
"Anita, kenapa kamu meninggalkan kami? Padahal aku sudah berbuat baik hingga selalu melindungimu ketika dirimu sedang terancam, tapi kenapa, kenapa Anita?"
"Aku tahu diriku salah, hanya saja takdir berkata lain. Diriku masih bisa selamat dari kejadian yang merenggut nyawa. Sementara kalian sudah di takdirkan untuk mati hari itu juga, jadi aku minta maaf."
"Kamu kira kami bakal memaafkan dirimu, tidak Anita. Harus kamu juga ikut mati bersama kami, setidaknya hal tersebut adalah permintaan maaf paling terhormat darimu kepada kami."
"Apa kalian tidak mengerti. Aku ini kebetulan diselamatkan oleh seseorang!"
"Diselamatkan? Apa aku tidak salah dengar?"
"Justru kalian yang tidak sempat untuk diselamatkan oleh orang itu, emm..."
"Jangan beralasan Anita, pokoknya kami akan membawamu pergi bersama!"
Diriku mulai menyadari jika tempat ini bukan tempat terakhir diriku berada, aku harusnya berada di sebuah kamar. Lebih jelasnya lagi, aku telah masuk kedalam cincin ruang milik Yanwu.
Akan tetapi sekarang ini diriku berada di tempat yang tidak seharusnya, aku simpulkan jika aku sedang bermimpi.
Yang pastinya aku mengalami Lucy dream karena aku menyadari diriku ini yang sedang bermimpi, logikanya mana mungkin diriku dapat berkumpul kembali dengan rekanku yang dinyatakan sudah mati.
"Tempat ini saja aku lihat seperti gedung terbengkalai, dan di waktu siang hari."
"Kurasa aku harus bangun sekarang, untuk mengakhiri Lucy dream ini. Sebelum suasana menjadi riuh."
Diriku kemudian mundur kebelakang ketika mereka berjalan mendekati diriku, seakan hendak melakukan hal buruk ketika dirinya sudah dekat denganku.
Sama sekali aku kesusahan untuk terbangun dari mimpi ini maupun tidur nyenyak ku.
"Kamu ingin kabur dan tidak bertanggung-jawab atas segala perbuatanmu?"
"Benar apa kataku, mereka mulai berbicara ngawur. Aku harus secepatnya bangun!"
Yang aku tahu tentang Lucy dream, ada hal-hal yang tidak boleh aku lakukan saat mengalaminya. Dan hal tersebut bisa saja membangunkan diriku.
Pertama aku akan melihat jam, berhubung tidak ada jam dinding maka aku akan melihatnya pada ponsel yang aku temukan.
Sret.. sret..
Dan aku baru ingat jika ponselku ada didalam tas ransel milik Yin, namun bukan berarti aku menyerah. Ada hal yang lebih mudah lagi untuk membangunkan diriku.
Jleb!
"Arg..."
"Maaf Anita, kamu memang harus dibunuh. Semuanya sudah dirancang sedemikian rupa sebagai sebab akibat..."
__ADS_1
Deg!
"Huh... Akhirnya aku dapat bangun dari Lucy dream itu. Dan aku masih mengingat gambaran mimpi yang aku alami, bahkan melihat semua rekanku yang telah tiada hadir dihadapan ku."
Masih pukul 04.00 dan aku terbangun dari tidurku, yang artinya diriku sudah tertidur selama empat jam lamanya.
Berkat menutup mata dalam-dalam saat aku mengalami Lucy dream akhirnya aku terhindar dari masalah yang ada di mimpi.
Saat melihat jendela aku merasa seperti terhipnotis untuk mendekatinya, kini aku melihat pemandangan luar yang sangat berbeda.
Ada lampu di setiap rumah-rumah dan bangunan yang aku lihat dari kejauhan, bahkan setiap rumah nampak normal aku rasa.
Bangunan terbengkalai yang aku amati sore hari pun tampak terang benderang seperti ada yang menempati.
"Apa aku masih bermimpi?"
"Aww!"
"Ternyata aku tidak sedang bermimpi, yang aku lihat sekarang ini memang nyata. Benar-benar pemandangan langkah sekali."
