Last Life

Last Life
Melawan Hewan-hewan Berkemampuan Yang Telah Dikendalikan


__ADS_3

Drest..


Drest..


Saat aku membuka mata pelindung dari es kini melindungi diriku dan menghalau serangan petir petir tadi, yang dijadikan serangan dalam bentuk diperkecil.


"Disini saja, jangan keluar sampai masalah ini sudah selesai aku tangani. Barusan petir itu berasal dari hewan-hewan eksotik yang memiliki kemampuannya tersendiri!" ujar Leonin yang entah dari mana munculnya, memberitahu padaku informasi berkenaan dengan petir tadi.


Tak ku sangka kurungan dari es memenjarakan diriku mengartikan bahwa dia serius saat mengatakan hal itu.


"Memangnya hewan-hewan itu memiliki kemampuan yang beragam Leo?" tanyaku penasaran sebelum Leonin pergi kembali. Dia kini masih berada dihadapan diriku, terhalang oleh dinding dari es yang mengurungku.


"Bukan hanya beragam lagi, kemampuannya berbahaya karena dikendalikan oleh kepribadian jahat Yui!" jelasnya membuat mengerti.


"Tapi aku boleh bantu kan?"


"Tidak! Sudah ku katakan sebelumnya, aku tidak ingin kamu terlibat, aku serius, hewan-hewan itu sangat berbahaya!"


"Iya.. aku mengerti..."


Suara-suara gaduh mulai terdengar seakan merambatnya hujan deras yang perlahan akan membasahi suatu wilayah.


Wosh...


Blarr...


Wus...


Kemunculan hewan-hewan ini membuat situasinya menjadi menegangkan. Leonin ku lihat menghindari berbagai serangan jarak jauh, maupun serangan dari jarak dekat.


Kemampuan hewan-hewan itu pun beragam saat aku amati ada api, angin, kemampuan fisiknya cakaran tajam, dan elemen lainnya.


Dan benar jika hewan-hewan ini dikendalikan, karena matanya ku lihat berwarna merah menyala.


Dharr...


"Ahh!!"


Aku menjerit lantaran salah satu dari hewan itu melesatkan serangannya ke arahku saat Leonin sibuk dengan hewan eksotik yang lain.


Beruntungnya diriku karena sebelumnya Leonin mengantisipasi hal-hal buruk yang bisa saja menimpaku, dan kini benar-benar terjadi.


Namun karena diriku terlindungi oleh pelindung ini jadi untuk kedepannya aku bisa tenang tanpa perlu khawatir lagi.


Dharr...


Dharr...


Dharr...


Hanya saja banyak serangan dari jenis hewan tadi terus mengarah padaku.


"Gawat, pelindung ini mulai retak!"


Ku tarik kata-kataku kembali, nyatanya pelindung ini tidak bisa menahan banyak serangan terus-menerus.


"Leonin...!" ucapku memanggil Leonin yang tengah sibuk saat ini, terpaksa aku panggil karena retak kan pelindung es ini mulai bermunculan.


Jrash...


Srak.


Blarr...


Akibat suara gaduh suaraku jadi terendam dan Leonin sepertinya tidak mendengar suaraku sama sekali.


Tiba-tiba saja rumput di dalam pelindung es ini meninggi, lalu keluar hewan berkaki empat yang kini berdiri dengan dua kaki menatap tajam diriku.


Kukunya yang tajam dan air liurnya yang menetes tanpa henti membuatku jijik sekaligus ngeri melihatnya.

__ADS_1


Hewan ini ternyata berbeda dari hewan yang aku temui sebelumnya. Malahan mirip monster fantasi.


Grep.


Melihat situasi rumit ini dan Leonin tengah sibuk mengalahkan satu dari banyaknya hewan-hewan berkemampuan yang kemari, aku pun berinisiatif untuk mengandalkan diriku sendiri.


Dengan melawan hewan didepan ku ini.


Wosh...


Wosh...


Karena pelindung ini lumayan luas dan tinggi aku pun dapat bergerak bebas demi menghindari serangan barusan.


"Hiyaa..."


Bugh!


"Eh!?"


Tak ku sangka saat aku mendapatkan momen bagus dengan memanfaatkan kelemahan hewan itu dan melayangkan tinjuan, ternyata kulit hewan ini sangat keras hingga melukai tanganku.


Aku pun meringis kesakitan dibuatnya.


"Aduh.. sakit sekali..."


Wosh...


Wosh...


Serangan dari kedua tangannya yang berkuku tajam kini dimulai kembali dan aku harus bersyukur karena sebelumnya aku tidak menendangnya.


