My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 188 (Bogor)


__ADS_3

"Bu? Kenapa masih belum datang? Acaranya besok, hari ini kita berangkat ke Bogor!"


Ayumi berbicara melalui sambungan telepon, ketika Tutih dan Ali tak kunjung datang meski waktu sudah sangat mendekati, bahkan kedua orang tuanya sempat sangat susah dihubungi.


"Sepertinya Ibu dan Bapak tidak bisa datang, Ay! Maaf tidak memberi tahu dari kemarin, … Amar harus melakukan tindakan operasi nanti sore."


Suara Tutih terdengar begitu lirih, tampaknya wanita itu menyesal karena sesuatu terjadi dan tidak dapat menghadiri acara yang begitu di nanti-nanti oleh semua orang, termasuk Ayumi dan Randy.


"Bang Amar? Kenapa?"


"Sudah lima hari dia mengeluhkan sakit di bagian perut. Ibu kira sakit lambungnya sedang kambuh, tapi setelah Ibu bawa ke UGD ternyata bukan sakit lambung, melainkan usus buntu, dan sore hari ini tidansakannya."


Ayumi yang duduk di sofa ruang keluarga pun terdiam. Menatap setiap orang yang ada di sana satu-persatu.


"Ada sesuatu?" Sumi segera mendekat.


Ayumi mengangguk.


"Jadi Ibu tidak bisa datang?" Dia kembali bertanya.


"Iya, maafkan kami sekali lagi. Mungkin kalau Amar sudah baikan, nanti berkunjung kesana bersama-bersama."


Ayumi mengangguk-anggukan kepalanya, seolah Tutih dapat melihatnya dari jarak yang sangat jauh disana.


"Kalau begitu Ibu dan Bapak bisa fokus dulu sama kesembuhan Bang Amar. Maaf Ayu sama Abang belum bisa nengokin kesana, … salam buat Bang Amar Bu, semoga semuanya berjalan lancar, dan cepat pulih nantinya." Kata Ayumi kepada Tutih.


"Sekali lagi Ibu dan Bapak minta maaf, Ay. Kejadian ini tidak terduga, dan tidak kami harapkan juga."


"Tidak apa-apa, sekarang Bapak dan Ibu fokus sama Bang Amar dulu. Dia lebih membutuhkan Ibu daripada Ayumi, disini ada banyak yang membantu, jadi Ibu tenang saja."


"Ya sudah, … Ibu harus mempersiapkan semuanya dulu, Bapak dan Amar sedang menunggu di rumah sakit."


"Iya, Bu."


Dan setelah itu sambungan telepon terputus.


Ayumi meletakan ponsel di atas meja, lalu menatap Sumi, Valter, Randy dan Maria bergantian.


"Semuanya baik-baik saja?" Sumi terlihat semakin khawatir.


Ayumi mengulum senyum, lalu menganggukan kepala, dengan raut wajah murung, terkena imbas dari kabar yang Tutih katakan, membuat wanita itu merasa tak enak hati.


"Sayang?" Randy menatap istrinya lekat-lekat. "Terjadi sesuatu kepada Amar? Ada apa? Dia berulah lagi sampai membuat Bapak dan Ibu mempunyai kendala?"


"Bukan." Ayumi menggelengkan kepalanya. "Bang Amar harus melakukan operasi usus buntu sore ini. Mungkin juga alasan Ibu dan Bapak tidak datang kemarin karena Bang Amar sakit, awalnya Ibu mengira Bang Amar sakit lambung, tapi pas Ibu dan Bapak membawa Bang Amar periksa, ternyata usus buntu." Jelas Ayumi.


Semua orang diam. Termasuk Valter yang memang tidak mengerti karena kemampuan bahasa Indonesianya yang sedikit buruk.


"Jadi bagaimana? Bu Tutih dan Pak Ali tidak bisa hadir?" Tanya Maria.


"Iya, sepertinya kita berangkat tanpa dua personil." Ujar Ayumi.


Randy segera bangkit, dia mengangkat tangan kirinya, menatap jam yang sudah menunjukan pukul sembilan pagi.


"Dimana teman-temanmu, Ay? Sebentar lagi kita berangkat, … cepat hubungi agar tidak terlambat, jalanan ke Bogor sedikit macet di jam-jam tertentu, jadi kita harus cepat!" Pinta Randy yang langsung Ayumi jawab dengan anggukan.


"Ya sudah, Mama dan Bu Maria mau membantu Bi Dini lagi, membawa beberapa barang untuk kita disana nanti."


