Last Life

Last Life
Di Jebak oleh Seseorang


__ADS_3

"Kalian berdua sudah berbuat tidak baik dilingkungan kerajaan, karena aksi kalian ketahuan kami akan mengamankan kalian untuk diinterogasi!"


"Apaan sih, kayak razia aja. Sebenarnya aku kan hanya mengobrol dengan Noel, itu saja!"


"Maaf, biar aku jelaskan kronologinya. Sebenarnya Anita hendak berbincang denganku, dia bertanya tentang diriku yang menyuruhnya kemarin malam untuk datang kesini, ke kamarku!" jelas Noel kepada para penjaga.


"Dia juga bertanya kepadaku cara menjadi seorang Putri kerajaan."


"Kalau begitu... kita..."


"Tunggu sebentar!"


Kemudian datanglah seorang pria berjubah yang hendak memasuki ke arah kamar, sebelumnya dia berada di belakang para prajurit. Dia berkata dengan lantang akan ketidaksetujuan nya.


"Apa kalian sudah memeriksa keduanya, hah?"


"Belum Tuan, kami belum memeriksa keduanya!"


"Coba periksa dia terlebih dahulu, biasanya ada bekas disekitar pakaian jika mereka melakukan sesuatu!"


"Baik baik."


"Tapi aku kan tidak..."


"Turuti saja perintah mereka Anita, lagi pula kamu tidak bersalah kan!"


"Mmm."


Satu penjaga memeriksa ku dengan melihat gaun yang aku kenakan. Dan tidak ada sentuhan sama sekali, sementara Noel dia di cek secara keseluruhan (kata penjaga) dan terpisah denganku.


"Apa ini!"


"Cairan ini bisa dijadikan bukti kuat kalau kalian melakukan tindakan tidak senonoh disini."


"Tidak aku tidak melakukannya!!"


"Bukti sudah ada, apa kamu mau mengelak Putri?"


"Engga aku dijebak oleh seseorang, sebenarnya..."


"Cukup! Pengadilan kerajaan akan menegaskan kejadian ini."


Aku pun dibawa paksa oleh kedua Penjaga.

__ADS_1


Kini aku dibawa kehadapan Raja bersamaan dengan Noel yang dirantai di kedua tangannya.


"Aku nyakin dialah orang yang telah menjebakku."


Karena pria berjubah tadi sempat menyudutkan aku dengan berbagai pertanyaan yang bahkan membuatku kesulitan dalam menjawabnya. Saat aku di interogasi.


"Jadi Kalian berdua melakukan hubungan layaknya suami-istri?" tegas Raja sorot matanya merujuk pada kami berdua.


"Maaf Yang Mulia, ini hanya kesalahpahaman. Kami hanya sedang di jebak saja!" pembelaan Noel kepada Raja.


"Lalu kalau kamu bagaimana, Putri? Apakah memiliki pembelaan yang sama dengan Noel?"


"Iya, Yang Mulia. Kami sebenarnya dijebak oleh seseorang!"


"Coba jelaskan secara detail apa yang membuat kejadian tersebut terjadi!"


"Baik Yang Mulia. Kemarin Malam Noel datang kepadaku setelah makan malam.."


"Sebentar. Bukannya Noel kemarin malam berjaga diluar gerbang?" ucap Raja memotong pembicaraanku dilanjutkan dengan bertanya kepada seorang penasehat disampingnya.


"Benar apa yang dikatakan Yang Mulia, kemarin malam Noel memang sedang bertugas diluar gerbang dan masuk kembali pagi jam."


"Jadi apa pembelaan mu Putri?" Raja kembali bertanya kepadaku.


"Hmm, lalu apa Noel menyuruhmu untuk datang keesokan harinya?"


"Raja.. dia benar-benar membantuku, tapi bagaimana mana Raja bisa tahu Noel palsu menyuruhku untuk datang?"


"Iya, benar sekali Yang Mulia. Noel menyuruhku untuk datang keesokan harinya, bahkan menyuruhku untuk datang ke kamarnya!"


"Jadi bisa disimpulkan jika kejadian ini adalah kesalahpahaman. Maka yang bersangkutan akan dibebaskan!"


"Tapi Yang Mulia, mereka jelas-jelas berbuat itu. Dan bukti pun sudah ada!" ucap pria berjubah.


"Huh.. bukti?"


"Ini Yang Mulia."


"Siapa sih, dia ini. Bikin masalah aja. Padahal aku sudah terbebas dari tuntutan yang katanya aku akan dipisahkan dari Noel.


Di tempat ini hanya ada beberapa orang yang berkepentingan yang hadir, kira-kira lebih sedikit daripada pengadilan aslinya.


"Bukti akan di periksa oleh orang yang ahli, jadi persidangan kali ini akan di tutup dengan kedua pembela yang akan dipisahkan sementara, sampai kebenarannya terungkap!"

__ADS_1


Siang ini aku berada di luar kastil sedang sendirian menatap langit. Raja memperbolehkan aku untuk keluar, namun hanya di sekitaran Taman dan dekat air mancur saja.


Anehnya, masalah semalam yang berkaitan dengan kematian penjaga tidak terlalu heboh. Bahkan di persidangan kecil-kecilan tadi Raja seakan bungkam terhadap kematian prajuritnya.


Apa karena sudah terbiasa dengan kematian yang seperti itu, atau ada sesuatu yang di sembunyikan.


"Ya, ampun aku seperti di penjara ya," gumam ku ketika bosan duduk di Taman.


"Hai, Putri. Kamu sendirian aja nih? Btw aku boleh duduk bareng nggak?"


"Boleh boleh, sini."


Riana adalah maid yang mengawasi serta menjagaku selama beberapa hari kedepan.


"Aku buat kue nih, kamu mau cobain nggak?"


"Mmm."


Aku hanya membalasnya dengan anggukan.


"Eh, enak banget kuenya!"


"Makasih..."


"Kamu buat sendiri Riana?"


"Iyaa, aku buat sendiri. Itung-itung belajar memasak kue."


"Riana bilang belajar? Bukanya waktu itu dia mengatakan jika dirinya adalah profesional maid."


"Boleh aku coba lagi?"


"Silahkan, Putri. Habiskan juga boleh."


"Mmm," ucap ku dengan mulut dipenuhi kue.


Setelah beberapa saat setelah kuenya habis karena aku makan bersama Riana, aku sekarang ini mengobrol dengannya.


Riana berkata jika dia dulunya adalah seorang pembantu yang merawat anak seorang miliarder. Riana mala menyebutnya seorang crazy rich.


Tentang ingatannya, Riana tidak menceritakan nya secara detail, yang dia katakan hanya beberapa hal tentang dirinya seperti hobi dan cita-cita.


"Kalian berdua ternyata ada disini."

__ADS_1


__ADS_2