Aku amati hewan yang kini aku lawan hanya bisa menggunakan serangan fisik dari jarak dekat. Mengandalkan tubuhnya yang keras dan kuku tajamnya.


Srak.


"Ahh!"


Tidak peduli dengan keadaan diriku yang sedang terluka parah, hewan ini tetap gigih dan kembali melancarkan serangannya.


Jleb!


Jleb! ×12


Tapi begitu hewan ini akan melangkah lebih dekat lagi denganku, tubuhnya tertusuk secara tiba-tiba oleh bagian yang mendadak lancip dari pelindung ini.


Tebakanku, pasti ulah Leonin yang sadar aku dalam bahaya.


Sementara aku baru sadar jika sekitaran ku sekarang ini sudah menjadi kutub Utara lantaran hewan-hewan, pohon, serta lainnya membeku.


Bahkan rerumputan pun menjadi memutih tertutupi oleh butiran es. Beda dengan rerumputan yang ada didalam pelindung, masih hijau segar.


Aku lalu mengedarkan pandangan guna mencari Leonin, setelah ku temukan aku langsung berniat untuk menanyakan kondisi saat ini padanya, dengan berteriak.


Crack!


Hendak berteriak aku dibuat melongo saat pelindung es hancur, lalu jatuhan butiran es mulai menyatu dan membentuk manusia.


"Ka-kamu siapa? Bukan Leonin asli, kan?" tanyaku mulai bingung, dikarenakan butiran es yang terkumpul tadi sudah menyerupai Leonin. Padahal aku melihat Leonin barusan ada disana.


"Ah!"


Dia tidak menjawab dan malah mengabaikan diriku. Dan kini menyentuh tanganku.


Cres...


Rupanya dia berniat untuk menghentikan pendarahan pada luka di bahuku.


"Apa sudah mendingan?"

__ADS_1


"Iya, sudah mendingan!"


"Syukurlah, kalau begitu aku akan akan langsung membawamu ke kastil."


"Tapi tempat ini...?"


"Kyaa.."


Sama seperti sebelumnya, Leonin mengabaikan perkataan ku, dia bahkan berani menggendongku pada kedua tangannya secara mendadak.


"Jika kamu menolak dan berteriak lagi, aku pastikan, akan melakukan hal buruk padamu!"


Kali ini aku mengalah saat menatap matanya yang serius dengan tatapan tajam dan ada raut kekhawatiran.


"Leonin ternyata... bisa perhatian juga."


Entah bagaimana keadaan Reina dan Doro saat berhadapan dengan Yui sekarang, aku tidak tahu.


Ku harap mereka berdua baik-baik saja.


Tak lama diriku sampai di kastil, dan masih dalam gendongan Leonin. Dia kini berjalan membawaku ke suatu tempat.


Jujur saja aku sebenarnya malu pada diriku saat ini.


"Terimakasih..."


"Apa kamu bilang?"


"Em.. terimakasih sudah menyelamatkan diriku dan menghentikan pendarahan!"


"Maaf aku tidak dengar, suaramu kecil sekali!"


"Aku mau mengucapkan terimakasih padamu!!" sahutku dengan penuh penekanan.


"Hahaha menarik."


"Aku lengah, dia jelas-jelas sedang menggodaku."


Sampai di ruangan yang lengkap akan peralatan medis nyatanya aku tetap dibawa lebih dalam memasuki ruangan ini.


Leonin lalu merebahkan tubuhku pada ranjang yang persis seperti di rumah sakit.


Tak lama Sekai datang dengan raut cemas.


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Sekai pada Leonin.


"Luka sayatan pada bahu, sebelumnya dia terkena serangan hewan buas di pulau ini. Lebih tepatnya yang telah dikendalikan oleh perempuan gila!"


Sekai tidak bertanya lebih jauh lagi pada Leonin, dia lalu mendekati diriku.


"Apa yang mau kamu lakukan?"


"Tentu saja menyembuhkannya."


"Oh, tapi jangan membuatnya merasa sangat kesakitan."


"Aku tahu."


•••


"Eh? Kenapa aku ada di pemakaman?"


Meow...


Meow...


"Si pus..."


Aku melihat foto diriku pada sebuah makam yang kelihatannya kondisinya masih baru. Dan si pus, kucing peliharaan ku kini tengah menggosok kepalanya pada tanah makam.

__ADS_1


Entah kenapa aku tidak bisa menyentuh si pus sama sekali.


Lalu waktu berubah dengan sangat cepat hingga pada akhirnya si pus telah menjadi tulang belulang.


__ADS_2