Pastinya dunia ini memiliki banyak hal yang belum aku pahami. Dan aku tidak sabar untuk menjelajah, namun ada urusan yang harus aku selesaikan.
Bagaimanapun keluar dari cincin ruang ini adalah perioritas utama untuk menjawab semua pertanyaan yang pernah aku catat, sebelum diriku berada disini.
Aku pun menutup jendela dan kembali ke ranjang memastikan pedang itu apakah masih ada ditempatnya.
"Tapi dingin banget bagian ini."
Aku lalu meminum air putih yang sengaja sebelum tidur aku taruh di atas nakas agar aku meminumnya saat diriku bangun.
Gleg!
Aku baru sadar jika rumah ini memang memiliki lampu dan peralatan modern tidak seperti temanya, di abad pertengahan.
Mungkin efek dari mimpi membuatku lupa lupa ingat.
Karena masih lumayan pagi aku pun memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk berlatih kemampuan yang aku miliki.
Hingga diriku merasa seperti mendapatkan peningkatan kemampuan dari kemampuan memasuki ingatan seseorang.
Dalam sekejap aku mendapati gambaran dan cara menggunakan peningkatan kemampuan ini, yaitu dapat aku gunakan untuk memasuki ingatan seseorang secara bersamaan.
Sebagai contoh saat aku memasuki ingatan si A yang didalam ingatannya ada satu orang yang sedang berbincang dengannya.
Maka dengan peningkatan kemampuan ini aku bisa memasuki ingatan si B juga. Tanpa harus melakukan syarat untuk memasuki ingatan seseorang di awal-awal.
__ADS_1
"Ini sangat berguna untuk menguak hal yang disembunyikan oleh pelindung raja dan rahasia raja itu sendiri, karena aku dapat memasuki ingatan raja dimana aku sedang memasuki ingatan pelindungnya sekaligus."
"Hehe bahkan aku bisa mencobanya pada Lina pagi ini, maupun siapa saja yang pernah bertemu dengan raja dan masih mengingatnya."
Aku merasa jika kemampuanku ini berguna sekali disaat dan waktu yang tepat.
Pukul 05.00 diriku keluar dari kamar dan bergegas untuk mencuci muka lalu setelahnya membantu Ryu memasak. Rupanya dia sudah bangun lebih awal, maksudku yang kedua.
"Hey, ini masih terlalu pagi."
"Apa tidak boleh aku bangun pagi-pagi?" sahutku.
"Boleh saja, tapi aku lihat kamu kurang tidur kemarin malam. Lihat saja, ada mata panda dibawah kelopak matamu!"
Sebenarnya aku ingin merahasiakan diriku yang begadang semalaman, namun karena meninggalkan jejak fisik pada diriku maka apa boleh buat. Aku jujur saja pada Ryu.
"Semalam aku begadang dan mimpi buruk, jadi menyebabkan mata panda ini," ucapku seraya menunjuk mata pandaku.
"Pfff..."
"Hah? Kenapa kamu menertawai aku?" tanyaku bingung.
"Maaf, aku bohong soal mata panda itu!"
"Oh... gitu."
"Aww!"
Tentu saja diriku memiliki harga diri jika aku dibohongi, aku bakal membalas dendam kepada orang yang membohongiku. Contohnya Ryu, aku membalasnya dengan cubitan di bagian perutnya.
"Kamu ternyata jahat sekali."
"Salah kamu yang mulai duluan, dan kamu salah menyebut diriku jahat, humph."
"Iya, iya aku salah. Silahkan cubit diriku sepuasnya. Jarimu kan masih bertengger di bagian perutku!"
"Eh, ya maaf. Aku ini tidak sejahat dirimu tahu. Emm lihat. Di luar ada apa!"
Selagi Ryu berpaling dari kesibukannya yang sedang menggoreng martabak gulung, diriku dengan cepat mengambil satu martabak gulung yang sudah di tiriskan.
"Apa? Tidak ada yang aneh?" ucap Ryu kini memandang diriku yang berada disampingnya.
"Hmm tadi aku lihat ada yang aneh di semak-semak itu, seperti ada yang tersembunyi disana!"
"Kamu yakin, ada yang aneh?"
__ADS_1
"Ya, aku yakin sekali."
"Lantas apa yang kamu sembunyikan sekarang?"