Last Life

Last Life
Perintah Dari Hiyou


__ADS_3

Kemudian Hiyou memberikan perintah seperti biasanya, hanya saja dia memberikan perintah kepadaku untuk menaiki singa ini seorang diri, katanya.


Sungguh suatu perintah yang membuatku terkejut bagaimana bisa semudah itu dia mengatakannya.


"Tapi... aku kan..." menggunakan akting gugup aku beralasan untuk mengetahui maksud perintah Hiyou tersebut.


"Aku tahu kamu ini seorang wanita, bahkan umurmu masih sangat muda, wajar kalau kamu takut dengan singa, tapi. Aku tahu kamu bukan gadis selemah itu yang akan takut ketika menaiki singa!"


"Apa benar apa yang kamu katakan, yo?"


"Orang sepertimu tidak mungkin menyadarinya Kwen. Dia ini pintar dalam..."


"Udah. Aku naik singa aja deh!"


Terpaksa aku harus mencegah Hiyou membocorkan beberapa informasi tentangku, meskipun Nie sudah mengetahuinya.


"Kenapa Anita menggunakan singa, sedangkan aku dan Kwen menaiki burung ini?" setelah itu Nie langsung bertanya seperti halnya dia mewakili ku.


Itulah yang membuatku terkejut seakan perintah dari Hiyou ini tidak adil buatku. Karena Nie dan Kwen menggunakan burung sebagai tumpangan mereka.


"Kwen yang akan memantau apa yang ada didepan, sedangkan kamu yang akan mengendalikan orang-orang di desa setelah sampai!" jelas Hiyou.


"Serta aku akan berpisah dengan kalian untuk sementara waktu!"


"Huh.. bukanya kamu ini pemimpin di tim singa? Bagaimana bisa kamu memutuskan untuk berpisah seperti itu!" Kwen membalas perkataan Hiyou yang tampaknya dia tidak setuju.


"Ada urusan yang akan aku urus sendiri. Jadi aku harap kamu dapat membimbing kedua gadis ini selagi aku pergi, ingat itu!"


"Tapi..."


"Tidak ada tapi-tapian, waktu kita sedikit. Sebisa mungkin misi ini harus diselesaikan dalam waktu dekat."


"Aku sebenarnya tidak setuju, karena situasi yang akan dihadapkan Anita sangat membahayakan bagi dirinya. Hanya saja demi keberhasilan misi aku percaya jika Anita bisa menjaga dirinya dengan baik!" ucap Nie menyampaikan ketidaksetujuan nya serta di satu sisi dia mendukung rencana Hiyou.


Karena sudah memakan banyak waktu kamipun langsung bergegas melanjutkan perjalanan. Setelah puas menyampaikan pendapat dalam perbicangan tadi.


Kwen menegaskan kepadaku jika singa ini sepenuhnya sudah tunduk dan patuh. Serta akan mengikuti instruksi darinya.


Flashback on


"Jangan kuatir Anita, seratus persen kamu akan selamat dalam perjalanan ini!"


"Kamu beneran kan? Aku masih takut...!"


"Iya, aku serius. Kamu tenang aja. Aku ini dulunya seorang petualang pro lho. Bukannya kamu jago di bidang beladiri ya, pasti kamu tidak akan takut sama sekali..."

__ADS_1


Saat itu ucapan terakhir Kwen kemungkinan hanya dapat didengar olehku karena dia mengatakannya persis di dekat telingaku dengan suaranya yang kecil.


"Emm iya aku berani kok!"


Flashback off


Karena itulah aku mengetahui identitas Kwen di masa lalunya, sebelum dia berada di dunia ini.


Yang ternyata Kwen adalah seorang petualang pro. Itulah sebabnya dia sangat pandai dalam menjinakkan hewan-hewan buas, bahkan mencintai hewan dari berbagai kalangan, tipe, dan jenis.


Kini singa ini berlari dengan kecepatan sedang tidak terlalu cepat dan lambat. Menembus gelapnya malam yang sunyi.


Sayangnya dengan ukurannya yang sebesar ini apakah tidak akan menimbulkan kekacauan yang berlebih.


Brak!


"Aah... hutan ini jadi rusak gara-gara singa ini...!"


"Apanya yang sesuai perintah, harusnya Kwen menyuruhnya agar tidak menabrakkan diri juga!"


"Setelah ini aku nggak akan setuju lagi sama perintah si kacamata itu!!" umpat ku kesal.


