Last Life

Last Life
Karena Keadaan Terpaksa


__ADS_3

Mendengar suara langkah kaki di atap diriku langsung saja bergegas untuk menyudahi waktu berendam dan bersantai ini, sayang sekali sebenarnya.


Dengan cepat aku sudah memakai hanfu kali ini hanfu yang diberikan oleh Junjie milik pembantunya dahulu.



Suara di atap tadi tidak terdengar lagi saat aku menunggu kedatangan seseorang yang datang kemari.


Tap..


"Dia datang, ternyata dia melubangi atap dengan kemampuan untuk memasuki ruangan pemandian ini, orang yang mesum!" gumam ku dengan suara kecil sedang mengamati pergerakan orang itu.


Dia aku amati seperti sedang mencari sesuatu hanya saja masih bergeming sendari tadi sampai aku memiliki kesempatan untuk melumpuhkannya.


Pria itu tengah sibuk dalam pikirannya sekarang.


"Humph.. humph..."


Sayangnya aku lengah karena terlalu percaya diri dengan apa yang terlihat didepan mata, detik berikutnya orang itu berubah menjadi merpati.


Sementara orang yang asli kurasa tengah membekap ku saat ini.


"Diam, atau aku akan memberimu sayatan di wajah cantikmu ini! Jawab pertanyaan dengan jujur, dimana Junjie sialan itu?"


"Oh, dia ada di ruang baca!"


"Jangan menipuku, atau aku tidak segan-segan..."


Kini diriku berbalik dengan cepat dan menatap wajahnya dengan raut kasian, seketika pria didepan ku ini terdiam membeku.


Bugh!


"Argh!"


"Hiyaa!!"


Bruk.


Langsung saja aku menghajarnya dengan satu pukulan sampai dia meringis kesakitan. Terakhir aku lanjutkan dengan teknik bantingan keras kemudian menguncinya.


"Ck. Sial! Aku tertipu..."


"Begitu saja sudah pingsan, lemah!" ucapku spontan, kemudian bangkit dan memeriksa situasi.


Tep.


Tep.


Ting!


Suara gaduh yang sepertinya berasal dari luar mengejutkan diriku sampai aku berlari kecil melihatnya dari sebuah jendela.


Ternyata Junjie sedang dikeroyok oleh orang-orang dengan mengenakan pakaian serba hitam dan penutup muka.


Mereka bersenjatakan pedang serta mengeluarkan kemampuannya masing-masing.


Dengan teliti dan melihat seksama dekat pohon rindang yang gelap itu, beberapa dari mereka ada yang ingin menyerang secara diam-diam Junjie dengan melesatkan anak panah.


Melihat Junjie yang masih fokus aku pun terpaksa turun tangan untuk membantunya.


Siutt...

__ADS_1


Siutt...


Grep.


Grep.


Dua anak panah yang melesat ke arah Junjie sudah ku tangkap hingga membuatku kini dalam kepungan mereka.


"Wa.. wa... darimana datangnya bidadari ini, sepertinya dia mangsa yang sangat bermanfaat hehe.." ucap salah satu dari mereka perlahan mendekati diriku dengan aksi hendak menodongkan pedang.


"Anita!? Apa yang kamu lakukan di luar?" tanya Junjie yang sedang disibukkan dalam pertarungan satu lawan empat, tapi masih saja sempat-sempatnya bertanya kepadaku.


Dia ternyata tidak tahu aku sebelumnya berniat membantunya.


"Aku sedang membantu... tenang, aku ini jago beladiri!!" jawabku sedikit mengeraskan suara.


Tapi mereka setelah aku berucap tadi malah memperhatikan diriku dengan tatapan pria sampah, jelas matanya menggambarkan pikiran mereka saat ini.


"Suara yang merdu, bisakah kamu keluarkan saat kita berdua saja?"


"Dia bilang jago beladiri, berarti pintar juga saat di ranjang hehe.."


Benar apa kataku, orang-orang ini selain penjahat juga orang yang mesum. Jika seperti ini aku harus membuat mereka kapok hingga bertahun-tahun.


"Huh..?"


Saat aku hendak bergerak tiba-tiba saja kakiku terlilit oleh tumbuhan merambat yang bergerak-gerak seperti ular.


Aku tahu ada pengguna kemampuan dari jarak jauh yang sedang mengincar ku.


Srett.


Srett.


Dash...


Dash...


Kemudian bergerak menendang mereka yang dekat denganku terlebih dahulu.