Dua wanita itu segera berlalu. Sementara Valter duduk berdiam diri bersama Ayumi, yang mulai menghubungi Aira melalui sambungan telepon.


"Hey kalian ini dimana? Kita sudah mau berangkat, kenapa kalian belum datang juga!" Cicit Ayumi melontarkan banyak pertanyaan kepada sahabatnya.


"Kita sudah sampai Ay, ini di depan lagi bantuin Bibi masuk-masukin barang ke bagasi mobil." Katanya.


"Kalian sudah sampai?"


"Sudah, baru lima menit yang lalu, … nah itu Pak Randy keluar bawa kunci mobil lagi!" Balas Aira.


"Syukurlah kalau kalian sudah sampai."


Ayumi menjauhkan benda pipih itu dari daun telinganya. Kemudian menekan tombol berwarna merah sampai sambungan telepon yang sempat terhubung kembali terputus.


Ayumi menoleh ke arah ayahnya.


"Papa, ayo!" Ajak Ayumi, dia segera bangkit, mengulurkan tangan, yang seketika Valter raih sampai tangan keduanya saling menggenggam satu sama lain.


"You are ready?"


Ayumi menatap wajah Valter, lalu dia tersenyum dan menganggukan kepala.


"Besok kita akan tahu siapa bayi nya." Kata Valter dengan logat luar yang begitu kental.


Sementara Ayumi hanya tersenyum mendengar itu.


"Papa duluan. Aku mau ambil tas di kamar." Titah Ayumi, dia melepaskan genggaman tangan ayahnya.


Valter mangangguk.

__ADS_1


"Oke."


Ayumi berjalan memasuki kamar, dia berjalan ke arah ranjang tidur, dimana segala sesuatunya sudah dikumpulkan di sana. Tas, jaket, bantal dan tentunya pakaian milik Randy yang sudah menjadi benda kesayangannya.


"Ay? Sedang apa? Cepat semua orang sudah naik kedalam mobil."


Ayumi menoleh ke arah suara berada. Dimana Randy sedang berjalan masuk dan mendekati dirinya.


"Aku bawa ini saja." Katanya seraya memunguti beberapa barang, dan mendekapnya dalam pelukan.


"Kamu bawa bantal?"


"Iya, aku takut macet."


"Baiklah, cepat." Pinta Randy, sembari mengambil alih tas dan bantal yang Ayumi bawa. Sementara perempuan itu menyampirkan jaket, dan sebuah kaos yang sudah terlihat kusut di tangannya.


Keduanya berjalan ke arah luar, Ayumi naik terlebih dulu kedalam mobil Lexus abu-abu, meninggalkan Randy yang tengah memastikan jika sensor yang berada di pintunya benar-benar bekerja dengan baik.


H-RV hitam milik Randy yang saat ini berada dibawah kendali Valter mulai bergerak mundur, keluar dari garasi rumah, dan menepi di pinggir jalan yang terletak tidak terlalu jauh.


Setelah memastikan keamanan rumahnya terpasang dengan sempurna. Randy segera berjalan mendekati mobil Abu-abu kesayangannya, membuka pintu, dan menatap para penumpangnya satu-persatu.


Dua gadis duduk di bagian belakang, yang tidak lain adalah sahabat dari istrinya, lalu dia beralih kepada Ayumi, yang sudah duduk dengan nyaman memeluk bantal dan terus-menerus mengendus kaos hitam yang sudah di gulung-gulung.


"Semuanya sudah siap? Tidak ada yang tertinggal?" Randy menatap tiga wanita seumuran itu bergantian.


Ayumi mengangguk, pun dengan Una dan Aira.


"Sudah, Pak. Tinggal berangkat.!" Kata Una.


Randy naik dan duduk dengan nyaman di kursi kemudi, memasangkan tali seatbelt seperti biasa, kemudian segera mengubah posisi perseneling, menginjak pedal gas, dan kendaraan itu mulai melaju mundur, keluar dari area rumahnya.


Dengan lihat Randy memutar setir mobilnya dengan cepat, lalu melaju dengan kecepatan rendah, melewati mobil hitam yang sedari tadi menunggu, kemudian menekan klakson Untuk memberitahukan Valter segera mengikuti mobilnya.


Suara musik mengalun di dalam mobil yang Una dan Aira tumpangi. Sedikit membuat suasana menjadi hangat, disaat dua orang yang duduk di kursi depan hanya terdiam.


Randy yang fokus mengemudi, dan Ayumi yang entah sedang apa.


"Ah pasti dia sudah tidur!" Batin Aira berbicara.


