
Sumi menghembuskan nafasnya dengan perasaan sedih. Bahkan matanya terpejam ketika rasa sesalnya terus menyeruak memenuhi diri. Dan itu terjadi karena Ayumi yang tiba-tiba saja memutuskan teleponnya tanpa mendengarkan kata-kata perpisahan yang biasa Sumi ucapkan.
"Why!?" Valter segera mendekat ketika Sumi meletakan ponsel di atas nakas samping tempat tidur.
Sumi menatap suaminya dengan raut sendu. Kemudian mendudukan diri di tepi ranjang, berdampingan dengan istrinya.
"Terjadi sesuatu? Tapi sepertinya tadi Ayumi terdengar ceria-ceria saja." Valter segera bersimpuh di hadapan Sumi.
Meraih tangan Sumi yang terletak di atas paha. Mata Valter bergerak-gerak, menatap manik istrinya saat ini, yang sepertinya setiap kali dia mengingat Ayumi akan merasa sedih.
"Ayumi." Suaranya lirih.
"Ya, kenapa putriku?" Suara Valter terdengar begitu lembut.
"Dia marah, Valter. Bahkan dia langsung menutup sambungan teleponnya sebelum mendengarkan kata selamat tinggal dariku." Dia menatap pria yang berada sangat dekat dengan dirinya.
"Marah?" Rancau Valter.
Sumi menganggukan kepalanya.
"Dia meminta kita untuk pulang bulan depan. Dia mengadakan pesta baby shower, … saat usia kandungannya sudah menginjak 7 bulan nanti. Tapi aku mengatakan jika sepertinya kita belum bisa berjanji, usahamu sedang naik pesat, lalu kamu melakukan renovasi, … dan itu yang mungkin membuat kita tidak bisa pulang. Belum lagi cuaca sekarang yang akan membuat semua prosesnya sedikit agak lebih lama."
Sumi menumpahkan rasa cemas yang terus menghantui kepalanya, sampai terus terdengar berteriak menyalahkan dirinya sendiri atas kemarahan Ayumi, putrinya.
Wanita itu membungkuk, menelungkup wajah di kedua tangannya, dan setelah itu beralih meremat rambut yang masih basah, cukup kencang.
"Aku memang tidak berguna. Aku menginginkan dia, tapi setelah itu aku tinggalkan begitu saja." Kata Sumi dengan nada frustasi.
"Laras, …"
"Tidak Valter. Aku ibu yang sangat buruk."
"Kenapa berbicara seperti itu?"
Valter segera bangkit, duduk kemudian menarik Sumi sampai wanita itu kini berada di dalam pelukannya.
"Apa yang akan Ayumi pikirkan setelah ini? Dia pasti mengira aku kembali menelantarkannya, padahal sebelum itu aku berusaha mendekat dan diterima dengan baik oleh putriku sendiri." Sumi benar-benar terlihat frustasi.
"Kapan Ayumi memintamu pulang?" Valter mengusap-usap punggung istrinya.
"Bulan depan. Entah tanggal berapanya Ayumi tidak bilang. Dia langsung murung saat aku menjelaskan kesibukanmu!" Ujar Sumi kepada suaminya.
Valter mengangguk.
"Nanti aku Carikan tiketnya. Tapi sekarang berhentilah terus berkata buruk terhadap dirimu sendiri, … kamu ibu yang hebat! Kau tahu kenapa?"
Sumi sedikit mengurai pelukannya, menengadahkan pandangan, lalu menggelengkan kepala.
"Karena kamu terus bersabar, menunggu waktumu untuk bisa menemui Ayumi. 20 tahun bukan waktu yang sebentar, tapi kau bisa melalui semuanya sendirian, bahkan aku kira kamu lebih hebat daripada aku. Jika saat itu kamu berdiri tegar, sementara aku terpuruk dengan segala aturan dan ancaman Susi." Dia mengingat beberapa kejadian.
Pria itu berusaha membuat Sumi berhenti mengatakan dan menyebutnya sebagai seorang ibu yang sangat buruk. Karena kenyataannya tidak seperti itu, walaupun Sumi tidak membesarkan Ayumi secara langsung, namun kegigihannya bertahan kini sudah membuahkan hasil.
__ADS_1
"Tapi kamu?"
"Jangan pikirkan aku, aku baik-baik saja. Aku mengerti keadaan kamu dan Ayumi saat ini. Sementara Ayumi dia hanya memikirkan kamu ibunya, dan dia merindukanmu sekarang."
