
Dikisahkan dari seorang perempuan muda berusia 19 tahun bernama Laras. Kelihaiannya berbahasa Inggris, membuat gadis itu menjadi seorang tour guide di daerah setempat, untuk turis-turis dari berbagai macam negara, meraup rupiah lebih untuk membantu perekonomian keluarga yang kini sedang merosot habis-habisan.
Laras tidak pernah memikirkan hal lain. Dia hanya ingin bekerja dengan baik, dan mendapatkan upah sebagaimana mestinya.
Hingga sampailah pada waktu dia dipertemukan dengan seorang turis berkebangsaan Jerman, bernama Alex. Awalnya biasa-biasa saja, kedekatan mereka hanya sebatas turis dengan tour guide nya. Namun seiring berjalannya waktu, keduanya memiliki ketertarikan satu sama lain.
Mereka sama-sama sadar akan hal itu, tapi tidak ada yang mau menyampaikan akan rasa itu.
Sifat Laras yang selalu lemah lembut dalam bertutur kata, menjadi daya tarik tersendiri bagi pria asing tersebut. Begitupun sebaliknya, Laras mengagumi Alex karena memiliki rasa simpati yang begitu besar, disamping wajah pria itu yang memang benar-benar terlihat tampan.
Mata berwarna biru, rambut coklat mengkilat, hidung yang mancung, dan rahang yang tegas.
Hubungan mereka pun terjalin semakin baik. Begitupun hubungan Alex dengan keluarga Laras, mereka benar-benar akrab bak seseorang kepada keluarganya.
Sekitar tiga Minggu Alex berlibur di Indonesia, mendatangi berbagai macam tempat dan destinasi wisata yang Laras sarankan, termasuk kuliner khas setiap daera masing-masing.
"Laras, saya harus pulang sekarang. Terimakasih untuk semuanya."
Pria itu berbicara dalam bahasa Inggris.
Laras tersenyum, dia mengangguk, menemani pengguna jasanya yang saat ini hendak melakukan perjalanan menuju Bandara.
"Terimakasih sudah berkunjung, semoga kamu tidak kapok menghabiskan liburannya disini." Laras menjawab.
"Kau adalah pemandu terbaik yang pernah aku temui." Alex memujinya.
Laras tersenyum.
"Baiklah, aku pergi. Suatu saat aku kembali, tunggu aku yah!"
"Baiklah, kami akan menunggu sampai nanti kamu datang lagi. Aku ada di rumah seperti biasa." Laras melontarkan candaan, lalu tertawa.
Pria itu pun masuk kedalam mobil yang memang sengaja dia panggil untuk menjemputnya. Meninggalkan Laras tanpa sebuah kata cinta atau apapun, meski sudah sangat jelas mereka mempunyai cinta untuk satu sama lain.
***
"Non?" Sumi datang membawa nampan dengan mangkuk diatasnya.
Ayumi menoleh, lalu dia menutup buku tersebut, dan meletakkannya di atas meja.
"Mau tambah nasi?" Sumi menawarkan.
Ayumi tertawa mendengar itu, dan tanpa Ayumi sadari dia menepuk lengan Sumi pelan, membuat wanita itu juga ikut tertawa.
"Bibi tahu aja, … boleh deh sedikit tapi yah!" Kata Ayumi.
"Banyak juga boleh, nasinya masih banyak."
Ayumi menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Sedikit aja."
Sumi segera beranjak pergi, berjalan ke arah dapur bersih, dimana setiap peralatan terletak di sana, termasuk Rice cooker, dispenser, dan mesin pembuat kopi.
Ayumi meraih mangkuknya, mencium aroma nikmat yang sangat-sangat menggugah selera. Seblak kwetiau, dan kerupuk, dengan kuah berwarna kuning kemerahan, di lengkapi suwiran ayam, juga udang dan potongan cumi-cumi.
Pertama Ayumi mengaduknya, membawa sedikit kuah ke dalam sendok, lalu menyeruputnya dengan sangat perlahan.
"Whoa, enak bener!' Ayumi menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dia takjub dengan rasa yang begitu luar biasa. Gurih, pedas, juga aroma kencur yang begitu kuat. Dan dia menyukainya.
"Gimana? Bibi sudah cocok jualan seblak?" Sumi meletakan piring berisikan nasi.
Sementara Ayumi meletakan mangkuknya dengan cepat, lalu meraih tissue.
"Uhuk, … uhuk, … uhuk …"
Sumi langsung berlari, membuka lemari pendingin, dan membawa satu botol air mineral.
"Hati-hati!" Sumi membuka tutup botolnya, menepuk-nepuk tengguk Ayumi seraya memberikan air minum, yang segera di raihnya.
"Pelan-pelan, jangan terlalu terburu-buru!" Dia mengusap-usap punggung Ayumi.
Raut wajahnya terlihat khawatir.
"Mau susu?"
"Tidak usah, … Bibi buat seblaknya satu porsi saja?"
