My Lovely Office Girl

My Lovely Office Girl
Eps 166 (Mama dan Papa)


__ADS_3

"Dia Papa nya Ayumi. Dan baru bertemu sekarang setelah cukup lama, … sangat lama." Ucap Sumi kepada Dini yang duduk bersama di sofa teras belakang rumah.


Wanita di sampingnya hanya menganggukkan kepala. Sementara pandangan Sumi terus tertuju ke arah kursi kayu di tengah taman, dimana seorang ayah dan anak tengah asik bercengkrama, dan tentu saja dia tidak mau mengganggu kebersamaan keduanya yang sempat hilang.


Valter terlihat bercerita, dan Ayumi membalas dengan kekehan pelan. Bahkan tak jarang dia memukul lengan ayahnya ketika merasa apa yang Valter ceritakan benar-benar menggelitik perutnya.


"Awalnya saya kaget. Kok Ibu bisa datang sama Bule yang mirip banget sama Non Ayumi." Dini akhirnya membuka suara.


"Ya, sekeras apapun aku menolak ayahnya. Dan berusaha menjauhkan mereka agar tidak saling mengetahui, tapi dunia bahkan berpihak kepada pria itu. Dia tidak tahu bagaimana sulitnya aku mengandung, menghadapi segala hinaan orang-orang, tapi ketika lahir dia mendapatkan apa yang harus dia dapatkan. Ayumi persis seperti ayahnya, saya memang tidak melihat langsung, namun foto-foto nya selalu Pak Al kirimkan membuat saya mengetahui bagaimana perkembangan Ayumi di setiap bulannya." Jelas Sumi.


"Tapi semuanya sudah kembali pada tempat yang seharusnya, Bu. Tuhan itu tidak pernah tidur, dan dia sangat adil. Apa yang harus Bu Sumi dapatkan, maka akan Ibu dapatkan, hanya saja balik lagi … ini hanya masalah waktu."


"Ah kamu benar sekali."


Sumi menoleh, kemudian tersenyum kepada Asisten rumah kedua anaknya.


***


Sore hari pun tiba. Tepat jam lima sore Randy memarkirkan mobilnya di garasi, yang kemudian segera berlari memasuki rumah dengan perasaan sedikit tidak sabar.


Orang pertama yang dia lihat adalah Sumi. Wanita itu terlihat sedang menyiapkan berbagai macam hidangan makan malam.


Wanita itu menoleh ke arah Randy berjalan, kemudian tersenyum.


"Pulang lebih awal?"


"Bisa dibilang begitu, karena kalau ada banyak pekerjaan kemungkinan aku harus pulang lewat jam sembilan malam, … tapi aku lega ada Mama dan Om Valter disini, Ayumi tidak akan merasa bosan. Karena ada teman berbincang-bincang bukan?"


"Ya, setelah pulang medical check up tadi, terus kamu kembali berangkat ke kantor, mereka terus mengobrol di taman belakang." Jelas Sumi.


Pandangan Randy mengedar, menatap sekitar ketika suasana cukup hening.


"Papa nya Ayumi ada di taman belakang. Sedang menikmati teh hangatnya, sementara Ayumi sepertinya tertidur."


"Tidur?" Pria itu meracau.


Sumi mengangguk.


"Satu jam yang lalu dia masuk kamar, dan tidak kembali lagi. Mama yakin dia pasti tidur."


"Emmm, … kalau begitu Randy ke kamar dulu. Mau mandi!" Pamit Randy kepada ibu mertuanya.


Dia langsung pergi setelah mendapatkan anggukan dari Sumi. Berjalan mendekati pintu kamar yang tertutup rapat.


Klek!


Randy masuk, suasana kamar begitu temaram. Langit sudah mulai redup, sementara lampu di kamar sana belum menyala sama sekali.


"Ay kamu tidur?" Tanya Randy seraya menekan saklar lampu.

__ADS_1


Matanya tertuju kepada istrinya yang berbaring di bawah gulungan selimut. Randy mendekat, dan benar saja Ayumi sedang terlelap dengan begitu tenang.


Seulas senyum di bibir pria itu tersungging. Dia beringsut lebih mendekat, membungkuk, lalu mendaratkan ciuman di kening istrinya.


"Hey sayang, aku pulang. Tapi aku mau mandi dulu ya." Katanya dan segera menghambur ke dalam kamar mandi.


Randy membuka kancing kemejanya satu persatu, lalu dia melemparkan ke dalam keranjang khusus baju kotor, begitupun dia lakukan pada pakaian-pakaian lainnya, sampai kini pria itu benar-benar polos tanpa sehelai benangpun.


Kakinya melangkah mendekati shower, membuka kran, sampai mengucurkan air hangat mengalir hampir ke seluruh tubuhnya. Randy mulai bergeser, membubuhkan shampoo juga sabun.


Cukup lama Randy melakukan ritual mandinya, membersihkan diri dari keringat sisa seharian dia bekerja. Walaupun dia tak benar-benar berkeringat, tetap saja Randy harus menjaga kebersihannya.


Pria itu kembali setelah selesai, berjalan mendekati lemari, dan memilih beberapa pakaian untuk dia kenakan.


