
"Siapa namamu?" tanyaku pada pria berkemampuan senjata api.
Sebelumnya aku tidak menanyakan nama pria ini, bahkan diawal bertemu dengannya aku masih menyebutnya dengan julukan kemampuan miliknya.
Sekalian saja memastikan kesadaran dirinya, apakah masih dalam kontrol Yanwu atau terlepas yang kemungkinan karena keluar dari tempat ilusi tadi.
"Namaku Snaper, kau bisa memanggilku snap. Ya... memang terdengar tidak asing namaku itu, karena ada hubungannya dengan sniper."
"Apa namanya itu adalah nama aslinya, hmm belum tentu juga sih?"
"Iya sih, ada hubungannya. Apalagi kemampuan yang kamu miliki berhubungan erat dengan senjata api!"
"Heh heh benar juga apa yang kau katakan, hanya saja... waktu genjatan senjata kita telah berakhir. Atau... aku menyebutnya karena terpaksa sebelumnya!"
Dan benar saja firasat buruk yang aku alami sejak awal padanya, menjadikan pertanda bahwa hal seperti ini bisa saja terjadi. Tapi dengan pengakuannya ini aku bisa memastikan jika dia sudah lolos dari kendali Yanwu.
"Sekarang kemarilah, mendekat kearah ku. Dan jangan sampai dirimu menggunakan kemampuan secara tiba-tiba, atau... aku tekan pelatuk senjata ini dengan cepat. Aku pastikan melebihi kecepatan bayangan dan kepalamu akan berlubang!"
Aku menebak, jika perkataannya barusan hanyalah gertakan saja.
Diriku lalu mendekati dirinya secara perlahan karena dia hanya menyuruhku untuk mendekatinya tanpa menyuruhku untuk terburu buru.
Yang kurasa memberi kesempatan bagi diriku untuk menggunakan kemampuan memasuki ingatan seseorang. Terutama padanya sekarang.
Dan Yah. Kini diriku memasuki ingatannya dalam waktu sekejap daripada biasanya. Mungkin diriku mulai terbiasa pada sebab akibat memasuki ingatan seseorang, kuncinya adalah hati yang tenang dan fokus dalam diri tanpa tergoyahkan oleh apapun.
"Dia ternyata utusan raja. Pantas saja waktu itu menyerang bungker bawah tanah di malam hari secara tiba-tiba, dia hanyalah seorang perantara untuk memasuki bungker melalui jalur pintas, yang tak lain menggunakan portal yang dapat dia munculkan!"
Hingga ingatan kelam pria ini sudah aku temukan, kenangan kelam nya itu saat dirinya baru menginjakkan umur 14 tahun, ketika dirinya masih berada di dunia alternatif.
Orang tuanya membuang dirinya di tengah hutan menggunakan mobil pribadi, selang beberapa waktu dari rumah menuju tempat yang lumayan jauh ini. Akhirnya setelah sampai di tengah hutan pada jalanan sepi mereka berdua memaksa anaknya untuk turun.
Lebih jahatnya lagi mereka tetap mengikat kedua lengan anaknya walaupun sudah diturunkan dari mobil. Bahkan plester di mulut anaknya saja masih dibiarkan tanpa dibuka.
Setelah itu meninggalkan anaknya di hutan yang sunyi sepi ini.
"Dia tidak menangis, tapi aku rasa kejadian ini akan memberinya kenangan kelam yang tak pernah terlupakan olehnya."
"Mata itu... adalah mata penuh dendam dan kebencian."
Diriku hanya bisa melihatnya terbaring di rerumputan dengan tangan dan kakinya yang terikat. Lalu yang menjadi pertanyaan, bagaimana dirinya bisa hidup sampai di usianya melakukan bunuh diri?
__ADS_1
Karena penasaran, diriku tetap menunggu seseorang yang akan membantunya, lagipula waktu ketika diriku berada di dalam ingatan seseorang berbeda jauh dengan waktu asli di time line utama.
"Kakek tua? Tapi... kenapa dia berlumuran darah?"
Tentu saja aku dibuat mengernyitkan dahi terus menerus, dan berspekulasi mengenai darah yang ada pada tubuh kakek ini, aku pun mendekatinya.
"Ternyata darah segar, jangan jangan..."
"Tenang nak, aku akan membebaskan dirimu dari ikatan kuat ini. Tenang saja."
Aku pun mempercepat ingatannya hingga di momen dirinya melihat mobil kedua orang tuanya menabrak pohon sampai ringsek.
Slash...
