Last Life

Last Life
Kenyataan Yang Harus Diterima Ryu


__ADS_3

"Aku tidak bermaksud untuk menghianati janji kita dulu, aku hanya tidak sadar bahwa aku telah..."


Anehnya, disela-sela istri Ryu menjelaskan perihal tentang dirinya yang menurutku selingkuh secara diam-diam, dia mendadak berhenti berkata di tengah ucapannya.


"Aku tidak bisa memaafkan dirimu Quin, begitu pula dengan pria yang aku anggap sebagai kakak selama ini. Yang ternyata tega sekali mengambil seseorang yang paling aku cintai. Kurasa kalian berdua harus mati secara mengenaskan!" ucap Ryu disertai ancaman kepada istrinya dan juga Kay kakaknya. Emosinya sepertinya sudah mencapai batasnya dan tidak bisa dibendung lagi.


Di tengah situasi buruk yang akan terjadi anak perempuan ini terdiam di tempatnya sekarang sambil bersembunyi dikedua lututnya.


Dia tidak menangis namun aku terdengar suara kecil darinya.


"Anita, tolong kamu jaga anak menyebalkan ini jangan sampai dia lari atau menggunakan kemampuannya, karena nantinya akan sangat merepotkan saat hal itu terjadi!" pinta Willy kemudian beranjak pergi.


Tidak biasanya dia mau membantu urusan orang lain dan berhati baik sekarang ini. Apa Willy sudah berubah?


Saat ini pun aku mengemban amanah darinya jadi aku akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa menenangkan anak perempuan ini.


"Yin, kamu mau tidak memelukku sepuasnya?" tanyaku memulai pembicaraan dengannya serta memakai trik psikologis berhubungan dengan sifatnya.


"Apa boleh aku meminta hal lainnya darimu, aku membutuhkannya sekarang?" raut wajahnya sangat berharap agar aku dapat menuruti perkataannya. Dan mau tidak mau aku harus menurutinya.


"Iya, boleh aja. Asal... kamu tidak menggunakan kemampuan milik mu pada situasi seperti ini!" balasku lembut tak lupa disertai senyuman hangat sebagai bentuk kepedulian diriku padanya.


Pada akhirnya anak perempuan ini mau menuruti perkataan ku, sebagai balasan dia kini memelukku erat sambil meminum susu.


Meskipun permintaannya tidak terduga pada situasi seperti ini tapi mau bagaimana lagi, kemampuannya memang merepotkan sekali jika saja digunakan lagi seperti yang dikatakan oleh Willy.


Willy aku lihat dia menancapkan sabitnya ke tanah pada bagian ujung sabit yang tajam, sebelumnya dia melemparkannya terlebih dahulu ketengah-tengah perdebatan mereka.


Dia sekarang ini berceloteh diantara mereka yang sedang dalam masalah, berhubungan dengan kekeluargaan dan rumahtangga.


Maksudnya pun masih aku pikirkan saat ini karena aku penasaran dan ingin menebaknya. Setiap celotehan Willy ada maksud tertentu.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita bermain permainan menentukan siapa yang salah diantara kalian dan harus dihukum sebesar-besarnya jika terbukti bersalah. Diantara kalian boleh berdalih dan mencari pembela untuk dirinya!" jelas Willy kepada mereka dipadukan dengan gerakan tangannya yang luwes.


"Apa saja hukumannya? Aku rasa permainan yang kamu katakan barusan belum tentu adil?" pungkas Ryu bertanya perihal hukuman.


"Bener banget sih apa kata Ryu untuk mengetahui dulu hukuman dalam permainan yang di pungkas kan oleh Willy barusan, serta dia memastikan kembali keadilan dalam permainan ini."


Terlihat raut wajah Ryu yang mulai stabil saat setelah Willy berceloteh panjang lebar sebelumnya, ditambah lagi dengan saran permainan menentukan siapa yang salah.


Aku jadi penasaran bagaimana jalannya permainan ini nantinya.


Kini permainan dimulai bersama dengan diriku dan Yin yang ikut serta, entah apa yang ada didalam dipikiran Willy aku hanya bisa menerka-nerka saja dalam hati dan menikmati jalannya permainan.


Dan bukannya anak kecil tidak boleh diikut sertakan dalam permainan ini, akan tetapi karena perkataan Willy sebelumnya kepada Ryu yang manipulatif sehingga Ryu mengijinkan anaknya ikut, aku jadi kesal kepada Ryu yang bersikap egois menanggapi perkataan Willy.


Dengan gampangnya membolehkan anaknya ikut serta karena desakan Willy dalam permasalahan rumahtangga kedua orangtuanya yang bisa saja berdampak buruk bagi Yin.


