
Yanwu menatapku lekat dia sepertinya memperhatikan diriku dari ujung kaki sampai kepala, aku mengira dia sedang mengkhawatirkan diriku.
"Apa kamu baik-baik saja, aku yakin sekali dirimu dalam masalah untuk sampai kesini?" dan benar dugaan ku Yanwu begitu mengkhawatirkan diriku terlihat dari ekspresi wajahnya.
Meskipun gara-gara rencananya aku hampir saja mati.
"Hmm... apa Yanwu bisa seceroboh itu, hu... jangan pikirkan. Lagian aku selamat akibat pria itu melindungi diriku, kali ini aku maafkan Yanwu dan tidak ada untuk yang kedua kalinya!"
Dan aku baru sadar bahwa Yanwu bisa membaca pikiranku karena dia memiliki kemampuan itu.
Dia sebelumnya terlihat merubah ekspresinya, namun hanya sekilas seperti tersenyum kepadaku.
Jujur saja sekarang ini aku merasa malu.
"Aku baik-baik aja Yan, cuma ada kondisi dimana aku harus ekstra mengerahkan semua kemampuan diriku."
"Tapi melihatmu bisa berada disini dan dalam keadaan baik-baik saja aku sangat senang," sahut Yanwu dengan senyum ramahnya yang hanya dia tunjukkan kepadaku secara terang-terangan.
"Lalu kenapa kamu tanya tentang keadaanku kan kamu udah tahu aku baik-baik saja humph..."
"Itu karena keadaan seseorang tidak diukur dari luarnya saja, bisa saja ada perasaan yang mengganjal dalam dirimu yang merasa jengkel dan marah. Ya... begitulah pendapatku!"
Niat ingin mengerjainya malah aku yang di serang balik oleh argumenku sendiri, benar-benar senjata makan tuan.
Dan kurasa Yanwu sengaja mengatakan hal itu karena sebelumnya aku mengomeli dirinya dalam hati.
"Hei, hei kalian asyik sekali ya mengobrol, apa aku boleh ikutan?" sela Sekai yang datang menghampiri kami berdua, ekspresinya agak kesal karena pandangan matanya menyorot tajam diakhir katanya pada Yanwu.
"Yanwu menanyakan padaku tentang rencananya terus menanyai keadaanku, oh ya, bagaimana dengan pemimpin kota ini?" jelasku karena Yanwu mendadak diam membisu, sembari diriku mengalihkan topik pembicaraan dengan sebuah pertanyaan kepada Sekai.
"Syukurlah jika dirimu baik-baik saja Anita, untuk pemimpin kota ini dia berhasil dikalahkan dan niatnya akan dibawah ke kastil tempatku. Tentu saja selain penebusan dosa dengan dipenjara dia juga akan dipaksa bergabung demi menambah ras manusia dewa yang kita cari!" terang Sekai begitu detail.
"Aku setuju jika pemimpin kota ini harus menebuskan dosanya, karena dia menggunakan keberuntungan dirinya untuk hal yang tidak baik. Kota ini bahkan dia ubah seperti neraka dan terus mengalirkan dosa baginya, lebih parahnya mengajak orang lain untuk berbuat hal yang sama sepertinya. Bagiku orang sepertinya tidak bisa dimaafkan!" ucapku disertai keluh kesah terhadap pemimpin kota ini.
__ADS_1
"Ya perkataan mu itu memang ada benarnya Anita," sahut Sekai menatap lekat kepadaku. Dia juga mengetahui apa yang terjadi di kota ini.
Beberapa jam kemudian, setelah kami membantu Luu dalam menangkap orang-orang yang dalam perintah kakaknya hingga berbuat hal buruk.
Luu lalu mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya dan rela menyerahkan kakaknya kepada kami.
Dia bahkan mengumumkan diri untuk menjadi pemimpin kota ini yang baru dan akan memperbaiki semua kesalahan kakaknya, meskipun tidak semuanya dapat dia perbaiki.
Dan sebuah janji serta sumpah dia ucapkan pada semua penduduk kota yang kini berkumpul di halaman kastil.
Sorak-sorak dan teriakan memberi dukungan kepada Luu untuk menjadi pemimpin kota ini.
