
Usai berteduh dibawah pohon rindang sembari minum dan ngemil sedikit bersama Willy perjalanan pun kembali dilanjutkan, Willy bilang dirinya tidak suka membuang-buang waktu.
Aku setuju pada perkataannya membalasnya dengan ekspresi ramah yang sebenarnya ada sedikit rasa kesal dalam hatiku, dia terlalu keras saat menyampaikannya padaku.
Perjalanan terhenti kembali dan ini baru beberapa centimeter saja dari tempat sebelumnya saat Willy menengadah ke langit, dia sepertinya penasaran melihat sesuatu hanya saja aku tidak mengetahuinya.
"Ada apa?" tanyaku singkat dengan ekspresi jengah, bukannya dia mengatakan dengan tegas untuk mempercepat perjalanan dan jangan teralihkan oleh apapun. Sekarang dirinya malah disibukkan dengan sesuatu yang tidak aku ketahui wujudnya.
"Tadi aku melihat burung berukuran besar berjumlah lebih dari satu, kemudian tersamarkan saat memasuki awan. Dan aku tidak bisa melihatnya lagi, menurutmu?" jawab Willy diakhir perkataannya, dia lalu memalingkan wajahnya padaku sembari bertanya.
Karena tidak tahu aku membalasnya dengan geleng-geleng kepala. Dalam hati aku menduga jika burung besar itu mungkin saja kemampuan milik Kwen penggubah hewan-hewan berukuran normal menjadi ukuran lebih besar dari ukuran aslinya.
Beberapa menit berlalu akhirnya perjalanan lumayan melelahkan sampai pada tujuan, Nie dan Geisha rupanya sedang membuat api.
Willy langsung berlari ke arah mereka berdua saat melihat orang yang dicarinya telah dia temukan, beda halnya dengan diriku sedang selonjoran lantaran kaki kecapean.
"Aku lupa untuk mengambil produk pereda nyeri, uh..."
Lalu Willy datang kembali padaku setelah puas memeluk kedua wanitanya, mungkin saja. Itu hanya anggapan diriku di waktu permulaan ini.
Dan perlahan-lahan aku mulai lupa tentang segalanya dalam memori kepalaku, yaitu apa saja yang akan terjadi di waktu permulaan ini yang disampaikan langsung oleh Kino.
Itulah mengapa sebelumnya aku sempat menulis pada secarik kertas sebagai pengaman.
Aku hanya mengingat jika Kino memberi nasehat padaku untuk tidak terlihat mencolok, dan aku masih memecahkan apa maksud dari perkataannya itu.
"Jangan... aku bisa jalan sendiri..." ucapku merasa malu dan langsung menolak, ketika Willy membawaku pada kedua tangannya.
Dan tatapan tajam dari mereka berdua kini diketahui oleh diriku.
"Astaga... padahal aku baru saja mengingat perkataan Kino agar diriku tidak mencolok, tapi situasinya tidak diduga-duga akan seperti ini. Semoga saja mereka tidak memusuhiku."
Ternyata mereka berdua sudah membersihkan rumah salah satu penduduk yang mereka tempati sekarang ini, sebagai tempat tinggal sementara.
Aku mendengar Nie berkata pada Willy jika dirinya dan Geisha dikejar oleh orang berkemampuan tumbuhan, dikala keduanya melakukan pencarian.
__ADS_1
Tentunya, yang mereka cari adalah Willy.
Sebenarnya aku sedang membantu Geisha memasak menggunakan api dari kayu aku pun membantunya mengiris sayuran yang mereka tanam sendiri.
Pantas saja aku melihat tanaman yang tak asing bagiku setelah sekian lama tidak menjumpainya lagi.
Aku kembali mendengar pembicaraan mereka bertiga sementara diriku seakan menjadi babunya saja tanpa di ajak bicara, aku simpulkan jika Nie dan Geisha tidak menyukaiku.
Willy lalu menjelaskan inti pembicaraan yang sesungguhnya kepada mereka berdua berhubungan dengan rencana diriku keluar dari dunia ini melalui ras manusia dewa.
Sayangnya mereka berdua tidak menyetujuinya menolak secara mentah-mentah keluar dari dunia ini, menurutku bukan karena mereka tidak percaya pada omongan Willy. Tapi mereka berdua telah menikmati kehidupan baru yang mereka jalani sampai saat ini.
Beberapa saat kemudian, Willy akhirnya memilih argumen mereka berdua. Pembicaraan pun berakhir dengan memaksa diriku untuk berada didekatnya.
Mencoba merayuku, Willy mengucapkan janji untuk selalu menjaga diriku.