Diriku kembali pada waktu semula dan keluar dari ingatan Snaper agar tidak terlalu sering diriku mengalami mimpi buruk ketika sudah terlelap. Bagiku melihat hal berdarah darah bisa saja malamnya terbawa kedalam mimpi.
Kini Snaper tergeletak dengan kedua tangannya memegang kepala, namun dirinya tidak bersuara.
"Maaf, aku melakukannya karena dirimu yang memaksaku untuk memasuki ingatanmu, dengan menggunakan kemampuan milikku."
Pergi meninggalkannya begitu saja bukan cara terbaik untuk mengantisipasi kedatangannya ketika sudah tersadar, maka untuk pengaman. Diriku menanamkan ingatan berulang jika dirinya sadar.
"Sekarang ini tim satu, dua, dan tiga sedang menghadapi dirinya sendiri. Aku seharusnya cepat cepat pergi kesana untuk membantunya, hanya saja Yanwu belum muncul untuk menemui ku."
"Kamu merindukanku, Anita?"
Terdengar suara merdu sebagai ciri khasnya, dia sepertinya telah di panjangkan umur lantaran muncul di saat aku memikirkan dirinya.
"Tidak. Aku cuma menunggu kehadiran dirimu saja."
"Meskipun hanya menunggu, akan tetapi diriku merasa senang lantaran ada yang menantikan diriku dikala aku berusaha keras melawan orang itu!"
"Eh? Kamu kesusahan melawannya? Tapi... tidak ada satupun luka pada dirimu? Dan sepertinya pakaian dan keadaanmu sama persis pada kondisi awal sebelum masuk kedalam ilusi itu?"
"Ya, itu karena diriku bisa memanipulasi waktu. Biar aku jelaskan supaya kamu tidak bertanya lagi, kamu ini kan orangnya penasaran."
"Humph, kata siapa!"
"Jadi diriku yang kamu lihat sekarang ini adalah diriku sebelum masuk kedalam ilusi, sementara diriku sendiri saat setelah mengalahkannya dalam kondisi pakaian yang sedikit robek!"
"Hmm aku mengerti, mari kita kesampingkan dulu pembicaraan ini. Ada yang harus kita bantu sekarang!" ucapku sembari bergegas pergi lebih dulu menuju tempat rekanku yang lain.
__ADS_1
"Padahal dia yang memulai..."
Tidak jauh dari tempat objek ilusi tadi kini aku melihat Willy sedang bergerak lincah menghindar dan menyerang balik dirinya sendiri.
Ting!
Shut!
Disini masih ada rumah rumah penduduk maupun bangunan yang berdiri kokoh, dan memang masih aman aman saja karena tidak ada yang berniat untuk menghancurkannya.
Sementara tak jauh dari titik Willy bertarung yang lain juga sedang sibuk melawan dirinya sendiri. Yang untungnya ada dari mereka sudah mengatasi lawannya tersebut berkat bantuan Brain.
"Saatnya kita bergerak!" ucapku sembari keluar dari tempat pengintaian sementara ini.
"Baguslah jika dirimu bersemangat."
Tap! tap! tap!
Berlari lalu melompat dengan lompatan tinggi yang jauh hingga berada dihadapan wujud imitasi Willy.
"Anita?"
"Awas di..."
Swosh...
Saat aku menoleh kebelakang melihat wajah Willy yang terkejut aku merasakan pula ancaman bahaya. Dan aku pun menghindari tebasan sabit sekaligus menghajar imitasi tersebut dengan keras pada wajah, perut, dan terakhir menendang tubuhnya.
Brash...
"Ternyata fisikku juga ditingkatkan lebih kuat lagi setelah mendapati kemampuan baru, dan aku baru saja mencobanya. Setelah diriku sendiri memaksa untuk melepaskan peran wanita polos."
Saat imitasi itu terhempas beberapa langkah pada tanah, diriku mulai menciptakan berlian dari jarak jauh. Kemudian membentuknya pada area imitasi tersebut.
Krak!
Hingga tubuhnya itu menjadi berlian tanpa aku sentuh. Sampai sampai Willy dibuat terkejut saat aku menoleh dan tersenyum kepadanya.
"Luar biasa, kamu sangat keren Anita!"
"Eh, harusnya dia bertanya tanya lantaran diriku agak berbeda, tapi Willy malah memujiku."
__ADS_1
Kletak!
Dari kejauhan pula diriku mengerahkan berlian yang melayang di udara, yang kemudian ku gunakan untuk menghancurkan tubuh imitasi Willy tersebut.