Last Life

Last Life
Tidak Terbaca Apa Taktiknya


__ADS_3

Masih terlihat Junjie yang melakukan perlindungan kepada beberapa orang yang kurasa tidak memiliki kemampuan.


Sebagian lagi sorotan mengarah pada wajah tenang Junjie seperti halnya dia adalah air tenang yang fokus pada penyelesaian masalah.


Beberapa orang lalu terlihat terbang menuju bagian atas pasir bagaikan alas yang menutupi kota itu.


Hingga dibuat gelap dan menganggu pandangan bagi mereka yang hendak menyelamatkan barang berharga.


Sampai salah satu robot sekilas menyorot rumah dalam keadaan terang.


Menggunakan kemampuan mereka masing-masing akhirnya orang-orang yang terbang itu dapat melubangi pasir tersebut.


Mereka kini berada di atas pasir dan mungkin saja mencari dalang dibalik kejadian ini.


Beda dengan Junjie dia terus menyelamatkan orang-orang, siapa sangka bisa saja ada yang terluka walaupun ras manusia dewa itu tidak berniat membunuh dengan hujan berbahaya tersebut.


Menurutku itu adalah langkah yang tepat yang dilakukan oleh Junjie.


Selain itu aku juga ikut membantu, melalui sorotan yang tertangkap aku memperingati Junjie maupun memberitahukan keberadaan seseorang yang membutuhkan pertolongan.


Dengan sigap Junjie menolong mereka dia seperti halnya anak buah yang patuh kepada pemimpinnya.


"Terimakasih Anita."


"Iya, tapi kamu hati-hati jangan sampai lengah!"


"Baiklah."


Tak lama beberapa wujud hewan terbang yaitu naga mulai terbentuk dari pasir itu dan melakukan manuver hingga merusak tempat tinggal warga.


Penyerangan balasan pun dilakukan lantaran seseorang yang rumahnya dirusak tidak terima.


Menit berikutnya kota itu semakin gaduh dan mencengangkan lantaran harus menghadapi dan berlindung sekaligus.


Menghadapi naga yang terbentuk dari pasir dan berlindung maupun menghindar dari hujan berbahaya itu.


"Sekai, Yanwu, please... bantu mereka ya!" ucapku memohon.


"Bantuan sudah dikirimkan kesana Anita, robot-robot besar milikku akan segera membantu kekacauan yang dibuat oleh ras manusia dewa itu, ya, mirip seperti Reina saja!" sahut Sekai ada solusi pada ucapannya.


"Kamu Yanwu.. nggak bantu...?"


"Tidak, aku disini saja."


"Hmmm."

__ADS_1


"Baiklah, baiklah tadi aku hanya bercanda. Aku bisa membantu mereka dari jarak jauh!"


"Seperti apa?" tanyaku penasaran.


"Ya.. aku tidak bisa menjelaskannya, kamu lihat saja sekarang!"


Aku pun berbalik dan melihat kembali ke arah layar. Terlihat rintikan hujan berbahaya itu lenyap saat turun perdetik dari permukaan.


"Huh...?"


"Jadi tenangkan dirimu sekarang ini Anita, dan bantu Junjie! Kamu bilang ingin membantunya bukan?" ucap Yanwu, ada yang aneh. Karena dia tidak merasa cemburu.


Kini terlihat Junjie yang sudah berada di atas pasir luas itu, yang tengah melayang di udara.


"Kamu ras manusia dewa bukan, aku ingin mengajakmu untuk bergabung dengan kami. Anggaplah diriku sebagai perantara undangan! Tujuan kami mengumpulkan sepuluh ras manusia dewa untuk membuka gerbang ruang dimensi, yang dapat membuat seseorang kembali hidup di dunia alternatif!"


"aku pun juga sama satu ras yang sama sepertimu, tidak masalah jika dirimu menolak. Karena aku tidak memaksa kehendak seseorang, pikirkanlah terlebih dahulu!"


Dengan serius dan detail Junjie menyampaikan maksudnya kepada wanita dari ras manusia dewa itu.


Dalam sorot lain aku melihat beberapa orang yang dibuat pingsan dan terjebak dalam pasir, tapi hanya setengah tubuhnya yang terkubur.


