
Dunia ini lebih luas dari yang aku bayangkan aku kira hanyalah tempat buangan saja bagi orang-orang yang melakukan bunuh diri, dalam artian kehidupan lain setelahnya. Tapi, serasa banyak sekali hal-hal diluar cakupan pengetahuanku jika tidak dipelajari maupun diketahui. Tentang dunia misterius ini.
Selain monster, dunia ini terdapat makhluk-makhluk lain beragam jenisnya.
Setahuku aku pernah melawan monster aneh waktu berada didalam bunker kiamat, monster dalam ilusi mimpi, iblis, dan monster lainnya.
Hanya saja kali ini sebut saja orang yang dikutuk tepat berada tak jauh di depanku auranya terlalu banyak dipenuhi dendam dan ketidakadilan serta kegelapan, mungkin saja sifatnya itu bermula dari sana.
Hal pahit apa yang pernah dia alami aku tidak mengetahuinya lebih spesifik lagi, kecuali masuk kedalam otaknya guna menemukan ingatan masa lalunya.
Shut!
"Dia mendekat... kurasa saatnya aku menggunakan kemampuan asliku untuk meloloskan diri dari serangannya!"
Swosh...
"Bagaimana bisa kau menghindari serangan tadi, bukannya kecepatan barusan di bawah satu detik, tch!"
Aku akui orang ini memiliki kecepatan setara dengan Marin, bahkan serangannya barusan terlalu cepat untuk dilihat dalam satu kedipan.
Sayangnya sudah aku prediksi arah serangannya sekaligus keberadaan dirinya bergerak menyerang dari arah mana.
Swosh...
"Kedua kalinya aku gagal, padahal lawan ku adalah gadis yang kelihatannya lemah," gumam orang itu setelah melakukan serangan kedua padaku. Dan aku masih mendengar apa yang dia omongkan.
Meskipun sekarang ini aku berada di puncak tapi tidak selalu membuatku aman, karena sebelumnya demi menghindari kecepatan serangan orang itu aku memasuki pikirannya.
Sebut saja peningkatan kemampuan terbaruku yang saat ini sedang aku coba tanpa di sadari olehnya.
Akibat penggunaan peningkatan kemampuan ini diriku akan merasa lesu disepanjang pertarungan. Itulah mengapa aku memutuskan untuk mengakhiri pertarungan ini secepat mungkin.
"Hey... seperti ada yang menganggu didalam kepalaku, apa kau ini pengguna mind reading?"
"Sial, dia mengetahuinya. Untungnya suaranya tidak terlalu keras!"
Aku tidak bisa membiarkannya mengungkit banyak tentang diriku.
Wuss...
"Dia menghilang?"
"Hehehe dibelakang!"
Ting!
Saat ini aku dalam posisi menahan pedang orang itu menahannya menggunakan pedang berlian, berdekatan dengannya hingga terlihat jelas matanya berwarna merah menyala.
Serta kulit wajahnya terlihat berkeriput dari dalam atribut besi ini yang artinya perkataan orang ini sebelumnya tidaklah bohong.
__ADS_1
"Hey... bagaimana kalau kita berdamai saja? Aku tidak ingin melawan orang terkuat sepertimu, ku mohon..." ucapku memulai salah satu langkah kemenangan ku. Dengan ekspresi memelas.
"Kuat. Jika aku kuat harusnya dari tadi aku sudah membunuhmu, tapi dirimu masih saja selamat dan bisa menyamai kecepatan diriku."
Orang ini ternyata kurang jeli harusnya dia sadar jika aku bisa memprediksi serangannya dari pikirannya sendiri.
"Bagaimana jika perjanjian dengan imbalan dirimu dapat lolos dari kendali orang itu, asalkan dirimu mau pura-pura kalah saat ini dariku!"
"Bukannya sama saja dengan menginjak-injak harga diriku sendiri dan belum tentu juga kau akan menempati janji, gadis kecil..."
Inilah delimanya, jika aku gagal mestinya dia akan menyerang ku secara bertubi-tubi yang membuatku tidak bisa memprediksi arah serangannya.
"Ku tujukan padamu sekarang, aku ini bisa membunuh seseorang dari jarak jauh lho... hanya saja sekarang ini bukan waktu yang tepat."
"Berani-beraninya kau menipuku, akan ku bunuh kau gadis jahat!"
Swosh...
Swosh...
"Sudah ku tebak dia sangat sulit untuk aku ajak bicara."
Ting!
Ting!
"Sial, apa yang kau lakukan padaku kenapa ingatan masa laluku berputar di kepalaku! Ku bunuh kau gadis bodoh!!"
Jleb!
Dari awal tujuanku hanya untuk mengurangi kewaspadaannya saja, karena pertama kali aku melihatnya dan mendengar ucapannya dia adalah tipe orang yang bisa lengah pada harapan dan pujian.
