
Selesai menyantap hidangan yang Maria siapkan. Gadis itu segera berjalan kearah wastafel untuk membasuh tangannya yang kotor, diikuti Randy yang berjalan di belakangnya, sementara Maria, wanita itu masih betah duduk di kursi meja makan, melihat interaksi anak juga calon menantunya setelah lebih dulu dia membersihkan tangannya.
"Itu bagus." Tiba-tiba saja Randy berbicara.
Ayumi yang sedang memakaikan sabun di tangannya pun menoleh juga sedikit menengadahkan pandangan. Menatap Randy yang berdiri menjulang di belakangnya.
"Apa yang bagus?" Setelah itu dia kembali menatap tangannya yang masih di penuhi busa sabun.
"Kamu dan Ibu."
Ayumi bergeser, mempersilahkan Randy yang juga hendak membersihkan tangannya.
"Aku sedikit tidak menyangka, wanita baik yang selalu aku temui itu Ibu kamu. Tapi sayang, anaknya dingin, kurang peka, sama hobi berantem." Ayumi berbisik, lalu tersenyum tipis kearah kekasihnya.
"Dasar sok tahu! tahu dari mana aku suka berantem. Cool begini!" Randy terkekeh.
"Ibu. Waktu aku mau beli nasi kucing, aku lihat Ibu sedang menunggu sendirian di halte yang sepi, lalu aku dan Una berniat untuk menemani Ibu, tapi Ibu bilang tidak usah khawatir, ... karena jika ada orang jahat yang berani mendekat, penjahat itu akan habis oleh kamu." Ayumi terus tersenyum.
Sementara Randy diam bersedekap, menatap Ayumi yang sedang menjelaskan sesuatu.
Senyum yang manis, dan itu milik kekasihku.
"Kenapa kamu suka berantem?"
"Bukan suka, itu hanya bentuk pembelaan diri saja."
"Hemmm, ... Abang anak yang baik, membela Ibu dengan kemampuan kamu sendiri."
Randy tersenyum.
"Itupun yang akan aku lakukan juga kepada mu." Ujar Randy dengan suara rendah.
Ayumi terdiam, saat jantungnya kembali berpacu, hanya karena sebuah ucapan manis yang Randy katakan.
"Apa kalian akan terus berdiri disana?" Maria memanggil.
Sontak sepasang kekasih itu menoleh kearah suara secara bersamaan.
"Aku juga akan menjaga mu sebisa ku, menyingkirkan semua orang yang akan menyakiti kamu, tidak peduli siapapun orangnya." Setelah mengucapkan itu, Randy segera meraih tangan Ayumi, dan membawanya kearah sofa besar ruang tengah.
Maria mulai bangkit, kemudian berjalan menyusul, lalu duduk tepat di samping Ayumi.
Sepertinya Maria benar-benar menyukai kekasih dari putra satu-satunya itu.
"Besok masuk kerja?" Tanya Maria.
Ayumi menjawab dengan anggukan.
"Jadi, ... Ayu kerja di bagian apa?" Maria mengusap pundak Ayumi lembut.
Ayumi tersenyum sama, menundukan kepala beberapa saat, lalu beralih menatap Randy.
Pria itu hanya tersenyum.
Dia mulai merasa minder. Jelas, akan sangat memalukan jika seorang Randy Danendra mempunyai kekasih yang hanya seorang Office girl.
Status sosial mereka cukup jauh. Randy yang sudah mapan, sementara Ayumi. Gadis itu masih berusaha untuk merintis dan memantaskan diri.
"A-aku ... aku kerja sebagai Office girl, Bu." Ayumi sedikit ragu.
Jemari tangannya saling meremas satu sama lain, saat ini dia benar-benar takut, dan harus mempersiapkan diri dari kenyataan yang ada.
"Oge?"
Ayumi mengangguk.
Namun hal yang tampa di duga terjadi. Maria justru memeluk tubuh Ayumi dengan sangat erat.
"Gadis yang hebat, ... kamu bisa membanggakan orang tua mu, bukan?" Maria menepuk-nepuk punggung Ayumi.
