
"Ibu kenapa terus menangis seperti itu?" Amar berjalan dari arah pintu dapur yang terbuka sangat lebar, mendekati ayahnya yang saat ini duduk di bale-bale belakang rumah.
Ali menoleh, dia tersenyum tipis, kemudian menepuk tempat kosong di sampingnya, meminta Amar agar duduk disana.
"Terjadi sesuatu? Apa Ayumi menyakiti Ibu sampai Ibu pulang dengan keadaan sedih seperti ini?" Amar kembali bertanya setelah dia duduk di samping ayahnya.
"Tidak ada sangkut pautnya dengan adikmu. Jangan selalu beranggapan bahwa Ayumi lah yang selalu membuat Ibumu bersedih, Mar!"
Amar melirik beberapa detik, dan kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Aneh sekali! Kalian ini kenapa selalu membelanya." Kata Amar pelan, bahkan hampir berbisik.
Namun Aku masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Pria paruh baya itu menghela nafasnya, menggelengkan kepala dengan tangan yang mulai menepuk-nepuk pundak Amar.
"Cobalah untuk menyingkirkan kebencianmu. Dulu kamu tidak seperti ini, … kamu adalah salah satu orang yang berdiri di barisan terdepan saat teman-teman Ayumi berbuat macam-macam sampai membuat adikmu menangis!" Ali mencoba mengingatkan.
Amar diam, pandangannya lurus menatap cakrawala luas yang terlihat sudah mulai menghitam, dengan perasaan yang tidak bisa mengerti.
Dia sendiri pun heran. Kenapa saat ini terlalu banyak kebencian untuk Ayumi, sementara dulu dia selalu menjadi pelindung nomor satu untuk gadis cengeng yang suka menangis hanya karena teman-temannya berlari meninggalkan Ayumi kecil seorang diri.
Dan anehnya setelah kejadian memilukan itu justru dirinya berbalik membenci Ayumi, bukankah seharusnya Amar lebih menyayangi adiknya karena dia menjadi salah satu korban tabrak lari? Juga mendapatkan luka yang sangat serius?
"Tidak ada yang mau jalan hidupnya seperti itu! Patah tulang karena kecelakaan, lalu menjalani pengobatan rutin karena dia mengidap sebuah penyakit paru-paru yang cukup serius, … kami memberikan perhatian lebih, karena tanggung jawab orang tua pada umumnya. Kamu tahu kenapa? Jika tidak kita, siapa lagi yang harus peduli kepada Ayumi? Sementara dia sudah malang sejak masih bayi."
Amar masih bungkam, dengan perdebatan antara pikiran dan hati nuraninya.
"Apa kamu tidak kasihan? Dia menikah kamu pergi, dia mengadakan resepsi kamu tidak mau datang. Sampai kapan ini akan terus berlanjut? Kamu tidak lelah berlaku seperti itu kepada Ayumi?"
Amar menoleh, raut wajahnya terlihat berbeda. Seperti menyimpan rasa penasaran, namun bercampur dengan keangkuhannya sebagai seorang Kakak laki-laki.
"Apa pria yang menikahi dia adalah seorang pria yang baik?"
Ali langsung menganggukan kepalanya.
"Baik sekali. Bahkan saking baiknya dia menganggap Bapak dan Ibu orang tuanya sendiri."
"Cih!"
Amar mengalihkan wajahnya ke arah lain, kemudian tersenyum miris. Segala yang menyangkut Ayumi memang selalu di agung-agungkan, pikirnya.
"Aku tidak yakin dia pria yang benar-benar baik. Mungkin Ayumi nya saja yang terlalu gampangan, dia mau di nikahi hanya untuk sejumlah uang!"
Ali menghela nafasnya lagi, dia benar-benar tidak tahu harus mengubah sudut pandang Amar terhadap Ayumi seperti apa.
"Semoga Tuhan segera melembutkan hatimu."
