Last Life

Last Life
Pengalaman Adalah Guru Terbaik


__ADS_3

"Gyaa haa... haa... Aku barusan, bermimpi buruk!"


Tersadar di malam hari disebuah kamar yang cukup besar dan sunyi dari mimpi buruk adalah perasaan yang tidak menenangkan di dunia.


Aku bersyukur sebelumnya hanyalah mimpi karena ku pikir mimpi pun bisa menjadi kenyataan karena nampak nyata.


Saat aku mengedarkan pandangan jam dinding menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Mengartikan jika beberapa jam sebelumnya aku tidaklah terjaga pasca dibawa pergi oleh Leonin pada saat itu.


"Tunggu, itu berarti mereka... antara gagal dan berhasil mengalahkan Yui. Argh... kepala sedikit migran. Aku lapar, aku harus makan segera!" gumam ku sembari berjalan menuju pintu keluar untuk mencari makanan dan kabar dari mereka. Apakah berhasil menyelesaikan misi.


Sebenarnya ruangan dan aula di tempat ini lumayan rumit dan panjang bagi orang awam, bahkan diriku yang sebelumnya mengingat rute tempat ini pun hingga hapal di luar kepala masih saja ragu untuk melangkah menuju tempat tujuan.


Di saat berjalan aku merasa haus sangatlah haus setelah bermimpi buruk. Itu aneh, karena memang setiap aku bermimpi buruk dan terbangun karenanya aku pasti akan merasakan sensasi kehausan bak melakukan senam aerobik.


Mungkin ada kaitannya ion dalam tubuh saat manusia berada dalam fase tak sadarkan diri yang menyebabkan efek kehausan itu.


"Huh... aku tak kuat lagi. Tidak memiliki kemampuan di waktu ini memang kerugian buatku..."


"Eh?"


Saat aku berinisiatif untuk menjatuhkan diri lantaran begitu lelah berjalan menuju tempat tujuan yang seakan tak berujung, aku terkejut saat seseorang menangkapku di momen yang tepat.


Ya. Dia adalah Sekai, kehadirannya sebelumnya tidak ketahui.


"Terimakasih.."


"Sama-sama, mari aku bantu kamu..."


"Hmm."


Entah apa yang terjadi padaku dalam posisi tadi aku langsung saja menerima Sekai menggendongku pada kedua tangannya.


Seperti adegan pasangan kekasih di film yang pernah aku tonton, jujur saja.


"Sampai!! Kamu bisa makan sepuasnya, karena diriku sudah memasakkan hidangan yang enak dan lezat!" ucap Sekai dengan wajah berseri dan antuasias mengatakannya padaku.


Ada kemungkinan dia menyiapkan ini semua hanya untukku seorang.

__ADS_1


Aku langsung saja berhamburan menuju meja makan panjang yang kini berisi makanan serba enak, ku nilai dari tampilannya seperti menu di restoran bintang lima.


Duduk dengan cepat pada kursi yang tersedia lalu aku memperhatikan sekitar yang ternyata hanya ada aku dan Sekai di ruangan ini.


Namun melihat bekas pada kursi aku asumsikan jika beberapa jam sebelumnya makan malam berlangsung di ruangan ini.


"Bolehkah aku memakannya langsung?" tanyaku pada Sekai saat dia mulai berjalan kemari. Aku menunjuk ayam dengan bumbu dan hiasan cantik.


"Silahkan, makan sepuasnya. Kamu berhak mendapatkannya."


"Baiklah, aku tidak akan sungkan lagi..."


Langsung saja aku ambil ayam yang ku tunjuk tadi dengan garpu lalu memakannya dengan lahapnya.


Kini aku tidak tahu beberapa lama aku menghabiskan sebagian makanan lezat di atas meja ini.


Sepertinya aku sudah makan terlalu banyak hingga mengabaikan Sekai.


"Perutku sudah buncit, seperti..."


"Pfff... bagaimana, apa masakan buatan ku enak, Anita?"


"...ya aku senang kamu menyukainya."


Sekilas aku melihat ekspresi tersipu malu Sekai barusan dan wajahnya tadi sedikit memerah saat aku menatapnya dengan senyuman terbaikku.


•••


"Jadi begitu, misinya berhasil lantaran Reina telah menyegel sifat buruk Yui dengan suatu cara, hmm aku penasaran?"


