My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 28 (Distracted mind)


__ADS_3

Setelah menepuh perjalanan yang cukup memakan waktu karena terjebak macet di beberapa titik. Akhirnya Randy memberhentikan mobilnya di garasi rumah yang bisa di bilang cukup luas, berbaris diantara mobil-mobil lain miliknya dengan berbagai macam warna dan tipe.


Anjay orang kaya. Kata para readers.


"Tunggu!" Randy memperingati, lalu dia membuka pintu mobil dan segera keluar.


Namun Ayumi tak mendengarkan, dia juga ikut membuka pintu mobil disampingnya lalu turun.


"Tunggu, Ay!" Randy hampir saja berteriak, tapi Ayumi menghentikannya menggunakan sebuah isyarat, dengan satu telunjuk yang gadis itu angkat dan di letakan depan bibirnya.


"Aku nggak cacat, masih bisa buka sendiri! Abang suka lebay." Cicit Ayumi seraya memutar kedua bola matanya.


"Tidak bolehkah aku ingin menjadikan mu Ratu?" Randy menggenggam tangan Ayumi.


Ayumi mendongak, sembari terus berjalan bersamaan kearah pintu rumah yang tertutup rapat.


"Jangan seperni ini! Ada Ibu yang harus kamu jadikan Ratu terlebih dahulu, sebelum orang lain." Tukas Ayumi.


"Itu jangan di tanya." Jawab Randy tak mau kalah.


Randy menekan beberapa angka, dan pintu itu terbuka. Keduanya masuk, lalu berjalan kearah ruang tengah, dimana sofa besar juga televisi berada.


Ayumi meletakan Tote bag nya disana, hendak berjalan kearah dapur bersih, tapi Randy kembali bersuara sampai gadis itu segera menoleh.


"Mau apa?" Randy berjalan mendekat.


"Masak."


Randy tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya.


"Istirahat saja dulu, kamu masih lelah." Katanya, dan membawa Ayumi kembali kearah sofa.


Pria itu melepaskan pautan tangannya, menekan pundak Ayumi sampai gadis itu benar-benar duduk.


Pandangan Ayumi menengadah, menatap Randy. Begitu pun dengan Randy, yang tak hentinya menatap Ayumi dengan senyum di bibir yang tak pernah pudar.


"Sebenarnya aku tidak lelah, aku bisa langsung masak." Ayumi mulai merasa gugup.


Randy tidak menjawab, dia justru bersimpuh dihadapan Ayumi.


"Kamu lelah, aku tahu." Sergah Randy dengan suara rendah.


"Sebenernya aku mau mandi, ... tapi nggak bawa baju!"


"Mau pinjam punya ku?" Tawar Randy.


Dengan cepat Ayumi menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?"


"Hemm? ng-nggak apa-apa." Jawab Ayumi, dia tampak gugup.


Terlihat dari kedua pipinya yang bersemu merah.


Ya masa aku harus bilang, kan malu. Mandi, ganti baju tapi masa dalemannya nggak.


Batin Ayumi bermonolog.


"Jika mau mandi, kamu boleh memakai kamar mandi di kamar tamu. Bajunya aku pinjamkan kaos dan celana pendek, atau joger juga ada." Randy tersenyum.


"Tidak usah ah, cuma masakin Abang kan? setelah itu aku pulang."

__ADS_1


Randy menggelengkan kepala.


"Temani aku dulu."


"Haih, badan aku pada lengket. Nggak enak kalo lama-lama begini." Jelas Ayumi.


Kini gadis itu sedikit merengek.


"Sudah aku katakan, aku bisa meminjamkan pakaian untuk mu, Ay!"


"Iya tapi nggak bisa."


"Apanya?" Randy mulai meninggikan suara, dia bingung.


"Ya nggak bisa." Sambung Ayumi.


"Astaga bahkan aku pernah meminjamnya dulu! itu bisa-bisa saja."


"Ya sekarang beda."


"Apanya? kamu ribet."


"Abang nggak ngerti." Pekik Ayumi kencang.


"Bagaimana aku mau mengerti? kamu tidak mengatakan ..."


"Aih bukan masalah bajunya, tapi dal*mannya gimana? masa pake yang ini? kotor dong kan udah keringetan, ... eh!" Ayumi menutup mulut dengan kedua tangannya.


Randy menatap Ayumi penuh arti, bahkan pria itu terlihat menahan senyum, seolah tengah menggodanya saat ini.


"Kan jadi keceplosan." Ayumi kesal.


Tidak, maksudnya dia malu. Hanya saja Ayumi membuat wajahnya terlihat kesal.


"Ya aku malu!" Ucap Ayumi sedikit ketus.


Randy kembali berdiri, merogoh ponsel yang ia simpan di dalam saku celana.


