Last Life

Last Life
Berteduh Di Dalam Mall Terbengkalai Saat Hujan Deras


__ADS_3

Memasuki sebuah mall yang sebelumnya aku dan Alex berusaha keras untuk memasukinya, lantaran pintu masuk tertutupi oleh tumbuhan dan kayu-kayu berukuran besar.


Di atas bangunan mall ini pula terlihat ada ranting pohon yang menyangga hingga atap mall dibuat berlubang saat aku amati.


Suasana nampak hening serta udara seakan hampa saat aku sudah berada di dekat kasir mall besar ini. Didalamnya aku amati begitu gelap dan sedikit kotor, banyak pula sarang laba-laba yang sudah menutupi jalan pada rak produk.


"Aku akan berkeliling untuk mencari sesuatu yang akan aku ambil, kamu kalau mau berkeliling silahkan! ucapku sembari menatap Alex dari samping.


"Apa dirimu tidak takut? Tempat ini terlihat gelap pada bagian yang ada disana."


"Tidak apa-apa, aku bisa menjaga diri. Jadi kamu tenang saja."


Alex terdiam sesaat sembari melihatku lalu dia membuka mulut.


"Kamu ini berbeda sekali dengan kebanyakan wanita yang pernah aku temui, dirimu menurutku suka akan hal seperti ini. Pasti bagimu suasananya sangat menenangkan?"


"Em, aku merasa begitu."


Ternyata Alex begitu peka terhadap orang sepertiku dia langsung saja memperbolehkan diriku untuk menjelajahi rak produk di mall ini sendirian.


Tentunya dengan satu syarat aku berada dalam radius tertentu dan jangan terlalu jauh demi mencegah hal tidak diinginkan terjadi, begitulah yang dia katakan padaku.


Aku mencari makanan instan seperti mie dan pasta untuk makan malam nanti, sebab aku rindu akan rasa mie kuah dan pasta bertabur saos tomat.


Dan aku harus pandai memilah dan memilih agar tidak salah mengambil produk dengan waktu kadaluarsanya yang sudah sangat lama. Lebih baik lagi yang belum masuk kadaluwarsa.


Di bagian rak produk yang masih terlihat oleh cahaya aku menemukan berbagai varian mie instan dengan tampilannya yang menggugah selera.


"Mie instan ini sudah tidak diproduksi di tahun asalku, kurasa akan bernostalgia pada rasanya saat aku mencobanya kembali. Kalau begitu aku ambil ini aja, berhubung tanggal kadaluwarsanya tidak jauh-jauh amat."


Sejenak aku berusaha untuk melupakan pemikiran yang aku hadapi saat ini mengalihkannya pada kesenangan saat berbelanja. Walaupun di tempat seperti ini aku merasa sangat bersyukur.


Beberapa mie berbeda varian sudah aku taruh di keranjang mall berikutnya aku mencari sereal dan makanan kaleng.

__ADS_1


Aku mendapati susu yang masih bisa aku konsumsi berserta sereal maupun roti, beruntungnya aku menemukan bubur instan.


Seingat ku di tahun 2012 bubur instan belum terdapat pada pasaran maupun pusat perbelanjaan seperti mall dan supermarket. Anehnya, aku menemukannya di rak mall ini. Sungguh membuatku kepikiran.


Minuman pun tak kalah penting jadi aku mencarinya sesuai kebutuhan, terpikirkan pula olehku rasa sebuah minuman bersoda yang sudah lama aku tidak meminum lagi.


Sayangnya minuman bersoda aku lihat berada di bagian gelap dan basah pada lantainya lantaran bagian atasnya terlihat berlubang di masuki oleh ranting pohon.


Cret!


Aku membuka Snack berisi kentang tipis dan langsung memakannya sedikit demi sedikit sehingga rasa kepercayaan diriku untuk menuju bagian gelap itu jadi bertambah. Seketika diriku tidak merasakan emosi apa-apa tentang yang namanya rasa takut.


Sepatu yang aku kenakan basah saat mengambil minuman bersoda dari rak dan mesin pendingin berkaca. Tapi akhirnya minuman itu sudah berada digenggaman ku.


