Last Life

Last Life
Masuk Kedalam Mimpi 1


__ADS_3

"Menghindar!!" ucap Willy berteriak dikala monster tersebut langsung menyemburkan darah dari mulutnya.


Phush... phush... phush...


Aku menghindari beberapa semburan darah acak yang mengarah kepadaku, situasinya mulai riuh ketika monster ini sudah berada di depan ku hendak menghantam diriku.


Brak!!


Lantai tempat ini berlubang setelah terkena hantaman keras monster tersebut, sebelum Willy bergerak akan membantuku, aku sendiri sudah sigap untuk menghindar dari jarak sedekat tadi.


Brak!!


"Mundur dulu Anita, biar aku yang melawannya!" ucap Willy berganti posisi denganku sementara aku mundur kebelakang.


Pandanganku berasa lebih tajam dari yang sebelumnya ditambah lagi gerakan ku sekarang lumayan cepat hingga bisa menghindari dua serangan monster.


"Tadi gerakan monster terlihat sangat lambat ketika hendak menyerang ku, sepertinya diriku ditingkatkan secara misterius."


Entah apa yang membuatku mendapatkan peningkatan diri secara mendadak pada situasi ini, yang pasti bukan dari peningkatan kemampuan milikku.


Wosh..


"Tidak mungkin!?"


"Arrghh!!!"


Bammm...


Saat ini aku dibuat terkejut melihat Willy dihajar cukup keras setelah dia salah memprediksi pukulan lawannya.


Sementara Kay dia sama sekali diam dan menonton pertarungan ini tanpa membantu sejak tadi, membuat emosiku membuncah saat meliriknya.


"Kay, bisa kamu bantu Willy mengalahkan monster itu, sebenarnya monster ini pernah aku lihat didalam mimpi jadi bisa disimpulkan kita ini terkena ilusi berhubungan dengan mimpi buruk seseorang!" ucapku kepada Kay sembari memberinya informasi.


Tapi orang yang sedang aku mintai pertolongan tetap diam tidak berbicara satu katapun, bahkan melirikku pun tidak sama sekali. Ada apa dengannya?


Kemudian Willy bangkit setelah berbaring dilantai berlumuran darah, darah tersebut kemungkinan bukan darahnya tapi milik monster itu.


Tap! tap! tap!


shut!


crak! crak! crak! crak!

__ADS_1


Willy berlari menuju monster tersebut yang diam menunggu kedatangan Willy, lalu ketika hampir dekat dengannya Willy langsung menyerang secara bertubi-tubi menggunakan sabitnya.


Brak!


Darah mengotori pakaiannya, aku melihat Willy seperti bermandikan darah setelah berhasil menumbangkan monster tersebut.


"Lumayan tangguh juga monster ini, hanya saja kenapa dia menjadi bodoh dalam sesaat?"


Aku menghampiri Willy karena khawatir kepadanya sambil mengecek tubuhnya dari atas kebawah, siapa tahu ada yang terluka disebabkan serangan tadi.


"Kamu nyari apa melihat aku seperti itu, tenang saja aku ini bisa meregenerasi diri meskipun anggota tubuhku terpotong. Lihat, kakiku sudah mulai tumbuh kembali seiring waktu!"


"Aku khawatir padamu Willy, kamu sekarang berlumuran darah jadi aku tidak bisa menemukan luka pada tubuhmu, darah banyak ini menyamarkan sekali."


"Terimakasih sudah menghawatirkan diriku, sekarang kita harus menemukan cara untuk keluar dari ilusi ini, aku nyakin kita dalam ilusi," ucap Willy mengedarkan pandangannya ke segala arah seperti mencari seseorang.


"Sama-sama, cuma dia tidak membantu kita sama sekali. Kay cuma diam dan menonton, ada apa dengannya?"


"Palingan dia sedang mencari seseorang di tempat ini, dilihat dari matanya itu!"


Ternyata benar apa yang dikatakan Willy jadi selama ini Kay sedang fokus mencari seseorang melalui kemampuannya itu. Dilihat dari matanya yang lama sekali berkedip dan bola matanya bergerak tidak normal.


"Dibelakang!?"


Secara tiba-tiba monster darah tersebut kembali bangkit melancarkan serangannya dibelakang Willy hingga aku terpental akibat efek serangannya.


Bajuku penuh akan darah hingga ke wajah-wajah yang mana membuatku muntah seketika.


"Ueek..."


"Ckk, kenapa bisa begini sih! Mana mungkin Willy tidak menyadari kehadiran monster itu dibelakangnya."