"Dilihat dari manapun kamu ini telah berselingkuh dengan kakak ipar mu, jadi semua ini berawal dari tindakanmu!" ucap Willy menargetkan istri Ryu.


"Tidak, tidak. Aku bukannya selingkuh tapi murni karena sebuah kecelakaan karena dia mirip dengan suamiku," jelas Quin nama istri Ryu.


"Aku... Kemungkinan sebelum suamiku..."


"Sudah. Dari penjelasan mu saja tidak kontradiksi, kamu mengira hal tersebut karena kecelakaan yang memang tidak disengaja. Bukannya sebelum kamu bertemu dengan kakak iparmu, kamu faham dengan perawakan dan penampilan suamimu yang asli!"


Aku juga menyadari akan hal itu, misalnya saja awalnya Quin bertemu dengan Kay di suatu tempat secara tidak terduga, lalu ia mengira jika Kay adalah suaminya dan langsung percaya.


Ya. Itu tidak bisa dianggap tidak disengaja kecuali Quin sudah lama tidak bertemu dengan suaminya.


Perbedaan mendasar pun masih terlihat jelas dan masalah sebenarnya ada pada dirinya setelah pulang.


"Sekarang aku bertanya pada mu, apa selama dirimu menjalani pelatihan kemampuan istrimu selalu ada didekat mu?"

__ADS_1


"Yah, walaupun aku tidak bisa mengetahui rutinitasnya dan mengamati gerak-geriknya, tapi sebelum aku memulai pelatihan diriku pernah berpesan kepadanya agar tetap berada pada wilayah batas yang aku tekankan padanya!"


"Boleh aku bicara, aku mendukung omongan dia, karena ada satu kejanggalan paling mendasar?" ucapku seraya angkat tangan jika permainan ini membongkar aib buruk maka aku tidak bisa tenang karena ada anak kecil disini. Bagaimanapun aku harus menyelesaikan permainan ini secepat mungkin.


"Oh, boleh..." sahut Willy.


"Bukanya setelah dia pulang dan mengecek kembali suaminya terlihat ada kejanggalan. Bahwa orang lain yang dia sangka sebagai suaminya berbeda penampilan, serta dari awal dia mungkin saja mengenali perawakan suaminya. Lalu, kenapa bisa terjadi keadaan kakak iparmu bisa mencintaimu? Bukannya alasan awal dihari pertama kamu bertemu dengan kakak iparmu adalah alasan tidak logis!" ucapku panjang lebar.


"Aku percaya sama papa, mama memang menyembunyikan sesuatu dari papa, lalu paman itu pernah mengancam ku sebelum!" ungkap Yin sambil menunjuk Kay yang tengah terdiam.


Sebelumnya saat dia memelukku dan diriku sudah menyetujui keinginannya, aku sudah banyak mengorek rahasia yang diketahui Yin tentang ibunya, beruntungnya dia menceritakan secara detail.


Selain itu Kay juga mengancamnya saat dia berada di ruangan lantai paling atas.


Dengan sedikit rasa aman dan dorongan dariku anak perempuan ini bisa merasa aman pada saat berada di sisiku hingga dia berani mengungkapkan hal buruk tentang ibunya.


"Kalau begitu aku akui saja, aku ini sudah lama berselingkuh. Alasannya karena aku tidak tahan dengan sifat cuek mu itu yang tidak peka pada istrimu. Apalagi tidak bisa memuaskan sang istri!" ucap Quin yang akhirnya membuka topengnya, dia memang tidak tahu diri.


Saat dia bicara pun aku sempat menutup kedua telinga Yin.


"Tsk..."


Ryu hanya bisa berdecak kesal dan mengepalkan kedua tangannya. Aku melihatnya dia sangat emosi mendengar penuturan Quin tadi.


Sementara Kay diam belum berbicara sepatah katapun semenjak permainan dimulai. Dia sepertinya tipe orang yang menuruti peraturan.


Dan memang sekarang ini permainan masih berlangsung karena belum lengkap pengakuan Kay seperti apa.


Hingga tanah terasa bergetar seperti ada suatu penyebab dari bawah yang mengakibatkan tanah bergetar hebat.


"Yin, sekarang!" ucapku memberi kode pada Yin.

__ADS_1


Tanah bergetar pun perlahan-lahan menghilang, sementara Quin dan juga Kay terdiam karena memasuki tahap ilusi mimpi.


Sebelumnya aku mengetahui informasi mengenai kemampuan Yin yang ternyata dia juga bisa membawa seseorang pada ilusi mimpi menyenangkan.


__ADS_2