
"Berhenti disana!" ucap Yanwu keras membuat Lina seketika menghentikan langkahnya.
Sesuai apa yang aku katakan kepada Yanwu secara singkat mengenai perjanjian antara Lina melalui ancaman orang yang dicintainya. Aku menyerahkan semuanya kepada Yanwu agar Lina terpaku akan kesepakatan.
"Kamu... kenapa berbohong kepadaku? Bukannya orang yang aku cari ada didekat kalian?"
Tentu saja Lina marah kepadaku karena aku berbohong kepadanya dan dia mengetahuinya secara cepat.
"Aku tidak tahu kalau dia ada pada rekanku, sungguh, aku tidak ada hubungannya sama sekali," sahurku dengan ekspresi tidak tahu apa-apa.
"Pembohong! Aku terjebak sebelumnya sehingga melepaskan kendaliku pada dua rekan mu!" ucap Lina nada bicaranya ketus matanya menatap tajam ke arahku.
"Terserah kamu percaya atau tidak, aku beritahu kepadamu bahwa rekanku hendak membunuh orang yang kamu cintai!"
"Apa kamu bilang!? Tidak mungkin dia berani, dan sebelum dia melakukan itu aku akan..."
Tap! Wosh...
"Mustahil!? Gerakan itu..."
Belum selesai Lina berbicara omongannya langsung tertahan kala Yanwu bergerak cepat bagaikan cahaya, yang sekarang ini sudah ada dibelakang Klie sambil menaruh pedang pada leher Klie guna mengancam. Aku bahkan tertegun melihat sekilas kecepatan Yanwu barusan.
"Aku akan langsung to the point saja, mari kita buat kesepakatan untuk bekerjasama dalam menyerang kerajaan!" tandas Yanwu di saat Lina masih shock melihat kecepatannya sebelumnya, aku nyakin akan hal itu.
Apabila kesepakatan ini berhasil maka penyerangan terhadap kerajaan akan mudah dilakukan kedepanya, apalagi saat memasuki wilayah kerajaan. Dengan banyak nya prajurit berkemampuan memasuki kerajaan akan memakan waktu dan memicu kemarahan rakyat.
"Aku tidak mau melakukan itu, dengan alasan karena raja sudah menanamkan parasit didalam tubuhku. Yang kapan saja aku bertindak ceroboh seperti berkhianat maka nyawaku bisa saja terancam," tutur Lina wajahnya ketika aku lihat dia sangat cemas.
Kemungkinan terbesarnya raja melakukan hal gila itu kepada pelindungnya agar mereka tidak berkhianat dikemudian hari, mungkin semua pelindungnya ditanamkan parasit serupa.
Atau bisa saja parasit itu berasal dari kemampuan salah satu pelindung raja.
"Ya sudah, terpaksa aku harus membunuhnya.." Yanwu mengancam lagi Lina.
"Iya iya aku terima kesepakatan barusan, asalkan jangan bunuh dia!"
Harusnya Lina memastikan terlebih dahulu jika Klie benar-benar masih hidup, walaupun dia berada tak jauh dari tempatnya berdiri yang sebelumnya melambaikan tangan kepadanya.
Perasaan cintanya pada Klie mungkin sangat dalam sehingga kewaspadaannya dibuat menurun jika seperti ini Lina diwaktu ini sama halnya dengan dia diwaktu alternatif.
__ADS_1
"Bagus, kesepakatan kita sudah resmi sekarang. Tinggal kamu menuruti apa kehendak diriku nantinya!" tegas Yanwu. Pada keadaan ini entah mengapa diriku rasanya senang sekali.
"Pasti aku akan turuti, jadi bisakah kamu melepaskan dia aku mohon..."
"Hm, ya tentu saja."
"Ingat ini. Untuk sementara dia dalam kendali ku, sedikit saja kamu melanggar kesepakatan maka dia terbunuh dalam sekejap!" ucap Yanwu memperingati Lina, yang tentunya ucapannya barusan cuma gertakan.
"Ngomong-ngomong dimana ya keberadaan Kino sekarang? Dari tadi dia belum muncul-muncul, padahal Kay mengakui tidak membunuhnya sebelumnya."
Di saat Willy dan Yanwu berunding memutuskan keluar atau tidaknya dari tempat ini, Kino akhirnya terlihat batang hidungnya lagi. Kali ini dia bersama dengan dua wanita yang aku kenal sebelumnya. Nie dan Geisha.
"Dia selalu saja mengejutkan diriku seperti ini, disaat aku memikirkannya. Aku rasa Kino akan memiliki umur yang panjang."
Melihat diriku menatapnya terus, Kino mempercepat langkahnya menuju kearah ku.
