
"Baik, terimakasih." Ucap Randy kepada salah seorang resepsionis pria.
"Iya Pak, terimakasih kembali."
Samar suara perbincangan terdengar, membuat Ayumi mulai menarik diri dari alam bawah sadarnya. Dia mulai mengerjapkan mata, menatap ruangan yang sudah terlihat terang saat gorden tebal penutup kaca besar kamarnya sudah terbuka, dan hanya menyisakan tirai tipis yang masih membentang, menghalau cahaya matahari yang mulai terik.
Randy mendorong sebuah troli, berisikan berbagai macam makanan dan minuman, yang sudah di pesannya hampir tiga puluh menit yang lalu. Setelah itu dia meletakkannya di dekat sofa, berjalan ke arah istrinya yang masih berbaring di bawah gulungan selimut.
"Aku kira kamu belum bangun!" Ucap Randy saat dia duduk di tepi ranjang, dan menemukan Ayumi yang sudah membuka matanya, meski terlihat masih mengumpulkan kesadaran yang sempat hilang karena kelelahan.
Kemudian Randy tersenyum, mengusap kepala Ayumi, lalu pipinya dengan bayang-bayang kegiatan panas semalam, yang dia lakukan beberapa kali, membuat Ayumi kewalahan dan mengeluhkan seluruh tubuhnya terasa begitu sakit.
Wajah sembab, bibir merah yang sedikit membengkak, rambut coklat yang terlihat acak-acakan, juga beberapa tanda merah keunguan di leher yang Randy berikan setiap kali mereka melakukannya.
Ayumi menggeliat, merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku dengan suara geraman yang terdengar sedikit pelan.
"Cepat bangun, ini sudah siang. Mandi terus kita sarapan!" Randy mengulum senyum.
Ayumi menurut, dia langsung mengubah posisinya menjadi duduk.
"Aku kesiangan juga gara-gara Abang!" Balas Ayumi dengan suara parau.
"Masa sih!?" Balas pria tersebut yang merasa gemas kepada istrinya.
"Ini tuh udah kelewat batas banget, Abang maruk! Suka boleh tapi jangan …"
Belum selesai Ayumi berbicara, Randy segera memotong ocehan istrinya.
"Berhentilah mengomel, semalam aku sudah kenyang mendengar omelanmu! Sekarang cepat mandi atau, … mau aku mandikan?"
Randy berbisik, lalu memainkan alisnya saat Ayumi menatap dia dengan mata memincing juga ekspresi wajah kesal.
"Jangan menatapku seperti itu hanya untuk menakut-nakuti, … aku tidak takut kepadamu … singa betina." Randy mencubit pipi Ayumi.
Ayumi tidak menjawab, dia segera menyibakan selimutnya, lalu berjalan mendekati pintu kamar mandi dengan tubuh polosnya tanpa merasa malu sedikitpun, membuat Randy mematung dengan mata yang membulat sempurna.
"Hey apa-apaan itu!" Suaranya memekik kencang.
"Apanya yang apa." Sahut Ayumi, lalu dia benar-benar masuk dan menutup pintunya dengan segera.
Trek!
"Hay! Kenapa dia mengunci pintunya!" Gumam Randy saat hendak ikut masuk kedalam sana.
Suara gemercik air mulai terdengar, di selingi dengan suara Ayumi bersenandung pelan di dalam sana, saat perempuan itu terdengar benar-benar sudah melakukan ritual mandinya.
Lima menit.
Lima belas menit.
Dua puluh menit.
Dan setelah memakan waktu cukup lama, akhirnya Ayumi keluar, berbalut bathrobe juga handuk yang melilit, membungkus rambutnya yang basah, dengan aroma perpaduan mint dan lemon tercium begitu segar.
Dia menatap Randy yang tengah sibuk menatap ponselnya duduk di sofa sana. Berjalan mendekat, lalu duduk di atas pangkuan Randy secara tiba-tiba, membuat pria itu segera mengalihkan pandangan kepada Ayumi.
Ayumi hanya tersenyum.
"Kenapa?" Randy meraih pinggangnya, lalu memeluk dengan begitu erat, sedikit mengubah posisi sampai istrinya duduk mengangkang di atas pangkuannya.
"Nggak kenapa-kenapa." Dia menyentuh alis tebal suaminya, lalu turun sampai mengusap wajah dengan tulang rahang yang begitu tegas.
"Bukannya pakai baju, … mau menggoda aku lagi yah!?"
Ayumi menggelengkan kepala.
