Last Life

Last Life
Apakah Di Waktu Lain Aku Hari Ini Harusnya Tiada?


__ADS_3

"Hei... aku ini asli Lu Yang, bukan orang yang sedang menyamar. Kamu percaya kan sama aku, Anita?" jelas Lu Yang menarik diriku untuk mendapatkan kepercayaan sembari melirik ke arahku.


Aku belum menjawabnya malahan diriku memasuki ingatannya ternyata dia berhasil mengalahkan enam orang peserta seleksi sekaligus, sementara raja pergi begitu saja setelah peserta yang belum di angkat sebagai prajurit elit di habisi oleh Lu Yang.


Dalam ingatannya ia sempat mengejar raja, namun Lu Yang kehilangan jejaknya seakan raja hilang begitu saja setelah keluar dari pintu memasuki ruangan singgasana.


"Iya, kamu Lu Yang asli bukan seseorang yang sedang menyamar," ucapku setelah keluar dari ingatannya.


Meskipun Marin belum percaya sepenuhnya kepada Lu Yang, tapi aku berusaha untuk menyakinkan dirinya. Dan disaat kami hendak berbicara lebih lama lagi pria berpakaian serba hitam melempar beberapa kartu ke arah kami.


Yang untungnya diriku diriku sempat menangkisnya dengan pelindung berlian dengan tujuan mengetahui seberapa kuat serangan kartu yang dia lempar.


Dan aku agak terkejut karena kartu ini menancap lumayan dalam pada pelindung yang aku ciptakan.


"Bagus Anita, memahami kemampuan lain adalah langkah baik di awal," ucap Lu Yang.


Pria yang memegang pedang dengan jenis lain milik Marin terlihat malas menatap kemari hanya saja dirinya nampak serius sekali.


"Aku akan melawan pria kekar itu, harusnya dia adalah lawan yang cocok denganku!" ucap Lu Yang memutuskan memilih lawannya secara sepihak.


Dengan ini aku memahami karakteristik dan kelebihan yang dimiliki oleh ketiga lawan ini, ada persamaan pada diriku maupun Marin dan Lu Yang.


Sudah dipastikan Marin akan melawan pria bersenjata pedang, sedangkan diriku pria bertopi dengan pakaiannya serba hitam. Karena aku ini dulunya mantan pesulap.


Diriku langsung saja mengeluarkan jurus biasa menggunakan kemampuan berlian kepada pria itu berupa sebuah berlian yang akan mengikuti gerakan target hingga mengenainya.


Kletak!


Sayangnya berhasil di patahkan oleh pria itu saat berlian lancip yang melayang di udara hampir dekat dengan dirinya.


Hanya dengan serbuk yang dia lemparkan pada serangan ku barusan. Benar-benar membuat berlian tersebut lenyap hitungan detik.


Sementara saat aku mengedarkan pandangan guna mencari mereka berdua terlihat mereka yang fokus pada lawannya masing-masing.


Wosh...


wosh...


Wosh...


Pisau kecil ia lempar ke arahku dari jarak sehingga kemungkinan aku menghindarinya jadi lebih mudah.

__ADS_1


Aku pun menghindari tiga pisau kecil itu sekaligus, namun saat aku bernafas lega mataku sempat melihat senar, lalu pisau yang terlewat sebelumnya saat aku tengok kembali mengarah kepadaku.


Tidak ingin pria itu melancarkan aksinya aku pun memotong senar yang terlihat tak jauh dariku dengan berlian seukuran tusuk gigi.


Hanya saja entah kenapa diriku merasakan pusing.


"Tunggu. Pisau itu mungkin kamuflase serangan tersembunyi miliknya, dan saat pisau kecil itu aku hindari diriku sempat mencium wewangian menyengat!"


Tap.. tap.. tap..


Aku pun mendekatinya langsung, karena menurutku dia itu tipe jarak jauh dan memiliki banyak serangan saat aku jauh darinya.


Demi mencegah kesulitan yang bisa saja terjadi diriku memilih mengikuti taktik sekejap terlintas di kepalaku.


Pedang berlian aku ciptakan dan menyerangnya tanpa jeda.


Dia terus menghindar tanpa mengeluarkan trik atau balasan mendadak dirinya aku lihat nampak tenang seperti halnya tidak ada niatan untuk menyerang.