Bukan makanan dan minuman saja produk lain pun aku ambil guna memenuhi kebutuhan sehari-hari ku, meskipun tidak tahu apakah aku akan menggunakannya sampai habis.


Tak lama Alex menghampiri diriku untuk segera pergi dari tempat ini terlihat dari celah didalam mall memperlihatkan langit mendung.


"Iyaa, lagian aku sudah mendapatkan semua yang aku butuhkan," ucapku.


"Biasa aja nggak berat. Sebenarnya segini masih belum cukup sih."


Melakukan kepura-puraan barusan membuatku melihat wajah berbeda yang belum pernah aku lihat dari ekspresi Alex.


Alex berinisiatif membantu membawakan barang belanjaan sehingga aku berikan saja keranjang berisi produk padanya.


Gru...


Suara guntur dari kejauhan membuatku melenggang pergi menuju pintu keluar mall memaksa untuk mempercepat perjalanan pulang.


Tapi keadaan tidak berpihak kepadaku hujan turun dengan sangat derasnya disertai suara petir seakan menyambar disaat bersamaan.


Tentu saja pilihan terbaik adalah meneduh di dalam mall ini untuk sementara waktu, ku harap ada yang kesini untuk menjemput diriku.

__ADS_1


Beberapa menit dan sudah memasuki setengah jam aku terjebak di dalam mall ini dalam kondisi kelaparan, mengingat flashback saat diriku memasak di pusat perbelanjaan waktu itu aku pun berencana mengajak Alex untuk menemani diriku menuju ke arah dapur.


Tapi pertama-tama aku harus mencari pencahayaan guna menerangi jalan menuju ke arah dapur di tempat ini. Seperti sebuah senter, karena aku tidak berani menggunakan cahaya dari flash ponsel saat petir di luar menyambar dalam beberapa detik sekali.


Masalah penerangan sudah diatasi kini aku maupun Alex menuju ke arah dapur menurut prediksi darinya saat aku bertanya apa pendapatnya mengenai tempat dapur di mall ini.


Tetesan air hujan sangat dingin saat terkena punggungku sementara lantai yang dipenuhi air membuatku harus berputar balik mencari jalan lain.


Apalagi ada beberapa halangan lain selain lantai yang basah.


Akhirnya dapur telah ditemukan langsung saja Alex mengecek kondisi kompor apakah masih berfungsi atau tidak, dan Alex sangat cekatan menurutku.


Untungnya kompor masih berfungsi dengan baik sehingga aku masih sempat memasak setelah aku persiapan semuanya.


"Apa aku harus memegang senter sampai dirimu selesai memasak?" tanya Alex saat aku sedang sibuk memanaskan air dan meracik bumbu untuk mie dan pasta.


"Tentu saja, kalau nggak aku jadi kesulitan memasak," jawabku singkat.


Sempat diriku dibuat terkejut mendengar suara petir, namun aku tetap menjaga diriku pada tampilan luar agar tidak terlihat aksi seseorang saat terkejut seperti apa. Mungkin saja akan memalukan jika aku melepaskannya.


Untuk Alex dia aku lirik tidak bergeming saat kilat terdengar dengan kerasnya. Benar-benar pria yang masuk dalam kategori pilihanku.


Beberapa saat berlalu, aku selesai memasak dan menghidangkan mie maupun pasta berserta makanan kaleng pada piring baru pertama kali dipakai.


Kedua senter berukuran sedang di taruh pada tempat yang pas sehingga diriku maupun Alex dapat makan dengan tenang tanpa ada salah satu dari kami yang memegangi santer.


Rasanya sangat nikmat sekali merasakan mie instan setelah beberapa hari aku tidak menyajikannya.


Pasta dengan bumbu khusus pun terasa begitu meleleh saat aku gigit dan membuatku hanyut dalam menikmati setiap suap pasta maupun mie.


"Kamu sangat menghayati sekali saat makan," ucap Alex.


"Itu karena aku sudah lama tidak makan makanan instan. Oh ya, bagaimana pendapatmu tentang masakan buatan ku?"

__ADS_1


"Ya... aku beri nilai 95 Jujur saja aku sangat ketagihan saat memakannya. Kamu memang pintar memasak."


__ADS_2