Last Life

Last Life
Kebetulan? Apa Ulah Dua Orang Itu


__ADS_3

Karena sudah larut malam kamipun langsung berinisiatif untuk tinggal pada sebuah rumah kosong kemarin malam.


"Mmm tidurku nyenyak sekali..."


Aku terbangun dari tidurku setelah semalam sangat kelelahan hingga tubuhku terkulai lemas saat akan mau tidur.


Untungnya karena kemarin Nie melihat ada rumah kosong kamipun bisa menggunakannya sebagai tempat tinggal sementara.


Kruyuk...


"Ya ampun perutku berbunyi!"


Kemarin memang tidak ada waktu bagi kami untuk makan, kami hanya minum dan beristirahat sebentar. Alhasil aku merasa kelaparan saat akan beranjak dari tempat tidur pagi ini.


Rumah ini tidak terlalu besar hanya memiliki tiga kamar dan satu gudang terletak di belakang serta memiliki beberapa ruangan lain seperti ruang tamu, keluarga, dan dapur.


Tujuanku saat ini adalah menuju ke tempat dapur berinisiatif untuk memasak, namun sebelum itu aku akan mengecek terlebih dahulu kulkas di rumah ini.


Meskipun rumah ini dalam keadaan kosong tapi semalam aku ingat lampu rumah ini menyala, dan keesokan paginya lampu di rumah ini sudah mati.


"Kayaknya si empunya menggunakan aliran saklar otomatis, makanya pagi ini lampu-lampu sudah mati."


Setelah berada di depan kulkas aku pun langsung membukanya dan benar saja dugaan ku sedari awal. Bahwa rumah ini hanya di tinggalkan si empunya sementara.


Jadi untuk barang elektronik seperti kulkas akan dibiarkan menyala.


Disini aku mendapati roti, daging ayam, sosis, Ice cream di bagian freezer, sayuran, dan berbagai macam jenis bahan makanan yang dapat aku olah.


Bergegas aku mencari beras untuk aku liwet, setelah menemukannya aku membersihkan terlebih dahulu beras tersebut dengan air. Kira-kira satu kilogram saja aku akan memasak nasi pada rice cooker.


Selama aku tinggal sendiri aku lebih sering memasak dibandingkan dengan membeli lauk yang sudah masak. Selain menghemat pengeluaran memasak sendiri lebih menyehatkan daripada membeli lauk di warung.


Tapi terkadang kalau aku merasa capek saat pulang Sekolah, aku lebih memilih untuk membeli lauk di warung.


Sambil mengikat rambut panjang ku aku pun mengamati keadaan di luar dari jendela yang aku buka.


"Waktunya memasak!"


Bip!


Di rumah ini menghidupkan kompor jauh lebih mudah karena hanya tinggal menekan tombol. Berbeda saat aku ingin menghidupkan kompor di apartemen ku yang harus aku beri api terlebih dahulu agar menyala.


Ya, itu karena aku menggunakan kompor model lama.


Srang! Sreng!


"Ketiga kalinya aku memasak di dunia ini, terakhir saat ada di dalam bangunan megah dalam tanah itu."


"Pagi... kamu kenapa berbicara sendiri?


"Aku mendengar suara Kwen dari belakang."


"... itu tadi aku hanya bergumam!"


"Tidak baik kamu seperti tadi, mending kamu ceritakan saja padaku segala keluh kesah mu. Aku harap dapat mengurangi rasa kegelisahan yang kamu rasakan."


"Siapa yang gelisah?"

__ADS_1


"Kamu. Bagaimanapun juga di tempat ini kita seperti menjadi buronan yang sedang dicari-cari oleh polisi, mungkin saja kalau pendapatku benar, kamu sekarang ini sedang gelisah!"


"Enggak kok... aku baik-baik saja, lagipula aku tadi hanya mengingat kembali kilas balik saat berada di dalam bungker bawah tanah!"


"Oh, bungker pelindung yang rencananya buat tempat manusia ya, saat terjadi kiamat?"


"Iyaa, disana tempatnya sungguh luas dan mewah, aku senang sekali ketika berada disana."


"Begitu ya... aku juga senang!"


"Heh.. kamu pernah kesana juga?"


"Gak."


"Terus...?"


"Aku cuma senang melihatmu ceria!"


"Mmm..."


"Lihat. Wajahmu merah merona saat aku bilang begitu hahaha," setelah puas meledekku Kwen terlihat tertawa.


"Awas kamu ya!" sembari aku mendorongnya agar menyingkir dari sekitarku.


