My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 85 (Sebuah kisah)


__ADS_3

Setelah menunggu kepastian selama 3 bulan lamanya. Akhirnya Laras tak lagi mengharapkan Alex untuk kembali menemuinya, seperti janji pria itu yang berkata akan segera kembali.


Laras memilih melangkah, melanjutkan hidup bersama seorang pria pribumi yang sudah puluhan kali menyatakan cinta, namun tak pernah dia gubris. Hingga sampailah pada waktu, dimana Bayu kembali menyatukan cinta, dan kali ini Laras berusaha menerimanya, karena menunggu pria yang sangat dia cintai pun hanyalah percuma.


Hubungannya berjalan lancar, Bayu yang sangat baik dan perhatian, mulai membuat Laras nyaman juga membalas perasaan yang sama. Semakin hari hubungan keduanya semakin serius, bahkan keluarga dua belah pihak sudah mengetahui satu sama lain.


Hingga sampailah pada waktu dimana Alex datang secara tiba-tiba, dimana sebuah acara pertunangan antara Laras dan Bayu sedang di laksanakan, membuat pria asing itu tampak kecewa, namun dia berusaha menutupi dengan raut wajah sumringahnya saat mendapat sambutan dari kedua orang tua Laras.


Alex merasa cintanya telah dikhianati, pria itu merasakan patah hati yang paling dalam. Cukup lama dia harus bekerja untuk mengumpulkan uang agar bisa langsung menikahi Laras tanpa harus banyak berbicara, tapi gadis itu memilih pinangan pria lain.


Lama Alex tinggal disana, dia mulai dekat dengan Nurma. Saudara kandung gadis yang sudah membuat hatinya patah berkeping-keping. Entah karena memang mau membuka hati, atau ingin membuktikan jika dia juga mampu segera mencari wanita lain sama halnya seperti yang Laras lakukan kepada dirinya. Dengan segenap keberanian Alex langsung menyatakan ketertarikannya kepada Nurma, yang langsung diterima perempuan itu tanpa banyak bertanya.


Karena kedekatan Alex dengan keluarga itu sudah terjalin sebelumnya, membuat kedua orang tua Laras dan Nurma menerima pinangan Alex, bahkan setelah itu mereka menikah. Membuat Laras yang sedang ada di persimpangan hati sedih bukan kepalang.


Ya tentu saja, Laras yang menunggu dalam jangka waktu yang tidak sebentar, mencoba menerima pria lain, yang mencoba mengikatnya dengan sebuah tali pertunangan, sedangkan Alex membalasnya dengan langsung menikahi Nurma, saudara kandungnya sendiri.


Hati wanita mana yang tidak hancur. Hanya saja dia menyembunyikannya dengan sangat sempurna, dan terus menjalani hidup sebagaimana mestinya, sebagai seorang tunangan pria baik bernama Bayu.


Dua manusia yang sempat saling mencintai itu hidup satu rumah. Tanpa sebuah sapaan atau obrolan seperti biasanya, mereka sama-sama menghindar dengan rasa kecewa yang begitu besar. Alex yang lebih fokus dengan Nurma istrinya, begitupun dengan Laras yang fokus dengan kekasih dan pekerjaannya, membuat keluarga Laras tidak mencurigai keduanya yang membuat jarak begitu jauh.


Padahal sudah jelas, jarak mereka tercipta bukan karena kesibukan Laras, atau Alex yang selalu sibuk bersama istrinya, tapi karena rasa cinta yang masih tersisa cukup besar, namun mereka berusaha hidup dengan pilihan masing-masing.


Dan sampailah pada waktu Alex dan Laras dipertemukan tanpa sengaja. Membuat keduanya sedikit canggung, dan pada akhirnya memilih berbicara empat mata, saat Nurma juga kedua orang tuanya sedang berdagang di pasar ikan.


"Bagaimana kabarmu?" Alex bertanya lebih dulu.


Laras tersenyum getir, lalu dia menundukan kepala.


"Aku tidak baik-baik saja, … sepertinya kamu tahu." Kata Laras.


Alex menatap Laras lekat-lekat.


"Sepertinya kita memang harus berbicara, mau sampai kapan saling menghindar!"


Laras mengangguk.


"Maaf aku sudah menerima pinangan orang lain." Laras menatap Alex.


"Ya, kau jahat. Padahal aku bekerja lebih keras agar bisa menikahimu." Kata Alex dengan nada dan raut kecewanya.


Laras tertawa pelan.


"Ya, tanpa sebuah ikatan cinta, dan kau menghilang tanpa kabar selama tiga bulan ini. Dan tentu saja aku yang jahat " Jawab Laras.


Mereka sama-sama diam untuk beberapa saat, menikmati hilir angin berhembus, dengan pandangan sama-sama lurus ke depan, menatap hamparan lautan yang begitu luas.


"Mungkin bulan depan aku akan membawa Nurma ke Jerman bersamaku."


Laras mengangguk, dia mencoba tersenyum, meski rasanya begitu sulit, karena hatinya benar-benar terluka.

__ADS_1


"Memang seharusnya begitu." Laras berujar pelan, bahkan suaranya terdengar bergetar. "Lanjutkan lah hidupmu, semoga kalian berbahagia, maaf karena sudah membuatmu kecewa sebelumnya, awalnya aku hanya ingin berhenti berharap, dengan menerima pria lain untuk masuk kedalam hatiku, tapi nyatanya tidak bisa, di jari manisku sudah tersemat cincin, tapi hati ini rasanya masih tetap kosong." Kata Laras, dia mengeluarkan isi hatinya.


