
Keesokan harinya di sebuah Gedung tempat Ayumi bekerja.
Beberapa orang tampak berhamburan, saat jam makan siang sudah tiba. Begitu pun dengan Ayumi, gadis itu berjalan santai saat dia
tiba di lantai dasar dimana sebuah kantin berada.
“Hey?” Teriakan Una terdengar begitu jelas, sampai membuat Ayumi menghentikan
langkahnya lalu menoleh.
“Kamu juga baru keluar? Aku kira kamu udah ada di kantin, makanya nggak samperin ke loker
kamu dulu.” Katanya sambil tersenyum.
“Iya ih, … aku nungguin kamu padahal!” Ujar Una dengan senyum khasnya.
“Ya sudah ayok kita makan siang bareng.” Ucap Ayumi.
Una menganggukan kepala, lalu memeluk lengan Ayumi seperti biasa, memeluk dengan sangat erat lalu berjalan bersamaan.
Suasana kantin itu terlihat tidak seramai biasanya, sampai membuat Ayumi juga Una lebih leluasa memilah tempat duduk yang di rasa nyaman untuk keduanya.
Setelah selesai memesan, kedua gadis itu duduk di bangku paling sudut. Bangku yang menjadi salah satu favorit hampir semua orang, karena bersisian dengan sebuah taman indah yang memiliki beberapa bunga cantik di dalamnya.
“Semalem maaf ya aku nggak balik lagi. Aku sakit perut, … jadi minta Pak Randy buat datang.” Dia beralasan.
Ayumi menghembuskan nafasnya cukup kencang.
“Kamu ngaco!” Tukas Ayumi. “Masa kamu bilang kalau aku mau bunuh diri.” Ayumi menatap Ayumi yang duduk di hadapannya tajam.
Una tersenyum lebar, hingga memperlihatkan deretan gigi bersih dan rapih miliknya.
“Kalau nggak gitu, Pak Randy mana mau datang.”
“Tapi kamu ngaco! Mana ada aku mau bunuh diri.” Cicit Ayumi dengan raut wajah yang terlihat sedikit kesal.
Sementara Una terlihat tak peduli. Dia hanya terus tersenyum, meski raut wajah Ayumi terlihat kesal.
“Jadi, … gimana?” Una penasaran.
“Apanya yang gimana?” Ayumi menjengit, dia pura-pura bingung.
Namun di detik berikutnya dia menundukan kepala, berusaha menyembunyikan wajah yang memerah
juga senyum bahagianya.
Bagaimana tidak bahagia, sikap inisiatif Una membuat hubungan dia dengan pria tampan pujaannya membaik. Bahkan lebih baik lagi karena diantara Randy dan Ayumi sudah memiliki status hubungan yang jelas.
“Cye yang hatinya berbunga-bunga. Ayok cerita, semalem hal manis apa yang Pak Randy lakukan untuk kamu!” Una bertanya saat dia menyadari sikap Ayumi yang berbeda.
Ayumi tidak menjawab, tapi gadis itu justru menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan.
“Ish aku malu kalau inget-inget itu!” Ucapnya saat sebuah ingatan melintas dengan sangat jelas, dimana dia mencium Randy tanpa merasa malu.
Bahkan Ayumi bingung sendiri, entah dari mana dia memiliki keberanian untuk mencium Randy.
“Malu?” Aira tiba-tiba datang. “Malu apa? Jarang nimbrung jadi banyak ketinggalan hot news ya besti.” Sambung Aira kembali, seraya mendudukan diri tepat di samping Una.
“Masih inget kita Ra? Tumben biasanya makan siang sama Ayank, pulang kerja juga sama ayank, … enak banget yah yang punya ayank satu kerjaan.” Sindir Una, yang langsung di jawab angukan oleh Ayumi.
Aira hanya tersenyum, dengan pipi yang juga terlihat bersemu merah.
“Ingetlah. Mas Hendi lagi di suruh bikin laporan sama Pak Nior, jadi nggak bisa makan siang bareng kita.” Jawab Aira.
__ADS_1
“Oh ya? Mulai sibuk lagi berarti!” Ayumi menatap Aira.
Gadis yang dia maksud menganggukan kepala.
“Perusahaan kan baru dapet tender besar lagi. Lihat aja, … biasanya Bara di bawa ke kantor, sekarang nggak, kayanya Bu Balqis bakalan sibuk banget! Begitu juga pegawai
yang lain termasuk Mas Hendi juga kita.” Jelas Aira.
“Alamat lembur.” Tukas Ayumi.
“Pasti.” Aira mengangguk.
“Nggak manggil Bapak lagi?” Kata Una.
Aira tersenyum malu-malu, kemudian menggelengkan kepala.
Tidak lama setelah itu seseorang datang menghempiri, membawa nampan berisikan pesanan Ayumi juga Una.
“Ayam penyet sambel hijaunya, dua yah!” Katanya seraya meletakan masing-masing piring di hadapan Ayumi juga Una.
“Makasih, Mbak.” Ucap kedua gadis itu bersamaan.
“Mbak saya juga mau dong, di samain aja.”
“Satu ayam penyet sambal ijo sama teh botol?”
“Iya.” Aira menganggukan kepala.
***
“Kamu sudah pulang?”