Barusan Junjie bersikap tenang malah mengucapkan sebuah kebebasan yang terkesan tidak memaksa kehendak wanita itu. Untuk memilih ikut atau tidak dalam sebuah misi utama.


Kukira akan semudah itu mendapatkan rekan lainnya dengan awalan rendah hati, tapi nyatanya wanita itu meminta sesuatu yang menyulitkan. Syarat mutlak jika saja Junjie mengalahkannya.


Ya, itu jika wanita tersebut benar-benar menempati janji.


"Sembilan puluh persen wanita itu akan ikut dengan Junjie, percayalah padaku!" ucap Yanwu spontan membuatku serius kali ini. Apa ada yang aku lewatkan?


Setuju akan permintaan wanita itu Junjie lalu langsung menyerangnya.


Hanya saja aku baru sadar jika sekarang ini Junjie berada di area yang sudah dalam kendali wanita itu.


Bahkan pasir itu mulai bergerak menjauhi kota tersebut secepat orang berjalan, setelah mengurung Junjie maupun ras manusia dewa itu sendiri dalam kubus raksasa.


Untungnya karena ada robot-robot yang sempat masuk dalam kubus itu seketika membuatku tenang, dan layar beberapa sorotan hanya kehilangan dua saja.


Sorotan luar menampilkan keadaan kota yang kini sudah aman, namun beberapa orang mengejar kubus raksasa itu.


Hanya saja aku melihat dengan jelas pasir itu seakan tidak tertembus, meskipun ada seseorang yang memiliki kemampuan sulap. Sebut saja begitu, karena dari topinya dia bisa mengeluarkan dinamit yang sudah menyala.


Dharr!!


Terus-menerus orang itu tempelkan pada bagian pasir, namun hasilnya nihil. Sama sekali tidak tertembus.

__ADS_1


"Robot ku memperkirakan jika pasir itu jumlahnya berton-ton jika dikumpulkan. Dan sudah sangat rapat serta tebal, sehingga tak mudah untuk di tembus!" ucap Sekai yang memang hal itu ingin aku tanyakan, ternyata karena pasir itu yang sangat banyak. Bergabung menjadi satu.


"Jun, dibelakang!"


"Awas, Jun!!"


Berulang kali aku memperingati Junjie agar tidak terkena serangan dari ras manusia dewa itu, paling membuatku kesal serangan dadakan yang menganggu waktu Junjie mengalahkan wanita itu.


Dan dari arah samping, depan, belakang, hingga berbagai arah kini membuat Junjie terpojok.


"Sebenarnya Junjie memiliki dua kemampuan, yaitu regenerasi yang super cepat ditambah dengan kemampuan bawahannya. Dia dulunya adalah seorang master pedang!" ucap Sekai memberitahu.


"Aku juga sudah menduganya, hanya saja dirinya akan kesulitan untuk saat ini!" timpal Yanwu.


Untuk saat ini aku masih bisa melihat pengerakan Junjie dalam menghindar, walaupun dalam keadaan terpojok.


Sebenarnya aku ingin membantunya tapi melihat situasi aku khawatir diriku malah membuat Junjie jadi tak fokus.


"Apa kamu melihatnya Anita?"


"....."


"Aku tahu kamu melihatnya, kamu sedang khawatir sekarang!"


Masih saja Junjie berusaha untuk membuka obrolan dalam keadaannya yang sedikit lengah saja bisa berakibat fatal, jika serangan pasir itu mengenai dirinya.


"


Aku pun menonaktifkan alat komunikasi yang terhubung pada Junjie, berniat ingin membujuk Yanwu agar mau membantu Junjie.


"Yanwu... kamu bantu Jun ya, dia sekarang sedang terdesak..." sembari aku melihatnya dengan tatapan ku buat memelas.


"Tidak."


"Langsung gagal!?"


"Dia sebenarnya bisa mengalahkan ras manusia dewa itu dengan mudah. Hanya saja jika dia mengalahkannya secepat itu, tidak akan membuat wanita itu puas!" ungkap Yanwu mengenai wanita dari ras manusia dewa itu, namun aku masih belum paham apa maksudnya.


Untuk sekarang ini Junjie belum menggunakan teknik pedangnya sama sekali.


Sebelumnya pun hanya ayunan pedang biasa.


"Guh.."


"Junjie!!!"

__ADS_1


__ADS_2