Sementara di dalam mobil lainnya. Semua penumpang tampak berbaur, berbincang satu sama lain membahas hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting, namun membuat suasana menjadi ramai.


Apalagi ketika Valter ikut berbicara, dan segera Sumi artikan agar Maria dan Dini mengerti. Begitupun sebaliknya, Valter selalu meminta Sumi menerjemahkan apa yang Maria dan Dini ucapkan.


***


Tidak lama setelah itu, Randy membelokan mobilnya memasuki sebuah parkiran resort yang sempat dia dan Ayumi datangi beberapa waktu lalu.


Mobilnya berhenti, di susul mobil hitam yang Valter kendarai.


Mereka keluar satu persatu. Tapi tidak dengan Randy, sepertinya pria itu butuh waktu ekstra untuk membangunkan Ayumi yang masih terlelap begitu dalam di lautan mimpinya.


"Ayumi?" Sumi menatap Una dan Aira bergantian.


"Masih Pak Randy bangunin, Bu." Jawab Aira sambil tersenyum malu-malu.


Namun, hal lain tentu mengganggu pikiran Aira, pun dengan Una saat melihat sosok pria asing, dengan wajah yang begitu terasa sangat familiar.


Una menyenggol lengan Aira dengan sikut tangannya.


"Itu, … Papa kandungnya Ayumi?" Una berbisik.


Aira menoleh, kemudian menggelengkan kepalanya.


"Ayumi belum cerita. Gue nggak tahu, jadi takut salah mengira-ngira, Na!" Balas Aira tak kalah pelannya.


"Tapi mirip Ayumi banget. Terus dari tadi keliatan deket-deketan terus sama Mama kandungnya." Una masih penasaran. "Pantesan Ayumi cakep yah! Orang bapaknya Bule, cuy!"


"Udah! Nanti kita tanya biar yakin." Tukas Aira.


Dan setelah itu keduanya terdiam, menunggu Ayumi yang masih berada di dalam mobil sana.


Setelah beberapa menit. Akhirnya Randy keluar, berjalan memutari mobil, kemudian membuka pintu sebelah kiri dimana Ayumi berada duduk disana.


Kepala Ayumi menyembul, menatap ke arah luar dengan mata memicing, berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk melalui matanyanga.


Dia tersenyum saat melihat Una dan Aira.


"Cepat turun, semua orang menunggumu yang tertidur sangat nyaman tadi." Kata Randy sedikit menggerutu.


"Aku ngantuk, tau!" Cicit Ayumi pelan, dua menatap wajah suaminya yang kini terlihat sedikit masam.


"Ngantuk terus."


Ayumi memutar bola matanya, dia segera turun, dan mendekati Una, Aira, juga para orangtuanya. Satu container box berukuran sedang diturunkan oleh Valter, yang mana didalamnya berisikan berbagai jenis makanan dan perlengkapan untuk BBQ.


***

__ADS_1


Setelah berjalan menuruni tangga yang cukup panjang, akhirnya mereka sampai di salah satu Villa besar di antar seorang pegawa seperti biasa.


Hilir angin berhembus, membuat dedaunan dan dahan-dahan pohon berbunyi riuh, sehingga menghadirkan suasana yang begitu berbeda. Belum lagi area luas yang dilapisi rerumputan hijau, membuat tempat itu benar-benar luar biasa sampai tak hentinya membuat Valter terkagum-kagum.


"Papa?" Sumi memanggil pria yang terus berdiri di teras luar, menatap sekeliling dengan raut takjub.


Valter menoleh.


"Ini indah. Banyak pepohonan disini, kebun teh, dan cuaca yang sangat sejuk. Mataharinya benar-benar terik, tapi itu membuat suasana menjadi sedikit hangat saat hembusan angin terasa begitu sejuk." Ucap Valter dengan senyuman yang mengembang.


Sumi mengangguk, dia mendekati suaminya, kemudian memeluk lengan pria itu, dan menyandarkan kepalanya di sana.


"Di rumahku dingin. Tapi disini lebih dingin lagi!" Kata Sumi.


"Menantumu sangat hebat. Dia dapat mewujudkan apapun keinginan putriku, … bahkan dia menyiapkan tempat sebagus ini hanya untuk menggelar acara syukuran yang menurut Randy tidak terlalu mewah. Aku rasa pria itu terlalu rendah hati, sayang."


Kepada Sumi mendongak, menatap pria tampan yang begitu dia cintai.