Balqis menatap layar ponselnya, saat panggilan video terhubung.
“Ganteng nya Mami, … Mami kangen sayang.”
“Sama aku tidak?” Raga langsung mengarahkan kamera kearahnya.
“Yaampun kamu ini!” Balqis memutar bola matanya.
Raga tersenyum.
“Jam berapa kamu pulang? Aku pulang Bara sedang menangis, dan baru berhenti setelah aku gendong … sepertinya dia mengingikan kamu, sayang.”
Balqis menghela nafasnya kencang, kemudian memijat pelipisnya sembari memejamkan mata.
“Sepertinya beberapa minggu kedepan aku akan sangat sibuk. Kamu tahu? Perusahaan Papa baru saja memenangkan tender besar.”
“Itu bagus bukan?” Raga mengulum senyum.
“Ya, … tapi waktu ku akan sedikit berkurang untuk kalian.” Jelas Balqis.
Wanita itu terlihat tidak bersemangat.
“Tunjuklah satu orang yang kamu bisa percaya, sama halnya seperti aku yang bisa mengandalkan Randy. Sekarang pun begitu, aku bisa cepat pulang karena sisanya aku serahkan kepada dia!”
“Bisa saja aku menyerahkan ini kepada Junior. Hanya saja Bianca sedang hamil muda, … bahkan anak itu sering merengek agar suaminya cepat pulang hanya karena ingin sesuatu yang sengaja Junior belikan.”
Raga diam. Dia tahu jika istrinyalah yang menjadi andalan keluarganya, mengingat perempuan itu sudah tidak mungkin memberikan kembali tanggung jawabnya kepada David sang ayah. Mengingat umur pria itu yang sudah tidak muda lagi, juga stamina yang sudah berkurang.
“Kamu lelah?”Raga menatap wajah cantik dan sendu itu dengan seksama.
Lagi-lagi Balqis hanya menghela nafasnya.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu nanti kami kesana. Biar Mami tidak lelah lagi!” Raga mengulas
senyum.
“Sungguh?”
Raga menjawab dengan anggukan pelan.
“Tidak merepotkan kamu?”
“Tidak, … aku juga rindu kamu! Jadi sebaiknya kesana saja, siapa tahu aku bisa membantu agar pekerjaan kamu cepat selesai.”
“Baik, aku tunggu.”
Dan setelah sambungan video itu kembali terputus. Balqis meletakan ponsel tepat di
sampingnya, lalu melanjutkan satu gambar di atas kertas karton besar berwarna putih.
Memperlihatkan sebuah sketsa sebuah bangunan tinggi, yang akan Balqis jadikan sebuah desain sebuah apartemen dan mall di dalamnya.
***
“Baiklah, ayok kita temui Mami. Dia pasti sudah sangat merindukan kita!” Ucap Raga kepada putra yang ada di dalam pangkuannya.
Setelah itu dia melangkahkan kaki, masuk kedalam lift sana bersama Santi, sosok gadis yang saat ini menjadi pengasuh Bara.
Beberapa detik ada di dalam kota besi yang bergerak menuju lantai paling atas. Akhirnya Raga juga Bara sampai di depan pintu ruangan milik Balqis, dengan Santi yang terus berjalan di belakangnya.
“Dia benar-benar sudah pulang!” Gumam Raga saat melihat meja kerja Junior yang sudah kosong, juga barang-barang yang sudah tertata rapih.
Raga meraih gagang pintu ruangan yang di tempati istrinya perlahan, lalu menoleh kearah Santi berada.
“Kamu tunggu
di sofa depan saja, tidak usah masuk, jika Bara butuh sesuatu nanti saya panggil.”
“Baik, Pak.” Santi menganggukan kepala.
Pandangan Balqis beralih kepada pintu ruangannya yang mulai terbuka. Seketika senyuman di bibir Balqis terbit, saat Raga masuk, dengan Bara yang berada di dalam
gendongannya.
“Anak Mami, … oh sayang!” Dia bangkit, lalu berlari dan memeluk dua pria berbeda usia itu dekali gus.
Cup!
Raga mencium kening Balqis. Yang langsung Balqis balas dengan sebuah ciuman di bibir.
“Masih bekerja?” Tanya Raga kepada istrinya.
“Masih.” Katanya lalu meraih tubuh mungil Bara.
Sampai anak itu berada di dalam pangkuan ibunya.
“Mami kangen sayang!” Cicit Balqis sembari menciumi pipi gembul Bara.
Tawa riangnya terdengar, dan itu membuat perasaan Balqis tak karuan. Antara sedih karena sudah kehilangan banyak waktu bersama Bara. Tapi juga senang saat keceriaan Bara tak berkurang sedikit pun.
“Aku mau bersama Bara dulu, nanti baru lanjut kerja.”
Balqis membawa Bara kearah sofa, dan duduk disana untuk mengajaknya bermain.
Sementara Raga hanya mengangguk, tersenyum tipis dan membiarkan sang istri menumpahkan rasa rindu kepada putra mereka.
__ADS_1
“Lihatlah. Bagaimana bisa jika aku tidak semakin cinta pada sosok perempuan yang sudah memberikan banyak cinta di dalam hidup ku.” Batin Raga berbicara.