My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 136 (Kekesalan Raga)


__ADS_3

"Ada sesuatu? Kenapa kamu marah-marah seperti itu?" Dia turun setelah memastikan Bara tertidur dengan pulas.


Balqis mendekati suaminya yang saat ini duduk di sofa kamar, memangku laptop kerjanya dengan raut wajah masam juga mulut yang tak hentinya menggerutu.


"Aku tidak marah. Hanya sedikit kesal kepada Randy!" Ujar Raga tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.


"Benarkah? Aku mendengarmu terus mengumpat, bahkan sebelum Bara tidur, sampai sekarang dia sudah pulas dan mengarungi mimpi indahnya."


Wanita itu duduk tepat di samping suaminya, kemudian memeluk Raga dari arah belakang, menyandarkan wajah di punggung kokoh, berusaha membuat Raga sedikit lebih tenang.


"Memangnya kenapa dengan Randy? Tidak biasanya kamu seperti ini?"


"Sekarang dia mulai seenaknya. Dia tiba-tiba tidak masuk kerja dengan alasan mengantar Ayumi pulang ke kampungnya. Sementara miting dan pekerjaan lainnya jadi harus aku yang mengerjakan, … lalu apa gunanya dia? Sia-sia aku membayar Randy dengan nominal yang cukup tinggi!"


Raga kembali menumpahkan kekesalannya. Sementara Balqis hanya tersenyum, terdiam membiarkan suaminya meluapkan segala kekesalan dan keluh kesah terhadap orang kepercayaannya.


"Ya, … aku tahu istrinya adalah prioritas utama, aku juga tidak melarang dia mengambil libur di hari kerja, tapi setidaknya katakan ini lebih awal, tadi pagi aku sudah seperti dikejar-kejar malaikat maut, miting sudah akan dimulai, dan Randy baru memberi kabar jika dia tidak bisa masuk kerja, … haih dia sangat menyebalkan akhir-akhir ini!"


Balqis hanya tersenyum mendengar suaminya terus menggerutu.


"Apa kurang? Aku bahkan memberikan cuti hampir dua Minggu."


Balqis mengurai pelukannya, duduk tegap dan meraih lengan Raga, kemudian menariknya sampai pria itu beralih posisi, duduk saling berhadapan.


"Kamu memang memberinya waktu cuti. Tapi apakah kamu ingat? Bahkan kamu masih mengirimkan beberapa dokumen untuk dia kerjakan, dan dia masih mengerjakannya tanpa banyak protes. Lalu kamu kesal hanya karena dia mendadak tidak masuk kerja karena mengantar Ayumi pulang. Kita tidak tahu kesulitan apa yang Randy hadapi, tahu sendiri Ibu hamil itu serumit apa!"


"Ya, tapi tetap saja. Seharusnya dia memberitahukan kepadaku lebih awal, … setidaknya setelah dia sampai di rumah orang tua Ayumi, bukan sudah siang seperti tadi!"


"Pekerjaan ini sudah selesai?" Balqis menunjuk layar laptop milik suaminya.


Raga menggelengkan kepala.


"Butuh bantuan?"

__ADS_1


"Tidak usah. Sekarang hanya membuat satu surat kontrak untuk sponsor baru yang belum sempat Randy kerjakan."


"Baiklah cepat selesaikan, aku ikut menunggu disini." Balqis menepuk-nepuk pundak suaminya.


Akhirnya Raga pun tersenyum, menganggukan kepala dan segera melanjutkan apa yang sedang dia kerjakan agar segera selesai, dan dapat beristirahat bersama istrinya yang mungkin juga lelah karena seharian bekerja mengurus perusahaan milik David, ayahnya.


Dan setelah 30 menit berlalu. Raga segera menutup laptop miliknya menyimpan di meja kecil samping sofa.


"Astaga!" Suara pria itu memekik, dia sedikit terkejut saat mendapati Balqis yang sudah tertidur pulas. Kedua matanya tertutup rapat, dengan mulut sedikit menganga.


Raga mendekat, dia menyentuh pipi istrinya dengan punggung tangan, lalu tersenyum dan menciumnya dengan sangat lembut, seolah takut jika akan membangunkan wanita yang sangat dia cintai itu.


Segudang aktivitas. Entah itu di kantor atau bahkan langsung turun kelapangan, mengerjakan berbagaimacam desain yang customernya inginkan. Lalu dia pulang, dan beralih profesi menjadi seorang Ibu rumah tangga, menyiapkan segala sesuatu, kebutuhannya, juga kebutuhan Bara putra mereka. Belum lagi sang anak sambung, Sara. Tak jarang menginap dan begitu dekat dengan Balqis, karena memang sepertinya wanita itu begitu istimewa, sampai mampu memikat hati siapapun yang berada di dekatnya.