"Cepat pakai bajumu. Kita sarapan, ini sudah hampir pukul sepuluh siang, sarapan kita sudah sangat kesiangan." Randy menatap wajah perempuan di hadapannya, dengan jarak yang begitu dekat.
Randy memundurkan tubuhnya sampai benar-benar menyentuh sandaran sofa, menengadahkan pandangan, dengan kedua tangan yang mulai mengusap paha, lalu meremat b***g Ayumi dengan gemas.
"Capat pakai bajumu. Aku tidak mau membuat kamu kelelahan atau tidak bisa bangun hari ini!" Suaranya terdengar begitu rendah.
__ADS_1
Sangat jelas sekali jika dia sedang menahan hasrat yang sudah mulai menanjak.
"Baiklah." Ayumi turun dari atas pangkuan suaminya.
"Harus pakai baju apa aku hari ini?" Tanya Ayumi seraya berjongkok di dekat koper besar berisikan pakaian miliknya juga Randy yang tersimpan di dalam sana.
"Ya pakai baju biasa, mana mungkin kamu pakai lingerie siang bolong begini. Cukup cuaca yang membuatku gerah, jangan kamu!"
Ayumi menyeringai, entah kenapa dia mulai senang menguji kesabaran suaminya.
"Yang ini bukan yah!?" Ayumi mengangkat satu kain menerawang berwarna hitam, beserta kain segitiga dengan hiasan kupu-kupu di setiap sampingnya.
Randy melirik, dia bungkam. Namun sorot matanya menunjukan jika pria itu sedang berusaha menahan perasaannya yang semakin menyeruak.
"Yang ini kali yah, … cuaca kan sedang panas, jadi kalau pakai ini enak jadi adem."
Ayumi segera berdiri, dia hendak melanjutkan kekonyolannya, sebelum Randy bergerak dan mengangkat tubuhnya, lalu melemparkan Ayumi ke atas tempat tidur.
Perempuan itu cukup terkejut, bahkan matanya mengerjap beberapa kali saat debaran di dalam dadanya mulai meningkat.
"Senang sekali kamu mengujiku, … hum!" Randi berbisik.
Dia menarik lepas kaos rumahan yang dikenakannya, membungkuk untuk segera meraup bibir menggoda istrinya.
Tangan Ayumi terus bergerak, mendorong dada berotot itu untuk menjauhkan Randy dari tubuhnya.
"Ummmm!" Ayumi berusaha melepaskan diri.
Namun bukannya terlepas, Randy justru semakin menguatkan tenaganya, meraih kedua tangan Ayumi, menarik dan menguncinya di atas kepada perempuan itu, sampai Ayumi tak bisa berbuat apapun lagi untuk menyelamatkan diri.
Randy menjeda cumbuannya, lalu menarik tali jubah mandi sampai benar-benar terbuka, dan itu membuat Ayumi benar-benar panik.
"Aku cuma bercanda." Dia merengek penuh permohonan.
"Aku tidak melihatnya sebagai candaan, Ayumi!"
"Iya iya maafkan aku. Lepaskan aku, … aku mau makan!" Ayumi memohon.
"Kita makan setelah yang satu ini." Bisik Randy, tersenyum kemudian melanjutkan cumbuannya.
Randy terus menelusuri wajah Ayumi, menciumnya dengan kecupan basah. Setelah itu dia turun menyusuri leher, dan berakhir di puncak bulatan kembar yang menjadi bagian favorit, selain bibir istrinya.
Suasana semakin memanas, saat Randy tak memberikan celah sedikitpun, dia terus mencumbu sampai Ayumi kembali terbawa suasana. Dia bahkan memeluk pundak suaminya erat setelah Randy melepaskan cengkraman di pergelangan tangannya, membuat ciuman itu terasa semakin dalam, hingga entah bagaimana kini keduanya terlihat polos tanpa sehelai benang pun.
"Pelan, … pelanhh!" Jerit Ayumi saat Randy menerobos masuk tanpa aba-aba.
Randi tersenyum, dia mulai berpacu dengan semangat penuh, membuat wanita di bawah kendalinya kembali menjerit, merintih, dan mendesah di waktu yang bersamaan.
Mata sendu Ayumi terbuka, menatap ekspresi wajah Randy yang terlihat begitu serius, dan itu membuat suaminya terlihat semakin tampan.
"Sayangh …"
Randy mulai tersenyum, lalu kembali membungkuk untuk memberi kecupan di bibir Ayumi.
"Emmm … aku …. Argghhh!!"
