My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 132 (Kembali seperti semula)


__ADS_3

Klek!!


Ayumi membuka pintu rumah kedua orangtuanya.


"Bu?" Panggil Ayumi.


Dia melangkah masuk setelah menutup pintu rumah kedua orang tuanya rapat-rapat, berjalan ke arah ruang tengah dimana suara televisi terdengar menyala.


"Bu? Ayumi bawa buah markisa buat Ibu." Ayumi terus memanggil.


Namun tetap tidak ada yang menyahut meski keadaan rumah tak terlalu hening seperti biasanya.


Ayumi terus mendekat ke arah ruang tengah, dan betapa terkejutnya dia saat mendapati Amar disana.


Deg!


Langkah kaki perempuan itu terhenti, tubuhnya ikut mematung, dengan jantung yang berpacu sangat kencang, saat pandangannya dengan sang Kakak laki-lakinya beradu.


Mereka sama-sama diam dengan pikiran dan perasaan masing-masing. Kaki Ayumi kembali melangkah mundur, berusaha menghindari Amar yang mungkin masih tidak menyukai kehadirannya.


Dia berbalik arah, tapi panggilan Amar membuat Ayumi berhenti seketika.


"Kamu cari Ibu? Ibu ada di belakang bersama Bapak." Suara Amar terdengar begitu lembut.


Dan itu sangat aneh, karena tidak biasanya Amar berkata lembut seperti itu, selain saat Ayumi masih kecil, dan mereka masih sangat dekat.


Perempuan itu diam.


Amar bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Ayumi yang kini tengah berdiri memunggungi, lalu meraih plastik berukuran sedang dalam genggaman tangannya tanpa aba-aba.


"Markisa?" Tukas Amar dengan senyumannya.


Ayumi berbalik badan, sedikit mengangkat pandangan untuk melihat wajah Amar. Dan dia kembali dikejutkan dengan senyuman hangat yang sudah lama tidak Ayumi lihat. Meskipun dia sudah tahu bahwa dirinya dengan Amar bukanlah saudara kandung, tapi entah kenapa rasanya begitu bahagia, saat sikap Kakak laki-lakinya kembali melembut seperti dulu sebelum kecelakaan itu terjadi.


"Ayo kita temui Ibu dan Bapak, kita minta Ibu untuk membuatkan es dengan markisa yang sudah kamu bawa." Dia berujar.


Amar berjalan lebih dulu. Dia kembali menoleh saat Ayumi terus terdiam di ruang tengah, dengan tatapan yang tidak bisa di artikan oleh kata-kata.


"Ayumi?" Panggil Amar, dia berusaha menyadarkan adik perempuan dari lamunannya.


"I-iya … Bang Amar duluan, aku menyusul di belakang." Jawab Ayumi sedikit ragu.


Dengan langkah pelan Ayumi berjalan tepat di belakang tubuh tinggi Amar, menuju bale-bale belakang rumah dimana ayah dan ibunya berada.


Tutih segera mengalihkan pandangan saat ekor matanya melihat pergerakan. Dan benar saja, Amar sedang berjalan mendekat, dengan Ayumi di belakangnya.


Wanita itu terkejut, dia bangkit dan menatap keduanya bergantian.


"Amar!" Tutih sedikit panik.


"Ayumi datang mencari Ibu, membawa markisa. Lihatlah, banyak sekali." Ucap Amar sambil tersenyum.


Sementara Ayumi terus berjalan menunduk.


"Ay? Datang sendiri?" Ali bereaksi.

__ADS_1


Ayumi mengangkat pandangan saat dia sampai tepat di dekat ibunya berdiri.


"Sama Abang. Nanti Abang kesini lagi, mau mandi dulu ke rumah Ibu Maria, aku sama Abang sampai tadi pagi, mampir ke rumah Mama dulu buat petik markisa, istirahat terus kesini. Beruntung Bapak sama Ibu ada." Kata Ayumi.


"Ayumi hampir balik lagi, padahal sudah Amar kasih tahu Ibu dan Bapak ada di belakang." Amar duduk di samping ayahnya.


Dia membawa satu buah markisa, dan membukanya dengan tangan kosong.