Di saat yang sama hukuman mati akan dijatuhkan kepada orang-orang yang berbuat aniaya, ketika Tanaki membebaskan perbuatan tersebut.
Ilusi yang menyelimuti kota ini pun lenyap setelah Sekai memaksa Tanaki untuk menghilangkannya.
Detik ini pun aku pergi meninggalkan kota Tirani yang telah berganti nama menjadi....
Kini kami semua berjalan kaki menuju tempat yang lumayan jauh dari kota itu agar pada saat menuju kastil melayang tidak banyak yang mengetahui.
Dalam perjalanan aku teringat lagi pada pembicaraan dengan Tanaki sebelumnya.
Flashback on
"Kenapa kamu melakukan kejahatan seperti ini, bahkan perbuatan mu terlalu rendahan lebih buruk dari..."
"Cukup omong kosong yang kamu ucapkan, kamu tidak mengetahui apa-apa tentang diriku. Intinya sekarang aku kalah dan menyesali apa yang telah aku lakukan, jadi rekanmu bebas melakukan apapun padaku. Dan aku mau tanya padamu, bagaimana keadaan perempuan itu saat dirimu terperangkap dalam ilusi?"
"Dia... baik-baik saja, walaupun pernah membahayakan diriku!"
"Jadi begitu, dia masih saja baik kepada orang lain."
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Dia itu adalah istriku sengaja aku kurung dalam ilusi karena dirinya ditakdirkan untuk mati. Dan dia mempunyai kebiasaan buruk serta orang perempuan yang baik. Aku tebak, dia pasti memberimu kesempatan bukan?"
"Eh, iya.. dia..."
"Sebenarnya dia sengaja melakukan hal itu dan mungkin saja berpura-pura agar terlihat hebat dan dipuji olehmu, itu salah satu sifatnya. Lalu ingin bermain-main denganmu agak lama karena dalam ilusi itu sebenarnya dia merasa sangat kesepian, dan aku mengetahui akan hal itu. Ah... aku malah curhat pada gadis sekolah sepertimu."
"Tidak apa-apa, lagian aku sedang senggang. Kamu bebas bercerita padaku... Tapi bukan berarti aku akan memaafkan kesalahan dirimu!"
"Tak masalah, aku tidak memperdulikan hal itu."
Flashback off
Tanaki menurutku adalah orang yang baik, meskipun berlaku bagi dirinya yang dulu. Mungkin ada sebab yang membuatnya menjadi pemimpin teramat jahat.
Aku sebut saja begitu, meskipun ada yang lebih jahat dan gila dibandingkan dirinya di dunia ini.
Dan ekspresi sedih saat Tanaki mengakhiri pembicaraannya mungkin merujuk pada istrinya yang didalam ilusi.
Dengan lenyapnya ilusi yang menyelimuti kota atau mungkin saja didalam kastil. Keabadian istrinya didalam sana akan berakhir dan membuatnya meninggalkan dunia ini.
"Kamu melamun terus dari tadi Anita, apa yang kamu pikirkan?" tanya Sekai.
"Aku sedang memikirkan kejahatan pemimpin kota itu."
"Sebaiknya kamu jangan terlalu memikirkan kejahatannya, bukannya akan ada cahaya setelah kegelapan. Dan Luu akan memperbaikinya, akan lebih baik kamu fokus pada tujuan dan hal lain yang membuatmu berkembang. Dunia ini memang keras, sekeras dunia tempat asalmu bukan?" ucapnya diakhiri dengan senyuman.
"Ngga juga sih, di dunia ini terlalu keras dibandingkan dengan dunia asalku, itulah sebabnya aku memiliki keinginan untuk dapat keluar dari sini!"
"Begitu ya, jadi kamu ingin kembali. Mungkin pada saat itu kita... ah maksudku akan bangga jika berhasil mengumpulkan beberapa ras manusia dewa dan bisa kembali ke dunia asal!"
Sebelumnya aku menangkap ekspresi sedih pada wajah Sekai yang sekilas itu serasa merujuk pada nasib Sekai.
Tapi aku bertanya-tanya apa Sekai dapat keluar dari dunia ini, bukannya dia sendiri bukan berasal dari bumi tempat asalku?
__ADS_1
Sekarang aku tahu apa yang membuatnya memasang sekilas ekspresi sedih tadi.