
Kami masih berunding, memikirkan langkah yang tepat dalam penyusunan rencana demi mencapai kesepakatan bersama yang mutlak. Lalu kesepakatan tersebut akhirnya di dapatkan dan kami akan dibagi menjadi dua tim yang berbeda.
Aku masuk kedalam kubu singa yang dinamai oleh Ryu beranggotakan Nie, Aku, Kwen, dan Hiyou.
Sementara di kubu naga ada pria yang tidak diketahui namanya, Billy, Geisha, dan tambahan lagi pria berkemampuan psikis.
Tidak menunda lebih banyak waktu lagi, kamipun langsung keluar dari rumah tersebut setelah melakukan beberapa persiapan.
Dikarenakan akan ada peperangan yang akan terjadi antar ras manusia dalam waktu dekat.
Aku pun berganti pakaian agar sesuai dengan rencana serta supaya tidak menyulitkan ku saat menjalankan misi.
Pakaian yang ku kenakan saat ini adalah kaos lengah pendek dan celana jeans pendek. Di tambah lagi tas kecil yang kubawa.
Kini mengunakan kemampuan milik Kwen kami dapat terbang menaiki burung tanpa berjalan kaki.
Aku bersama Hiyou dan Nie bersama Kwen.
Di atas mungkin kami dapat terlihat dari bawah oleh orang-orang kerajaan atau mungkin saja terlihat mencurigakan, tapi salah satu dari kami memiliki kemampuan yang unik.
Kemampuan yang tidak dapat dideteksi oleh seseorang, yaitu kemampuan kamuflase yang dimiliki oleh Hiyou.
Kolaborasi antar Kwen dan Hiyou menjadikan kami tidak terlihat selama perjalanan di udara.
Dua burung besar dikerahkan, sedangkan aku saat ini sedang menumpangi salah satunya. Sebenarnya burung ini di dapatkan oleh Kwen saat ia memberi makan burung-burung tadi pagi.
Namun entah kenapa burung tersebut mengikuti Kwen sampai masuk kedalam rumah, yang akhirnya memberi Hiyou ide untuk menggunakan burung tersebut sebagai kendaraan di tim singa.
Dengan kemampuannya, Kwen dapat menggunakannya sebagai kendaraan yang dapat terbang di atas awan.
Kwen ini memiliki kemampuan dapat mengubah suatu benda maupun objek menjadi berukuran besar.
Bukan hanya objek saja dan benda mati yang dapat ia ubah, melainkan makhluk hidup seperti burung dan manusia pun bisa. Hanya saja menurut penuturannya jika makhluk hidup memiliki batas waktu tertentu sampai kembali kebentuk semula.
Aku hanya memahaminya sedikit, karena pengungkapan kemampuan seseorang saat perbincangan tadi berlangsung tidak terlalu lama.
"Kurasa di depan sana tempat dinding pemisah itu berada?" ucap Hiyou memberitahu, sementara aku tidak terlalu mengerti tentang letaknya. Apalagi dinding tersebut tidak terlihat dengan jelas.
"Benar, jaraknya mulai dekat. Sepertinya kalian para gadis-gadis harus bersiap-siap, karena sebentar lagi kita akan menembus awan!"
"Baik!" ucapku serentak dengan Nie.
Rencana yang aku tahu, jadi di timku akan terbang menembus awan dan melewati jalur udara untuk dapat memasuki wilayah ras manusia tidak berkemampuan.
Karena menurut Hiyou teknologi yang ada di wilayah tersebut berkembang sangat pesat melebihi peradaban manusia di dunia alternatif.
Menggunakan kemampuan peningkatannya, bentuk kamuflase milik Hiyou akan di buff dan menjadi tidak terlihat oleh teknologi mereka atau radar ketika memasuki jalur udara.
Bahkan pria beraura dingin menambahkan jika penjaga gerbang tersebut sangat lihai dan awas dalam berpatroli.
__ADS_1
Flashback on
"Kalian harus berhati-hati saat mendekati wilayah itu. Penjaga di sana sangatlah ahli dan berbeda dengan penjaga pada umumnya. Mereka dilengkapi dengan teknologi canggih dan persenjataan mutakhir!"
"Aku ingatkan sekali lagi. Jangan ada yang bersuara ketika kalian sudah mulai memasuki wilayah manusia tidak berkemampuan saat Hiyou menggunakan kemampuan kamuflase nya pada saat di udara!"
Wusss..