Randy semakin mempercepat hentakannya, berusaha mengimbangi Ayumi yang sudah hampir meraih melepaskan, dan kegiatan itu berakhir di sertai leguhan panjang keduanya yang terdengar menggema memenuhi kamar hotel yang disewa Randy untuk beberapa malam.
Nafasnya menderu-deru, keningnya mengucurkan keringat deras, dengan dada yang naik turun begitu cepat.
"Jangan bermain-main denganku, … ingat!" Ujar Randy dengan nafas yang tersengal-sengal.
Pria itu memperingati, dan langsung dijawab anggukan oleh Ayumi.
Randy tersenyum menatap wajah lelah istrinya, lalu bangkit dan melepaskan perpautan tubuh mereka berdua, untuk segera membersihkan kembali dirinya di dalam kamar mandi sana.
***
"Aaa, … buka mulutmu!" Randy menyodorkan satu sendok nasi ayam hainan kepada Ayumi.
Perempuan yang kini berada di atas tempat tidur, menyandarkan diri pada tumpukan bantal di belakang tubuhnya pun menurut, melahap makanannya dengan penuh semangat.
__ADS_1
Setelah itu Randy menyuapi dirinya sendiri, memakan makanan yang sama dengan istrinya.
"Kita di kamar terus? Nggak jalan-jalan?" Ayumi mencondongkan tubuhnya, meraih jus tomat, lalu meminumnya.
"Memangnya mau kemana? Bukannya kamu kelelahan. Jadi sebaiknya kamu banyak istirahat."
Randy kembali menyodorkan sendok makannya, namun kali ini Ayumi menggelengkan kepala.
"Aku kenyang." Katanya, yang membuat Randy mengambil alih memakannya.
Ayumi meletakan kembali gelas berisi jus tomatnya tadi ke atas nakas.
"Jalan-jalan, kemana kek … nonton gitu! Aku nggak yakin kalau di kamar terus bisa istirahat."
Suaminya tidak menjawab, pria itu fokus menghabiskan makanannya, berusaha mengisi daya setelah hampir habis karena ulahnya sendiri.
"Abang? Ayo nonton ke Mall. Atau nggak jalan ke taman kota, jajan seblak sama takoyaki."
Ucapan itu seketika membuat tatapan Randy menyorot ke arahnya.
"Ayo ish!" Pinta Ayumi.
"Apa tadi kamu bilang? Seblak? Takoyaki? Bukannya kamu sudah kenyang?"
"Itu beda sayang, ini nasi. Kalau di luar itu jajanan!"
Randy tertawa.
"Dasar tukang makan."
"Dari pada Abang tukang bikin Dedek!"
Suara tawanya terdengar semakin kencang, sampai matanya tertutup juga kepada yang mendongak ke arah belakang.
"Nggak boleh yah!?"
"Boleh boleh."
"Kok Abang ketawa." Ayumi terlihat sedikit murung. "Malu yah punya istri tukang makan. Ahh … aku nggak bisa kaya Dokter Aleesa yang makannya anggun plus sedikit."
"Eh!" Randy bereaksi.
"Dahlah, aku tidur lagi!"
Ayumi berbatik badan, berbaring, lalu menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya.
"Ay?!"
Ayumi tidak menjawab, sepertinya dia benar-benar kesal.
"Tidak ada hubungannya dengan Aleesa. Kenapa kamu bahas dia, sementara kita sudah sama-sama menjauhinya, aku sampai tidak mau mengundang dia datang ke acara kita semalam lho, karena aku tahu itu tidak baik untuk hubungan kita."
Ayumi masih diam.
"Sayang?"
"Udah ah! Aku capek."
"Tunggu setidaknya sampai sore, siang begini mau nonton apa?"
"Ya bawa kemana gitu istrinya. Aku kan bosan!"
"Baiklah baiklah, jangan merajuk, cepat bersiap-siap kalau mau."
Ayumi menurunkan selimutnya, membuat kepala Ayumi sedikit menyembul, lalu menoleh ke arah suaminya berada.
"Beneran?" Raut wajah Ayumi seketika berubah berseri-seri.
"Iya."
Ayumi bangkit, lalu melompat dari atas tempat tidur dan mulai memilah pakaian di dalam koper sana, untuk mengganti dress tidurnya dengan pakaian yang sedikit lebih pantas untuk pergi keluar.
__ADS_1
Sementara Randy menggeleng-gelengkan kepala, menatap Ayumi tidak percaya.
"Dia ini aneh sekali!" Gumam Randy, dengan seulas senyum yang terlihat terbit. "Dan aku lebih aneh, karena sangat mencintainya."