bandit.
"No-na saya minta maaf telah mengganggu waktunya, bagaimana jika saya memberikan nona perhiasan yang banyak ini. Asal nona membiarkan diriku kabur aku..."
Bugh!
Bruk.
Belum menyelesaikan perkataannya aku langsung saja menghajarnya tanpa memberi ketua kelompok ini kesempatan untuk kabur dan mengulur waktu.
"Kalau aku bisa mendapatkan semuanya kenapa aku harus melepaskan mu!" ucapku dengan nada ketus.
"Senangnya... melihat mereka tidak berdaya. Dan sudah tugasku untuk menindak kejahatan!"
"Sepertinya gadis sepertimu pintar berkelahi juga ya."
__ADS_1
Tiba-tiba saja diriku mendadak dikejutkan dengan keberadaan seseorang yang tengah berada dibelakang ku. Sembari menyentuh bahuku.
"Eh...?"