Last Life

Last Life
Jangan Langsung Percaya Pada Orang Yang Tidak Dikenal


__ADS_3

Perpustakaan ini jauh lebih besar dibandingkan perpustakaan kerajaan yang satunya lagi mengingatkan diriku pada saat pertama kalinya berurusan dengan raja.


Menguping pembicaraan para petinggi dan para pelindungnya menggunakan kedua alat perekam pada ponsel sehingga mengetahui pembicaraan mereka.


Dan secara kebetulan pada saat itu aku bertemu dengan seseorang yang mana membawaku untuk berbincang-bincang dengannya, yaitu dengan tuan Mizu.


Tuan Mizu adalah orang pertama dan mungkin pertama kalinya aku anggap sebagai orang jahat di kerajaan. Namun dia aslinya orang yang baik.


Dia mengajariku banyak hal soal pengendalian kemampuan yang aku miliki, bahkan secara sukarela memberiku informasi tentang dunia ini.


Sayangnya sampai saat ini aku masih belum bertemu dengannya lagi setelah kejadian itu. Serta Noel yang aku rindukan belum kunjung datang menemui ku.


"Kamu membaca atau sedang memikirkan seseorang, lebih baik kamu beristirahat saja. Aku tidak ingin memaksamu menemaniku," ucap Ronal kepadaku mungkin dia melihatku sedang memikirkan sesuatu dikala aku membaca buku.


"Tidak apa, aku akan tetap disini."


"Apa kamu tertarik untuk membaca buku ini, dia diselimuti oleh kekuatan ilusi yang mana akan membuatku mengalami delusi. Jika kamu tertarik coba saja membacanya, bahkan aku pernah membacanya sampai lima kali berturut-turut!" ujar Ronal mempromosikan buku kesukaannya.


"Baiklah, aku tertarik untuk membacanya. Jadi lemparkan saja buku itu padaku, aku pasti akan menangkapnya!"


Ronal pun memberikan buku itu kepadaku tanpa melemparnya malahan menyerahkannya langsung kepadaku yang ada dibawah.


Sebuah buku berjudul "seni kemampuan masa lalu" berisi 245 halaman yang setiap halamannya penuh berisi penjelasan suatu kemampuan. Dan aku mulai membacanya.


Dam!!!


Dam!!!


Rak buku bergetar hebat seakan terjadi gempa bumi terutama diriku yang sedang mengatur keseimbangan.


Suara keras terdengar dari luar mengakibatkan guncangan yang tidak disangka-sangka aku alami saat asyik membaca.


Aku pun beranjak pergi meninggalkan Perpustakaan ini bersamaan dengan Ronal dia membantuku lebih mudah lagi untuk keluar.


Membawaku terbang melayang hingga menuju ke arah pintu keluar.


Saat melihat apa yang terjadi diluar aku menyaksikan sendiri banyaknya ledakan yang terjadi dimana-mana berasal dari pesawat terbang yang melintasi wilayah kerajaan.


"Itu... bukannya lambang organisasi misterius dalam buku "Tipuan dunia kelam" apa mereka benar-benar nyata?" ucap Ronal gelisah.

__ADS_1


Perkataannya membuatku terkejut, karena aku mengingat isi buku itu dan aku pernah membacanya. Buku itu setahuku adalah karya seorang penulis fantasi yang menceritakan tentang organisasi misterius.


Diceritakan sebuah organisasi yang dibentuk oleh seorang pemimpin jenius yang menyebabkan ribuan orang lenyap dari dunia ini.


Bernama organisasi "Ryna" dalang dibalik kejadian di masa lalu sehingga kedua ras manusia yang berbeda saling berseteru hingga terjadi peperangan antar keduanya.


Pesawat itu entah datang darimana dan jumlahnya banyak sekali tidak bisa ku hitung dengan jari.


Dan penyebab tanah bergetar adalah bom yang pesawat itu jatuhkan lebih dari satu.


Aku berjalan lalu mempercepat langkah untuk mencari keberadaan Ryu maupun Yin kurasa mereka berdua masih berada di wilayah kerajaan. Sebelum bertemu pada titik pertemuan di malam hari.


Diriku khawatir jika saja sesuatu hal buruk menimpa Yin yang entah mengapa aku terlalu memperdulikan dirinya seperti aku ini adalah ibunya.