Meskipun sebelumnya aku gagal melakukannya, tapi nyatanya cara itu berefek padanya hingga dia lengah sekarang. Dan aku berhasil menusuknya dari belakang menggunakan berlian yang sengaja aku tempatkan di dalam tanah.
"Maaf aku akan membunuhmu segera, harusnya kamu tidak memilih pilihan yang salah!" ucapku hendak menebas lehernya yang kini sudah tertusuk berlian jebakan ku hingga dirinya tidak bisa bergerak.
Wus...
"Dia masih bisa menghindari tebasan tadi dan menghilang?"
"Dengarkan aku, monster itu sepertinya menyerap tusukan berlian tadi lalu mengkonversikan menjadi serangan balasan mirip seperti kemampuan mu!" ujar Marin pada alat itu.
Ternyata aku salah jika diriku telah membuatnya lengah dan sejatinya aku yang masuk dalam perangkapnya.
Dia kini terus menyerang diriku dengan berlian mirip kemampuan ku. Bedanya, serangannya hanya 10% teknik penyerangan yang aku punya untuk serangan jarak jauh.
Kletak!
"Marin, aku butuh bantuan mu, aku memiliki ide agar bisa mengalahkan lawan level tiga ini. Tapi, aku butuh bantuan mu dan juga orang itu!"
__ADS_1
"Ya, aku paham situasinya. Orang yang kamu lawan menurutku tidaklah serius melawan mu, dia hanya bermain-main saja. Yang aslinya kekuatannya lebih kuat daripadaku, namun pergerakan cepatnya bisa aku atasi. Jadi, jelaskan rencananya?"
Aku pun menjelaskan sebuah taktik guna mengalahkan orang itu kepada Marin.
Blush! blush!
Jleb!
"Sudah selesai gadis kecil, matilah dengan banyak penyesalan."
Sekitaran diriku dipenuhi bongkahan berlian yang menjebak diriku lalu dari dalam tanah keluar berlian secara tidak terduga.
Yang mana menyebabkan diriku tertusuk dan keluar darah segar.
"Bersiaplah!"
Crak!
Mungkin saja para penonton saat ini terkejut, karena melihat kepala seseorang melayang di udara akibat tebasan pedang.
Sebenarnya diriku yang ada disana adalah purwarupa yang aku ciptakan dari berlian secara diam-diam.
Tubuhku yang asli berada pada celah bongkahan berlian yang kini memenuhi arena selanjutnya tinggal Marin yang beraksi dan menyelesaikannya.
Karena sebelumnya aku berpindah tubuh lagi dengannya, setelah kukatakan pada Marin untuk menggunakan cara sederhana menipu lawan di level ini, hanya saja aku membutuhkan bantuannya lagi maupun kemampuan orang itu untuk memindahkan diri seseorang.
Flashback on
"Aku ingin kamu bertukar tubuh lagi denganku, pada momen dimana lawan ku lengah setelah tertipu."
"Hmm aku mengerti, ku usahakan akan sesuai perintah. Lagipula pria ini terlalu banyak berbicara!"
"Hihi.. dia memang begitu orangnya, suka mengomentari."
Flashback off
Di kursi penonton ini aku melihat diriku untuk yang kedua kalinya saat mengalahkan lawan bedanya kali ini di level tiga dengan lawan yang lumayan tangguh.
Marin mengalahkannya seperti biasa dengan kecepatan serangan dadakan dari rencana yang telah aku rangkai. Menipu orang yang sedang menipuku setelah dia menyadari jika tipuannya berhasil.
Sorak-sorak bergemuruh terdengar begitu keras tertuju padaku atas keberhasilan melewati level terakhir pada penilaian kedua.
"Selamat bagi para peserta seleksi prajurit elit telah berhasil mengalahkan lawan terakhir di level tiga, dengan ini lolos hingga ke penilaian terakhir!" ucap seseorang bagaikan sang penyiar jalannya pertandingan dengan suara lantang yang mungkin saja dapat terdengar oleh semua orang.
Selain diriku ada juga peserta seleksi lain yang berhasil melewati level tiga pada tahap pertama. Kini mereka sedang menuju kemari.
Tak lama akhirnya diriku kembali dan melihat jasad orang itu telah terpotong kecil-kecil lalu membeku didalam berlian sama halnya iblis di level dua.
Dengan ini aku tahu kengerian Marin dalam memakai pedang seperti apa.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian aku memutuskan beristirahat sejenak di tempat yang sama waktu Marin dibawa kesini untuk beri perawatan. Dan aku tidak khawatir pada Marin yang sekarang ini sedang melalui penilaian kedua, meski aku tidak menontonnya.