Last Life

Last Life
Apa Jadinya


__ADS_3

Bangun pada pukul 03.00 dini hari aku hanya tidur dalam waktu dekat, hanya saja aku tidak merasakan kantuk sama sekali ketika bangun.


Seolah jantungku berdegup kencang tidak seperti biasanya dan menyebabkan kesulitan untuk tidur normal malam ini.


Ruginya aku tidak merasakan fresh seperti bangun tidur pada umumnya.


Melihat ke arah ponsel aku lalu meraihnya sembari menekan daya on.


Bergulir untuk melihat foto-foto yang pernah aku abadikan di dunia ini. Rasanya seperti kemarin-kemarin aku baru berada di sini.


Dan jadi membuatku teringat akan pertama kalinya aku masih bingung mengenai tempat ini, namun siapa sangka. Nyatanya aku memiliki banyak ingatan tentang kenangan itu.


Klek.


Dirasa cukup aku pun membuka pintu lalu menutupnya kembali setelah berada di luar kamar, tak lupa juga aku menguncinya.


Berjalan menuju area dapur terdekat tak lama aku didatangi oleh dua robot berbentuk kubus yang melayang.


Menanyakan padaku " apa yang bisa saya dibantu"


"Aku cuma mau ke dapur tidak memerlukan bantuan lainnya, terimakasih.."


"Baik nona. Selamat malam."


"Hehe iya."


Sudah berada di dapur, aku langsung saja mencari gelas kemudian mengisi gelas tersebut dengan air. menenggaknya habis tiga gelas air berturut-turut sampai tandas.


"Haa..."


Seperti biasa aku sangat kehausan sekali, ketika terbangun pasca mengalami mimpi buruk maupun mimpi yang sekiranya menguras tenaga. Bagiku ada golongan mimpi seperti itu.


Seperti mengikis inti kehidupan diriku, begitulah.


"Anita? Kamu bangun pagi sekali.." ucap seseorang yang suaranya dapat aku kenali.


Saat aku menoleh kebelakang, benar saja, dia adalah Leonin.


Terus terang saja, aku sekarang ini dalam mode waspada mengingat di jam-jam seperti ini Leonin bangun terlalu pagi.


"Tapi aku memang tidak pernah mengetahuinya bangun di jam berapa, hmm?"


Mengingat dia adalah seorang playboy dan di satu sisi memiliki sesuatu yang dirahasiakan. Membuatku langsung mengarah ke tindakan negatif yang akan di lakukan olehnya.

__ADS_1


Tentu saja aku bersiap saat Leonin melangkah ke arahku. Ku perhatikan dirinya dengan gamblang tak berkedip.


"Santai saja, aku tidak memiliki niatan untuk berbuat hal mesum kepadamu!" ujar Leonin mengatakannya dengan ekspresi biasa saja. Dia melewati diriku.


Memang benar dia menunjukkan ekspresi tidak berbohong, namun wajah dan perilaku bisa saja menipu maupun kamuflase.


Aku tak ingin seperti kemarin hampir saja di tipu oleh Tanaki yang bermain peran secara alami mengekpresikan suatu tujuan, yang nyatanya agar aku lengah dan menurunkan tingkat kewaspadaan.


"....."


Aku tidak menjawab dikarenakan rasa malas untuk membuka mulut maupun memikirkan topik pembicaraan.


Hanya saja aku masih memperhatikan gerak gerik Leonin sampai saat ini.


Tak disangka Leonin makan di jam segini, dia membuka lemari khusus berisikan hidangan lauk yang masih tersimpan.


Ternyata selama ini dia makan di waktu pagi, pantas saja hidangan dan nasi berkurang di keesokan harinya. Walaupun begitu penuturan tersebut masih hipotesa.


Seperti menganggap diriku angin Leonin dengan santainya makan dengan tenang tak menawari aku sedikitpun. Dia bersikap acuh.


Aku pun beranjak dari tempat duduk untuk kembali ke kamar.


"Tunggu, aku mau membicarakan beberapa hal denganmu Anita. Maaf jika aku telat merespon, diriku ketika makan memang cuek kepada seseorang. Apalagi melihat kondisi dirimu yang sepertinya tidak ingin bicara, tak apa, duduk kembali! Tak perlu menjawab," tanganku di tahan saat hendak melewati Leonin, dia dengan sigap beranjak.