"Hatiku selembut sutera, sebelum Bapak terus membanggakan Ayumi, memberi dia kasih sayang lebih, padahal aku yang anak kandung Bapak!" Pria berusia 28 tahun itu segera berdiri, lalu pergi meninggalkan Ali begitu saja.
Sementara Ali menatap kepergian Amar dengan tatapan sendu. Bagaimana bisa Amar berpikir seperti itu, sedangkan dirinya merasa setiap yang Ali berikan kepada Ayumi maupun Amar dalam porsi yang sama.
Jika anaknya itu marah hanya karena Ali memberikan perhatian lebih kepada Ayumi, menurutnya sangat wajar karena waktu itu Ayumi memang tidak bisa mengandalkan dirinya sendiri karena cedera yang cukup parah, selain gadis itu yang masih sangat kecil.
"Sebenarnya bagaimana caranya berpikir?" Tukas Ali dengan suara pelan.
***
Di hari yang sama, namun tempat yang berbeda.
Ayumi terdiam, menatap televisi yang sedang memutar tayangan komedi malam. Terkadang Ayumi terlihat begitu serius, tapi tak jarang juga perempuan itu tertawa kencang, membuat Sumi yang sedang berada di dapur ikut tersenyum.
Setelah seharian menikmati Markisa hasil memetik di belakang rumah, tertidur hingga sore hari, lalu bangun dan mandi dengan air hangat yang sudah Sumi siapkan, kini anak perempuannya berbaring santai menyaksikan tontonan malam dengan hanya menggunakan daster yang Sumi pinjamkan.
"Maaa?!" Ayumi memanggil ibunya.
"Ya? Sebentar, singkong rebusnya sudah hampir matang, tunggu!"
__ADS_1
"Tidak bisa di tinggal? Dari tadi asik bersama singkong rebus, tapi aku di biarkan diam sendirian." Tampaknya perempuan itu sudah berani protes.
"Kalau di tinggal nanti gosong."
"Rebusnya pakai air, bukan minyak Ma!"
Mendengar itu seketika Sumi terkekeh kencang.
"Kadang tingkah konyolnya membuat kamu begitu mirip dengan Valter. Ya, darah memang lebih kental dari pada air bukan? Maka tidak aneh jika kadang terdapat beberapa persamaan yang kalian miliki."
Dan akhirnya, setelah sekian lama mencoba melupakan pria itu. Kini Sumi kembali mengingat wajah Valter melalui Ayumi.
"Mama!?"
Ayumi terdengar memanggil lagi, membuat Sumi tersadar dari lamunannya.
"Ini sudah matang, tunggu!" Sumi segera mematikan kompornya, membawa mangkuk berukuran sedang, dan memindahkan singkong rebus versinya kedalam sana.
Ayumi segera duduk, menengadahkan pandangan ke arah Sumi yang berjalan dari arah dapur, membawa mangkuk berisikan singkong rebus, namun memiliki bau yang sangat sedap.
"Nah, makanlah selagi hangat."
"Ini panas, nanti lidah aku melepuh!" Ayumi terkikik gemas.
Dia membungkuk, menatap singkong rebus yang ibunya maksud.
Singkong yang di potong-potong kecil, dengan daun bawang dan seledri yang terlihat menjadi sebuah bumbu pelengkap, kemudian dia mengalihkan pandangannya kepada Sumi.
"Ini bukan singkong rebus!"
"Mama bilangnya singkong rebus."
Ayumi menggelengkan kepala.
"Rebus itu hanya pakai air, ini pakai daun bawang sama seledri, … ini tumis singkong, Ma!"
Ayumi tersenyum, meraih sendok yang sudah Sumi sediakan, menyendoknya sedikit, lalu menjejalkannya kedalam mulut setalah memastikan aman untuk lidahnya.
"Ayumi diam, menikmati hidangan sederhana, tapi terasa begitu lezat."
"Suka?"
Ayumi mengangguk, lalu kembali menyendok olahan yang yang Sumi buat dengan waktu yang cukup lama.
"Cara buatnya bagaimana? Aku mau belajar masak nanti, Abang pasti suka."