"Ehem!"


Suara deheman dari belakang membuat aku dan kwen langsung berbalik menoleh secara bersamaan.


"Oh. Kamu ternyata gadis!"


"Kenapa sih kamu selalu memanggilku gadis sedangkan kalau Anita nama belakangnya?"


"Jadi kamu ga akrab sama aku?"


"Tentu saja, tidak. lagipula kamu ini gadis yang menyebalkan!"


"Kamu!!"


"Udah-udah. Jangan berantem, bentar lagi masakan aku sudah siap. Kalau boleh aku minta tolong bawa makanannya ke meja nanti!"


"Oke, tenang saja Anita."


"Humph..."


Anita mendengus marah dan langsung cabut dari tempatnya, saat Kwen menjawab perkataan ku tadi.


"Ya, ampun Kwen ini. Dia memang senang ya meledek cewek-cewek."


Usai memasak kamipun sarapan pagi dan duduk bersama di sebuah meja makan. Aku dengan tenang menyantap nasi dan lauk, sementara mereka berdua tampak seperti sedang musuhan.


"Udah. Aku kenyang. Makasih ya masakannya Anita!"


"Iya sama-sama kak, tapi... masakan aku masih banyak kak..." ujar ku karena benar aku memasak lumayan banyak.


"Maaf ya, Anita. Aku udah kenyang!"


"Emm ya kak gapapa."

__ADS_1


"Mm, aku mau mandi dulu!"


"Iyaa kak."


"Hey! Kamu lupa berterimakasih kepadaku?" ucap Kwen yang langsung aku tutup mulutnya dengan nasi yang aku suap kan kepadanya.


Aku tidak ingin mereka bertengkar lagi hanya gara-gara masalah sepele.


"Apa kamu bilang?" Nie langsung berbalik badan dan menyorotkan matanya kepada Kwen begitu pun aku, karena kami bersampingan.


"Ini kak, Kwen mau berbicara yang aneh-aneh, jadi aku membungkamnya pakai nasi!"


"Oh, kalau begitu bagus. Mulutnya memang pantas disumpal.


"kmu dasr want..." ucap paksa Kwen sembari aku menahannya berbicara.


"Hey siapa kalian ini, kenapa bisa masuk kerumah ku?"


Aku terkejut saat melihat pemilik suara yang ternyata adalah si empunya rumah. Dia tiba-tiba datang tanpa diketahui suara masuknya.


"Kami hanya..." ucap Kwen mewakili tapi kelihatannya dia kesusahan dalam menjelaskan.


"Hanya apa, huh? Kalian mau aku laporkan pada keamanan setempat!"


"Kurasa aku harus turun tangan. Tapi mengapa Nie tidak menggunakan kemampuannya?"


"Maaf pak, jadi begini. Kami ini pembantu disini!"


"Pembantu? Hmm kayaknya Erlan tidak mungkin memperkejakan pembantu seperti kalian anak-anak muda, itupun lebih dari satu..."


"Kami pembantu harian!"


"Hem?"


Entah kenapa situasinya begitu hening saat aku berkata begitu. Bahkan Kwen sama sekali tidak membantuku saat aku menoleh ke arahnya.


"Memangnya ada?"


"Ya, ampun kenapa si empunya ini kepo sekali..eh tunggu dulu. Bukannya dia si empunya rumah. Kenapa dia menanyakan perihal seperti tadi, bukannya itu menjelaskan jika dia bukan si pemilik rumah?"


"...Ada, katanya kami di tugaskan untuk membersihkan rumah sama memasak!" Nie ikut menimpali, sepertinya dia mencoba membantuku.


"Ya, sudah. Bapak percaya sama kalian anak-anak muda. Sebenarnya bapak kesini gara-gara mendengar suara keributan dari dalam!"


"Ternyata ini semua ulah Kwen dan Nie, sebelumnya mereka memang bertengkar!"


"Kalau begitu bapak pergi dulu ya, masih banyak urusan yang ingin bapak selesaikan!"


"Iya, pak silahkan," serentak kami mengatakan.


"Akhirnya bapak tadi percaya dan bergegas pergi."


Tap! tap! tap!


"He.. suara langkah lagi menuju kemari?"


"Kamu mempunyai pembantu yang sangat sopan sekali Erlan, bahkan usia mereka masih tergolong usia muda!"

__ADS_1


"........."


Tidak terduga sama sekali, si empunya yang sesungguhnya benar-benar sudah pulang. Kini bersama bapak tadi kembali menemui kami.


__ADS_2