"Pegangnya yang erat!" ucap Kwen.
"Kyaa!!" teriak Nie namun Hiyou menyuruhnya untuk diam.
"Sttts kita berada di wilayah yang rawan!"
Dua burung ini melesat terbang ke atas dengan cepat mencapai ujung tembok wilayah manusia tidak berkemampuan.
Meskipun tembok itu besar, tinggi, serta luas. Namun memiliki celah di bawah( dalam tanah) dan udara.
Untungnya sebelum melakukan penerbangan aku dan Nie telah diingatkan untuk tetap tenang saat burung tersebut akan melesat cepat di udara.
Kini kami melihat pemandangan langit yang sangat indah di waktu kami berhasil menembus awan. Setelah itupun kami lurus ke depan baru ketika sudah dekat dengan target atau wilayah pendaratan kami pun terjun ke bawah.
Dan di saat inilah kami harus benar-benar diam tidak bersuara sama sekali.
Wuss...
Kembali memasuki awan setelah terjun, akhirnya aku dapat melihat dataran di wilayah manusia tidak berkemampuan.
"Menakjubkan sekali... disini persis seperti dunia tempat asalku..." melihatnya saja membuatku sangat takjub.
Di udara terlihat banyak pesawat terbang yang diam, dipastikan pesawat tersebut adalah pesawat tempur yang digunakan sebagai penjaga, karena ukurannya lumayan besar dan bentuknya beragam.
"Haish!!!"
"Oh, tidak! Nie baru saja bersin!"
Note: selanjutnya sudut pandang para penjaga.
"Lihat! Ada penyusup di radar!!"
"Iya, tapi kenapa aku tidak bisa melihatnya melalui teropong?"
"Kita hubungi pusat analis untuk meminta ijin!"
.....
"Lapor. Saya menemukan penyusup dalam pantauan radar, namun tidak bisa terlihat oleh alat-alat kami. Jadi kami minta persetujuan regu analis untuk menembak jatuh target!"
"Baik. Saya faham. Segera luncurkan misil ke arah yang di tuju!"
__ADS_1
"Baik. Koordinatnya. . . . !"
Bum! Woss!!!
"Gawat, ini gawat. Kita di serang!" ucap Hiyou berteriak sementara Nie meminta maaf
"Maaf, ada bulu burung yang masuk ke hidungku!"
"Tsk, satu kesalahan saja bisa fatal!" decak Hiyou sambil beranjak dari posisi duduknya.
"Hiyou, bagaimana ini? Mereka menembak misil ke arah kita!" ujarku kepadanya kuatir.
Bersamaan dengan misil yang menuju ke arah kami, Hiyou merogoh sakunya untuk mengambil sesuatu. Dan juga ia merogoh dalam jazz yang ia kenakan.
Kini Hiyou memegang pistol lalu menaruh peluru kedalamnya. Dalam posisi berdiri ia terlihat sedang membidik misil dan...
Dor! dor! dor! dor!
Empat suara tembakan yang sama dengan jumlah misil.
"Sekarang waktunya Kwen!!"
Kulihat dengan jelas Kwen si pria pirang menyatukan kedua telapak tangannya. Saat itulah secercah cahaya muncul.
Lalu ketika aku melihat kembali ke arah misil...
"Bagaimana bisa... dia merubah peluru yang melesat tanpa menyentuhnya?"
Peluru yang dikeluarkan oleh pistol yang digunakan Hiyou berubah menjadi berukuran besar.
Di detik-detik tersebut burung yang kami tumpangi berhenti dan berbelok mundur kebelakang seperti lari dari arah sebelumya.
Darrr!!!
Terjadi suara ledakan yang sangat besar hingga aku tidak berani untuk melihat kebelakang.
Kaget akan suara ledakan, aku pun sampai dibuat terkejut. Hingga hampir saja aku terhempas dari atas burung, namun dengan sigap Hiyou menolongku.
Sementara burung yang kami tumpangi terus terbang di udara.
Note: Sementara di sisi Kwen dan Nie.
"Hahaha tadi hampir saja..."
"Kamu memang bisa diandalkan!"
"Begitulah, kemampuanku lumayan sangat membantu. Tunggu! Bukannya ini semua gara-gara kamu ya!"
"Heh, sedang apa mereka disana. Mereka tidak sedang bertengkar kan?" tanya ku dalam hati saat melihat Kwen sedang berbicara dengan Nie, namun kwen terlihat seperti sedang mengomeli seseorang.
__ADS_1