My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Epa 07 (Kabar)


__ADS_3

Sekitar hampir lima belas menit Ayumi menghabiskan waktu di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Akhirnya dia keluar dengan keadaan segar. Terlebih dulu dia berjalan kearah pintu, menguncinya dan segera mencari pakaian yang berada di dalam sebuah lemari plastik.


Selesai berpakaian Ayumi kembali keatas tempat tidur kecil miliknya, membawa ponsel di dalam laci, lalu menyandarkan punggung pada dinding di belakangnya.


Tidak lama setelah itu pintu kamar kostnya kembali di ketuk beberapa kali.


Tok tok tok!!


Pandangan Ayumi langsung tertuju kesana, dia berdiri dan segera berjalan kearah pintu untuk segera membukakan nya.


Trek, ... klek!


Ayumi membuka pintu itu perlahan, dengan senyuman di bibir yang terus terlihat.


"Bener kata kamu, aku selesai mandi kamu da ...."


Degg!!


Ucapan Ayumi terhenti, senyum di bibirnya perlahan menghilang, saat mendapati orang lain yang berdiri di hadapannya.


Mereka sama-sama diam, menatap satu sama lain dengan ekspresi wajah yang tak bisa di jabarkan dengan kata-kata.


...~Flashback~...


"Beda cerita memang, kalau telfon orang sibuk!" Gadis itu menggerutu, saat panggilan telfonnya tak kunjung di terima.


Pandangan Una melihat sekitar, seolah takut jika Ayumi akan mengetahuinya. Lalu dia duduk, dan berniat mengirimkan pesan kepada Randy, sebelum pesan dari pria itu masuk terlebih dahulu.


[Siapa?]


"Siapa? dia nanya siapa? gitu doang! astaga padahal bisa sambil di angkat dulu, baru nanya siapa." Una kembali menggerutu.


[Saya Una, Pak. Temannya Ayumi, ada sesuatu yang mau saya sampaikan, jadi telfonnya mohon diangkat terlebih dahulu.]


Una membalas.


[Baik.]


Una semakin membulatkan mata, ketika menerima pesan balasan dari Randy. Yang terlihat singkat, padat dan jelas.


"Sumpah, ini es batu di kasih nyawa." Katanya, lalu menempelkan benda pipih itu pada daun telinganya.


Tuuutttt ...


Suara sambungan telfon mulai terdengar, dan tidak lama setelah itu suara berat milik Randy terdengar menyapa.


"Hallo?"


"Dengan Bapak Randy?" Una berbasa-basi.


Sementara pria yang saat ini tengah bersantai diatas sofa besar kamarnya memutar kedua bola mata.


"Ada apa menghubungi saya malam-malam begini?" Randy menatap jam yang masing melingkar di pergelangan tangannya.


"Begini ...."


"Saya tidak ada waktu untuk berbasa-basi!" Sergah Randy.


Una memejamkan mata, menghirup oksigen sebanyak mungkin, dan menghembuskannya pelahan, berusaha agar emosinya tetap stabil.

__ADS_1


Perasaan dulu sama Ayu nggak kaya gini. Una membatin.


"Tidak jadi berbicara? kalau begitu saya tutup telfonnya." Tegas Randy.


"Pak, ... Pak! Ini saya baru mangap, Bapak udah main selesai-selesai aja!"


"Cepatlah kamu mengganggu jam istirahat saya."


"Aduh saya bingung mau jelasinnya dari mana. Sekarang Bapak datang aja deh ke kostan Ayumi, keadaannya nggak baik-baik aja sampe Ibu kost ikutan khawatir, dia hampir bunuh diri." Kata Una yang langsung membuat Randy berdiri dari duduknya.


Pria itu terdiam dengan perasaan panik bukan main.


"Kirimkan alamatnya sekarang juga, saya kesana." Nafas Randy memburu.


"Siap, Pak. Jangan lupa di bawa ketempat makan, atau bawain makanan aja, Ayu belum makan." Tukas Una kepada pria itu.


***


Randy menatap keadaan Ayumi. Betul kata temannya tadi, keadaan gadis di hadapannya terlihat tidak baik-baik saja.


"Sampai kapan kamu akan menatap saya seperti itu?" Akhirnya Randy memulai obrolan.


Ayumi tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar terlihat bingung juga sedikit terkejut dengan keberadaan Randy di depan pintu kamar kostnya.


Una kemana?


"Sepertinya Bapak salah ketuk pintu." Ayumi berujar dengan suara yang terdengar cukup pelan.


Pelahan dia mundur, dengan satu tangan yang sudah meraih gagang pintu.


Dia berniat menutup pintunya.


"Tujuan saya memang kesini. Melihat keadaan mu!"