"Sialan! Dia ternyata benar-benar jago beladiri. Tunggu apalagi.. tangkap dia lalu kita jadikan makan malam kali ini!" ujar seseorang diantara mereka memerintahkan yang lain untuk menangkapku dengan iming-iming hina.


"Ide yang bagus, aku pasti akan menangkapnya."


"Kalau itu aku akan serius hihi.."


"Bagaimana jika yang pertama menangkapnya akan pertama kali mendapatkan..."


"Ugh!!"


"Seenaknya saja kalau bicara, sini maju semua kalian!" ujar ku setelah menendang bagian bawah pria tadi dengan keras hingga dia meringkuk dalam diam.


Mereka kemudian saling pandang lalu menuju ke arahku secara serentak setelahnya.


Menghindar lalu membalas dengan satu serangan fatal kini dilakukan olehku. Membuat satu persatu dari mereka pun mulai berjatuhan.


Hanya saja mereka seperti tidak bisa menggunakan kemampuannya ketika berada didekat ku, apa hanya kebetulan atau cuma firasat ku saja?


Tak lama aku berhasil mengalahkan mereka semua tanpa membunuh sama sekali dan mereka pantas mendapatkan karmanya karena memiliki niatan buruk.


Dan yang harus disalahkan atas kematian adik kecil mereka karena ulah mereka sendiri yang berani ingin berbuat macam-macam padaku.

__ADS_1


"Dasar perempuan j*l*ng! Ehg... sakit sekali..."


"Kenapa aku tidak bisa menggunakan kemampuan ilusi saat hendak menggunakan tadi.. egh..."


"Ternyata benar, saat mereka berada didekat ku kemampuan mereka akan hilang!"


•••


Junjie aku lihat kembali sudah selesai dengan urusannya mampu mengalahkan sepuluh orang sekaligus.


Bekas pada sekitaran pun terlihat begitu jelas dan menjadi kerugian tersendiri.


...


"Tunggu!?"


"Awas Jun...!"


Jleb!


"Ahh!"


Tak ku sangka aku lengah sampai melupakan sisa dari mereka yang sebelumnya berada di kejauhan sedang mengamati dan bersembunyi.


Hingga menunggu waktunya tiba kemudian melesatkan anak panah, yang kini salah satunya mengenai bahuku saat aku mendorong Junjie agar dia tidak kena.


Rasa sakit maupun nyeri kini menjalar pada seluruh tubuhku menjadi satu dengan rasa perih, anak panah yang menancap ini seakan-akan terdorong oleh angin.


Saat aku cek, darah segar memenuhi satu telapak tanganku. Saat hendak memastikan anak panah tersebut, sepertinya anak panah ini lumayan dalam menancap pada bahuku.


Dan aku baru sadar jika Junjie sudah tidak ada di dekatku.


Tak lama pandangan mataku mulai berat dan kesadaran ku mulai melemah yang bisa aku asumsikan panah ini beracun.


•••


"Aku ada dimana...?"


"Kamu masih didalam kediamanku, sekarang kita ada di kamar yang aman dari bahaya!"


Aku mulai mencari kesadaran sembari mengedarkan pandangan, untuk pertama kalinya aku membuka mata setelah tak sadarkan diri.


Wajah tampan namun selalu membuatku kesal saat dia berada didekat ku.


"Tenang saja! Aku sudah mengatasi lukamu dengan baik dan menetralisir racun dalam tubuhmu setelah terkena anak panah beracun itu!"


"Terimakasih..."


"...."


Apa aku tidak salah lihat sekarang ini pandangan mataku yang masih samar-samar melihat wajah memerah Junjie.


"Hei... harusnya aku yang berterimakasih kepadamu, karena kamu mau menyelamatkan diriku dari beberapa anak panah itu, tapi syukurlah... hanya satu anak panah saja yang mengenaimu."


"Dan aku sudah melakukan sesuatu pada mereka!"


"Apa yang kamu lakukan pada mereka, apa sudah dibawah ke penjara di tempat ini?" tanyaku penasaran masih terbaring di ranjang empuk ini, untuk perkataan Junjie sebelumnya aku mulai lupa. Hanya penasaran pada para penjahat itu ketika Junjie bilang sudah melakukan sesuatu kepada mereka.


"Hmmm, mereka semua sudah aku masukkan kedalam penjara dibantu oleh warga sekitar saat aku memanggilnya!"


Entah kenapa dalam kondisiku saat ini aku masih bisa menangkap raut kebohongan dari raut wajah Junjie.

__ADS_1


Sebenarnya apa yang dia lakukan kepada orang-orang jahat itu?


__ADS_2