
Tok tok tok!!
Sumi mengetuk pintu salah satu ruangan, dimana terlihat Valter sedang fokus menatap layar laptop, dengan kacamata baca yang melekat di wajahnya.
"Ya?" Seketika pria itu mengalihkan pandangan ke arah pintu, dan mendapati istrinya berdiri di sana.
"Seharian ini kamu terus bekerja. Padahal kamu sedang ada di rumah. Apa tidak mau istirahat sebentar? Atau memintaku membuatkan sesuatu untukmu?" Wanita itu menatap wajah suaminya lekat-lekat.
Sumi masuk ke dalam sana. Tak lupa menutup pintu ruangan itu kembali seperti semula. Sementara Valter merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum, meminta sang istri untuk mendekat dan duduk di atas pangkuannya seperti biasa.
Hubungan keduanya terjalin semakin baik. Bahkan terlihat tak sekaku biasanya, kini mereka terlihat seperti pasangan pada umumnya yang mulai menerima satu sama lain tanpa rasa gugup.
"Kamu bosan?" Valter menatap wajah Sumi lekat-lekat.
Wanita itu menggelengkan kepala.
"Hanya bingung saja. Apa yang harus aku lakukan, sementara kamu terus bekerja, … entah itu pergi atau hanya di rumah." Kata Sumi.
Pria itu terkekeh. Dengan pandangan yang terus tertuju pada wanita di hadapannya. Rasanya begitu bahagia, ketika melihat wajah sang istri dari jarak yang sangat dekat, dan dia selalu tersenyum bahagia.
"Katakan. Mau kopi? Atau coklat hangat?" Tawar wanita itu yang mulai merasa gemas kepada suaminya karena tidak pernah menuntut atau meminta apapun.
Tak jarang Valter membawa atau menyiapkan segala sesuatunya sendiri. Seolah masih terbiasa dengan hidupnya di masa lalu. Namun bukankah saat ini keadaannya berbeda? Dia mempunyai istri untuk dia andalkan disaat sibuk seperti itu.
"Kalau mau, … aku ambil sendiri." Jelas Valter, yang seketika membuat Sumi mencebikan bibirnya dengan raut kesal.
"Jangan cemberut. Nanti cepat tua!" Pria itu tertawa setelah mengatakan itu, dan membuat istrinya semakin kesal.
"Lalu apa gunanya aku disini?" Sumi dengan suara pelan. "Tahu begitu sebaiknya aku tidak ikut saja, di sini aku tidak mempunyai aktifitas seperti di Indonesia. Aku bingung kenapa di rumah ini semuanya menggunakan mesin, bahkan sampai mencuci piring sekalipun." Dia mengeluh.
Valter melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sumi. Saling menatap satu sama lain, kemudian pria itu tersenyum, dia gemas dengan ekspresi wajah istrinya sendiri.
"Kamu itu istriku! Bukan asisten rumah yang bisa kapan saja aku suruh. Bersantailah sedikit, nikmati masa-masa kita saat ini tanpa banyak mengeluh, nanti juga kamu akan terbiasa. Atau dari pada kamu bosan, kau bisa mencoba menghubungi putriku, tanyakan bagaimana kabarnya." Valter memberikan saran.
Sumi menghela nafas.
"Ayolah Valter. Ini jam enam sore!" Kata Sumi.
"Lalu?"
"Di Indonesia jam dua belas malam. Kamu tidak ingat?"
Valter menepuk jidatnya cukup kencang. Pria itu benar-benar lupa jika jarak waktu antara Indonesia dan Jerman terpaut 6 jam lamanya.
"Lagi pula aku sudah mengganggunya sejak tadi pagi. Dia sedang berada di kantor suaminya, … mengantar makan siang."
"Atau, … mungkin satu anak lagi lebih bagus! Kamu bisa melakukan banyak kegiatan, bagaimana?" Valter menggerakkan alisnya naik turun.
Langsung saja Sumi bangkit, lalu menggelengkan kepala.
"Yang benar saja. Kita ini sudah mau jadi Opa dan Nena." Sumi terkekeh.
Wanita itu segera berbalik badan, kemudian melangkahkan kakinya ke arah pintu, berniat segera pergi dari ruangan kerja suaminya.
"Hey! Mau kemana?" Valter memanggil.
