
Raut wajah Ayumi tampak begitu sendu. Ketika menatap Sumi juga Valter memasukan barang-barang bawaannya ke dalam bagasi mobil yang sedang di panaskan.
"Ini bahkan baru pukul enam!" Kata Ayumi yang mencoba menahan ayah dan ibunya untuk pergi. "Masih pagi sekali, tidak bisakah menunggu sampai sore nanti? Bukannya mau nengokin Bayi Abang Nior?" Suara Ayumi bergetar, dan terdengar lirih.
Sumi segera mendekat. Kemudian memeluk Ayumi dengan sangat erat, di susul Valter setelahnya ketika sudah kembali menutup bagasi mobil yang dia sewa sewaktu dirinya masih berada di Indonesia.
Mereka bertiga saling memeluk satu sama lain, sementara Randy hanya menatap interaksi ketiganya dalam diam dengan kedua sudut bibir yang melengkung memperlihatkan senyum tipis. Pria itu terharu dengan keluarga yang sempat dipisahkan oleh waktu, namun tak mampu merubah apapun, bahkan ketiganya terlihat lebih akrab dan melengkapi satu sama lain.
"Kapan-kapan mintalah kepada suamimu untuk pergi ke Jerman. Nanti Papa jemblput di Bandara!" Valter mencium pipi Ayumi.
Perempuan itu hanya mengangguk, seraya mengusap kedua pipinya yang sudah basah. Valter melihat ke arah Randy, pria yang berdiri di ambang pintu.
Keduanya saling berbalas senyum satu sama lain.
"Terimakasih karena sudah berkenan menampung saya, orang asing yang baru saja datang kesini, namun sudah mendapat sambutan hangat dari kalian." Dia berujar penuh haru.
Valter melepaskan pelukan di tubuh putrinya, kemudian berjalan mendekati Randy, dan melakukan hal yang sama seperti dia hendak berpamitan kepada Ayumi.
"Pintu rumah ini terbuka lebar untuk setiap keluarga yang datang." Kata Randy sambil menepuk-nepuk punggung ayah kandung istrinya.
"Saya titip Ayumi. Tolong cintai dia, karena saya tidak bisa memberikan cinta itu lagi, semuanya sudah terlambat. Dan sekarang semuanya sudah beralih kepada dirimu. Jangan sakiti Ayumi, jika suatu saat nanti kamu sudah tidak mau dengannya, … jangan pernah sakiti dia, maka kembalikan Ayumi kepada saya, Mamanya, atau orang tua yang membesarkan Ayumi." Pria paruh baya itu berpesan.
Valter berbisik. Dadanya tiba-tiba terasa sesak, tenggorokannya kering ketika harus mengatakan kata-kata yang terasa begitu menyakitkan.
Tentu saja dia takut apa yang terjadi kepada Sumi dulu akan terjadi kepada Ayumi sekarang, karena dia tahu pasti jika tuhan itu memang benar-benar adil, hanya saja dia berharap hal itu tidak akan pernah Ayumi rasakan.
"Saya akan menjaga Ayumi dengan sangat baik. Om tenang saja!" Randy mengurai pelukan keduanya perlahan, lalu terlepas begitu saja.
Setelah itu Randy mendekati Sumi yang terus memeluk Ayumi.
"Sayang, Mama dan Papamu harus segera berangkat." Randy menyentuh tangan istrinya.
"Nanti Mama kesini lagi, atau kalau kamu kesepian bisa minta Bapak dan Ibumu datang untuk sementara sebelum Mama kembali." Sumi meningkat wajah Ayumi.
Wajah perempuan muda yang begitu cantik, namun kini tampak memerah di bagian mata juga hidung.
"Aku aneh ya? Kalo Bapak dan Ibu pulang kayaknya biasa aja. Hati aku bilang sejauh apapun mereka pergi bakalan balik lagi ke aku. Tapi kalo Mama yang pamitan, rasanya nggak rela! Aku takut, … tapi nggak tau takut kenapa." Ayumi menoleh ke arah suaminya.
Maju beberapa langkah dan beralih memeluk Randy, untuk kembali menangis di dalam pelukan suaminya.
Valter, Sumi dan Randy saling menatap untuk beberapa saat. Tiba-tiba keadaan menjadi hening, karena apa yang Ayumi ucapkan sepertinya salah satu gejala mentalnya yang sedang tidak baik-baik saja, sampai dia memikirkan sesuatu dengan sangat berlebihan.
