Last Life

Last Life
Yang Janggal


__ADS_3

"Kemungkinan dia sedang mendengarkan percakapan kita sekarang ini, jika saja dia menyuruh rekan pilihannya itu untuk menargetkan seseorang!" tandas Brain.


Seingat ku kemampuan rekan pilihan Ryu memang pengguna ilusi namun aku tidak mengetahui pasti ilusi yang dimilikinya. Setelah mendengar perkataan Brain barusan aku jadi memikirkan tentang Gerry, yang kemungkinan diketahui pula oleh Ryu.


Hingga pintu kamar ini terbuka tapi tidak terlihat siapa yang membukanya, Aku dan Brain pun kaget karena mendengar suara pintu yang tergeser dan langsung saja menatap ke arah pintu.


Sesaat setelah itu Ryu hendak berbalik Gerry muncul secara tiba-tiba bersamaan dengan gerakan menghunuskan pedangnya pada leher Brain.


"Apa maksudnya ini, dia siapa Anita?" ucap Brain bingung, aku melihat jelas dari raut wajah dan ekspresinya.


Aku sendiri tak habis pikir dengan kelakuan Gerry sekarang ini, bukannya aku pernah menceritakan rekanku kepadanya. Dia sekarang malah curiga kepada Brain.


"Tenang Gerry, dia rekanku. Tarik kembali pedangmu, kasian dia terlihat ketakutan!" titah ku kepadanya sambil menjelaskan bahwa Brain bukan musuh.


Dan aku baru ingat jika saat menjelaskan rekanku kepada Gerry aku tidak menjelaskan secara spesifik, pantas saja dia mengira Brain adalah musuh.


Gerry menarik kembali pedangnya namun dia tidak memasukkan pedang tersebut kedalam sarung, melihatnya dari samping Gerry terlihat menatap Brain dengan sorot mata tajam.


"Meskipun begitu aku akan tetap waspada, jika saja dia adalah musuh yang menyamar menjadi rekanmu, sayang," ucap Gerry sembari melirikku, dan aku mengetahuinya.


Dan karena ucapannya barusan aku jadi mengetahui sifat lain diri Gerry, dia terlalu mengkhawatirkan kemungkinan yang belum tentu terjadi.


"Dia memanggilmu sayang, apa dia pacarmu Anita? Setahuku dirimu sedang dekat dengan... ah maaf, aku lupa jika dia sudah tiada."


Brain bahkan tidak merasakan hal yang tidak logis atas meninggalnya Yanwu, apa dia tidak terlalu mengenal dan mencari tahu kemampuan Yanwu apa saja sebelumnya, atau mungkin dia memang sengaja berpura-pura menyimpan deduksi dan spekulasinya.


"Yah. Aku pacarnya, memangnya kenapa kalau dia sedang dekat dengan pria lain?!" ucap Gerry menjawab perkataan Brain barusan.

__ADS_1


"Aku hanya merasa kasian dengan dia, harusnya dirimu ingat dengan kejadian tragis itu Anita. Meskipun kamu belum tentu memiliki hubungan sangat dekat dengan dia, kamu harusnya menghormatinya. Misalnya saja kamu ini benar adalah kekasihnya, pasti dia sangat sedih sekarang."


Brain mengatakan hal tersebut seolah-olah diriku telah mengkhianati Yanwu, yang notabenenya adalah kekasihku menurut perspektif dirinya.


Serta ada artian yang bisa menjadi kesimpulan melalui perkataannya barusan yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam diriku sebelumnya. Bahwa Brain percaya Yanwu sudah benar-benar tiada.


Bertolak belakang sekali dengan kepercayaan diriku yang seratus persen nyakin jika Yanwu masih hidup, dan bukan tanpa sebab aku memiliki keyakinan tinggi tersebut, ada banyak logika yang hanya bisa diketahui oleh orang yang sebelumnya memperhatikan Yanwu.


"Kau minta dihajar ya, wajah datar!" umpat Gerry karena emosinya kepada Brain dengan satu tangan hendak melayangkan pukulan.


"Aku luruskan. Sebenarnya aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Yanwu. Dia hanya aku anggap sebagai teman, bahkan rasa sukaku saat berada didekatnya aku artikan sebagai kakak yang aku kasihi," ucapku spontan memberi penjelasan demi mencegah aksi Gerry yang sudah memasuki emosinya secara *******.


