Last Life

Last Life
Yang Tiba-tiba Menyerang Dalam Kegelapan


__ADS_3

Padahal hari masih panjang belum sampai sore hari, tapi langit terlihat gelap lantaran berisi air yang amat sangat banyak. Awan comulonimbus itu terlalu hitam.


Dari hujan deras yang tidak aku sukai adalah saat petir terdengar cukup keras dalam beberapa detik sekali.


Selain membuat diriku kaget saat suara petir tiba-tiba muncul sampai memekikkan telinga kurasa akan memberi perasaan tidak enak setelahnya.


Selesai makan siang aku pun mengambil senter dan bergegas pergi ke kamar kecil. Sampai disana ternyata tempat tersebut masih bersih.


Keluar dari kamar kecil aku merasa seperti ada seseorang mengawasi saat cahaya dari petir menerangi sekitaran tempatku sesaat, dan jangan bilang disini ada orang selain diriku dan Alex.


Misalnya anggapanku benar mungkin suara langkah kakinya terendam oleh suara derasnya hujan, semoga saja perasaan tadi hanya firasat semata dan tidak benar-benar nyata.


Berjalan menuju ruangan dimana aku dan Alex bersama sebelumnya aku di buat terkejut melihat bekas langkah kaki seseorang saat aku soroti bagian lantai.


Dia mengenakan sepatu dari tapaknya saja aku simpulkan dia adalah orang dewasa, kurasa aku harus berhati-hati dan bergegas ke tempat Alex berada.


Jdarrr...


Suara keras petir terdengar hingga menganggu telinga, tapi aku tidak terlalu kaget lantaran di spoiler oleh cahaya kilat sesaat.


"Hmph, hmph..."


"Sttss... aku Alex sedang memasuki tubuh orang lain. Diriku dalam wujud sebelumnya telah terbunuh!"


Aku berjongkok dengannya dan benar saja seseorang yang berbeda namun aku memahami dengan pasti jika orang di hadapanku ini adalah Alex.


"Ada orang lagi didalam mall ini, kurasa kita harus berhati-hati karena sebelumnya diriku tertusuk secara tiba-tiba dari arah belakang. Tapi untungnya dari jauh aku melihat seseorang sehingga aku memasukinya dan berpura-pura menjadi dirinya!" jelas Alex berbisik dalam wujud pria paruh baya bertopi.


Drap!


Brak!


Suara gaduh terdengar tak jauh dari tempatku artinya orang itu sedang mencariku secara paksa jika saja aku bersembunyi diantara rak produk.


"Kalau dia tahu aku juga, berarti sebelumnya aku dan Alex diamati olehnya. Astaga... kenapa aku tidak sadar sebelumnya..."


Mengingat kejadian yang dialami oleh Alex saat menjelaskannya padaku berarti dia memasuki seseorang dengan syarat melihat jati dirinya.


"Pendapatku kamu cari saja orang itu lalu masuki dengan kemampuan milikmu, aku rasa hal itu adalah strategi terbaik!" ucapku memberi saran kepada Alex sembari berbisik mendekatkan mulutku pada telinganya. Entah dia mendengarnya atau tidak lantaran suara hujan dan petir sangat menganggu.


Dan jika dia tidak mendengarnya aku akan mengatakannya melalui ingatannya menggunakan kemampuan milikku.


Cuma masalahnya kemampuan Alex memiliki jeda pada penggunaan sebelumnya jadi tidak bisa langsung menggunakannya begitu saja, menurut penuturan Alex sendiri.

__ADS_1


Slash...


Brakk!!


Kali aku benar-benar terkejut dan jantungku dibuat berdetak kencang melihat bagian atas rak pas pada ketinggian kepalaku saat jongkok terpotong oleh sesuatu dan terhempas di sisi kanannya.


Sontak aku pun langsung berlari menjauhi tempatku berjongkok bersamaan dengan Alex untuk melihat orang yang melakukan hal tersebut. Aku berinisiatif untuk melawannya.


Drash...


Drash...


Serangan itu kini menyerang Alex terus menerus, tapi untungnya bisa ia tahan mengunakan pelindung kemampuan orang yang dia masuki. Sepertinya orang yang dimasuki oleh Alex ketahuan oleh rekannya sehingga dia tidak ragu untuk menyerangnya.