"Masih ada di belakang." Sumi menjawab.
"Ambilah, kita makan bersama-sama. Sambil nonton Drama The world of married, biar makin pedes." Katanya yang langsung dijawab anggukan oleh Sumi.
Dua perempuan berbeda usia itu duduk, memangku satu porsi seblak di tangan masing-masing, dengan mata yang terus tertuju pada televisi di hadapannya.
"Jahat yah! Sudah jelas prianya memiliki istri, tapi masih saja di sosor." Sumi mulai terbawa suasana.
Ayumi hanya tersenyum.
"Mana istrinya sudah mulai curiga lagi, … padahal apalagi? Karir bagus, istrinya Dokter, anaknya udah besar. Kenapa masih selingkuh coba." Sumi bersungut-sungut.
Kali ini Ayumi tertawa kencang, merasa lucu dengan reaksi wanita di sampingnya.
"Bi? Aku boleh tanya?"
"Boleh."
"Bibi tidak pernah menikah? Apa alasannya apa? Apa sama seperti anak-anak jaman sekarang? Mereka takut menikah karena banyak perselingkuhan para artis yang mulai terkuak?"
__ADS_1
Sumi menoleh, lalu tersenyum.
"Dih, malah senyum."
"Ya begitulah."
"Jadi tinggal di rumah sendirian dong? Sebelum kesini?"
"Iya, sama siapa lagi? Tidak ada yang tersisa selain …" Sumi menghentikan ucapannya, setelah dia tersadar dan hampir membuka semuanya.
Ayumi menatapnya, dia terlihat menunggu.
"Selain apa?"
"Novelnya sudah dibaca semua? Kalau sudah Bibi mau ambil dan simpan lagi!"
"Oh, … belum! Aku pinjamlah sampai selesai. Nanti aku kembalikan."
"Dijaga baik-baik yah! Bibi cuma punya buku ini, teman disaat semuanya per …"
Kening Ayumi berkerut, menunggu Sumi meneruskan ucapannya. Dan tanpa menaruh curiga, atau menangkap gelagat aneh, Ayumi hanya menatap dalam diam.
Jangan terbawa suasana, jangan katakan apa yang tidak harus dikatakan. Sekarang Dunianya sudah berbeda, tetap bertahan seperti ini, atau aku akan kembali berjauhan dengannya, setidaknya kau bisa bahagia dia hidup dan tumbuh dengan sangat baik.
Batin Sumi bermonolog.
Ada rasa sakit, sedih juga kecewa kepada dirinya sendiri, saat tidak mampu mengembalikan hal yang pernah hilang pada tempatnya semula.
"Bibi kok ngelamun?" Ayumi melambai-lambaikan tangan.
Bukan ke arah kamera atau sedang mau menyerah, melainkan berusaha menyadarkan Sumi dari lamunannya.
"Bi? Bibi sedih yah?!" Ucapnya lagi saat menatap mata Sumi yang mulai berkaca-kaca.
Ayumi meletakan mangkuknya, lalu meraih mangkuk yang Sumi pegang, dia letakan di atas meja yang sama, dan memeluk tubuh wanita itu erat.
"Bibi kesepian yah? It's okay, ada aku. Jika mau anggap saja aku anak Bibi mulai dari sekarang. Bibi tahu? Aku terlahir cacat, … bukan cacat secara fisik, melainkan silsilah keluarga. Aku di buang, dibesarkan oleh Bapak dan Ibu angkat yang sangat luar biasa menyayangi aku, … dan setelah itu aku menyadari ada banyak orang tua yang menyayangi aku seperti anaknya sendiri, … jika Bibi mau, maka anggaplah aku ini anak Bibi."
Degg!!
Hatinya terasa diremas, hingga menimbulkan rasa sesak juga sakit dalam waktu yang bersamaan. Namun rasa yang lebih mendominasi saat ini adalah sebuah rasa penyesalan yang begitu besar.
Namun ada rasa lain di dalam dirinya. Sebuah kehangatan, seperti obat penawar rindu, dan hal itu pula yang Ayumi rasakan, membuat perempuan muda itu terdiam, berpikir untuk mencari sebuah jawaban, perasaan apa yang dia rasakan saat ini.
"It's okay, dunia memang tidak bisa sebaik apa yang kita harapkan. Kadang semuanya memiliki makna dan arti kehidupan, … mungkin jika aku dibesarkan kedua orang tuaku, aku tidak akan bertemu sama Abang, suamiku yang sangat mencintai aku sekarang. Bibi tahu? Aku kehilangan cinta dari kedua orang tua kandungku, tapi aku mendapatkan cinta-cinta yang lain, bahkan lebih besar." Ayumi terus mengusap-usap punggung Sumi, memeluknya erat sampai wanita itu menangis di dalam pelukannya.
......................
Eh bestot! kasi lah othor rengginang kaleng kongguan ini vote, atau hadiah biar bisa Ayumi buming kek orang-orang 😌
__ADS_1