Ucapan itu mampu membuat jantungnya berdegup semakin kencang, walau Ayumi bersikap biasa saja, namun perasaannya hampir meledak, apalagi ini pertama kalinya mereka kembali berdekatan setelah sekian lama saling manjauh.


"Ayok kita bicara. Tapi pakai dulu jaket mu, udara di luar cukup dingin."


Sikapnya mulai menghangat.


"Ta-tapi ...."


"Ayok ambil jaket mu, atau apapun untuk melapisi kaos lengan pendek mu itu. Keadaan mu sangat mengkhawatirkan, mungkin kamu butuh jalan-jalan." Katanya lagi yang langsung mendapat sebuah anggukan pelan dari Ayumi.


Gadis itu masuk, membawa jaket denim, ponsel juga dompet kecil miliknya dan segera keluar, menghampiri Randy yang berdiri menunggu di luar sana.


Sekilas Ayumi menatap wajah Randy, lalu beralih kepada pintu untuk langsung menutup dan menguncinya.


Ayumi menoleh, sembari memasukan kunci kamar miliknya.


"Sudah?" Randy menatap Ayumi, lalu tersenyum samar.


Terlihat sederhana, tapi membuat sesuatu di dalam hatinya terus berdebar lebih kencang lagi.


"Aku pamit ke Bu Amel dulu!" Ucap Ayumi sembari melangkahkan kakinya.


"Saya sudah izin. Dia tinggal di rumah besar yang di dekat gerbang kan?" Tanya Randy.


Ayumi mengangguk.


"Iya sudah, aku pergi kesana dulu sebelum kesini."

__ADS_1


Ayumi mengulum senyum, dia menundukan kepala untuk menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.


Keduanya berjalan beriringan, menuju sebuah mobil yang terparkir di depan pintu gerbang yang hanya terbuka sedikit.


Randy menekan sesuatu yang ada di dalam genggaman tangannya, sampai lampu mobil itu berkedip beberapa kali.


"Cepat masuk." Titah Randy.


"Tapi, Pak. Ini sudah malam, ... kita mau kemana?" Ayumi bertanya.


Pria itu tidak menjawab, dia hanya kembali berjalan kearah Ayu, meraih tangannya dan membawa gadis itu mendekat kearah pintu mobil dan membukakan nya.


Gadis itu menengadahkan pandangan, menatap Randy dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat menggemaskan.


"Pakai seatbelt mu."


Setelah mengatakan itu Randy menutup pintu mobil di samping Ayumi. Kemudian memutari mobil, membuka pintu, masuk dan duduk di samping Ayumi.


Gadis yang terus berusaha mempertahankan kesadarannya. Tentu saja, berada di dekat Randy membuat fokusnya sedikit buyar.


Mesin mobil itu mulai menyala. Dan dengan lihainya tangan kekar Randy memutar setir mobil miliknya, sampai mobil itu berbelok dan melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan kawasan dimana kost-kostan Ayumi berada.


Keadaan di dalam mobil sana cukup hening. Randy sibuk mengendalikan mobilnya, sementara Ayumi bungkam, dengan pandangan yang terus tertuju pada tangan pria di sampingnya.


Dia menahan senyum. Entah kenapa, dengan hanya melihat tangan kekar Randy, juga tato ular di tangannya sudah sangat membuat hatinya terus berpacu lebih cepat lagi dan lagi.


Astaga tuhan. Apa yang akan terjadi setelah ini? apa dia akan mengatakannya kembali? lalu aku harus menjawab apa?


"Kamu mau makan apa? biar saya carikan." Randy menoleh.


Ayumi diam.


"Hey?" Panggil Randy lagi.


Namun Ayumi tetap diam.


"Ayumi Kirana!?" Kini pria tampan itu sedikit menaikan intonasi bicaranya.


Kesadaran Ayumi kembali sepenuhnya, dia menoleh dengan raut wajah yang terlihat sangat terkejut.


"Jangan melamun. Nanti kesambet ... pantas saja kau ingin bunuh diri! kebiasaan mu melamun seperti ini." Cicit Randy tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.


"Bunuh diri!?"


"Ya, ... teman mu yang memberi tahu saya." Dia melirik sekilas, dan kembali menatap jalanan yang cukup lengang di hadapannya.


"Una?"


"Tidak tahu, saya lupa tadi siapa namanya."


"Astaga!" Cicit Ayumi dengan suara yang sangat pelan. "Bicara apa dia ini!" Sambungnya lagi.


"Jadi mau makan apa?"


"Terserah Bapak saja."


"Kalau terserah, saya bawa ke rumah saya mau?"


***


Acieee ... mau nggak nic ....

__ADS_1


...Eh, btw jangan lupa like, komen, hadiah dan vote yah!!...


...Malam ini vote mulai meluncur, jangan lupa. Sama klik favorit agar notifikasi nya berbunyi saat eps baru gentayangan :)...


__ADS_2