Mendengar itu Alex menoleh, menatap gadis yang juga sedang menatapnya.


"Kamu tidak mencintainya?"


Laras tidak menyangkal atau mengiyakan, dia hanya tersenyum.


Dan itu membuat perasaan Alex berkecamuk. Dia bingung dengan Laras, apalagi saat dia mengatakan hal demikian.


"Kamu tidak mencintai dia, Laras? Tapi kalian bertunangan waktu aku datang."


Laras tidak menjawab lagi, dia tidak tahu harus menjawab apa, terlebih dia tidak mau terbawa suasana sampai menangisi sesuatu yang sudah jelas tidak mungkin dia dapatkan lagi.


Laras segera bangkit dari duduknya, hendak masuk kedalam rumah, namun Alex mencekal pergelangan tangannya cukup kuat, sampai dia tidak bisa bergerak sedikitpun.


"Kau belum menjawab pertanyaanku."


"Tidak penting, jawaban itu tidak akan membuat semuanya kembali."


Laras menghempaskan tangannya kencang, membuat genggaman tangan Alex terlepas begitu saja.


Dia berjalan memasuki kamar, berniat pergi sambil menunggu kabar pekerjaan, setelah beberapa hari dia di rumah karena tidak ada yang meminta jasa tour guide nya.


"Kita masih belum selesai Laras!" Alex menerobos masuk kedalam kamarnya.


Klek!


"Kau belum menjawab pertanyaanku yang terakhir." Dia semakin mendekat.


"Tidak penting."


Kini keduanya hanya berjarak beberapa senti saja. Bahkan Laras tampak menengadahkan pandangan saat menatap Alex.


"Kamu tidak mencintainya? Tapi kamu memilih menerimanya? Hubungan macam apa itu?"


Laras menggelengkan kepala.


"Lalu apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu berada disini? Kenapa kamu mau jawaban aku? Apa kamu juga menjalani sebuah hubungan tanpa cinta?"


"Jika iya kenapa?"


Kening Laras berkerut kencang, menggelengkan kepala pelan, dan menatap pria di hadapannya tidak percaya.


"Aku menikahi Nurma karena rasa kecewaku kepadamu, aku ingin membuatmu menyesal karena sudah meninggalkanku."


Jawaban itu membuat Laras semakin tidak menyangka.


"Kau gila!"

__ADS_1


"Ya, dan itu karena kau!"


Alex meraih pinggang Laras, lalu menariknya, sampai mereka saling menempel satu sama lain.


"Jika aku tahu kamu dia mencintainya, maka aku akan menunggu."


"Sekarang aku sudah mencintai Bayu, maka menyingkirlah dariku, … aku harus pergi siapa tahu ada turis lain yang membutuhkan jasa ku."


Laras berusa melepaskan Alex, mendorong-dorong dada bidangnya, namun itu tak berpengaruh, Alex tetap melilitkan tangan di pinggangnya bahkan semakin erat.


"Lepas!" Laras mulai memberontak.


Dan setiap kali dia bergerak, makan Alex semakin mempererat lilitan tangannya.


Cup!


Alex mencium bibir Laras.


Plak!


Laras menampar Alex dengan sangat kencang. Membuat pria itu mendorong tubuh Laras ke arah ranjang tidur, dan keduanya terjatuh di atas sana saling menindih.


"Aku mencintaimu."


"Berhentilah membual, awas aku harus pergi."


Namun bukannya menyingkir dari tubuh Laras, dia justru kembali membungkam bibir gadis di bawah Kungkungan tubuhnya yang terus bergerak meronta-ronta.


Dengan segenap tenaga Laras berusaha terlepas, mendorong dan memukul-mukul Alex. Namun tenaganya tidak sebanding dengan pria itu, bahkan kini dia meraih kedua tangan Laras, menariknya hingga ke atas kepala, membuat gadis itu tak mampu lagi melakukan apapun.


Alex semakin memperdalam ciumannya, menyalurkan rasa rindu yang terpendam, dan begitu mendalam.


Tubuh Laras mulai melemah, tenaganya seolah habis karena terus memberontak, dan melawan tenaga Alex yang begitu besar.


Dia memejamkan mata, seolah pasrah dan membiarkan pria di atasnya berbuat sesuka hati. Rasanya ingin terus menolak, berusaha mempertahankan akal sehatnya, tapi rasa itu begitulah besar, sampai dia benar-benar terbawa suasana.


"Aku mencintaimu. Maaf karena sudah mengambil keputusan sejauh ini." Ucapnya di sela cumbuan yang terjeda.


Laras tidak menjawab, dia tampak memejamkan mata dan menangis.


"Kita sudah gila, berhentilah sebelum ini semakin jauh dan tidak terkendali." Laras menjawab di sela isak tangisnya.


Alex menggelengkan kepala.


"Kita sudah sama-sama salah dari awal. Dan biarkan kesalahan ini berlanjut."


Alex menegakan tubuh, kemudian menarik lepas kaos yang dia kenakan saat ini.


"Jangan. Istrimu akan sangat hancur jika mengetahui ini." Tangis Laras semakin kencang.

__ADS_1


Dia hendak bangkit, dan berusaha menjauh, tapi Alex tak membiarkannya. Pria itu kembali mendorong tubuh Laras, mengungkungnya kembali, dan melanjutkan sesuatu yang sempat terjeda.


__ADS_2