"Gampang. Pertama di rebus dulu sampai matang, lalu tumis irisan daun bawang dan daun seledri sampai wangi, masukan singkongnya, lalu tambahkan air dan biarkan sampai empuk dan airnya menyusut."
"Rasanya enak, gurih. Cocok di makan pas hujan-hujan!"
Sumi tersenyum lagi.
"Makanlah, nanti sebelum tidur jangan lupa di minum obatnya."
"Mama bawel kaya Abang!"
"Hanya mengingatkan."
"Mama tidak ikut makan?"
Sumi menggelengkan kepalanya.
"Melihat kamu makan saja sudah membuat Mama kenyang."
Ayumi membawa satu potong, dan membawanya sampai sendok itu berada di depan mulut ibunya.
__ADS_1
"Aaaaa, …. Pesawat mau masuk!" Ayumi tersenyum.
Sumi membuka mulutnya, kemudian melahap satu suapan yang Ayumi berikan.
"Jadi, … dulu Mama hamil pas seumuran aku yah? 19 tahun?"
"Ya, 20 tahun melahirkan. Sangat mudah bukan?"
"Apa melahirkan sakit?"
"Tidak, hanya terasa sedikit mulas. Memangnya kenapa?"
Ayumi menggeser mangkuk tersebut, kemudian berbaring di atas pangkuan Sumi.
"Sudah Mama bilang, jangan terus membahas ini. Atau kamu akan selalu sedih, … sepertinya mood kamu sedang naik turun, sedikit tertawa dan sedikit menangis."
"Apa Mama sudah pernah bertemu …"
Ayumi tidak melanjutkan kata-katanya, dia mengangkat pandangan, menatap Sumi yang juga tengah menundukan kepala sampai mata kedunya bertemu.
"Tidak pernah." Balas Sumi yang mengerti kemana maksud pembicaraan Ayumi.
"Mau bertemu? Kita bisa minta bantuan Abang."
"Untuk apa? Sebaiknya tidak pernah bertemu kembali, bersama kamu saja sudah cukup. Lagi pula mereka pasti sudah bahagia dengan keluarganya, Mama pun begitu, Mama sudah bahagia bersama kamu."
Ayumi diam.
"Sudah ya, jangan bahas. Nanti kita sedih terus."
"Mama masih mau tinggal disini?"
"Iya."
"Tidak mau ikut aku?"
Sumi menggelengkan kepala, kemudian tersenyum samar, dan mengusap kening Ayumi penuh kasih sayang.
"Kamu sudah menikah. Hidup berbahagialah dengan keluarga kecilmu."
"Sementara Mama sendirian disini?"
"Sudah dari dulu, sudah terbiasa, jadi tidak usah khawatir."
"Tapi aku mau Mama ikut."
Akan sangat memalukan. Seharusnya yang hidup bersama kalian itu Pak Ali dan Bu Tutih, bukan aku yang baru saja masuk kedalam hidup kalian. Aku memang Ibu kandungnya, tapi seseorang yang merawat lebih mempunyai jasa yang begitu besar.
"Aku ada kamar kost yang kosong. Kalau Mama mau tinggal bersama, jadi ayo tinggal di kamar kost yang dulu Ayumi tempat."
"Kita lihat nanti yah!"
"Nggak, pokonya Mama harus ikut tinggal di kota." Ayumi merengek.
Tok tok tok!!
Suara pintu rumahnya di ketuk, membuat ibu dan anak itu terdiam saling menatap satu sama lain.
"Apa suka ada tamu?"
"Biasanya tidak. Tapi mungkin Pak RT, maklum kita belum izin, padahal seharusnya tamu wajib lapor."
"Aku bukan tamu, aku anak Mama." Lagi-lagi Ayumi mengatakan itu, seolah ingin terus meyakinkan jika kini dia dan Sumi memiliki ikatan yang begitu kuat.
"Mama lihat dulu."
__ADS_1
Ayumi mengangguk, dia beralih pada bantal kembali, membiarkan Sumi memeriksakan seseorang yang terus mengetuk pintu rumahnya.