"Ke dapur. Membuat pasta seperti biasa, aku akan kelaparan jika tidak makan malam, … mana cuaca sedang sangat dingin, aku tidak bisa tanpa makanan sebelum tidur." Jelas Sumi.
Namun Valter tertegun mendengar itu.
"Pasta lagi?"
"Aku belum bisa masak yang lain. Lagi pula kamu hanya makan roti, aku belum terbiasa dengan makanan itu." Jelas Sumi kemudian wanita itu benar-benar keluar, meninggalkan suaminya begitu saja.
Begitupun dengan Valter. Dia segera menyimpan data-data yang sempat dia periksa, mematikan laptop, kemudian bangkit dan berjalan keluar dari ruangan itu.
Valter berjalan ke arah dapur. Dimana tempat itu kini terlihat lebih tertata dan bersih, tidak ada barang-barang tidak berguna yang dia simpan, Sumi segera membersihkan tempat itu satu hari setelah mereka sampai.
Ah betapa beruntung dirinya saat ini, dapat kembali meraih kepercayaan dan cinta kekasihnya dulu. Meski dengan kesalahan yang sangat fatal sekalipun, belum lagi Ayumi dan suaminya, bahkan dia tetap memanggilnya dengan sebutan Papa, hal yang tidak pernah Valter bayangkan.
Padahal sejak dulu Valter berpikir, jika memang harus bertemu pun. Maka posisinya tidak akan se istimewa itu, mengingat betapa kejamnya yang dia lakukan dulu. Ya, walaupun Susi mempunyai andil besar, tapi Valter pun ikut merasa tidak berguna karena membiarkan seseorang menyakiti Sumi dan putrinya.
Dia terus berjalan mendekati Sumi yang mulai mengisi panci dengan air, menyimpannya di atas kompor, lalu menyalakan benda itu.
Sumi terkesiap, wanita itu terkejut ketika tiba-tiba ada sepasang tangan melingkar di perutnya.
"Aku mencintaimu, … kau tahu Laras? Aku sangat mencintaimu." Dia berbisik.
"Kamu membuat aku terkejut." Sumi memutar tubuhnya, melingkarkan tangan di bahu pria itu, sampai keduanya kembali saling menatap dengan jarak yang sangat begitu dekat.
__ADS_1
Mata Sumi bergerak-gerak. Menyelami netra pria di hadapannya dengan perasaan yang tidak bisa dia deskripsikan. Bahagia sudah jelas, namun ada rasa lain yang benar-benar entah harus bagaimana dia menyebutnya.
"Aku sudah mendengar itu sepuluh kali hari ini!" Kata Sumi dengan wajah yang terlihat memerah.
Wanita itu menahan malu.
"Kamu menghitung nya?" Valter terkekeh kencang, sampai kepalanya mendongak ke arah belakang.
"Aku mengingatnya, … tidak berniat menghitung, hanya saya kamu terlalu berlebihan dalam segala hal. Cukup satu kali kamu mengatakan itu, dan percayalah aku akan mengingatnya sampai kapanpun." Sumi tertawa.
Tangannya bergerak, meraih wajah dengan rahang yang di tumbuhi bulu-bulu halus, kemudian mengusapnya dengan lembut.
"Aku juga mencintaimu. Bahkan aku memutuskan untuk tidak menikah, aku hanya ingin menyimpan satu nama di dalam sini." Sumi meraba dada sebelah kirinya. "Hanya Valter Albert Baldomero, ayah dari Ayumi, putriku." Lanjutnya lagi, namun sekarang dengan mata berkaca-kaca.
Pria itu terdiam, menatap raut kesedihan yang masih tersisa. Memang tidak mudah melewati hari-hari sebelum mereka kembali bersama, dan itu tidak bisa langsung hilang begitu saja.
"Apa kita bisa memiliki anak lagi?" Valter berbisik.
Sumi diam untuk beberapa saat.
Trek!!
Valter mematikan kompor, ketika air di dalamnya sudah sangat mendidih.
"Kenapa dimatikan?"
Sumi berniat pergi, namun Valter menahannya.
"Valter. Nanti aku tidak bisa makan, kita masih bisa mengobrol sambil merebus pastanya terlebih dahulu."
"Tidak. Kita makan di luar saja, oke? Bukannya kamu melihat salju? Tapi kenapa kamu selalu di rumah, dan menolak saat aku ingin membawamu jalan-jalan, … termasuk mendatangi …"
"Aku belum siap kesana. Hati aku belum setegar yang kamu lihat." Sergah Sumi.