Sumi menatap wajah Valter lekat-lekat.
"Katakan kapan kamu mau pulang, nanti aku Carikan tiketnya dengan segera."
"Ahh, … tidak salah jika hatiku memilihmu, ternyata kamu sebaik ini!" Sumi kembali memeluk Valter, menempelkan pipi di dada sana, dengan lilitan tangan Sumi di pinggang Valter yang terasa semakin erat.
"Jangan bersedih. Aku tidak suka melihat air matamu terus mengalir, cukup dulu. Sekarang biarkan aku membahagiakan kalian, … meskipun mungkin Ayumi tidak sepenuhnya dapat kasih sayangku, tapi setidaknya aku sudah berusaha. Karena bisa dibilang pekerjaan Randy lebih berpotensi daripada pekerjaan Papanya, … yang hanya seorang pemilik Cafe kecil-kecilan." Kata Valter
"Ah kamu selalu merendahkan diri. Kalian itu sama saja, mempunyai usaha dan uang yang cukup untuk menghidupi anak istri masing-masing." Ucap Sumi.
Sementara Valter hanya mengulum senyum ketika mendengar istrinya mengucapkan itu.
***
Randy segera memasuki kamar sepulangnya dari halte bus setelah mengantar Ibu juga kedua mertuanya. Namun alangkah terkejut Randy saat mendengar isakan pelan di balik selimut tebal di atas tempat tidur sana.
"Ay kamu kenapa?" Randy langsung berlari menghambur ke atas tempat tidur, kemudian menyingkap selimut yang Ayumi pakai untuk menyembunyikan wajahnya.
Tangisannya terdengar begitu pilu, bahkan isakan kini lebih mendominasi, dan itu membuktikan jika Ayumi menangis benar-benar dengan perasaan yang sangat sedih.
"Kenapa?" Pria itu langsung meraih tubuh itu dan mendekap dengan penuh kasih dan sayang.
"Ibu dan Bapak harus pulang, Ay!" Dia berusaha meredam tangisan istrinya, saat merasa jika Ayumi menangis karena tidak mengizinkan para orang tua pulang ke kampung sana.
"Ay. Sudah sayang, kasihan Bayi nya kalau kamu terus menangis, dia juga pasti ikut sedih, … lagi pulang Ibu dan Bapak pulang itu untuk melihat keadaan Amar. Mungkin mereka khawatir dengan apa yang Amar makan jika mereka terus disini. Mie instan? Sehari dua hari bisa, tapi kalo sampai berminggu-minggu tidak biak, kasihan Amar, … meskipun dia pernah berbuat buruk kepadamu, tapi aku juga manusia yang mempunya hati yang begitu rapuh jika mendengar hal-hal seperti ini." Randy terus bicara.
Sementara Ayumi mulai menghentikan tangisnya, meski isakan terus terdengar beberapa kali.
"Ini buka tentang Ibu dan Bapak."
"Lalu? Tangisanmu yang seperti ini benar-benar membuat aku khatir kau tahu? Kesepian memang selalu membuatmu seperti ini bukan? Maka aku izinkan Una dan Aira bermain atau menginap, … apapun asal kau tidak sedih." Dia mengusap kepala Ayumi, kemudian memberikan beberapa kecupan di wajah istrinya.
Ayumi mengusap kedua pipi menggunakan punggung tangannua.
"Ini soal Ma-mah!" Suaranya tercekal isak tangis yang masih tersisa.
"Kenapa dengan Mamamu? Terjadi sesuatu sampai kamu menangis seperti ini? Kamu bilang mau tidur tadi, aku pulang malah menangis tersedu-sedu seperti ini!"
"Mama nggak pulang, padahal aku udah berharap banget Mama hadir di acara kita, … acara cucunya." Jelas Ayumi.
Perempuan itu kembali menelusupkan wajahnya di dada sang suami, kemudian menangis dengan suara cukup kencang.
"Ay!"
Pandangan Randy menunduk, melihat wajah Ayumi yang terlihat sudah sangat sembab, belum lagi hidung yang memerah, membuat pria itu merasa tidak tega melihatnya.
"Kenapa tidak bisa? Tidak punya tiket? Nanti kasih kabar Abang yang belikan!" Randy mengusap pipi Ayumi dengan sangat lembut.
__ADS_1
Ayumi menggelengkan kepalanya.
