
Noel mempercepat langkahnya menuju ke tempat yang dikatakan raja tadi, yaitu tempat yang akan menjadi kamarku.
"Noel! Aku mau berbicara denganmu! Jadi kamu tidak bisa pergi sekarang," ucapku penuh penekanan.
Hampir saja dia pergi setelah membukakan pintu kamar, yang untungnya sempat aku tahan karena aku menggenggam tangannya.
"Kenapa kamu berbohong, Noel? Kamu tidak menjelaskan bahwa aku akan dihadapkan pada situasi seperti ini!" aku menatap lekat kepadanya.
"Maaf, sebelumnya aku memang berbohong untuk mengiring mu kemari. Sebenarnya aku sudah tahu jika kamu ini memiliki kemampuan!"
"Jadi semua cerita-cerita kamu!!?"
"...kalau itu aku tidak sedang berbohong. Kisah tersebut memang pernah terjadi. Sama halnya informasi yang aku sampaikan kepadamu, itu murni aku dapatkan dari semua pengalamanku!"
"Aku sebelumnya percaya sama kamu Noel, tapi kamu mala berbuat dusta sehingga aku tidak mempercayai perkataanmu lagi," ucapku dengan wajah sesedih mungkin.
"......"
Membuatnya termenung setelah aku mengatakan hal barusan.
"Alasan aku berbohong sebenarnya demi melindungimu, Anita! Karena dari informasi yang aku dapat ada pasukan manusia normal sedang mencari informasi di wilayah ini!"
"Untuk apa mereka menyelidiki wilayah ini(manusia berkemampuan), apa alasannya?"
__ADS_1
"Mungkin mereka mencari orang-orang berkemampuan tinggi agar dapat meniru kekuatannya."
"Mustahil kalau itu terjadi dan bagaimana cara mereka menirunya?"
"Masih spekulasi, aku belum bisa memastikannya."
"Menurutku banyak sekali orang-orang yang mencurigakan disini!" ujar Noel.
"Apa kamu serius berbicara begitu dan tidak sedang lari dari topik pembicaraan?"
"Iya, aku serius. Mala yang aku takutkan adalah seorang memata-mata didalam kerajaan serta penyusup yang menyamar."
"Ya, udah. Aku maafin kamu tapi dengan syarat kamu tidak akan berbohong lagi kepadaku, kecuali situasi mendesak!"
"Iyaa, aku janji."
Malam ini aku belum bisa tidur karena terus memikirkan tentang kemampuan ku. Kemampuan yang sangat langka dan berbahaya apalagi jika di salah gunakan.
Aku pun beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu yang membuatku dapat melihat kebawah.
Dari atas aku dapat melihat keseluruhan halaman karena kastil ini sangat tinggi.
Terlihat beberapa penjaga yang sedang berpatroli di sekitaran gerbang kastil. Serta beberapa orang yang duduk didekat api unggun yang kelihatannya sedang mengobrol kan sesuatu.
__ADS_1
Tak lama kemudian salah satu dari mereka ada yang histeris melihat ke arah temannya.
Secara tiba-tiba satu orang lenyap secara perlahan sambil berteriak-teriak.
"Tidak!! Aku tidak mau mati!!"
Otakku langsung mencerna kejadian tersebut dan menyimpulkan jika kejadian tadi adalah ulahku, karena sebelum kejadian tadi aku sempat fokus kepada salah satu diantara mereka.
Secara tak sadar aku memasuki diri seseorang, disana aku melihat memori kenangan-kenangan orang yang dimasuki.
Sebenarnya aku ingin keluar namun aku masih bingung bagaimana caranya, sampai-sampai aku menemukan kenangan tragis yang dialami orang yang telah aku masuki.
"Mengapa dunia sangat tidak adil? Padahal aku sudah menjadi baik selama 10 tahun ini tapi mengapa orang yang ku cintai berselingkuh didepan mataku?"
Dalam kenangan itu aku berada di samping pria yang sedang menangis di dekat rel kereta api. Meski aku sudah berkata "minggir" karena terlihat kereta yang sedang melaju di depannya.
Pria itu tetap tidak mendengarkan ku sama sekali, hingga kereta sudah tepat didepannya dan...
Pria itu tewas karena tertabrak kereta api, membuatkan sadar dan kembali.
"Huh..! huh..! Aku sudah membunuh seseorang!"
Dengan cepat aku langsung masuk kembali kedalam kamar dan mengabaikan keributan di bawah tadi.
__ADS_1