Valter mengulum senyum, kemudian menganggukan kepalanya.
"Baiklah, kembali pada bahasan awal. Apa boleh kita mempunyai satu anak lagi?"
Namun Sumi menggelengkan kepalanya. Bukan tanpa pertimbangan, namun di usianya yang sekarang, kehamilan sangatlah beresiko.
"Apa boleh? Jika kita hanya menikmati masa tua kita? Dengan anak dan cucu kita?"
"Kau benar. Ada banyak kebersamaan yang hilang, jadi sebaiknya kita menikmati itu sekarang. Saling melengkapi satu sama lain!" Valter ikut membingkai wajah istrinya.
Sumi mengangguk, lalu dia memeluk Valter, sampai wajahnya menempel di dada bidang suaminya. Hal yang sama Valter lakukan, dia membalas pelukan Sumi dengan sangat erat.
"Baiklah. Ayo ganti pakaianmu kita jalan-jalan sekitar sini saja, mencari makanan yang cocok untuk di santap saat cuaca dingin seperti ini."
Sumi menarik dirinya sampai pelukan itu terlepas.
"Baiklah."
"Jangan lupa pakai mantelnya. Di luar -7°c." Valter memperingati.
"Iya." Dia mengangguk.
Sumi beranjak memasuki kamarnya, yang terletak tidak terlalu jauh dari tempat Valter berdiri saat ini. Karena memang hunian yang Valter sediakan untuk mereka sangat minimalis, namun tentu saja sangat nyaman, karena semua tertata dengan begitu rapi.
"Valter? Apa kamu tidak akan menggunakan mantel?" Tanya Sumi, suaranya terdengar sedikit berteriak.
Valter tidak menjawab, dia hanya langsung berjalan mendekati pintu kamarnya yang saat ini terbuka.
Klek!!
"Lho! Kok di tutup?" Suara Sumi terdengar memekik di dalam sana.
"Aku kira sebaiknya kita melakukan hal yang lebih panas dulu, sebelum kita keluar." Valter berujar.
Dan setelah itu teriakan Sumi terdengar. Diselingi sebuah cekikikan kencang keduanya.
***
Ayumi keluar setelah membasuh dan menggosok giginya terlebih dahulu. Meraih ponsel yang terletak di atas nakas, kemudian keluar kamar, ketika jam sudah menunjukan pukul enam pagi.
Suara-suara aktivitas sudah terdengar.
Ada dua ibu-ibu yang sibuk berjibaku dengan bahan-bahan masakan dan perkakas dapur. Suara gesekan sapu lidi saat Ali menyapukan dedaunan kering di taman belakang rumah, belum lagi suara vakum cleaner yang menyala saat Dini tengah membersihkan karpet Ruang tamu.
Sementara suaminya entah ada dimana. Pagi-pagi sekali dia sudah menghilang, bahkan Ayumi tak dapat menemukan pria itu di ruangan Gym sekalipun.
__ADS_1
"Ibu? Lihat Abang?" Perempuan itu tak bisa untuk tidak bertanya.
Memang keadaannya sudah sangat membaik, dia tak lagi merasa pusing, mual, dan muntah ketika bangun dan tidak mendapatkan Randy di sekitarnya, hanya saja ketidak beradaan pria itu membuat pagi Ayumi terasa sangat kosong.
Dua wanita itu menoleh bersamaan.
"Tadi jam lima keluar. Memakai Hoodie dan sepatu lari, apa belum kembali? Ibu kira sudah balik lagi." Maria menjawab.
Ayumi menghela nafasnya, dia tidak menjawab lagi, kemudian mendudukan dirinya di sofa ruangan tengah, dan menyalakan televisi.
Tidak lama setelah itu suara bariton terdengar menyapa Dini. Dan tanpa menatap wajahnya terlebih dahulu, Ayumi sudah yakin jika yang datang itu adalah suaminya.
Pria itu berjalan mendekati ruangan tengah. Menenteng sebuah kantong kresek berwarna hitam, lalu meletakkannya di atas meja kompor dapur bersih.
"Kamu bawa apa?" Ayumi langsung mendekat.
"Buah mangga." Jawab Randy, kemudian dia menarik lepas Hoodienya yang basah, menyisakan kaos tanpa lengan dengan keadaan yang sama.