"Usaha Papa tidak bisa di tinggal. Selain ramai sekarang sedang dalam tahap renovasi, … badai salju membuat pengerjaannya sedikit lambat. Jadi ada kemungkinan Mama dan Papa nggak bisa hadir." Jelasnya sambil terus menangis.
Randy terdiam. Dia memperhatikan wajah Ayumi dengan seksama. Raut wajah yang begitu sendu, tangisan yang begitu dalam, menandakan jika istrinya memang benar-benar sudah tidak bisa jauh dari Sumi, ibu kandungnya. Kebersamaan yang pernah hilang, atau bahkan tidak ada sama sekali, membuat Ayumi sedikit lebih manja kepada Sumi, karena wanita itu pun melakukan hal yang seharusnya. Memanjakan putri semata wayangnya dengan penuh kasih sayang.
Mungkin seharusnya Ayumi bersikap menjauh, membenci Sumi juga Valter ayahnya. Namun istrinya berbeda, dia mempunyai cinta yang begitu besar, sampai dia dapat menerima Sumi tanpa sebuah alasan kuat yang harus orang tuanya berikan.
"Tenanglah, nanti aku usahakan agar Mama dan Papamu bisa datang."
Randy mendoronga kedua bahu Ayumi, menatap wajah cantik itu, lalu kemudian mengusap setiap bulir air mata yang berjatuhan dengan jemari tangannya.
"Sudah, jangan seperti ini. Suara tangisanmu terdengar begitu menyedihkan, aku tidak sampai hati mendengarnya." Kata Randy lagi.
Ayumi mengangguk, menuruti apa yang Randy katakan.
"Kau lelah?" Tanya Randy.
Ayumi mengangguk lagi.
Randy berbaring miring, lalu menepuk lengannya, meminta Ayumi untuk ikut berbaring, dengan lengan yang Randy jadikan sebagai tumpuan kepala sang istri. Lagi-lagi Ayumi menuruti suaminya, dia berbaring tepat di samping Randy, dan memeluknya kembali.
Wajah Ayumi terbenam di dadanya, sementara Randy mengusap kepala Ayumi, menatap perempuan itu dengan perasaan tak menentu.
"Sudah, jangan menangis lagi. Ada aku disini yang selalu ada untukmu."
"Tidak. Abang cuma ada Sabtu-Minggu! Sisanya pagi kerja pulang sore, … kalau banyak kerjaan ya malem ketemunya sebelum tidur, atau pas bangun karena aku tidur duluan." Tukas Ayumi.
"Hemmmm, … dan aku melakukan ini untuk kamu, untuk kalian. Agar anak dan istriku tidak kekurangan, kalian bisa membeli apa yang kalian inginkan, aku ingin nanti kalian hidup dengan layak." Tangannya terus mengusap-usap kepala Ayumi.
"Sekarang sudah layak."
"Belum. Ini masih kurang! Aku ingin membelikan rumah untukmu, menyediakan usaha yang bisa kamu kelola nanti. Kamu tahu tidak? Aku selalu berpikir, aku ini jauh lebih tua darimu, dan jika aku harus pulang lebih dulu, maka aku tidak akan takut kalian kekurangan, aku ingin meninggalkan kalian dalam ke adaan cukup."
Ucapan itu sontak membuat Ayumi menjauhkan dirinya, dan menatap Randy dengan raut ketakutan.
"Tidak! Jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa jika tidak dengan kamu." Katanya lalu kembali memeluk Randy.
Bahkan sekarang lebih erat, seperti benar-benar takut jika Randy akan pergi.
"Ini hanya perumpamaan, sayang!" Pria itu terkekeh kencang.
"Perumpamaan kamu jelek. Aku nggak suka, aku nggak mau denger lagi! Sudah cukup aku merasa benar-benar kesepian sejak dari kecil, maka sekarang aku tidak mau merasakan itu, … Abang harus tetap sama aku sampai kapanpun, sampai anak-anak besar, kalo bisa sampe punya cucu yang banyak."
"Baiklah-baiklah, kita akan sama-sama sampai jadi kakek dan nenek." Pria itu tertawa pelan.
Cup!!
Randy mencium puncak kepala istrinya.
"Sudah, sekarang ayok tidur. Kamu kalau ngantuk suka rewel kaya Dede bayi!"
__ADS_1
Randy merebahkan kepalanya di atas kepala Ayumi, mulai memejamkan mata, dan berusaha menghampiri mimpi indah pada sore hari ini, bersama wanita yang sangat dia cintai tentunya.