Karena penasaran dengan hal yang ingin dibicarakan oleh Leonin aku pun tak keberatan menunggunya hingga selesai makan.


Beberapa saat, akhirnya Leonin selesai makan. Usai minum dan menghampiri tempat duduk kembali dia lalu menatapku tanpa ekspresi.


Di momen ini aku bisa melihat dengan jelas jiwa Leonin tanpa semangat sama sekali sekarang, dia nampak lesu. Apa efek dari bangun tidur?


Entahlah, aku tidak tahu, yang pasti aku melihatnya begitu.


"Terimakasih sudah menungguku hingga selesai aku makan, langsung saja aku berbicara. Menurutmu.. apa kita semua akan kembali ke waktu diri kita saat belum berada di dunia ini, lebih tepatnya sebelum melakukan tindakan bunuh diri? Berhubungan setelah berhasil menuntaskan misi dan mengumpulkan sepuluh ras manusia dewa," tanya Leonin sambil menatapku lekat, dia serius bertanya begitu padaku.


"Ada beberapa kemungkinan saat kita kembali, pandanganku sendiri bisa saja begitu. Lalu untuk semua orang yang terlibat dalam misi ini..."


"Instingku mengatakan beberapa dari kita akan tetap tinggal!" sambung Leonin setelah memotong perkataan ku yang belum tuntas.


Untuk sekarang ini aku tidak bisa berpendapat.


"Maaf Leo, aku tidak searah jika harus melanjutkan pembicaraan ini. Kalau boleh aku sarankan kamu bertanya langsung kepada Sekai maupun Yanwu!" terang ku untuk menghentikan pembicaraan ini, selain sedang bad mood bicara aku juga merasa tidak enak.


"Oh, baiklah."

__ADS_1


Dia kemudian beranjak dan masuk kedalam kamar mandi.


•••


Pukul 06.30 - 07.56


Misi selanjutnya sudah disetujui yaitu mengunjungi suatu negara bentukan di dunia ini yang sudah berlangsung lama.


Kedamaian pun merdeka disana cocok dengan kategori orang-orang yang berdemokrasi dan berdaulat.


Hukum, keadilan, dan tatanan negara juga tidak terlalu menjorok pada hal negatif. Intinya keadilan selalu tumbuh pada setiap ruang lingkup.


Saat ini aku membaca informasi tentang negara itu dengan nyaman, rasanya sungguh menyenangkan. Duduk disebuah kursi dengan sandaran empuk, ya, ada yang baru hari ini.


Flashback on


Sebelumnya Yanwu berbicara tentang ras manusia dewa di negara itu, lokasinya berada di pusat kota.


Dan yang membuatnya sulit untuk diketahui keberadaan pastinya adalah, ras manusia dewa itu tidak Hyun Wo ketahui gendernya.


"Kali ini dia lumayan sulit untuk ditemukan, dan alasan aku memilihnya untuk diajak bergabung karena kemampuannya berpengaruh terhadap waktu!"


Flashback off


Pembicaraan kami kemudian tertunda lantaran sarapan pagi terpaksa di tunda. Kami pun sarapan terlebih dahulu.


Kecuali Sekai yang ku lihat tidak ada di meja makan, satu robot berbentuk seperti manusia dan sangat mirip lebih ke arah ketua pelayan berpakaian rapi. Datang kemari.


"Maaf, tuan saya tidak bisa hadir saat ini, sebagai gantinya saya akan membawa sarapannya ke lab!" ujar robot itu, nadanya pun benar-benar asli terasa sungguhan.


"Sekai sedang apa?" selorohku sembari membanting sendok dan garpu.


"Tuan sedang mengerjakan projek penemuan penting, begitu katanya, dan saya tidak bisa menjelaskan detail-nya."


"Memangnya kenapa?" timpal D


Reina.


"Sebuah kejutan, kalau begitu saya permisi."


Beberapa saat kemudian, Sekai menghampiri kami setelah usai menghabiskan waktu sarapan.


Dia terlihat lelah dan acak-acakan dari rambutnya, bahkan matanya terdapat warna hitam dibawah. Namun senyumannya itu saat ku lihat, seperti hendak menunjukkan sesuatu, senyuman bangga hasil dari kerja kerasnya. Aku yakin sekali.

__ADS_1


"Sekarang aku tahu kediaman, biodata, keberadaan setiap waktu, ras manusia dewa yang akan kita ajak bergabung!"


__ADS_2