Last Life

Last Life
Permainan Dalam Ilusi


__ADS_3

Pandanganku lalu tertuju pada jendela reot dengan gordennya yang sobek, terbuka di depan sana, ada yang aneh ketika aku melihatnya dalam keadaan remang-remang ini. Dalam gelap dengan penerangan seadanya.


"Apa kalian lihat jendela yang terbuka disana..." ucapku memberitahukannya kepada Yanwu dan juga Willy.


Mereka berdua lalu memandanginya, setelah aku tunjuk arah pada jendela tersebut. Berbeda dengan Yanwu, Willy malah mendekati ke arah jendela tersebut. Aku pun sama karena merasa ada yang aneh.


Setelah mendekati jendela aku pun tergerak untuk memastikan perasaan aneh tadi sembari melihat ke arah luar jendela tanpa alasan pasti, meskipun ada kemungkinan ilusi lain memerangkap ku secara tak terduga.


Awalnya memang biasa-biasa saja ketika aku perhatikan keadaan di luar yang tampak gelap gulita tanpa cahaya maupun penerangan sama sekali.


Semakin aku perhatikan lebih seksama dan lebih lama malah aku menyadari ada yang tidak beres dengan penglihatanku sebelumnya, bahwa hujan suara deras disertai petir tidak terdengar lagi.


Puk..


Kacaunya lagi, aku baru menyadarinya setelah pundak ku ditepuk oleh Willy yang membuatku tersadar jika sekarang ini aku melihat pemandangan tak masuk akal dengan mata kepalaku sendiri. Air hujan seolah-olah terhenti dalam keadaannya yang terlihat aesthetic membuatku berdecak kagum.


Seperti halnya waktu telah terhenti oleh sesuatu yang masih belum diketahui, mengakibatkan air hujan tersebut diam seakan stuck di tempat hingga menciptakan sebutan bak fenomena alam. Yang mustahil terjadi di dunia alternatif.


Mungkin Willy juga sama berpikir sepertiku ia kini masih tidak berkata apapun setelah menepuk pundak ku tadi. Ku ulurkan tanganku untuk menyentuh air hujan yang terhenti di tempatnya yaitu di udara.


"Mengapa air hujan ini berhenti di udara, ini aneh?" gumam Willy yang masih menatap pemandangan diluar tanpa berkedip sama sekali. Aku juga melihatnya dengan ekspresi terkejut sekali.


"Mungkin karena pengaruh ilusi yang dikatakan oleh Yanwu sebelumnya. Itulah mengapa pemandangan tak biasa ini bisa terjadi."


Dan karena aku ingat membawa ponsel ada inisiatif diriku untuk memotret pemandangan ini, bahkan yang sebelumnya aku tidak tertarik dengan hal memotret entah kenapa menjadi agak tertarik sekarang.


Perasaan itu seperti tanaman yang mulai tumbuh seiring waktu. Lalu mencapai puncaknya karena tanaman tersebut sudah berbuah.


"Willy, maukah kamu berfoto denganku?" tanyaku kepada Willy ketika ia masih memandangi hujan yang terhenti di luar sana.


"Baiklah, foto saja aku terlebih dahulu. Sebentar lagi, aku mau menikmati keindahan ini!" sahutnya.


"Iya."


Usai mendapatkan beberapa foto pada kamera yang masih belum sempurna berbeda dengan tempat asalku di tahun 2018, kamipun mencari cara agar dapat keluar dari ilusi ini.


Sebenarnya ilusi yang aku rasakan kali ini sangat berbeda dibandingkan ilusi yang pernah aku alami sebelumnya.


Yang tidak ada efek tertentu dan merasakan sesuatu hal yang menganggu. Malahan aku keluar karena bantuan dari seseorang.

__ADS_1


"Aku tahu cara supaya kita bisa keluar dari sini, tapi sebelumnya, ada yang ingin aku tanyakan kepada kalian terlebih dahulu?" ujar Yanwu setelah mengetahui cara keluar dari ilusi ini, serya ada hal yang ingin dia tanyakan kepadaku dan Willy.


"Apa itu? Kenapa tidak langsung saja ke intinya?" sahut Willy yang langsung menjawab perkataan Yanwu disertai pertanyaan balik darinya.


"Ada dari kita yang sebenarnya adalah sosok menyeramkan itu, intinya dia sedang berpura-pura berbaur dalam situasi ini!"


"Apa? Bagaimana mungkin dari kita adalah sosok menyeramkan itu, tunggu dulu. Bukannya artinya antara Willy sama Yanwu kan?"