Gadis itu mengangguk, dia cukup terkejut dengan reaksi Maria.
Syukurlah, pekerjaan ku sepertinya bukan masalah.
Batin Ayumi berbicara.
Maria mendorong tubuh Ayumi, sampai tubuh mereka saling berjarak, dan bisa menatap satu sama lain.
"Jadi kapan Ibu bisa menemui orang tua mu?"
Deg!!
__ADS_1
Dada Ayumi seketika bergemuruh. Perasaannya campur aduk, antara bahagia, terkejut, tapi yang mendominasi adalah rasa bingung, entah harus apa dia menjawab pertanyaan dari calon ibu mertuanya.
"Ay!?"
Suara pria itu membuat Ayumi tersentak, sampai mengerjapkan mata beberapa kali.
"Ah, ... tidak usah terburu-buru. Biarkan semuanya berjalan seperti air mengalir." Maria tersenyum, seraya mengusap kedua tangan Ayumi.
***
Malam beranjak semakin larut.
Setelah berbincang banyak hal, di selingi canda dan tawa, akhirnya Ayumi berpamitan untuk pulang, saat jarum jam sudah menunjukan pukul Sepuluh malam.
Gadis itu berdiri diambang pintu mobil yang sudah terbuka.
"Ayumi pulang dulu ya, Bu." Pamit perempuan yang usianya jauh di bawah Randy.
Maria tampak melambaikan tangan, dengan bibir yang terus menyunggingkan senyum.
"Lain waktu kita harus bicara lagi." Maria berteriak.
"Iya, Bu." Ayumi membalas lambaian tangan Maria, lalu masuk dan duduk di kursi samping kemudi.
"Randy antar Ayumi dulu, Bu. Ibu masuk saja, tunggu aku di dalam." Titah Randy, yang langsung mendapatkan anggukan dari sang ibunda tercinta.
Pria itu segera duduk, menutup pintu disampingnya rapat-rapat, memakai sabuk pengaman, lalu menyalakan mesin.
Randy menoleh, dia tersenyum.
"Kenapa senyum-senyum?" Tanya Ayumi sembari menahan senyum.
"Kamu kenapa nahan senyum? nggak usah di tahan-tahan, lepasin aja biar plong!" Celetuk Randy.
Pria itu berusaha fokus, saat mobilnya berjalan mundur.
Jangan! Ayumi masih polos. Bahkan umut dia belum genap 20 tahun, tidak boleh membuat pikirannya terkontaminasi, dengan pikiran pria dewasa seperti diri mu Randy.
Tiba-tiba saja ucapan Maria terlintas, ketika keduanya berbicara dari hati ke hati, beberapa saat sebelum dia menjemput Randy.
Konyol memang, seorang ibu menanyakan sesuatu yang bersifat sangat pribadi, tapi yang membuat aneh adalah, Randy selalu menjawabnya dengan jujur.
Mobil yang berada di bawah kendali Randy itu melesat dengan kecepatan cukup tinggi, membelaj jalanan kota, pada hampir tengah malam.
Beberapa kali Randy menoleh, melihat kearah Ayumi hanya untuk memastikan jika perempuan itu tidak tertidur.
Namun senyumnya terlihat semakin lebar, saat wajah cantik nan menggemaskan itu kini tengah menahan kantuk.
"Tidur saja, nanti jika sudah sampai aku bangunkan." Ucap Randy dengan pandangan lurus kedepan.
"Sebentar lagi sampai, nanti pusing kalau tidur sebentar, lalu terbangun lagi." Suara Ayumi semakin serak.
Dia kembali menguap.
"Abang besok kerja?"
"Iya, kenapa?"
"Tidak, hanya berbasa-basi agar tidak mengantuk."
Randy terkekeh.
"Apa tidak ada bahasan lain? kenapa harus menanyakan jika besok aku bekerja atau tidak!" Katanya lagi, dengan suara tawa yang belum terhenti.
"Ya masa aku harus tanya sudah makan belum. Kan kita makan bareng-bareng tadi!"
Randy tertawa lagi, dan kali ini lebih kencang, sampai kepalanya mendongak kearah belakang.