"Jika Ayumi memintamu, … apa kamu akan menuruti keinginannya juga? Kamu tahu? Terkadang aku berpikir kamu tidak akan bisa sangat dekat dengan Ayumi, dia tumbuh besar dengan sosok lain yang dia sebut ayah. Jadi aku kira kamu tidak ada terlalu menghiraukan apapun keinginan dia."


Valter meraih pundak istrinya, kemudian dia memeluk wanita itu dengan sangat erat.


"Tentu saja jika Ayumi memintanya, maka akan aku wujudkan. Walaupun dia tidak tumbuh denganku, menghabiskan waktu dengan pria lain yang dia panggil ayah. Aku tetap menyayangi Ayumi, bahkan rasa ini sangat besar, sampai aku tidak bisa menjelaskannya dengan bahasa apapun." Kata Valter.


"Terimakasih kamu sudah mencintai dia." Sumi melilitkan tangan di pinggang pria itu.


Valter mengangguk.


"Ini berlaku untukmu juga. Jika kau ingin sesuatu, maka katakan saja, aku bekerja dengan rajin karena ada kamu, dan Ayumi yang harus aku bahagiakan, jadi jika ada sesuatu katakan saja, jangan dipendam atau berusaha mengabulkannya sendirian, ada aku dan manfaatkan aku sebagaimana harusnya."


"Iya." Kata Sumi.


Mereka berdua terus berbincang-bincang. Membuat seseorang di lantai atas menatap dari arah balkon dengan kedua bibir yang melengkung memperlihatkan sebuah senyuman bahagia.


"Ay!"


"Shuuutttt!" Ayumi menoleh, lalu meletakan jari telunjuk di bibirnya. "Jangan berisik, aku sedang melihat pemandangan yang indah, … bahkan lebih indah dari pemandangan di sekeliling Villa ini!" Kata Ayumi dengan suara pelan, bahkan hampir berbisik.


Randy tampak penasaran, sampai dia memilih untuk berjalan mendekat, dan melihat apa yang sedang Ayumi nikmati.


"Apa sih!?" Kata Randy.


"Mama lagi sama Papa." Ayumi menjawab sambil tersenyum penuh haru.


Randy melihat sosok pria tinggi, merengkuh pundak wanita semampai di sampingnya, sambari mengucapkan kata-kata yang juga membuat Randy menoleh, menatap Ayumi, lalu tersenyum.


"Mereka romantis yah!" Perempuan itu mengangkat pandangan ke arah suaminya.


Randy tersenyum, kemudian menganggukan kepala.


"Begitulah cinta. Bahkan mereka tidak sadar mereka ada di mana!" Randy terkekeh pelan. "Aku yakin Bi Dini, sahabatmu dan Ibu pasti sedang melihat mereka."


Ayumi mengangguk.


"Kasian Una sama Aira, mereka jomblo, tapi dari tadi lihat yang uwu-uwuan terus. Tingkah aku sama Abang di mobil aja bikin mereka tertekan, sekarang di tambah sama Papa dan Mama." Ayumi ikut tertawa pelan.


"Mau tetap disini? Atau ikut denganku memeriksakan beberapa kamar untuk tamu lain?"


Randy berbisik tepat di telinga Ayumi, kemudian mengecupnya sampai membuat perempuan itu mengedikkan bahu karena merasa geli.


"Jangan begitu, nanti Abang sendiri yang pusing. Ini masih siang, mana ada Mama, Papa, Ibu, Bi Dini sama Una dan Aira." Ayumi menepuk dada suaminya cukup kencang.


Randy tersenyum.


"Baik, ayo kita tujukan kamar temanmu, dan lihat kamar untuk Egy, Evan, dan Bagas."


Randy meraih tangan Ayumi, menggenggamnya, kemudian marik wanita hamil tua itu ke arah dalam, dan turun ke lantai dasar.


Klek!!


Seorang pegawai resort membuka salah satu kamar yang berada di dekat area villa besar yang Randy booking untuk keluarganya.


Sebuah kamar dengan dua tempat tidur yang terlihat begitu nyaman.


Aliran menatap Ayumi, kemudian Randy.


"Ini untuk kita, Ay?"


"Iya. Ayo masuk!" Kata Ayumi.


"Terimakasih ya, Mas." Ucap Randy ketika pria itu kembali undur diri.


Dia membiarkan Ayumi memasuki ruangan itu bersama kedua temannya. Sementara dia menunggu dan duduk di kursi yang memang tersedia di luar.


Suara teriakan rasa senang jelas dia dengar, dan itu membuat Randy tersenyum lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ternyata aku menikahi gadis yang masih sangat kecil." Pria itu bergumam.

__ADS_1


__ADS_2