
Usai mengenakan dress selutut bermotif bunga yang aku temukan di lemari dan merias diri sedikit aku pun pergi meninggalkan kamar menuju meja makan.
Sekai terlihat sedang menata masakannya yang sudah masak dengan baik pada meja terkesan futuristik itu.
Dia sepertinya sibuk sampai tidak mengetahui keberadaan diriku yang sekarang sedang mengamatinya.
Hingga aku memerhatikan dirinya selesai menata masakan yang dihidangkannya terlihat begitu rapi dan sangat ahli menurutku.
"Terus apa dia tidak apa-apa jika berada di darat begitu lama, dia kan putri duyung?"
Puk.
"Um. Ah.. maaf aku terkejut, kamu selalu menepuk pundakku saat aku melamun," ucapku spontan sembari memainkan jari menatap wajahnya.
"Kamu mengakuinya akhirnya, ya sudah kita makan dulu. Aku sudah memasak banyak jenis masakan, jika kamu penasaran kenapa aku pandai memasak karena aku membaca buku tentang resep masakan dan cara buatnya, begitulah!"
"Mm aku cicipi dulu, btw makasih udah buatin aku masakan. Cuma... kebanyakan, aku rasa aku tidak bisa menghabiskan semuanya."
"Sama-sama, untuk masakan ini aku memang sengaja membuatnya banyak agar aku menikmati semuanya. Dan tenang saja, aku bisa menghabiskannya. Aku ini tukang makan!" ungkap Sekai dengan percaya dirinya membuatku tersenyum tipis melihat kekonyolannya.
Yah. Dia sama sepertiku, suka makan. Tapi yang membuatku bingung kenapa tubuhnya tetap terjaga dengan baik?
Jujur aku masih penasaran bagaimana Sekai membuat banyak masakan ini sendirian di waktu terbatas, jika aku kalkulasikan dia membuatnya dalam waktu setengah jam lebih.
Tapi membayangkannya tidak mungkin menyelesaikannya di waktu seperti itu, dia bahkan bisa mengalahkan koki maupun chef dan masuk rekor dunia jika diketahui publik di dunia asalku.
Meoww..
Kucing milik Sekai terdengar di bawah kakiku dia sedang memutari satu kakiku pertanda ingin meminta makan atau mungkin dielus, setahuku begitu.
Aku memberinya sedikit masakan yang sekiranya bisa dinikmati oleh kucing, aku memberikannya ayam goreng.
Berjongkok untuk menaruh apa yang aku berikan pada kucing itu lalu aku melanjutkan makan siangku.
"Terimakasih telah memberi Mochi masakan lezatku, kamu memang orang yang baik," ucap Sekai melihatku sembari tersenyum yang ku balas juga dengan senyum terbaikku.
"Iya sama-sama. Aku kebetulan suka hewan bola bulu ini. Dulu aku pernah memiliki kucing imut."
"Begitu ya, kita berdua sepertinya memiliki kesamaan!"
Aku akui masakan yang dibuat Sekai rasanya tidak ada duanya sekelas koki Restauran bintang lima, dan kalau ada level sepuluh mungkin dia berada di peringkat itu dan menjadi koki terkenal.
__ADS_1
"Aku udah kenyang banget... hah... perutku bahkan sampai buncit. Harusnya aku jaga berat badan, tapi kelezatan masakan Sekai membuatku candu."
Dia saat ini Sekai tetap melanjutkan makan siangnya disaat aku sudah tak sanggup lagi menelan sepotong makan penutup berupa bolu.
Menghabiskan semuannya tanpa sisa aku merasa seperti sedang menonton konten mukbang saja, tapi serius dia memang menghabiskan semuanya.
Beberapa saat kemudian, Sekai mengatakan padaku tentang pencarian para ras dewa yang besok akan segera dilakukan.
Memang terlalu terburu-buru tapi itu adalah keputusan yang tepat, aku menyetujuinya.
Mengobrol dengan Sekai aku mendapati informasi mengenai tempat ini yang diciptakan oleh dirinya dibantu oleh salah satu ras dewa.
Hal itu membuatku penasaran dan ingin tahu identitas ras dewa yang membantunya seperti apa, dan aku tidak perlu susah-susah karena dia menjelaskannya sendiri.
"Sebenarnya... dia itu sangat mirip denganmu!"