Aku bersembunyi lalu mengeluarkan beberapa berlian lancip seukuran pisau dalam jumlah lumayan banyak dan aku arahkan pada orang itu saat cahaya petir memberiku kesempatan untuk melihatnya.


Sayangnya, serangan barusan mungkin di tepis olehnya saat aku mendengar suara berlian hancur.


Slash...


Brakk!!


Entah serangan apa yang dia arahkan padaku aku amati melesat dengan sangat cepat dan berbahaya dapat membelah dengan sempurna pada setiap rak produk sampai menembus kebelakang.


Jdarrr...


Slash...


Brakk!!


"Semacam angin, um... bukan, bukan tapi gelombang yang tajam dan berbahaya!"


Pada posisiku sekarang sebentar lagi aku akan kehabisan tempat persembunyian seiring waktu dan Alex pun masih melindungi diri lantaran orang itu menargetkannya terus menerus tanpa jeda.


Sementara satu tangannya lagi dia arahkan padaku sembari memunculkan gelombang mematikan. Delimanya aku harus memilih menyerang langsung dengan kemampuan berlian atau menunggu celah dan memahami kemampuannya terlebih dahulu.


Kelemahan pilihan ini, cepat atau lambat Alex akan terbunuh dan aku belum yakin kemampuan berlian mampu mengalahkannya. Di tambah tempat ini sangat gelap hanya cahaya petir yang bisa aku manfaatkan sebagai penerangan seadanya.


Crak!


"Dari jauh aku melihat Alex mengorbankan tangan kanannya agar lolos dari serangan orang itu, dia aku lihat bergerak ke samping kirinya berlawanan denganku. Mungkin saja dia berniat mengalihkan perhatian orang itu.


"Kalau begitu aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan Alex!"

__ADS_1


Siut...


Siut...


Dan aku beradu serangan dengan orang itu secara terus-menerus sampai ada celah bagiku untuk memasuki ingatannya. Saat sedikit demi sedikit cahaya petir memperlihatkan wajahnya dengan jelas.


Namun aku sama sekali tidak bisa memasuki ingatannya saat dia sebelumnya menutupi matanya dengan kain.


"Apa menutup mata dapat mencegah diriku memasuki ingatannya, kalau benar... dia sangat pintar bisa mengetahui kelemahan lawan?"


Drash...


Kletak!


Pada akhirnya aku tidak bisa menggunakan kemampuan memasuki ingatan ku padanya, bahkan dia mampu menghancurkan pelindung berlian yang sudah aku ciptakan setebal mungkin.


Crak!


Crak!


Dalam posisi nyaris terbunuh hampir terkena gelombang mematikan satu langkah di depanku Alex secara mendadak mendorongku kesamping hingga diriku terselamatkan, sementara dia dalam keadaan mengerikan terbelah pada tubuhnya.


Yang mana membuatku menyesal karena telah gagal melindungi orang yang aku kenal, serta aku memiliki hutang Budi kepada Alex.


Aku bergegas menjauh dari tempat diriku jatuh sebisa mungkin aku tidak terbunuh olehnya, karena aku memiliki harapan yang belum tercapai.


Dia sepertinya mengikuti diriku sembari melesatkan gelombang mematikan terus menerus.


"Maafkan aku Alex... aku membuatmu terbunuh, ku harap kamu tenang disana..."


"Maaf, tapi aku masih hidup dan sekarang memasuki dirimu. Hanya saja kamu orang pertama yang sadar saat aku masuki!"


Sempat mengagetkanku, ternyata Alex memasuki diriku disaat wujud pria paruh baya yang dia masuki terbunuh oleh rekannya yang keji.


Mengingatkan diriku pada salah satu pelindung Raja dengan kemampuan parasit memasuki diri seseorang, namun terdapat perbedaan mendasar pada kemampuan Alex.


"Saranku kita kabur saja saat menemukan celah pada atap mall yang berlubang, lalu pergi darinya sejauh mungkin. Bukannya dirimu bisa terbang, Anita?!" ujar Alex.


"Yap, akan aku coba cari dulu atap yang berlubang."


"Jangan bilang dirimu berubah setelah aku menyelamatkan dirimu?"


"Nggak kok... aku cuma menuruti saran-mu aja yang tepat pada kondisi saat ini."

__ADS_1


Tak lama berlari sembari menghindari serangan gelombang mematikan akhirnya aku melihat lubang pada atap mall. Sebenarnya mall ini lumayan besar.


__ADS_2