Namun disaat diriku menolak dan berkata akan mencari orang lain Willy malah menarik diriku agak kasar.
"Aku sudah mengenal dirimu di waktu yang lain bukan, seperti yang kau sebutkan. Jadi untuk sekarang ini kita harus tetap bersama, hilangkan pikiran pergi dari dunia ini, Anita..." ucapnya lembut sembari mengelus kepalaku.
"Aku tidak mau, jadi lepaskan diriku!" sahutku dengan raut wajah kesal dan jengkel menatap Willy, berusaha untuk lepas darinya.
Pendapatku mengatakan bahwa dia terlalu memaksakan kehendak seseorang membuatku teringat pada orang yang pernah aku kenal, namun ingatan tentangnya masih samar-samar.
Menjalankan sebuah rencana agar diriku dapat lolos dari Willy aku pun mengawalinya dengan perkataan " aku mau berada di sampingmu" sengaja aku ucapkan selembut dan se-meyakinkan mungkin agar Willy percaya.
Walaupun mengakibatkan jeda waktu pada rencana utamaku, keluar dari dunia ini. Tapi rencana kali ini aku nyakin seratus persen bisa membuatku lolos dari Willy.
Malamnya, aku tidak menduga jika diriku akan selalu di awasi oleh roh-roh orang mati yang berada di sekitar diriku saat berada di ranjang tempat tidur.
Mereka terpanggil berkat kemampuan spesial Geisha.
Membuka mata aku terbangun dari tidurku yang nyenyak semalam tangan Willy pada area perutku yang tertutupi oleh selimut sontak mengagetkan diriku.
Dia ternyata berpindah ke ranjang tempat tidurku dan ini sangat tidak sopan menurutku, biasanya aku sebut sebagai orang yang mesum.
__ADS_1
Berhubung aku tidak memiliki kemampuan sekarang maka terpaksa aku harus bersabar, menurutku keahlian beladiri yang aku miliki masih kurang mampu mengalahkan Willy maupun kedua wanitanya itu.
Pagi yang segar aku awali dengan berolahraga sebentar berharap sebuah rencana brilian muncul dalam kepalaku, karena saat ini aku sedang membutuhkannya.
Aneh, aku merasa diriku perlahan mulai berubah, bahkan otaku agak tumpul saat aku coba memikirkan sesuatu secara spesifik.
Apa itu cuma firasatku saja?
"Efek pengulangan waktu ini sangat aneh dan tidak aku pahami. Aku bahkan melupakan berbagai hal yang kuingat secara perlahan pada keberadaan diriku di waktu sebelumnya."
Aku abaikan pikiran ku dan melanjutkan berbagai aktivitas pagiku dengan tenang selangkah demi selangkah, setelah melakukan olahraga sebelumnya.
Dan yah, aku terpikirkan sebuah ide bagus untuk membuat diriku lepas dari Willy, yaitu pergi ke tempat Yanwu.
Samar-samar aku mengingat jika Yanwu di waktu ini tidak lagi terjebak di dalam sebuah supermarket, melainkan berada di gunung langit.
Sebuah gunung yang aku tahu memiliki ujung paling tinggi, namun tidak menyentuh langit. Lalu mengapa dinamakan gunung langit?
Tuan Mizu waktu itu pernah menerangkannya padaku bahwa gunung itu dulunya digunakan sebagai pesan seseorang kepada sang Maha pencipta.
Katanya sebagai perantara doa-doa sementara cerita dari versi lain mengatakan gunung itu adalah tempat ras dewa wanita turun untuk melakukan pertemuan.
Dan kebetulan sekali beberapa hari kedepan pertemuan itu akan terjadi setiap sepuluh tahun sekali. Langka, tapi satu hari pertemuan itu menurutku sangat berkesan.
Sepertinya halnya saat diriku menghabiskan waktu bersama teman-teman, walaupun lama mengobrol dan bersama sampai berjam-jam, tapi berasa waktu berlalu begitu cepat.
Akhirnya otaku kembali bekerja seperti sediakala dan aku sudah merencanakan sebuah skenario bagian dari rencana.
Hanya saja aku harus menemukan cara agar diriku bisa bertemu dengan Yanwu nantinya. Artinya, aku harus membuat suatu dalih kepada Willy.
Aku tahu hal itu lumayan berisiko jika saja Willy menyadarinya hanya saja aku harus mencobanya.
Dam!!!
Suara mengagetkan terdengar dari arah sungai membuatku bergegas untuk pergi kesana, karena sebelumnya Nie sempat pamit kepadaku. Dia mengatakan akan mandi di sungai.
__ADS_1