
"Apa kamu komplotan mereka yang lain, pasti bosnya yang asli?" tanya ku sembari menjauhi dirinya, namun entah mengapa tubuhku sulit untuk digerakkan. Seakan-akan aku jadi patung sekarang.
"Hahaha kalau iya, kenapa! Aku suka dengan gadis kecil sepertimu, hmm, kayaknya aku bakal bawa kamu saja sekarang!" sahutnya yang mana membuat terperangah, dan jika itu terjadi aku bakalan disiksa.
Saat ini aku berusaha untuk kabur dari pria yang tidak diketahui kedatangannya ini mengaku-ngaku sebagai bos komplotan tadi.
Dia sepertinya marah karena diriku mengalahkan semua anak buahnya, tidak salah lagi.
"Kakak yang manis dan tampan, bisa nggak lepasin aku dari kemampuan yang membuatku tidak bisa bergerak, aku mau kasih kejutan. Aku janji ngga akan kabur!" mohonku dengan tipu daya dan wajah memelas untuk lepas darinya.
Beberapa saat pria dibelakang terdiam tidak menjawab.
"Baiklah, aku pegang janji mu itu!"
Shut..
"Akhirnya... pria itu tertipu juga pada akhirnya, abaikan emas dan barang-barang curian itu. Lagian bukan milikku juga!"
Langsung saja aku melesat cepat dan menjauh sejauh-jauhnya dari pria itu setelah badanku merasa sudah bisa digerakkan lagi.
Firasat ku mengatakan jika pria itu tidak bisa aku kalahkan dengan mudah jika aku melawannya, yang untungnya dia lengah berkat tipuan ku tadi.
Tap..
"Sudah puas kah olahraganya manis...?"
"Ah... itu, lihat. Ada naga!"
Shut..
Mendadak bulu kudukku dibuat berdiri lantaran kemunculan pria itu yang sudah berada di atas ranting pohon dan mengejutkan diriku hingga menghentikan waktu diriku kabur.
Dan untuk kedua kalinya pria itu tertipu oleh tipuan murahan.
__ADS_1
"Huft... sepertinya dia sudah tertinggal jauh, capenya... Aku mau beristirahat dulu!"
Buk.
"Hah...?"
"Ka-mu ke-napa bisa mengejar ku!?"
Seperti terperangkap dalam kemampuan ilusi, karena berulang kali aku bertemu dengannya. Dan lagi-lagi aku berjumpa dengan pria ini yang sempat mempermainkan diriku.
Setelah menabraknya, aku dibuat terkejut hingga bertanya dengan ucapan terbata. Bertanya untuk memastikan bahwa diriku tidak sedang dalam sebuah kemampuan ilusi.
"Tuan, aku minta maaf untuk tadi... sebenarnya aku ketakutan sampai lari dan tidak sengaja berbohong kepada tuan! Jadi saya mohon belas kasih dari tuan supaya..."
"Untuk apa aku mendengar perkataan berbisa mu lagi, sekarang terimalah akibatnya. Aku akan menjadikanmu istri yang kedua puluh!" ucapnya menggetarkan hatiku dalam sekejap.
Entah kenapa firasat ku tidak mengatakan bahwa pria ini memiliki maksud jahat dan orang yang tidak baik, di satu sisi diriku termakan oleh omongannya barusan.
Grep.
"Ah!! Tolong!!"
"Ada orang jahat disini!!"
"Hahaha percuma saja, berteriak sekencang mungkin tetap tidak akan ada yang datang dan menolongmu kemari!" tegas pria ini dengan wajah serius serta mengintimidasi, semakin membuatku tak tenang saja seiring waktu.
Kali ini aku harus berani melawannya dengan cara apapun agar lolos dari kendalinya, meskipun harus mengorbankan nyawaku sekalipun.
Pria itu kini menatapku dengan pandangan mata intens entah apa yang ada di pikirannya sekarang, saat ini aku mengambil sesuatu dari hanfu yang ku kenakan secara perlahan.
"Lepaskan aku, atau aku akan bunuh diri!"
"Huh?"
__ADS_1
Sudah ku genggam belati kecil yang sebelumnya ku bawa ketika masih berada di kastil. Aku berniat menyimpannya di dalam hanfu memang untuk berjaga-jaga, jika saja hal buruk menimpaku.
Entah karena sedang sial atau memang nasibku yang hal buruk hari ini, aku malah dalam masalah yang benar-benar serius sekarang.
Dengan raut wajah serius aku tempelkan belati ini dibawah daguku. Berharap pria itu mau melepaskan diriku.
Tapi melihat dari ekspresinya yang tenang-tenang saja membuatku tidak mempunyai pilihan lain selain melakukan bunuh diri sekali.
Terasa sesak pada bagian dada dan nafas ku mulai berat, tapi aku abaikan itu.
Deg.
"Dia...? Memeluk diriku?"
"Ternyata kamu memang perempuan baik-baik, aku salah menilai mu sebelumnya, maafkan aku! Hanya saja melihat raut cemas dirimu membuatku timbul keinginan untuk mengerjai!" jelasnya yang masih ku cerna setiap kata dari perkataannya barusan.
Beberapa saat setelah pelukannya yang hangat disudahi aku kini mengerti maksudnya, jadi dia ini mengerjai diriku sampai aku termakan oleh kebohongannya selama ini.
Intinya pria ini berbohong saat bilang dirinya adalah ketua asli dari kelompok penjahat tadi. Dan juga mengenai perkataannya yang ingin menikahi diriku, semua itu hanyalah kebohongan saja agar diriku terpancing.
"Tunggu, kalau begitu mereka... bisa saja lari!?"
Grep.
Lagi-lagi pria ini menahan ku yang seperti memiliki kecepatan dibawah hitungan detik.
"Untuk apa kamu kesana lagi? Rekanku sudah mengurus para perampas harta benda itu saat kita dalam aksi kejar-kejaran!" jelasnya membuat emosi ku membuncah.
Plak!
Sebuah tamparan aku layangkan pada pipi pria ini hingga dia terdiam.
"Itu karena kamu sudah membuatku sangat gelisah sampai aku hendak melakukan bunuh diri! Dan tamparan itu pantas kamu dapatkan!" ucapku dengan nada ketus menatapnya sendu.
__ADS_1
"Ya, aku memang pantas. Dan baru pertama kalinya aku mendapatkan tamparan seumur hidupku, bahkan ibuku sama sekali tidak melakukan ini. Baru kamu seorang yang berani!"
"Astaga... jangan-jangan dia mau..."