"Ya, termasuk aku. Aku bahkan tertarik sejak baru pertama kali melihatmu di salah satu club' malam. Bagaimana bisa seorang gadis cantik, datang dengan pakaian sangat minim, namun tidak melakukan apapun selain merokok dan memesan susu hangat." Raga terkekeh ketika dia mengingat momen tersebut.


Raga berdiri, membungkuk, lalu kemudian mengangkat Balqis untuk dia pindahkan ke atas ranjang tidur berukuran besar dimana Bara terlelap disana.


Perlahan dia membaringkan tubuh Balqis. Segera menarik selimut untuk melindungi tubuh istrinya dari hawa dingin yang berpusat di air conditioner yang sudah menyala.


Raga mencium kening Balqis.


"Terimakasih karena sudah mau bertahan. Menghadapi laki-laki pemarah ini, … dan terimakaih juga untuk menyayangi Sara tanpa melihat dia siapa, bahkan kasih sayang yang kau berikan, porsinya sama dengan apa yang kamu berikan kepada Bara, putra pertamamu." Dia berbisik.


Tubuh Balqis bergerak, kemudian berbalik memunggungi, dengan satu tangan yang semakin merapatkan selimut di tubuhnya.


Raga kembali beranjak, membawa satu bungkus rokok beserta korek yang dia simpan di dalam laci, lalu berjalan ke arah sudut, menyingkap gorden, dan membuka pintu kaca itu untuk keluar dan menikmati rokok di balkon kamarnya.


Hilir angin berhembus dengan kencang, menyapu wajah Raga sampai rambutnya bergerak tak tentu arah. Suasana pangsit begitu cepat, hamparan langit biru tua, dengan bintang yang bertaburan di setiap sisinya.


Dia duduk di kursi kayu. Membuka bungkusan rokok, mengeluarkan satu, dan menyimpannya di celah bibir. Raga menyalakan korek, menghisapnya kuat-kuat, mendiang menghembuskan asapnya begitu saja.


Entah kenapa tiba-tiba saja dia merindukan mendiang kedua orang tuanya. Dia benar-benar merasa sendirian, tapi untungnya dia mempunyai Balqis. Sosok yang dapat dijadikan teman untuk berkeluh-kesah, dan menjadi penyemangat saat Raga berada di fase terendah.

__ADS_1


"Ternyata keluarga berperan penting untuk kepribadian seorang anak. Dan itu terjadi kepada istrimu Raga, dia memiliki hati yang lembut, dan itu tak lepas dari peran kedua orang tuanya." Dia berbicara sendiri.


"Kamu merokok lagi!" Suara itu membuat Raga menoleh.


Pria itu terkejut bukan main, apalagi saat mendapati Balqis yang berdiri di ambang pintu, dengan wajah sembab khas bangun tidur.


"Kamu bangun lagi?" Raga balik bertanya.


"Ah aku sudah curiga kalau kamu masih merokok."


Raga diam.


"Kamu pura-pura tidur?"


"Mana ada pura-pura tidur. Aku kebangun tahu, terus nyium bau rokok, eh pintu balkon kebuka, mana anginnya kenceng banget lagi!"


Balqis menatap wajah suaminya lekat-lekat, sementara Raga tersenyum samar, dan kembali menikmati satu batang benda mengandung nikotin.


"Cepatlah buang, kita tidur sudah malam. Kamu harus istirahat, kamu sudah marah-marah seharian, apa tidak lelah?"


Setelah mengatakan itu Balqis kembali melenggang ke arah dalam, naik ke atas tempat tidur, berbaring miring memeluk putranya yang tak terganggu sama sekali.


Klek!


Pintu terdengar di tutup, diiringi suara derap langkah kaki yang mendekat, lalu tempat tidur bergerak-gerak, dan satu tangan menelusup masuk melalui celah pinggang antara tangan dan pinggang istrinya.


"Selamat tidur Mami." Ucap Raga seraya mencium puncak kepala istrinya.


Balqis berbalik badan, memeluk Raga dan membenamkan wajahnya di dada sana.


"Selamat tidur juga Papi."


"Kamu tidak mau memberikan ciuman pengantar tidur?"

__ADS_1


Kepala Balqis menengadah, lalu mencium bibir suaminya beberapa kali.


"Selamat tidur, Papi!"


__ADS_2