Bles...


Api keluar dari mulutnya secara mendadak membuatku mundur dan memasang jebakan saat dia bergerak maju.


Jleb!


Berlian lancip keluar dari dalam tanah dan menusuk perut pria itu dengan kecepatan perdetik hingga membuatnya jatuh pada kedua lutut dan tubuhnya seakan tunduk kepadaku.


"Hehehe... aku lengah sampai terkena tusukan berlian ini, jebakan mu lumayan juga."


Dia masih tetap tersenyum, meskipun berlian menusuk perutnya hingga tembus. Terlintas di pikiranku sesuatu yang menggangu bahwa dia itu tidak merasakan rasa sakit.


Grep!


"Egh..."


Dan tanpa aku sadari leherku tercekik oleh satu tangan yang keluar dari sebuah lubang samping leherku.


Aku pun langsung menambah tusukan kecil yang tumbuh dari berlian yang menusuk perutnya setipis jarum.


Hanya saja cengkraman tangannya tetap bertahan tanpa merasakan rasa sakit pada dirinya. Ku yakin tangan ini adalah milik pria itu yang dipindahkan.


Setelah aku amati tangan satunya, tangan pria itu berada dibelakang dan disembunyikan olehnya, karena mataku jeli aku sempat berkesimpulan mengenai taktiknya.

__ADS_1


"Apa-apaan ini, cengkeramannya semakin kuat dan bisa saja membunuhku sebentar lagi.."


Brakk!


"Aduh..."


Dia melepaskan cengkeramannya tanpa aku ketahui apa penyebabnya dan itu bukan ulah Marin maupun Lu Yang, karena mereka berdua masih sibuk dengan lawannya masing-masing.


"Bersyukurlah karena dirimu tadi mirip seperti mending istriku, saat dirimu aku cekik!" ucapnya memberitahukan alasan mengapa dirinya melepaskan cengkeramannya padaku.


Dan aku menggunakan keadaan lengah dirinya saat dia memiliki emosi dan sedang mengingatkan sesuatu. Hal itu bisa membuatku memasuki ingatannya.


Kini dirinya tumbang dan lenyap menjadi debu setelah aku ingatkan kenangan terakhir saat dirinya bunuh diri, sebelumnya aku lakukan hal ini karena melihat kemampuan orang ini yang bisa menjadikan ancaman berbagai.


Itulah mengapa aku langsung mencegahnya.


Terungkap juga alasan dirinya tidak merasakan rasa sakit bahwa dirinya tidak memiliki tubuh hanya kepalaku saja tertutup oleh baju hitamnya.


Dan darah yang keluar dari perutnya hanyalah tipuan saja.


Aku pun menuju ke arah Lu Yang yang pertarungan dirinya itu masih bisa aku lihat dengan mata, sedangkan Marin dan pria itu sulit aku lihat gerakannya.


Brak!


Berniat untuk membantunya Lu Yang malah berhasil menumbangkan lawannya saat aku berada tak jauh darinya.


Pria kekar itu kelihatannya sekarat dilihat dari tubuhnya yang masih bergerak-gerak sementara lengan dan satu kakinya patah.


Tak lama Marin berhasil mengalahkan lawannya dengan sentuhan akhirnya yaitu memotong pedang pria itu saat gerakannya terlihat sedang adu pedang.


Anehnya tempat ini menjadi sepi seakan diriku berada di tempat yang mirip dengan wilayah kerajaan.


Para prajurit berdatangan dari arah barat secara serentak.


Aku dan yang lainnya pun menghadap ke arah mereka, sedangkan Lu Yang maju beberapa langkah dan duduk bersila. Satu tangannya lalu diarahkan ke atas seperti orang akan membela.


Brak!


Dengan cepat dia menjatuhkan telapak tangannya yang miring pada tanah sampai berasa getaran olehku.


Seketika tanah terbelah dengan diameter antara 80-100 di hadapan Lu Yang dan merambat cepat ke arah datangnya prajurit sehingga beberapa dari mereka masuk kedalamnya.

__ADS_1


Yang kemudian dia menutupi retakan tanah itu lagi dalam sekejap. Disaat prajurit yang masih didalam tanah hendak keluar diriku langsung berpaling, karena sudah menebak apa yang akan terjadi pada mereka didalam.


__ADS_2