"Begitu ya, jadi aku salah mengartikan kebersamaan kalian berdua waktu itu. Maaf, aku hanya terbawa suasana saja."


"Terbawa suasana kau bilang, lihat dengan jelas pakai mata kepalamu sendiri. Tubuh Anita jadi gemetaran gara-gara kamu!" ucap Gerry dengan nada tinggi mengartikan kondisi diriku yang dilihatnya.


Untungnya kamar ini sudah kedap suara, karena fungsi alat ciptaan Brain menyala. Kalau tidak mungkin semua orang yang ada di rumah ini jadi terganggu. Dan pada akhirnya akan kemari untuk melihat apa yang terjadi.


Yang akhirnya aku pun menyetujui hal itu, namun Brain meminta diriku dan Gerry untuk bertemu dengannya besok pagi.


Sembari membersihkan jari dari bekas snack yang sebelumnya telah aku habiskan, kini hal yang selanjutnya aku lakukan adalah tidur.


Sementara Gerry entah mengapa memilih untuk tidur di sofa dibandingkan tidur bersama denganku yang sebelumnya aku memancing dirinya.


Tapi nyatanya dia menolak halus dengan alasan yang masuk akal, membuat siapa saja yang mengalami akan setuju. Sepertinya dia mengerti pada keadaanku sekarang ini, yang sebelumnya telah Brain jabarkan.


Aku pun memejamkan mata sembari menarik selimutku agar lebih menutupi badan.

__ADS_1


Deg..


Pukul 01.00 aku terbangun dari tidurku yang berisi mimpi-mimpi di banyak tempat kejadian. Masih pukul satu saat aku melihat jam pada ponsel di atas nakas.


Entah mengapa aku terbangun sebegitu mendadak dan itu bukan karena aku bermimpi buruk atau gangguan saat tidur.


Aku pun beranjak untuk bangun lalu keluar dari kamar menuju ke kamar Yin. Kemudian membuka pintu kamarnya lalu memasukinya.


"Heh? Kenapa aku ada disini. Apa karena dorongan dari dalam diriku, padahal aku tidak ada kemauan datang kesini dari awal. Tapi rasanya seperti memaksa agar diriku kesini!"


Sadar dari dorongan aneh yang aku rasakan, aku pun berusaha untuk melawan. Sampai akhirnya aku berhasil mengalahkan dorongan tersebut dalam diriku.


Hanya saja misalnya aku kalah pastinya akan membawa diriku memasuki ruangan bawah tanah ini, jadi siapa yang memaksaku untuk kesana. Apa ada seseorang yang menungguku.


Demi menjawab rasa penasaran itu akhirnya aku memutuskan turun kebawah setelah membuka penutup ruangan rahasia yang ada di rumah ini, lebih tepatnya berada di kamar yang di tempati oleh Yin sekarang.


"Kalau aku tidak memiliki kemampuan berlian aku pasti tidak akan seberani ini demi menghilangkan rasa penasaran dalam diriku," gumam ku sembari berjalan menuju arah dorongan itu.


Ternyata dorongan itu mengarahkan diriku pada ruangan lain berisi patung-patung tempat Gerry sebelumnya terkurung, aku menyebutnya begitu karena spekulasi ku menyimpulkan jika semua patung ini sengaja di taruh pada ruang bawah tanah.


Mengingat kembali cerita Gerry saat dirinya terakhir hampir menjadi patung sepenuhnya. Dia mengaku bukan di tempat ini.


Sebelumnya aku membawa senter karena kurang terang jika aku hanya mengandalkan lampu flash pada ponsel.


Hawa didalam sini lumayan dingin dan aku yakin dapat membuat bulu kuduk seseorang merinding. Hanya saja aku tipe orang yang tidak takut pada kegelapan dan menyukai ketenangan seperti ini.


"Satu.. dua.. tiga.. empat.."

__ADS_1


Aku mulai menghitung jumlah patung sembari menyorotinya dengan senter, sayangnya senter yang aku bawa berukuran kecil.


Ada yang janggal saat aku berhenti pada patung yang ke sembilan, karena seingat ku tangannya sebelumnya tidak patah.


__ADS_2