"Dia, tetap saja diam tidak bergerak dari tempatnya tsk.."


Aku kembali bangkit melihat kondisi disekitar, tidak ingin terkena serangan secara tiba-tiba dari monster darah tersebut yang kini tidak diketahui keberadaannya meski aku sudah melihat kesana kemari untuk mencarinya.


Nasib Willy tidak diketahui, aku bahkan sama sekali tidak berani melihat lantai berlubang yang kelihatannya dalam tersebut.


"Uuu... baunya amis sekali... Aku mana tahan kalau begini!" gerutu ku tak tahan pada bau amis yang tercium di sekujur tubuhku.


Dari dalam lubang bekas hantaman tadi muncul Willy yang terangkat dalam genggaman tangan dari darah. Penampilan Willy saat aku amati seksama terlihat berdarah-darah.


Ingin berupaya menggunakan kemampuan diriku, aku sendiri malah tidak nyakin bisa menang atau tidak saat menggunakannya, atau mempan melawan monster darah tersebut.

__ADS_1


"Willy tidak mati kan? Kalau dia mati aku pasti akan dicap tidak baik oleh dua perempuan itu."


Phush...phush... phush...


Tidak membentuk dirinya seperti semula monster darah kini tetap pada bentuknya seperti gelombang, yang kemudian menembakkan darah kearah ku terus-menerus bagaikan senjata mesin.


Tentu karena diriku sudah di buff aku jadi bisa menghindarinya dengan mudah meski memakan stamina diriku jika terus-terusan berlangsung.


"Kay!!! Bantu aku!" ucapku guna menyadarkan Kay.


Namun dia masih tetap saja diam tidak melakukan aksi apa-apa pada tubuhnya, ketika aku meliriknya. Dia sudah layak menjadi patung hidup.


Kupikirkan sebuah ide saat menghindari serangannya sambil mengingat kembali mimpiku pertama kali melihat monster darah tersebut.


Lalu aku ingat dalam mimpi tersebut dia musnah saat aku mencampur darah dalam tubuhku pada darah miliknya.


Tidak berpikir terlalu lama mengenai tindakan selanjutnya, aku percayakan semuanya pada ingatan mimpiku.


Saat aku hendak mengigit lenganku monster tersebut membentuk wujudnya kembali seperti semula dan mendekat ke arahku, dia pun melemparkan Willy layaknya sampah.


Srash..


Terlalu kuat dalam mengigit kulit hingga sebagian kulitku terkelupas sedikit pada bagian sekitaran siku lengan.


Darah segar mengucur mengenai darah monster yang hendak menerkam ku.


Seketika tempat ini kembali seperti semula sebelum monster darah tadi muncul, Willy bangun saat dirinya tergeletak begitupun diriku yang masih shock hingga tak bergeming.


"Mengerikan sekali kemampuan ilusi tadi, benar-benar aneh dan absurd bagiku."


Tubuhku tidak ada yang terluka mengingat sebelumnya aku merobek kulit tanganku karena terpaksa mengikuti ingatan mimpi.


Willy pun sama dia aku lihat sibuk mengecek kondisi dirinya dan sekitarnya. Lalu dia menghampiri diriku.


"Kamu baik-baik saja Anita? Tadi itu mimpi buruk yang benar-benar mengerikan, untungnya kamu bisa mengakhiri mimpi tersebut," ucap Willy langsung memelukku sembari mengeluarkan nafas panjang.


Tidak berlangsung lama kebahagiaan yang aku rasakan ini, kini berubah menjadi situasi baru lebih mencengangkannya dan mengejutkan diriku, kali ini, tempatku sekarang berubah total bukan bertempat pada bangunan tadi, melainkan di sebuah tempat yang aku pastikan di bulan.


Namun aku masih bisa bernafas dengan normal tidak seperti logika yang aku tahu, ini sangat diluar nalar.


"Sial, kita berada dalam mimpiku!" ucap Kay dia akhirnya bergerak setelah diam dalam waktu lama sebelumnya.


"Kau sudah sadar orang aneh? Apa sudah menemukan pengguna ilusi ini?" tanya Willy.

__ADS_1


"Sudah, dia anak perempuan berpakaian sekolah. Sebelumnya saat diriku terdiam yang kau kira, saat itu aku sedang menangkapnya pada wujud air yang tersebar pada bangunan tadi. Masalahnya anak itu memiliki dua kemampuan selain ilusi yaitu kemampuan memanggil iblis!"


__ADS_2