Tutih menatap suaminya, mereka terheran-heran dengan sikap Amar yang berubah drastis. Itu memang bagus, namun perubahan yang secara tiba-tiba juga membuat Ali juga Tutih merasa sedikit was-was.


Apa Amar sedang merencanakan sesuatu? Atau dia melakukan itu hanya karena takut kepada Randy?


Batin Tutih berbicara.


"Nak? Kemarilah. Duduk bersama Bapak!" Ali menggerakan tangannya, meminta Ayumi untuk segera mendekat.


Perempuan itu mengangguk, kemudian duduk tepat di samping Ali.


"Kamu baik-baik saja? Mmm, … maksud Ibu tidak terjadi sesuatu sampai kamu datang kesini tiba-tiba? Tidak bertengkar dengan suami kamu kan?" Cerca Tutih dengan beberapa pertanyaan sekaligus.


Ayumi menatap Tutih, mengulas senyum samar dan menggelengkan kepala. Menyangkal setiap pertanyaan yang Tutih berikan.


"Sudah dari rumah Mamamu? Kenapa Bu Sumi tidak ikut?" Tanya Tutih lagi.


Ayumi tidak menjawab. Sikapnya tiba-tiba menjadi sangat pendiam, bahkan tak jarang dia terus menundukan kepala saat merasa Amar terus menatapnya dengan senyuman yang tidak Ayumi ketahui artinya.


Apa dia memiliki niat buruk? Dan selalu tersenyum untuk menutupinya? Atau Dia memang benar-benar sudah berubah?


Ayumi terus menerka-nerka.


"Amar? Kamu tidak berangkat kerja hari ini?" Tanya Ali.


"Hari ini jatah libur Amar, Pak!"


"Oh ya? Bukannya kamu baru saja diterima masuk bekerja di resort? Memangnya tidak apa-apa kalau libur bekerja seperti hari ini?" Tutih ikut berbicara.


Amar melempar bekas buah markisa yang sudah habis di santapnya ke arah lain. Menatap Ali, Tutih dan Ayumi bergantian, kemudian menghembuskan nafas kencang.


"Apa kalian tidak suka aku ada di rumah?" Amar bertanya dengan suara pelan.


Ali dan Tutih kembali saling menatap.


"Terkadang aku heran. Ada masa dimana aku selalu di minta pulang, kadang juga di tanya-tanya kenapa tidak pergi, … hari ini misalnya. Kenapa? Apa kalian tidak nyaman aku ada di rumah? Atau Ayumi tidak mau Bang Amar ada disini?" Dia beralih menatap adik perempuannya.


Ayumi langsung menatap Amar, lalu menggelengkan kepala.


Sorot matanya terlihat sendu. Sepertinya rasa bersalah mulai Amar rasakan, apalagi dengan segala yang sudah Ayumi alami, dan tidak bisa dipungkiri jika semuanya berawal dari apa yang pernah dia lakukan.


"Maaf kalau Abang sudah pernah melakukan hal yang sangat buruk. Maaf juga untuk semua rasa sakit yang kamu rasakan!" Amar menatap Ayumi, begitupun sebaliknya.


Mereka semua diam dengan pikiran masing-masing. Apalagi Tutih yang terlihat sangat terkejut, padahal baru semalam mereka membicarakan perihal Ayumi, dan kini Amar sudah benar-benar menyadari kesalahan yang sudah dia perbuat.


"Ibu benar. Tidak seharusnya aku berbuat sejahat itu kepada adikku sendiri, … hanya karena merasa jika Ayumi merebut semua perhatian dan kasih sayang kalian. Seharusnya aku lebih menyayangi Ayumi, karena sudah banyak kemalangan yang sudah dia alami, dan bukan terus bersikap buruk seperti apa yang aku lakukan."


Tutih tersenyum. Usaha kali ini untuk menyadarkan Amar berhasil, dan sepertinya Amar sudah benar-benar berubah. Meskipun Amar hanya terdiam saat Tutih berbicara banyak hal, tapi sepertinya pria muda itu cukup memahami sampai membuat dia berubah seperti sekarang ini.

__ADS_1


"Akhirnya kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan. Karena pada sejatinya, seorang Kakak tidak akan berlaku sejahat itu kepada adik perempuannya." Ali tersenyum bahagia.


