My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 167 (Tanpa titik temu)


__ADS_3

"Kalian mau pergi kemana? Ini sudah mau jam tujuh malam?" Sumi bertanya kepada Ayumi yang datang menghampirinya dengan keadaan rapih, di susul Randy setelahnya dengan keadaan yang sama.


"Mau ke toko peralatan Bayi dulu." Ayumi tersenyum sumringah.


"Peralatan Bayi?" Wanita itu menatap anak dan menantunya bergantian.


Randy mengulum senyum, kemudian menganggukan kepala.


"Baru juga tiga bulan. Masih jauh, Ay!"


"Bukan!" Ayumi tertawa kencang. "Aku sama Abang mau cari kado buat cucunya Om Al, istrinya Bang Nior melahirkan. Jadi malam ini aku mau cari kadonya, besok baru Mama sama Papa ikut." Jelas Ayumi.


"Oh iya, Om Valter dimana?" Randy menatap sekitar.


"Tadi mau mandi katanya."


Ayumi dan Randy mengangguk. Mereka mencium punggung tangan Sumi bergantian, dan beranjak pergi setelah nya, di antar Sumi sampai teras depan seperti biasa.


Mobil sedan berwarna hitam itu mulai mundur dengan sangat perlahan, berbelok memasuki jalanan komplek, kemudian melaju meninggalkan kediamannya setelah menekan klakson beberapa kali. Setelah itu Sumi kembali masuk, menutup pintu rumahnya dan berjalan ke arah taman belakang, salah satu tempat ternyaman menurut Sumi untuk menikmati keindahan langit malam.


Sumi duduk di kursi tengah taman, di temani bohlam-bohlam menyala yang bergelantungan menghiasi area sana. Pandangan Sumi menengadah, menatap langit biru tua dengan taburan kemerlip bintang-bintang yang begitu cantik.


Lagi-lagi hatinya merasa begitu lega, seperti ada sesuatu yang terlepas dari dalam dirinya setelah puluhan tahun tersimpan di dalam rongga dada. Apalagi ketika melihat Ayumi kini sudah hidup dengan layak.


Suami yang baik dan sangat mencintai dia, juga ekonomi yang memadai, sampai dia benar-benar tenang, karena kini Ayumi tidak akan mengalami kesulitan dalam hal apapun.


"Mama senang kamu hidup dengan layak. Bahkan bisa dikatakan kini kamu mempunyai segalanya, setelah ini Mama tidak akan merasa takut, Mama tenang karena Randy akan melindungi kamu bagaimanapun keadaannya." Sumi bermonolog.


Dia terus menatap langit dengan seulas senyum yang terus terlihat. Tanpa menyadari keberadaan Valter yang sudah berdiri di belakangnya, dengan kedua tangan yang sengaja dia sembunyikan di dalam saku celana.


"Sampai kapan kamu akan terus mengkhawatirkan orang lain? Sementara kamu acuh akan dirimu sendiri." Valter berujar.


Sumi segera menoleh.


"Ayumi sudah menikah, dia dikelilingi orang-orang yang menyayangi dia. Yang mengkhawatirkan itu sebenarnya kamu, hidup sendiri di dalam rumah kecil di tengah-tengah desa terpencil."


Valter berjalan mendekat, kemudian duduk tepat di samping Sumi. Sementara Wanita itu tak hentikan mengarahkan tatapan kepada pria itu.


"Aku kira kamu sudah mau tidur, bukankah besok kita harus kembali pagi-pagi sekali. Lusa kamu pulang bukan, jadi harus banyak beristirahat."


"Ini masih sangat awal untuk beristirahat." Jawab Valter singkat.


Sumi mengangguk, dia kembali menatap lirih ke arah depan.


"Lalu kenapa kamu malah duduk disini?"


"Aku hanya mau menunggu sampai Ayumi pulang nanti. Mereka sedang menghabiskan waktu bersama."


"Lalu kamu mau tetap disini? Kenapa kita tidak jalan-jalan juga? Menghabiskan waktu bersama sebelum aku pulang dan kita benar-benar hidup masing-masing setelah ini. Bahkan aku tidak tahu bisa kembali kapan, Bisnisku sedang baik … tidak mungkin aku harus selalu meninggalkannya."