Untungnya para prajurit mengatasi bom yang berjatuhan dengan menciptakan sebuah pelindung dan serangan balik pada setiap pesawat terbang di melintas di atasnya.


Diriku bahkan merasakan pesawat terbang di atas kepalaku.


Aku pun ikut membantu menyerang pesawat terbang itu dengan melesatkan berlian tajam dengan kecepatan tinggi.


Dharr!!


Dharr!!


Satu demi satu pesawat yang menutupi langit berjatuhan akibat terkena serangan kemampuan prajurit yang ada dibawah.


Puk!


"Huh!? Aku kenapa masih berada di dalam perpustakaan, di luar sedang...?" tanyaku bingung sembari menatap wajah Ronal.


Seingat ku aku sedang berada di luar Perpustakaan dan berlari mencari keberadaan Ryu maupun Yin, tapi saat ini kebalikannya.


Dan serangan pesawat-pesawat itu yang berasal dari organisasi Ryna sebelumnya membuat kekacauan pada wilayah kerajaan ini.


"Tenangkan dirimu, yang kamu rasakan dan lihat itu hanyalah delusi semata. Tidak benar-benar nyata!" jelasnya kepadaku.


"Maksudmu aku dalam pengaruh buku yang aku baca sebelumnya?" tanyaku memastikan mengingat terakhir kali diriku mengalami delusi.


"Ya... seperti itulah, aku minta maaf karena telah menyarankan buku itu padamu."

__ADS_1


Buku itu kini berada di depanku dalam keadaan tertutup saat aku melihatnya diriku kembali mengingat hal yang aku alami sebelumnya.


Ronal langsung saja mengambilnya dan menaruhnya pada rak paling atas.


"Tidak apa-apa, tidak usah dipikirkan. Efek pusing pada kepalamu sebentar lagi akan hilang, bagaimana kalau kita berjalan-jalan lagi sebentar!"


Tepat seperti yang dikatakannya tebakannya benar sekali aku merasakan rasa pusing di kepalaku yang teramat sangat.


Anehnya, setelah aku mengatakan "iya" dan itupun dalam hatiku merujuk pada tawaran Ronal tiba-tiba saja rasa pusing yang menyebar dalam kepalaku perlahan menghilang.


Kurasa ada yang mencurigakan saat Ronal mengatakan akan mengajakku pergi jalan-jalan.


"Apa yang kamu lakukan, kenapa menodongkan berlian tajam ini kepadaku?" ucap Ronal terkejut.


"Katakan dengan jujur, apa tujuanmu sebenarnya. Kalau tidak aku akan membunuhmu!" ucapku yang termakan emosi.


Aku terlalu gegabah sampai-sampai mengancamnya disaat seperti ini apalagi diriku sekarang berada didalam perpustakaan yang hening minim akan suara, seakan-akan hanya ada suara ku dan Ronal saja.


Dan hal ini bisa saja membahayakan diriku dalam penyamaran yang sudah berjalan dengan sempurna ini.


"Baiklah aku mengaku, kamu itu terlalu menggoda saat dirimu membuka masker kepadaku sebelumnya. Itulah mengapa aku melakukan suatu cara untuk membuatmu secara tidak sadar akan terbawa kendali ku!" ucap Ronal mengakui perbuatanya, namun aku masih belum mengerti apa yang dikatakannya.


"Apa maksudnya kamu mau menjadikan aku sebagai pemuas diri hah?" tanyaku langsung mengambil kesimpulan.


Tap..tap..tap..


Seorang pria tua datang dan memberi peringatan kepada kami dengan raut wajah sinis.


Pada akhirnya aku memutuskan untuk keluar sembari menarik paksa tangan Ronal untuk membicarakan hal yang belum kami selesaikan.


Tempat pertama yang kami kunjungi dimana terdapat sebuah patung bidadari.


"Aku harap kamu tidak mengatakan hal tadi kepada orang lain, dan kita sebaiknya menyelesaikan masalah tadi sekarang juga!" ucapku menekankan di akhir ucapan.


"Baiklah, baiklah aku janji tidak akan mengatakan hal tadi kepada orang lain. Dan aku minta maaf atas kelakuanku padamu sebelumnya."


Pada akhirnya aku memaafkannya, walaupun perasaanku sempat dipermainkan olehnya. Setelah mengalami kejadian seperti ini aku pun akan berhati-hati lagi kedepannya.


Tidak akan mudah percaya kepada seseorang sebelum aku mencari tahu identitasnya terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2