"...Apa benar begitu?" tanya ku memainkan akting gelisah sekaligus khawatir pada situasi ini.


"Hey... apa benar yang kamu katakan itu...?" ucap Willy sembari mendekati dengan tatapan mengintimidasi didepan Yanwu.


"Kalau pun benar apa yang dikatakan Yanwu barusan maka... aku lebih curiga kepada dirinya ketimbang Willy. Karena dia tidak seperti dirinya yang biasanya."


Yanwu lalu memutuskan untuk membongkar penyamaran orang yang menyamar diantara kita bertiga, yang mustahil jika pelakunya adalah aku sendiri.


"Apa yang kamu ketahui tentang temanmu lalu sebutkan, sementara orang yang kamu sebutkan memastikan apakah benar atau tidak!" jelas Yanwu.


"Ini aslinya mudah, hanya saja ada beberapa kendala. Seperti di waktu ini aku dan Willy belum saling mengenal satu sama lain lebih jauh, berbeda pada waktu alternatif. Kalau Yanwu aku belum mengenal lebih jauh tentangnya kecuali..."


"Aku duluan!" ucap Willy menjadikan dirinya sebagai orang yang pertama memulai pengungkapan ini. Aku menyembutnya sebagai game dadakan "apakah dia temanmu?"


"Anita memiliki sifat pemalu tapi dia pura-pura percaya diri!' kata Willy.


"Apa aku harus berkata "ya" saja? Hmm...??"


"Salah!"


"Huh...? Bagaimana bisa? Aku sudah memperhatikan dirimu Anita?"


"Stts dalam peraturannya orang yang salah harus diam, karena bisa saja di anggap pembelaan dan pemaksaan!" kata Yanwu menimpali.


"Baiklah, yang salah menunjuk orang yang akan memberikan pengungkapan selanjutnya," imbuhnya.


"Aku menunjuk Anita."


"Willy tidak menunjuk Yanwu ya... Mungkin dia sedang membalasku."


"Apakah aku ini benar-benar mempunyai sifat pemalu, Yanwu?"

__ADS_1


"Tentu saja kamu tidak memiliki sifat malu," balasnya.


"Hmm tapi sayangnya jawaban kamu salah Yanwu, aku ini memang pemalu tapi berpura-pura percaya diri."


"Mana mungkin! Barusan kamu mengatakan salah pada pengungkapan dia huh!!" ucap Yanwu membela.


"Kamu lupa ya, orang salah tidak boleh bicara."


Untungnya Willy mengingatkannya sehingga Yanwu kembali diam dengan ekspresi kesal.


"Aku menunjuk dia, Willy!"


Karena Yanwu salah dia pun yang menunjuk orang selanjutnya untuk pengungkapan, dan ia pun menunjuk Willy.


Willy tersenyum menyeringai selepas Yanwu berkata, lalu ia membuka mulutnya untuk melakukan pengungkapan.


"Apa kalian berdua adalah teman lama?"


Pada pertanyaan ini Yanwu terlihat terganggu dengan pertanyaan barusan, sampai-sampai ia menjawab agak lama.


"Benar. Kami ini teman lama!"


Sebenarnya ada alasan mengapa aku menjawab salah pada pengungkapan pertama, untuk memberi kode kepada Willy.


"Apa itu benar Anita?" tanya Willy kepadaku.


"Humph. Salah sekali..."


"Hahaha kamu salah berarti kamulah yang menyamar, si penipu!" ucap Willy merujuk pada Yanwu dengan jawaban yang salah seraya mendekatinya dengan ekspresi mengejek.


"Sebenarnya aku baru mengenal kamu Yanwu, apa kamu tidak ingat ya kita bertemu di mall?"


"Serta kalaupun aku ini teman lama kamu, pasti pada pengungkapan kedua tadi jawaban aku sesuai sama kamu, tapi nyatanya beda!"


"Tch, kalian dari awal memang mengincar ku kan? Aku sudah tahu dari caramu menipuku."


"Oi. Kamu itu salah kenapa berbicara?" kata Willy.


"Untuk apa aku menuruti peraturan lagi karena permainannya sudah berakhir, dan kalian berdua akan terjebak di sini selamanya!"

__ADS_1


"Cih, pecundang yang kalah aku tidak tertarik," kata Willy.


Pada akhirnya permainan yang dia usulkan Yanwu menjadikan bumerang untuk dirinya sendiri.


__ADS_2