
"Anita, kamu bukannya sudah janji akan menceritakan suatu hal tentang istriku, apa syarat janji tersebut masih berlaku sekarang?" tanya Ryu sembari meniriskan sosis pada saringan minyak. Dan anehnya peralatan di rumah ini tampak modern dibandingkan dekorasinya yang menggambarkan abad pertengahan.
"Ya, masih. Aku akan langsung ceritakan nya saja, istrimu sebelumnya terlepas dari ilusi mimpi sekaligus kendali Yanwu. Kamu taukan, jika istrimu lepas berarti Kay juga sama. Intinya mereka berdua melarikan diri dari medan perang berduaan!"
Seharusnya aku tidak mengatakan hal ini kepadanya secara gamblang, harus aku bumbui dengan perkataan yang dapat mengurangi luka di hatinya setelah mendengar akhir perkataan ku.
Berhubung Ryu menganggapnya sebagai transaksi timbal balik maka aku secara tidak sengaja berterus terang kepadanya dan tidak memprediksi kemungkinan setelahnya.
"Jadi benar istriku telah melekat pada pria itu, saudaraku sendiri. Hingga dia rela meninggalkan anak kandungnya sendiri!"
Brak!
Ryu mematikan kompor listrik tersebut lalu berkata menegaskan tentang istrinya itu, dia terlihat kecewa dan bercampur marah menurutku. Bahkan meja pun jadi pelampiasan amarahnya.
"Ryu, aku harap kamu dapat menerima kenyataan tersebut. Bukannya dengan dirimu yang mengetahui akan hal ini bisa menjadi alasan kuat bagimu untuk meninggalkan dirinya yang sudah gelap mata itu."
Ryu terlihat mengepalkan satu tangannya dan menatapku dengan pandangan penuh arti.
"Emm... kamu juga memiliki seorang malaikat yang harus kamu jaga keberadaannya hingga dia tumbuh besar kelak, lalu kamu akan memetik buah hasil dari jerih payah mu."
Sebenarnya tidak ada maksud diriku untuk menggurui Ryu seperti ini, hanya lantaran melihat senyum Yin saat itu membuatku jadi ingin mempertahankannya.
Jika ayahnya bersedih otomatis dia pun akan ikut bersedih, meskipun dalam diri Yin ada kepribadian ganda yang belum diketahui oleh ayahnya.
"Yah. Aku akan kuat demi malaikat kecilku. Mana mungkin hal seperti itu dapat menerpa mercusuar di tengah badai dahsyat!"
Aku senang melihatnya tersenyum bahagia seolah olah masalah terberat dalam hidupnya hilang seketika, berganti dengan semangat yang membara. Dan dirinya saat ini menampilkan Ryu yang aku kenal.
"Ayah bersemangat sekali ya, apa ada sesuatu yang bikin ayah jadi begini. Aku harap ada hubungannya dengan percintaan."
__ADS_1
"Hah? Tidak, tidak. Ayah hanya bersemangat memikirkan rancangan kehidupan di masa yang akan datang. Lalu... darimana kamu belajar tentang cinta cintaan, Yin?"
"Umm oh ya, aku lupa membawa wadah. Aku ambil dulu ya!"
"Hah... dia malah kabur sebagai alasan menghindari pernyataan ku."
Malamnya aku menuliskan catatan kecil mengenai kejadian yang aku alami sebelumnya.
Di mulai diriku yang berakhir pada cincin ruang milik Yanwu ini, dan mengetahui hal baru sebagai pengetahuan terselubung mengenai dunia ini dari Ryu.
"Ras dewa bisa menciptakan dunianya sendiri yang menurutku sangat mustahil, melebihi kemampuan seorang pengguna ilusi terhebat. Lalu rekan rekanku dikabarkan telah tiada selepas penyerangan benda terbang berbentuk kubus, diketahui sebagai senjata pembunuh terkuat milik ras manusia tidak berkemampuan..."
Hingga larut malam aku masih menuliskan kata demi kata tak peduli malam yang sudah berganti hari saat aku lihat jam.
Perwujudan robot menyerupai Brain yang ada disini tadi mengatakan jika waktu di dalam cincin ruang ini berbeda satu minggu dari waktu aslinya.