Perkataan Sekai membuat terkejut sampai diriku terdiam sesaat, karena mengingatkan diriku tentang wanita yang dicari oleh Yanwu.
Yang katanya wanita itu mirip denganku.
"Apa jangan-jangan aku...? argh, tidak mungkin. Itu cuma bayanganku saja, tapi... ada kemungkinan jika diriku mempunyai kembaran di dunia ini."
"Jujur dia begitu mirip denganmu hanya yang membedakan terakhir kali aku melihatnya dari gaya rambutnya yang pendek, sedangkan rambutmu panjang. Tipeku..."
"Itu bukan apa-apa, tidak usah di pikirkan."
Usai mengobrol aku diijinkan untuk berkeliling di tempat ini yang sebenarnya adalah sebuah kastil jika aku melihat bangunan besar ini dari samping.
Kata Sekai aku akan melihat gedung-gedung lain dan bangunan lainnya.
Untuk memastikan diriku tidak tersesat dan tidak mengalami hal buruk yang tidak di inginkan sebelum aku melihat-lihat Sekai memberiku sebuah denah tempat ini yang nyatanya tempat ini sangat luas dan saling berhubungan.
Yang membuatku tersenyum simpul denah ini dibuat langsung oleh Sekai menggunakan tulisan tangan.
Serta aku ditemani oleh kucing milik Sekai bernama Mochi dia memiliki kemampuan katanya.
Meow...
"Kita jalan-jalan ya Mochi, kamu yang jadi pemandu hihi.."
Meow....
__ADS_1
"Mengetahui Mochi memiliki kemampuan aku jadi insecure sebenarnya!"
Ada ruangan kaca dipenuhi oleh tumbuhan di dalamnya mungkin hal ini terlihat biasa saja karena aku sering melihat tumbuhan hijau di wilayah kota A rasanya tidak terlalu mengejutkan.
Namun aku dibuat terkejut mengetahui banyak pohon buah beraneka macam di dalam.
Membuatku ingin memasukinya karena tertarik layaknya kutub Utara dan Selatan pada magnet.
Aku menemukan pohon apel, lemon, jeruk, dan lainnya. Serta ada buah lain seperti anggur, strawbery, semangka, dan masih banyak lagi.
Sebelum masuk ke ruangan kaca ini aku membaca terlebih dahulu informasi berkaitan dengan tempat ini.
Salah satunya mengatakan jika buah yang ada disini boleh untuk di makan. Maka aku mencicipi dua buah untuk aku makan.
Diriku sekarang ini duduk di bawah pohon apel ditemani oleh Mochi yang tenang-tenang saja sedang menyisir bulunya, aku menyebutnya begitu.
Duk.
Sebuah apel dalam kondisi yang cukup baik jatuh tak jauh di depanku mengingatkan diriku pada sebuah kisah.
Pada akhirnya aku memungut apel itu dan memakannya.
Hal luar biasa lainnya yang aku rasakan di tempat ini adalah angin yang berhembus sampai-sampai membuatku mengantuk.
Melihat Mochi sudah tertidur pulas aku pun memutuskan untuk tidur di tempat ini sebentar.
"Mmm aku tadi tidur di tempat itu ya, kok aku ada disini? Tunggu, berarti ada yang membawaku kesini? Pasti... Sekai, ya tidak salah lagi."
Di saat diriku bergumam dan sibuk pada pikiranku Sekai datang ke kamar ini.
"Sebelumnya... kamu yang bawa aku kesini?" tanyaku memastikan.
"Iya, aku yang membawamu kesini karena kamu ketiduran disana. Tenang saja, aku tidak berbuat nakal padamu diwaktu kamu terlelap. Aku bisa bersumpah akan perkataanku!"
"...aku percaya sama kamu."
"Terimakasih."
Malamnya sebelum makan malam aku membaca sebuah buku di perpustakaan yang begitu luas didalamnya. Sepertinya berisi ribuan buku.
"Aku bertanya-tanya, apakan buku-buku ini dikumpulkan sedikit-demi oleh Sekai, jika 'iya' dia ini berarti orang yang gemar membaca buku!"
__ADS_1
Merasa ada yang mendekat aku pun menengoknya dan alangkah terkejutnya diriku saat melihat sebuah buku dengan sinar bintang-bintang melayang di udara seperti kupu-kupu.