"Abang?" Ayumi memanggil dengan suara pelan juga parau khas bangun tidur.


Randy menoleh ke arah Ayumi yang tampak masih berbaring di bawah gulungan selimut tebal.


Mungkin dia mengigau.


"Daddy?"


"Ya, tunggu sebentar aku pakai kaosnya dulu." Akhirnya Randy menjawab setelah mendengar panggilan Ayumi untuk kedua kalinya.


Ayumi tak bersuara lagi. Dia bahkan kembali memejamkan mata saat Randy mendekat dan mulai naik ke atas tempat tidur, membuat pria itu tersenyum dan merasa gemas.


Randy merebahkan tepat di samping Ayumi, mengulurkan tangan sampai benar-benar berada di atas perut Ayumi yang mulai terasa membulat.


"Bagaimana dia? Apa membuat kamu pusing, mual, dan muntah?"


Ayumi menggelengkan kepalanya, dia merangsek lebih mendekat, memeluk Randy dan membenamkan wajah di dada bidang sana.


"Abang wangi." Ayumi berbisik.


"Tentu saja, baru selesai mandi, Ay!" Randy terkekeh.


Satu tangannya terangkat, menyentuh rambut Ayumi, dan bermain-main disana.


"Sepertinya hari ini kamu senang sekali."


Ayumi mengangguk.


"Papa bercerita banyak hal, salah satunya waktu muda dan bertemu dengan Mama."


Randy diam mendengarkan, dengan tangan yang terus mengusap-usap kepala Ayumi.


"Abang?"


Perempuan itu mengangkat pandangannya, menatap Randy yang mulai menundukan kepala.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Soal Mama dan Papa, …."


"Kenapa dengan mereka? Jangan bilang kamu mau ikut Papa mu ke Jerman."


Ayumi tersenyum, dan itu membuat Randy sedikit panik.


"Tidak mungkin kau akan meninggalkan aku sejauh itu."


"Kamu ini ada-ada saja. Ya memang tidak mungkin kalau itu, … aku ingin meminta bantuan kamu kalau bisa, tapi kalau tidak ya tidak apa-apa juga."


Kening Randy menjengit, menatap Ayumi dengan ekspresi bingung.


"Papa masih sayang sama Mama. Tapi Mama nya berusaha terus menjauh, … sepertinya aku butuh bantuanmu agar mereka kembali bersatu."


Namun ucapan itu jelas membuat Randy langsung menggelengkan kepala. Dia memang bisa melakukan apa saja, tapi tidak bisa jika harus memaksakan perasaan seseorang.


"Yah, kamu nggak mau yah! Padahal Papa kasian banget, tadi dia sedih soal Mama karena sekarang semakin susah di gapai. Sikap Mama sudah baik, kata-katanya tidak seketus dulu, tapi katanya selalu menolak tawaran Papa."


"Soal itu aku tidak bisa melakukan apapun, Ay! Perasaan tidak bisa dipaksakan. Mungkin ada alasan kenapa Mamamu tidak mau menjalin hubungan lagi, jadi biarkan saja kita tidak usah ikut campur."


"Begitu yah!?"


Randy mengulum senyum, mengusap pipi Ayumi, lalu mendekatkan wajah dan mencium bibirnya dengan sangat lembut.


"Cinta tidak bisa dipaksakan, sayangku. Sama hal nya kita dulu, aku menyukaimu, tapi saat kau menghindar aku bisa apa? Aku tidak mau memaksa, … aku biarkan kamu pergi dan memilih pria yang kamu inginkan, sampai tidak aku sangka-sangka kamu kembali mendekat, dan inilah kita sekarang, bahkan versi kecil dari kita akan segera lahir."


Ayumi menarik ingatannya jauh ke belakang. Dimana Randy mencoba mendekatinya, dan dia menolak dengan segera karena memang merasa tidak pantas. Namun apa yang terjadi setelahnya justru dia tidak bisa melihat Randy mulai mendekati wanita lain, sampai dia memutuskan untuk mendekat dan membawa cinta yang sempat Randy tawarkan.


"Oh iya, besok kita lihat Bayi nya Junior. Baru saja aku mendapatkan kabar jika istrinya sudah melahirkan."


"Benarkah?" Wajah Ayumi berbinar.


"Baby nya cewek apa cowok?"


"Sayangnya Junior tidak memberi tahu, dia meminta kita untuk datang dan melihat jawabannya secara langsung." Randy berujar.


Ayumi melepaskan pelukannya, lalu mengubah posisi berbaring menjadi duduk.


"Aih pasti lucu sekali!"


"Hemmm, … kita juga akan punya sebentar lagi. Tapi sebelum itu kita mempunyai banyak pe'er untuk membuat berat badan Baby Tomato naik."


Randy turun, meneraik tangan Ayumi sampai perempuan itu ikut turun dari atas ranjang tidur.


"Ayo kita makan. Mama sudah selesai masak, menatanya di meja makan, … dan aku sudah sangat lapar."


Randy menggiring Ayumi ke arah pintu, berjalan keluar dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2