Ayumi meraih bungkusan itu, lalu membukanya dan membawa salah satu dari beberapa buah keluar. Perempuan itu terlihat bingung, saat merasakan buah mangga yang Randy maksud masih terasa sangat keras.
"Mangga muda?" Tanya Ayumi.
Randy tersenyum, dan menganggukan kepala.
"Kamu bawain buat siapa? Perasaan aku nggak minta deh!"
"Tidak untuk siapa-siapa, aku yang minta sendiri. Kayaknya enak dimakan pake cocolan garam." Kata Randy.
Pria itu tersenyum lebar, sampai deretan giginya terlihat, namun membuat Ayumi semakin bingung, karena tidak biasanya pria itu mau memakan sesuatu dengan rasa yang masam.
"Aku mandi dulu, yah! Tolong di kupas, masukin tempat terus simpan di chiller. Nanti siang seperti biasa antar ke kantor." Pinta Randy sembari melangkahkan kaki menjauh dari istrinya.
Ayumi diam. Dia tidak menjawab apapun perkataan suaminya, sampai membuat Tutih segera mendekat.
"Kenapa, Ay?" Tutih langsung bertanya.
"Ini."
Ayumi menggeser kantong plastik berwarna hitam itu, memperlihatkan beberapa buah mangga muda yang Randy bawa entah dari mana.
"Mangga muda?" Dua wanita berbeda usia itu saling memandang dengan ekspresi tak menyangka.
"Iya. Abang minta aku potong-potong, di masukin ke tempat, lalu di simpan di chiller dan aku harus mengantarnya nanti siang, ke kantor seperti biasa." Jelas Ayumi.
Tutih tersenyum.
"Kok Ibu senyum-senyum? Aku malah lagi bingung, ini sebenarnya yang hamil siapa yah?" Ayumi mengetuk pipinya.
"Mungkin sekarang masanya Randy yang mengidam. Menginginkan beberapa makanan tertentu, sama halnya seperti kamu yang suka makan buah markisa yang langsung dipetik langsung di belakang rumah Mamamu." Tutih berujar lagi.
Namun, raut wajah segera berubah ketika mendengar itu.
"Ibu salah ngomong yah!?" Wanita itu terlihat sedikit was-was.
"Nggak. Aku cuma kangen Mama doang! Sekarang Mama jarang hubungi aku, hanya di jam-jam tertentu saja. Beda enam jam cukup berat. Disini sudah siang, disana masih pagi, disini sore, di sana siang, disini tengah malam, disana sore." Kata Ayumi, dia menjelaskan keadaannya.
Tutih mengusap punggung Ayumi.
"Doakan saja yang terbaik. Setidaknya ada Papamu yang menjaga dia sekarang, dari pada dia tinggal sendirian di rumahnya, mana susah tetangga, bagaimana kalau hal buruk terjadi?"
"Cuma beberapa bulan, Bu! Bahkan Ayumi belum puas bersama Mama. Tapi Mama malah milih ikut Papa, kenapa nggak Papa saja yang ikut Mama disini?" Ayumi merengek.
"Dengar!" Tutih meraih kedua bahu putrinya, sampai mereka saling berhadapan.
"Ada beberapa hal yang tidak bisa diganggu gugat. Kalau masalah izin tinggal Ibu yakin Pak Valter bisa mengurusnya. Tapi masalah pekerjaan? Atau usaha yang dia geluti? Itu tidak bisa sayang, jadi kalau ada waktu atau rejeki, mereka pasti datang, atau kamu yang minta Randy untuk liburan kesana." Jelas Tutih, dia berusaha meredam kesedihan Ayumi, yang sesekali kambuh hanya karena mengingat Sumi.
"Begitu yah!?"
Tutih mengangguk.
"Jangan sedih, nanti adik bayi protes!" Dia menatap ke arah perut Ayumi yang sudah menyembulkan bulatan kecil.
"Ini juga lagi protes." Kata Ayumi seraya mengusap perutnya yang sedari tadi terasa bergetar-getar.
"Ya sudah, ayo duduk. Ibu buatkan susu jahe yah."
Tutih menggiring Ayumi agar kembali duduk di sofa. Sementara dirinya kembali ke arah dapur kotor yang ada di bagian paling belakang rumah itu.
"Terkadang kamu masih membuat Mommy kaget, Nak. Geraknya suka tiba-tiba." Bisik Ayumi, dengan kedua tangan yang mengusap permukaan perutnya.
__ADS_1