"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu, jadi, menurut penglihatan masa depanku, kita memiliki kemungkinan memang dari raja!" ucap Kino memberi kabar gembira selain kedatangannya yang mendadak ini.
"Eh, serius? Lalu seperti apa pandanganmu yang lainnya. Misalnya kondisi, keadaan, tempat, dan waktu dalam penglihatan mu?"
"Yang pasti untuk kondisi dalam keadaan baik-baik saja, tapi itu yang aku lihat, serta aku melihatnya kita memasuki wilayah peperangan, ya, itu menurut penglihatanku."
"Jadi perang tetap terjadi ya meskipun kita sudah berusaha mencegahnya..."
"Sudahlah, kita pikirkan itu nanti yang pasti kamu sekarang tidak kenapa-kenapa Kino. Aku senang dapat melihatmu lagi, dan ya, untuk yang sebelumnya terimakasih banyak," ucapku sembari menyampaikan rasa terimakasih pada Kino, dia sebelumnya menyelamatkan diriku. Meskipun hanya pengalihan saja tapi itu sangat berarti bagiku.
Anggota kini mulai bertambah sedikit demi sedikit, dan beberapa lainnya yang belum dijumpai. Yaitu 4 orang yang memiliki hubungan pertemanan dengan Ryu.
Jujur saja aku penasaran pada mereka berempat terutama pria beraura dingin yang masih belum aku ketahui kemampuannya.
Menurut perkiraan ku dia pasti menyembunyikan kemampuannya karena suatu alasan, sama seperti Hiyou yang pergi meninggalkan tim singa di waktu alternatif tanpa alasan yang jelas.
Keluar dari bungker tersebut kamipun bergegas pergi secepatnya.
Lalu aku dan Willy serta Kay berpisah dari Yanwu dan yang lain untuk sementara. Waktu pertemuan kembali pun saat aku sudah bersama 5 orang tambahan sekaligus.
Alasan diriku hanya bersama dengan dua orang saja agar tidak terlalu mengejutkan mereka saat ditemui.
Kini kami bertiga mengikuti jalan yang Kay tunjukkan, awal-awal menuju kediaman Ryu adiknya.
__ADS_1
Dalam perjalanan ini Kay menggunakan kemampuannya demi mempercepat waktu sampai disana dengan elemen air miliknya. Awalnya air yang membentuk bundaran dibuat sedemikian rupa agar bisa digunakan sebagai tumpangan.
Kami bertiga menaiki bundaran lumayan besar tersebut masing-masing yang tidak membuat pakaian menjadi basah saat mendudukinya.
Di tengah perjalanan aku melihat sesuatu di langit wilayah manusia tidak berkemampuan seperti halnya sesuatu yang diluncurkan.
Dari bekasnya yang menyerupai jalan awan mungkin saja sesuatu itu adalah luncuran robot dan besi panjang mirip roket seperti diwaktu alternatif saat aku, Kwen, Hiyou, dan Nie masuk kesana.
Tapi apa mungkin seperti yang aku pikirkan, kalau memang begitu artinya saat ini dalam keadaan membahayakan. Karena ada kemungkinan perang segera terjadi.
Simulasinya mungkin diawali dengan serangan dari ras manusia tidak berkemampuan melalui luncuran tadi. Serangan udara misalnya.
"Aku harap spekulasi ku tadi tidak benar adanya."
Sampai di tempat yang Kay tunjuk sebagai rumah bagi Ryu, aku turun dari bundaran air tersebut dengan kaki kesemutan.
Meskipun begitu aku tetap menyembunyikan rasa kesemutan itu dari mereka berdua.
srek!
"Aah!!"
Willy dengan sigap menangkapku yang hampir jatuh karena efek kesemutan yang sungguh tidak bisa aku kendalikan, lucunya aku.
Momen ini mengingatkan diriku pada saat aku kecil, pada waktu itu aku sedang memanjat pohon lemon, namun karena salah langkah diriku jatuh dan terjun bebas kebawah.
Disaat itulah aku diselamatkan oleh seseorang pria yang aku lihat wajahnya mirip dengan...
"Jangan melamun. Kamu hampir jatuh kan?"
"...iya aku minta maaf."
"Hadeh... sini. Aku gendong kamu sampai kesemutan di kakimu hilang."
"Nggak papa, sekarang udah mendingan, aku bisa jalan sendiri!" tandas ku lalu bergegas mendahului.
Hanya saja kakiku kembali kesemutan dan tak bisa diajak berkompromi sama sekali. Demi membenarkan omonganku tadi aku terpaksa menahan kesemutan ini.
"Kalian berdua duluan aja, aku terakhir," ucapku disertai senyuman.
__ADS_1
"Dasar kamu ini orangnya memaksa!"
"Kyaa!!!"