Mendengar kata-kata itu membuat Sumi tiba-tiba menjadi sedih. Penyebabnya apa, dia pun tidak tahu.


"Jadi ayo kita keluar bersama. Setidaknya hubungan kita sudah benar-benar membaik, dan aku merasa lega."


Sumi menoleh lagi, menatap wajah Valter lekat-lekat. Pria yang masih tampan di usia matangnya. Hati Sumi bergetar, rongga dadanya terasa begitu sesak, apalagi tatapan Valter menyiratkan banyaknya rasa sedih tapi dia berusaha menyembunyikannya.


"Di depan gerbang utama ada yang jualan angkringan. Mau kemasan? Sepertinya minum bandrek susu enak, apalagi udara saat ini terasa jauh lebih dingin dari pada biasanya." Ajak Sumi.


Tentu saja Valter menganggukan kepalanya, dia tidak akan menolak apapun ajakan Sumi.

__ADS_1


"Baiklah, ayo."


Sumi bangkit, dan beranjak pergi terlebih dulu, meninggalkan Valter begitu saja yang mulai berjalan perlahan-lahan di belakangnya.


"Bi mau ikut jajan angkringan?" Ajaknya kepada Dini, namun perempuan itu segera menggelengkan kepala.


"Yakin?"


"Bu Sumi saja."


"Baiklah kalau begitu nanti pintu belakang jangan di kunci yah."


Sumi kembali melangkahkan kaki, melewati beberapa sofa ruang tengah, sampai kini dia benar-benar meraih pintu utama yang terlihat sangat besar.


"Tidak usah pakai mobil, kita jalan kaki saja." Kata Sumi sebelum wanita itu keluar melewati pintu rumah.


Valter mengangguk.


"Lagi pula berjalan kedepan tidak akan membuat kita kelelahan. Aku harus berhemat juga mengirit bahan bakar, jasa sewa mobil disini sangat mahal."


Valter melewati pintu kayu tersebut, dan tak lupa menutupnya sampai kunci otomatis berbunyi 'klik'


"Memangnya berapa?" Tanya Sumi seraya memakai sendal miliknya.


"Untuk sehari aku harus membayar sewa sebanyak 400rb."


"Lalu kamu menyewanya untuk berapa hari?"


Mereka berdua berjalan beriringan. Menyusuri jalanan cluster yang tampak sedikit lengang.


"Satu bulan." Valter menjawab dengan santai.


"Kau ini gila atau bagaimana?"


"Aku hanya ingin merasa mudah kemanapun aku pergi."


"Ada bis atau ojek, bahkan taksi online juga ada di mana-mana."


Valter tersenyum, reaksi Sumi seolah sedang memarahi suaminya yang sedang berbuat kecerobohan.


Keadaan menjadi hening seketika. Tidak ada lagi yang memulai pembicaraan, sampai keduanya sampai di sebuah tenda dimana penjual nasi kucing berada. Suasana disana sedikit terlihat ramai, ada beberapa anak muda yang tampak tengah menikmati angin malam dengan segelas minuman manis bercitarasa sedikit pedas.


Sumi memesan beberapa tusukan tanpa nasi, dia meminta untuk dihangatkan terlebih dulu, tak lupa meminta sambal dan memesan dua gelas Bandrek susu kepada sang penjual. Keduanya kini duduk lesehan, hanya tikar yang menjadi alas, tapi Valter tampak tak masalah.


"Ahh, … ini tempat anak muda!" Valter bergumam, namun Sumi masih dapat mendengarnya dengan sangat jelas.


"Memangnya kenapa? Tidak ada larangan jika paruh baya seperti kita tidak boleh datang."


"Tidak juga, hanya sedikit merasa malu saja. Kita seperti datang untuk pacaran sama halnya dengan mereka." Valter terkekeh.


Sumi menggelengkan kepala, dengan senyum samar yang dia perlihatkan.


Beberapa menit duduk disana. Menunggu pesanan yang tak kunjung datang. Keduanya memilih diam, sibuk dengan ponsel masing-masing, berusaha menghindari kecanggungan yang mulai terasa.


"Maaf lama Bu, … mister."