"Katakan, berapa ukurannya?" Tanpa merasa ragu pria itu bertanya.


"Hah? nggak mau!"


"Ukuran berapa? aku akan memesankan untuk mu."


Ayumi menggelengkan kepalanya kencang.


"Tidak usah, aku masakin kamu saja. Sudah itu pulang dan mandi di kostan, oke?"


"Tidak bisa, aku ingin mengatakan sesuatu setelah kita makan."


Ayumi diam, gadis itu tampak berpikir keras. Mengerti dengan sikap Ayumi yang sedikit canggung, Randy pun memberikan ponselnya kepada Ayumi.


"Pilih saja sendiri. Mau model yang seperti apa, warna apa dan ukuran berapa, ... Aku tidak akan tahu."


Sempat ragu, tapi tak urung juga dia meraih ponsel itu.


"Nanti aku siapkan pakaiannya, sekarang pesanlah, aku mau mandi juga."


Setelah itu Randy pergi, kearah kamarnya yang terletak tidak jauh dari sana.


Melihat Randy yang sudah pergi. Ayumi segera melihat-lihat barang yang dia butuhkan saat ini.

__ADS_1


Sekitar sepuluh menit mencari, akhirnya Ayumi memilih sepasang pakaian d*lam berwarna hitam, dan memesannya melalui aplikasi yang berada di dalam ponsel kekasihnya itu.


***


"Jadi berapa, Mas?" Tanya Ayumi saat menerima pake tersebut.


"Oh, ini sudah di bayar otomatis menggunakan voucher tadi."


"Serius? kok saya nggak lihat. Pas persen cuma klik selesai."


"Iya kan otomatis, Mbak."


"Iya juga yah. Kalau begitu terimakasih."


Pria itu mengangguk.


"Pesanannya sudah di terima ya, kalau begitu saja permisi."


Dengan segera Ayumi kembali masuk kedalam rumah besar, tapi terasa sangat sunyi yang Randy tempati seorang diri setelah Asisten rumahnya berhenti, dan dia masih belum mendapatkan gantinya.


Tidak lama setelah Ayumi menerima barang yang di belinya melalui toko online, Randy keluar membawa beberapa helai pakaian untuk Ayumi kenakan.


"Sudah datang?" Tanya Randy.


Pria itu keluar dari dalam kamarnya dengan keadaan segar. Rambut klimis juga terlihat masih menitikan air, juga kaos putih ketat yang memperlihatkan otot tubuhnya dengan sangat jelas, dipadukan dengan celana joger panjang berwarna hitam.


Dia benar-benar sangat tampan Ayumi, kau beruntung.


"Ay?"


"Ah, ... I-iya sudah."


Ayumi mengangguk, seraya memeluk benda itu seolah takut Randy akan merebutnya.


"Baiklah, mandi sana. Ini bajunya, sudah aku pilihkan yang kecil-kecil."


Ayumi tak banyak bicara, dia meraih pakaian itu, lalu beranjak kearah kamar tamu yang berada di ruangan paling belakang.


"Ay? hapenya?" Dia berteriak.


"Oh, ... di meja depan tv." Jawab Ayumi tak kalah kencang.


Randy berjalan kearah sofa, meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja. Dia menyandarkan punggung panda sandaran sofa, membuka kunci layar, dan melihat kembali histori pembelian Ayumi di toko Online pilihannya tadi.


Dia mengigit bibirnya kencang, lalu tersenyum.


Warna hitam, tiga empat!


"Astaga dia akan sangat marah jika mengetahui kau sengaja melihatnya, Randy!" Dia terkekeh pelan, dengan debaran yang mulai meningkat.


Randy mengusap wajahnya kasar, lalu menepuk-nepuk kepalanya berusaha mengusir pikiran kotor yang mulai terbayang.


"Dasar otak mesum. Aku hanya melihatnya, lalu mengetahui ukurannya, lalu kenapa kau menampilkan bayangan itu dengan sangat jelas." Randy merutuki dirinya sendiri.


Pria itu menghirup nafas sebanyak mungkin, lalu menghembuskannya pelahan. Begitu terus dia ulangi beberapa kali.


"Astaga Ayumi. Bahkan banyak di luar sana yang berpakaian terbuka, tapi hanya kau yang membuat ku sangat penasaran sampai seperti ini."


Randy memejamkan mata, kemudian memijat kepalanya perlahan.


"Kau sudah gila Randy. Benar kata Ayumi, kau suka ngaco!" Lagi-lagi dia terkekeh pelan, saat bayangan itu terus muncul, dan berputar memenuhi isi kepala.

__ADS_1


......................


Haduh pikiran orang dewasa memang berbeda 🤣


__ADS_2