Misalnya satu minggu didalam cincin ruang ini sama saja dengan satu hari di dunia misterius, aku menyebutnya begitu karena sampai saat ini pengetahuan ku mengenai dunia tersebut masih kurang merujuk pada logika terciptanya dan eksistensinya.
Dan alasan Hiyou berada di tempat yang tidak seharusnya, itu masih aku pikirkan sampai sekarang.
Selanjutnya Kino, dia menjadi salah satu rekanku yang tewas dalam kejadian penyerangan senjata pembunuh.
"Hmm menurut pendapatku Kino bisa saja mengulang kembali waktu sebelum dirinya terbunuh, tapi sayangnya tidak berlaku lagi ketika dirinya sudah ingat dengan ingatan bunuh dirinya."
Lalu jebakan berdarah yang sengaja dirancang oleh raja atau mungkin saja penasehatnya. Yaitu jebakan yang tidak disangka sangka mereka kamuflase kan sedemikian rupa hingga nampak seperti prajurit kerajaan. Padahal adalah orang yang tidak memiliki kemampuan.
Parahnya lagi sampai sampai Yanwu mengira mereka adalah pembunuh tak punya hati yang kejam.
Dan yang membuatku agak lama memikirkannya, dari segi rancangan jebakan ini adalah kemampuan orang orang yang tidak memiliki kemampuan sama sekali. Tapi bisa memilikinya saat aku lawan.
__ADS_1
"Ah, iya. Mungkin saja ada hubungannya dengan ekperimen rahasia kepada orang orang tidak berkemampuan. Sudah jelas mereka semua yang terbangun di wilayah ini dijadikan kelinci percobaan saat setelah ditangkap dan dibawah oleh pihak kerajaan!"
Di kamar ini diriku tengah berbaring menganalisa kejadian yang aku alami sebelumnya hingga malam tanpa mengalami rasa kantuk sama sekali. Menguap sekalipun belum.
"Terus... aku simpulkan bahwa raja telah mengadu domba pihak kami, pihak yang secara sembunyi sembunyi menyerang kerajaan. Hmm..."
Disaat aku memikirkan hal tadi diriku dibuat terkejut melihat pedang dengan bagian tajamnya yang pipih mirip samurai.
"Hey... aku sepertinya pernah melihat pedang ini. Bukannya dia yang aku cari cari di rumah itu?"
Entah kenapa pedang ini melayang di udara seperti menunggu aku bereaksi padanya.
Beranjak bangun lalu hendak menyentuhnya dengan genggaman tangan, tapi aku teringat jika pedang ini sangat berat. Aku khawatir jika saatnya aku pegang aku tidak mampu dalam menahan bobotnya.
"Astaga, aku lupa sekarang ini aku memiliki kemampuan baru. Kali ini aku bisa menggunakannya dalam situasi seperti ini."
Grep!
"Ternyata pedang ini tidak terlalu berat setelah aku menggunakan kemampuan tangan berlian. Bagaimana jika aku menghunuskan pedang ini tanpa kemampuan, sebagai pencegahan aku akan berada di atas ranjang terlebih dahulu."
"Hiyaa."
"Huh!? Ternyata pedang ini sangat ringan... Bagaimana bisa jadi seperti ini, apa aku memicu sesuatu sebelumnya. Yang bahkan dapat memunculkan pedang ini, yang sudah aku cari kemana kemana tapi hasil nihil. Tapi sekarang ini malah muncul disini."
Jam dinding menunjukkan pukul 02.00 rasa kantuk mulai terasa pada mata ku yang beberapa jam ini harusnya tidur tapi diriku paksa untuk terjaga.
"Manusia memiliki batasannya, aku akhirnya merasakan rasa kantuk juga, meskipun sebelumnya hati kecilku bilang "kau tidak akan tidur dan mengantuk malam ini" sepertinya aku membohongi diriku sendiri."
Pedang pipih tadi aku simpan pada tempat khusus, lalu ku taruh di bawah ranjang. Aku harap besok masih dapat melihatnya maupun menggunakannya kelak.
__ADS_1
Tak lama mataku mulai mengantuk setelah tubuhku aku selimuti, sebelum tidur aku pikirkan hal hal positif untuk hari esok. Dan buang pikiran negatif yang bisa saja menjelma menjadi mimpi buruk.
Ku hembuskan nafas panjang setelah menahannya beberapa detik, lalu ku pejamkan mata untuk tidur.