"Its okay." Valter tersenyum ramah kepada pria yang tengah meletakan dua gelas Bandrek susu, dan satu piring berisikan beberapa tusukan dengan sambal yang menjadi pelengkapnya.


"Terimakasih, ya mas." Ucap Sumi.

__ADS_1


Pria itu mengangguk lalu beranjak pergi, kembali duduk di depan gerobak jualannya.


Sumi meraih minumannya, meniup-niup beberapa kali, dan menyeruputnya dengan sangat hati-hati. Begitupun dengan Valter, dia berusaha menikmati minuman yang Sumi pesankan, meski lidahnya masih merasa aneh dengan rasa pedas yang dihasilkan dari air jahe.


"Bukankah kamu sebulan disini? Tapi kenapa susah mau pulang?"


"Untuk apa? Terlalu lama disini juga tidak ada gunanya." Valter menyimpan gelas minumannya.


Sumi mengangguk, kemudian diam. Berusaha mencari topik pembicaraan.


"Valter?'


"Ya?"


"Setelah ini apa yang mau kamu lakukan? Maksudku setelah kamu pulang ke Jerman."


"Menjalani hidupku, apalagi?"


"Kamu tidak mau menikah lagi?"


Tiba-tiba saja Sumi bertanya demikian, sampai Valter memicingkan mata ke arah Sumi.


"Pertanyaanmu itu kenapa?"


"Bukan menikah denganku, tapi dengan wanita lain yang lebih pantas?"


Valter diam.


"Menikahlah. Tidak ada lagi beban berat yang harus kau tanggung. Keluargaku sudah tenang, begitupun aku, Ayumi sudah menemukanku, dan itu cukup."


Valter masih diam dengan posisi yang sama.


"Setidaknya ada manusia lain yang akan menemani kamu. Agar hidup tidak terlalu kesepian …"


"Lalu bagaimana denganmu?" Sergah Valter, pria itu memotong ucapan wanita di hadapannya.


"Aku akan tetap seperti ini."


"Kau memberiku saran untuk menikah, seolah ingin melihat hidupku lebih baik lagi sekarang. Tapi kamu sendiri?"


Kini Sumi yang diam. Pandangan Sumi bahkan tertunduk ke bawah, rasanya terasa rumit, dan tidak akan ada siapapun yang mengerti selain hati kecil dan Tuhannya sendiri.


"Aku mengajakmu menikah, tapi kau meminta aku menikah dengan orang lain. Kau selalu berbicara kalau aku ini gila, tapi yang sebenarnya gila itu kamu! Aku tidak mengerti jalan pikiranmu bagaimana." Cicit Valter dengan raut penuh kekecewaan.


"Kau tidak mengerti."


"Tentu saja kalau kau memberiku sebuah alasan maka aku akan mengerti."


"Kita tidak mungkin menikah Valter. Kau suami dari Kakak ku! Itu tidak mungkin, aku sudah tidak mau mendengar omongan yang menyakitkan dari orang-orang yang tahu siapa kita dulu. Termasuk Bu Maria, Pak RT dan Bu Nur, belum lagi tetangga lainnya, aku tidak bisa. Kau selalu terlihat merenung, mengkhawatirkan banyak hal, mungkin salah satunya teman hidupmu. Maka dari itu menikahlah dengan siapapun, wanita baik yang akan menemanimu di dunia yang fana ini.


Pria itu menggelengkan kepala.


"Aku akan memilih sepertimu. Menjalani hidup apa adanya, tidak apa-apa sendiri yang penting aku tidak berbahagia di atas penderitaan orang lain."


"Aku akan baik-baik saja. 20 tahun bukan waktu sebentar, dan aku bisa sendiri. Aku masih bisa menghidupi diriku meski harus menjadi buruh cuci gosok, atau panggilan untuk merapikan rumah seseorang."


"Laras kau keras kepala." Celetuk Valter dengan ketidak lancarannya berbicara.


Dan itu terdengar begitu lucu, sampai Sumi terkekeh pelan. Sementara Valter meraih satu tusuk bakso bakar, dan memakannya dengan tatapan kesal yang terus dia tujukan kepada Sumi.

__ADS_1


"Obrolan kita selalu berputar-putar, dan tidak pernah menemukan titik temu." Kata Valter lagi ketus.


__ADS_2