"Cara itu sebenarnya terbilang sulit, karena butuh kerjasama dengan diri Yui sendiri, lebih ke arah dirinya yang asli. Dan sejatinya manusia memiliki sifat tergelap, jadi untuk menangkal dan menyegel sifat yang terbentuk sejak lahir atau karena didikan, yaitu dengan cara... kemauan keras tiada batas. Dan berteman baik dengan dirinya sendiri. Sadar dan jujur akan diri sendiri, itulah yang dilakukan oleh Yui disaat waktu yang sama kamu tengah terlelap pasca operasi!"


Selain menjelaskan perihal tentang kejadian sebelumnya yaitu cara misi kali ini diselesaikan, Sekai juga mengatakan kejadian di kedua sisi saat aku tak sadarkan diri.


"Hmm, aku baru sadar jika bahuku terasa agak berbeda dari sebelumnya. Sepertinya efek operasi masih terasa sedikit, terus pakaianku... sudah di ganti dengan memakai dress tidur. Cocok sih, tapi siapa yang mengenakannya padaku!?"


Sekai melihatku seperti halnya dia lupa memberitahukan sesuatu.

__ADS_1


"Kamu pasti mempertanyakan pakaianmu bukan, tenang saja, bukan aku maupun orang-orang yang ada disini. Pakaian mu berganti menjadi dress murni dengan cara semacam sihir, begitulah!"


Tidak ada raut kebohongan dari wajah Sekai sekarang ini jadi aku memilih untuk mempercayai saja.


Usai makan Sekai mengatakan bahwa diriku tidak boleh bertemu dengan yang lain dulu, dikarenakan mereka sedang beristirahat.


Dan hampir saja aku berniat untuk mencari Yui maupun yang lainnya.


"Tunggu, Yanwu, humph. Aku harus memberinya pelajaran agar dia kapok bagaimana rasanya dipermainkan dalam keadaan hidup dan mati!"


Pada akhirnya aku tidak tidur dan terjaga sampai fajar.


Berada di balkon sebuah gedung kini diriku merasakan hal yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.


Kesejukan dan rasa segar dari keistimewaan di pagi hari serta merasakan aroma embun yang menenangkan.


Apalagi aku merasa seperti dihujani embun saat ini. Dan rasanya sangat luar biasa.


"Kamu nampaknya gembira dan ceria sekali pagi ini!"


"Suara ini..."


"Apa kabar?"


"Hmph, aku tidak mau menjawab. Jujur saja aku mau marahan sama kamu, ku mohon pergi dari hadapanku!" ucapku saat sudah berbalik dan melihat siapa yang berbicara barusan, ternyata adalah Yanwu.


Hingga aku memasang wajah kesal dan tangan yang ku taruh didepan dada lalu berbalik kembali mengabaikannya.


"Kalau begitu aku minta maaf, sebenarnya aku melakukan hal itu agar dirimu bisa beradaptasi dan belajar saat dalam keadaan sulit, aku hanya ingin kamu menjadi kuat. Bukannya mengandalkan diri sendiri adalah pilihan yang terbaik dalam menghadapi kondisi dan situasi apapun!?" ucap Yanwu saat aku enggan untuk berbicara dengannya lagi, siapa sangka di meminta maaf kepadaku.


Lalu menjelaskan maksud dirinya melakukan hal nekat saat itu padaku dengan detail di tambah ucapannya di akhir yang sangat sesuai dengan kepribadian diriku.


Aku termenung dalam lamunan memikirkan banyak spekulasi misalnya saja Yanwu tidak membantuku saat itu, aku pasti akan mati. Dan banyak lainnya hingga aku merasa bersalah jika kesal dan sangat marah kepada Yanwu.


Paling tidak dia sudah membantuku sekaligus memberikan kepadaku sebuah pengajaran.


Tap.. tap..

__ADS_1


"Aku minta maaf, terus aku mau ucapin terimakasih karena kamu mau membantuku sebelumnya..." ucapku sembari berhamburan memeluk Yanwu.


Dan disaat bersamaan aku melihat Sekai yang memang ingin menemui ku, mungkin saja. Tapi wajahnya ku lihat dia nampak kesal.


__ADS_2