"Bertanyalah yang benar. Seperti, ... menanyakan kapan saya akan melamar mu misalnya."
"Itu mah maunya kamu!" Sahut Ayumi.
"Ya, ... dan aku akan menjawab secepatnya. Karena aku sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi." Randy mengungkapkan isi hatinya.
Dia memang ingin segera menikah, selain umur, entah kenapa dia juga merasa takut akan kehilangan Ayumi.
"Kalau aku belum mau menikah bagaimana?" Ayumi mengubah posisi duduknya.
Dia duduk menyamping, menatap Randy yang terus fokus dengan setir mobil miliknya.
Pria itu diam.
__ADS_1
"Masih banyak yang ingin aku capai. Kuliah, ..."
"Kamu bisa kuliah setelah menikah, bahkan aku bisa membiayai kamu." Sergah Randy, memotong ucapan Ayumi.
"Tapi aku juga masih mau bekerja. Menjajal semuanya, tidak hanya menjadi OG, aku juga mau mencoba beberapa pekerjaan lain." Jelas Ayumi.
"Apa? menjaga toko kue? aku bisa mengabulkannya."
Kini Ayumi yang diam, gadis itu seolah merasa kehabisan kata-kata, saat Randy terus mempunyai jawaban atas alasannya.
"Abang, ... tapi ..."
"Tidak apa-apa, jika belum siap. Saya akan menunggu mu sampai siap!" Randy menoleh sekilas, lalu tersenyum.
"Iya, kita bisa bicarakan ini nanti."
Randy mengangguk.
***
"Mau masuk?" Tawar Ayumi, saat dia hendak membuka pintu mobil di sampingnya.
Randy mengulum senyum, lalu menggelengkan kepala.
"Sudah malam, bahaya."
"Kok bahaya? ayok masuk, nanti aku bikinin Milo hangat."
"Dari mana air panasnya? kamar mu kosong melompong begitu."
"Uang dari Abang aku belikan dispenser, sama rice cooker."
Mendengar itu Randy cukup terkejut.
"Astaga Ay ..."
"Shutttt, ... aku nggak nyuruh Abang ngomen, aku nawarin Abang mau masuk dulu atau nggak." Ayumi menutup bibir Randy dengan telapak tangannya.
Randy mengangguk pelan, dia menuruti apa kata Ayumi.
"Memangnya tidak apa-apa?"
"Disini bebas, Abang tahu sendiri bagaimana penghuni kamar kost paling depan. Mereka bahkan setiap malam mempunyai tamu laki-laki, ... lagian aku sama Abang kan nggak macem-macem, cuma mampir terus minum, nggak lebih."
Setelah mengatakan itu Ayumi segera menarik handle pintu kemudian segera keluar.
Dia tidak tahu saja, bagaimana kacaunya aku saat menahan sesuatu agar tidak terjadi.
"Abang!?"
"Kamu saja, saya langsung pulang. Kasian Ibu di rumah sendiri."
"Beneran? nggak mau masuk?"
"Tidak."
"Tidak mau minum?"
"Tidak."
"Setidaknya antar aku sampai pintu kamar."
"Tidak Ayumi!"
"Ish, ... bapak maunya apa? tidak ... tidak melulu dari tadi!" Ayumi mendengus kesal.
"Mau cium saja, itu pun jika boleh."
Randy tersnyum.
Ayumi yang mengerti pun kembali melangkahkan kakinya, membunguk, masuk kedalam dan meraih bibir milik Randy, untuk ia kecup beberapa kali.
"Sudah, kalau begitu aku masuk. Abang hati-hati, jangan ngebut. Kalau sudah sampai telfon aku."
"Baiklah."
Ayumi menutup pintu mobil, membiarkan dia melaju mundur, dan melesat setelah masuk kedalam jalanan utama.
"Dadah ganteng." Ayumi melambaikan tangannya, lalu masuk kedalam kawasan kost-kostan yang terlihat sedikit sepi, sampai dia merasa aman dari mulut-mulut jahat tetangga kamarnya.
Yahh ... belum mau di ajak nikah. Gimana dong?
__ADS_1