Ku eratkan genggaman ku pada singa ini agar tidak terjatuh pada saat guncangan dalam berlari.


"Ya, itu mungkin cuma pikiranku saja."


Sebelum senjata terkuat ras manusia tidak berkemampuan di luncurkan kami harus sampai di desa yang kami tuju.


Demi menghindari kemungkinan terburuknya, contohnya kami akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk sampai ke tempat tujuan.


"Aku rasa berpegangan seperti ini membuatku sesak bernafas!"


Sudah sangat lama hingga akhirnya aku sampai di sebuah desa.


Desa ini kelihatan modern karena setiap rumah dilengkapi dengan pencahayaan sebagai penerangan.


Entah mengapa di desa ini kondisinya sangatlah sepi hingga terdengar suara jangkrik saja yang berbunyi.


Apakah tengah malam benar-benar sangat sunyi seperti ini?


"Akhirnya aku turun juga, hmm dimana mereka sekarang?" sambil mengamati situasi aku pun melangkah kaki menuju sebuah gubuk.


Ku tinggalkan singa itu dalam keadaanku saat ini, karena aku terburu-buru ingin menggunakan kamar kecil.


Namun hampir saja aku mendekati gubuk yang di dekatnya ada toilet umum, tiba-tiba terdengar kepakan sayap burung yang tak lain adalah Kwen dan Nie.

__ADS_1


Mereka berdua lalu turun setelah burung itu mendarat di tanah, ketika aku amati kendaraan yang mereka tumpangi rupanya sangat cantik, entah jenis burung apa yang Kwen temukan kali ini.


"Semuanya sudah beres!" ujar Kwen kepadaku sambil melangkah kaki mendekat ke arahku. Diikuti dengan Nie di belakangnya.


"Apa yang terjadi sebenarnya?"


"Jadi sebelum kamu datang kesini aku dan Nie telah memancing penduduk desa untuk keluar, lalu saat mereka mulai terkumpul Nie menggunakan kemampuannya untuk mengendalikan mereka. Sekarang lihat di dekat sini mereka sedang asyik terjaga dalam diam!"


"Huh, kejamnya..." sahutku.


"Hey.. itu demi keberhasilan misi ini kan. Jadi tidak masalah jika berbuat hal yang seperti ini. Hmm ebih baik sekarang kita mulai melakukan penyamaran!" ujar kwen diakhir ucapan.


"Berarti kita memasuki salah satu rumah warga?" tanyaku menatapnya lekat Kwen.


"Begitulah, kita akan melakukannya."


Mungkin rencananya itu berasal dari Hiyou yang dia perintahkan kepada Kwen. Entah kenapa rencananya ini seperti ada kejanggalan ketika aku asumsikan.


Di peta, letak ku sekarang ini lumayan tak jauh dari titik lokasi tujuan. Kiranya kami bisa cepat sampai kesana tanpa memakan waktu banyak.


Malam yang hening kami masuk kedalam rumah warga untuk menggunakan baju mereka demi penyamaran.


Sebenarnya aku tidak enak mengambil barang milik orang lain maka dari itu aku hanya berniat untuk meminjamnya saja, Hoodie berwarna hitam ini.


Aku akan menggunakannya sebagai penyamaran yang tidak terlalu mencolok.


Dan benar-benar sekarang ini membuatku teringat lagi kepada orang tua, karena rumah yang aku masuki sekarang memajang begitu banyak poto kebersamaan mereka.


Terlihat ada ayah, ibu, dan kedua anaknya dalam poto tersebut, persis seperti aku dan saudara ku saat masih kecil.


"Ada apa denganku... aku menangis...?" perasaan ingin bertemu bercampur dengan kerinduan yang menggebu.


Rasanya sudah sangat lama kedua orang tuaku tiada karena meninggal dunia.


Tak lama aku pun keluar dari rumah ini melewati pintu depan, diluar sana terlihat ada Kwen dan Nie yang sedang menungguku.


"Apa aku terlihat mencurigakan?" tanyaku sembari memperlihatkan Hoodie yang telah aku kenakan, menunggu pendapat dari mereka berdua.


"Hum kelihatannya kamu cocok memakainya," kata Kwen.


"Cocok sekali, Anita. Kamu jadi makin imut sekali..."


"Ya. Makasih..."


Lalu Nie mengendalikan para penduduk untuk memasuki rumahnya masing-masing. Sementara kami sekarang ini bersiap untuk langkah selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2