Pria paruh baya itu bergeser untuk mendekati Amar, kemudian memeluknya, saat dia tampak begitu menyesali segala perilaku buruk terhadap Ayumi.


"Kemana saja kamu ini? Betapa baiknya adikmu, dia menyayangi kita Amar. Dan kamu tidak pernah menyadari itu."


Amar mengurai pelukannya, dia mengangguk lalu beralih pada Ayumi yang terus memperhatikan dalam diam.


"Apa kamu tidak merindukan Kakakmu ini?" Kata Amar pelan.


Dia mulai merentangkan tangan.


Kini semuanya terasa lepas. Rasanya begitu lega, tidak ada lagi yang memberatkan dirinya. Rasa takut terhadap Amar benar-benar sirna, juga perasaan bertanya-tanya yang sempat hadir kini menghilang, dia tak lagi menyalahkan dirinya sendiri untuk rasa kecewa yang Amar rasakan karena dirinya telah merebut kasih sayang kedua orang tua Kakak laki-lakinya.


Ayumi tersenyum. Dia segera menghambur ke dalam pelukan Amar.


Tumbuh bersama sejak kecil, menjadi adik yang sangat beruntung karena dilindungi Amar dengan sedemikian rupa, bahkan tak pernah ada yang berani mengganggunya karena Amar selalu memperingati siapapun yang hendak mengganggu adik kecilnya.


Sikap itu sempat hilang. Bergantian dengan kebencian Amar yang tiada hentinya, bahkan itu berlangsung cukup lama. Namun kali ini, mereka kembali seperti semula, layaknya seorang kakak dan adik yang pernah sangat dekat.


"Bagaimanapun keadaannya. Kita tetaplah saudara Ayumi. Kamu boleh mengetahui jika keluarga ini bukan keluarga kandungmu, tapi percayalah cinta dan kasihnya tidak pernah berkurang sedikitpun. Maaf jika sudah melukai hati kecilmu dengan kata-kata Abang." Ucap Amar.


Ayumi mengangguk.


"Maaf juga kalau Ayumi sudah membuat Bang Amar berpikir seperti itu." Balas Ayumi.


"Tidak tidak, kamu tidak bersalah. Sudah sepantasnya orang tua akan memberikan perhatian lebih kepada anak mereka yang mengalami cedera. Patah tulang kaki bukan hal yang mudah."


"Dan sekarang aku sudah sembuh, karena perjuangan Bapak dan Ibu. Mereka sangat luar biasa bukan?"


Ayumi menarik dirinya, melepaskan diri dari pelukan Amar dan mengusap kedua pipi yang tiba-tiba basah karena air mata yang bercucuran.


"Dan sekarang tugas Bang Amar sudah beralih kepada suamimu. Tapi ingat! Jika dia macam-macam, … maka Bang Amar yang akan menjadi orang pertama yang menghabisi dia!"


Ayumi terkekeh, tapi matanya terus mengeluarkan genangan air.


"Waktu itu saja kalah. Jadi Bang Amar jangan coba-coba."


Melihat itu mata Tutih berkaca-kaca. Begitu bahagianya dia saat melihat hubungan kedua anaknya yang kembali membaik.


Wanita itu merangsek, dan memeluk tubuh Ali.


"Apa yang kalian bicarakan tadi malam?" Tanya Ali sedikit berbisik.


"Tidak ada, hanya sedikit ceramah dan penjelasan."


Tutih menghembuskan nafasnya perlahan.


"Anak kita sudah besar Pak. Mereka sudah saling mengerti keadaan masing-masing sekarang."


Tutih mengusap matanya.


"Ya, dan tugas kita sekarang adalah mencarikan calon istri untuk Amar." Kata Ali, dia tersenyum penuh haru.


"Untuk Ayumi. Kita tahu bagaimana Randy mencintai anak kita, jadi keadaan yang sangat mengkhawatirkan saat ini adalah Amar, dia sudah butuh pendamping hidup." Kata Ali lagi.

__ADS_1


...----------------...


Jangan lupa! yang ada vote dan hadiah boleh lempar kesini. Author remahan kaleng kongguan butuh dukungan juga😌


__ADS_2