"Mama tidak akan kemana-mana. Hanya pulang ke rumah." Sumi mengusap punggung Ayumi.
"Kenapa Papa juga pulang? Kenapa nggak lama aja disini? Nggak kangen apa sama aku? Kan baru ketemu setelah waktu yang sangat lama." Rancau Ayumi di sela tangisan yang semakin tersedu-sedu.
Randy tersenyum kepada Valter juga Sumi. Dua orang yang terlihat sedang berada di persimpangan sebuah perasaan. Mungkin saja mereka sedang berpikir untuk jadi pulang hari ini atau tidak.
"Mungkin ini karena hormon. Jadi Ayumi lebih sensitif!" Jelas Randy, dia berusaha membuat kedua orang itu tenang.
Sumi mengulum bibirnya, kemudian menoleh ke arah Valter.
"Kalau begitu aku saja yang pulang. Kamu tetap disini!" Kata Valter kepada Sumi.
"Kau tidak dengar? Dia juga menginginkan Papa nya!" Ucap Sumi sedikit menggerutu.
"Sayangnya tidak bisa. Papa ada banyak sekali pekerjaan yang ditunda." Valter mengusap rambut Ayumi dengan sangat lembut
Perempuan yang saat ini terus membenamkan wajah di dada suaminya sambil menangis.
"Mama juga tidak bisa. Hari ini rencananya mau ke rumah Kakek dan Nenek kamu, mau mencari sesuatu, ada barang Om Valter disana, dan mau diambil dan dibawa pulang ke Jerman." Sumi berusaha menjelaskan, meski jauh di dalam lubuk hatinya dia memang ingin terus bersama Ayumi, juga pria yang selalu mengisi relung hatinya.
"Tidak apa-apa, nanti juga akan reda sendiri. Mama dan Om Valter kalau mau berangkat sekarang, … berangkat saja, nanti Ayumi biar aku yang tangani." Randy tersenyum.
"Kami pulang ya, Ay!?" Pamit Sumi.
Namun perempuan itu tidak menjawab. Sepertinya benar-benar sedang melakukan protes agar kedua orang tuanya tidak pulang.
"Papa harus pulang dulu, ada waktu nanti kamu lahiran Papa datang lagi, … atau kapanpun kalau Papa ada waktu Papa pasti akan datang." Dia mengusap kepala Ayumi.
Namun tetap tak membuat Ayumi membuka mulut untuk berbicara.
"Kalau begitu kami pamit, … jangan marah oke?" Kata Sumi.
"Nanti juga reda sendiri, Ma. Terkadang memang seperti ini, moodnya benar-benar berubah-ubah. Kalau bahagia ya bahagia sekali, kalau sedih ya nangis terus, merajuk pula."
"Titip Ayumi yah!" Sumi berpesan, dan setelah itu mereka berdua berjalan mendekati mobil, kemudian masuk.
__ADS_1
"Sayang kamu tidak mau melambaikan tangan kepada orang tuamu?" Randy menundukan pandangan, melihat Ayumi yang terus menangis.
Dia menggelengkan kepala.
Sementara mobil yang berada di bawah kendali Valter mulai berjalan mundur, keluar dari garasi rumah, berbelok dan melesat setelah masuk kedalam jalanan komplek.
"Ah hatiku sakit melihat dia seperti itu." Valter berujar.
Sumi tidak menjawab, dia hanya terus melihat ke arah samping, menatap rumah yang dia tinggalkan dari arah pantulan kaca spion.
***
"Kamu baik-baik saja, Ay?"
Ayumi menatap layar ponselnya, kemudian mengangguk. Sementara wanita itu tampak lebih mendekatkan diri, berusaha menatap Ayumi lebih jelas lagi.
"Wajah kamu sembab, mata bengkak, hidung merah. Kenapa? Kalian bertengkar? Sekarang dimana Randy?" Tutih khawatir.
Ayumi merubah posisi berbaringnya menjadi duduk, kemudian menyandarkan punggung pada tumpukan bantal di belakangnya.
"Aku nggak berantem. Kami baik-baik saja, bahkan Abang lagi kerja, … mungkin sebentar lagi pulang."
Suaranya terdengar masih berdengung.
"Lalu kenapa? Ah kamu selalu membuat Ibu khawatir." Kata Tutih.
"Aku cuma sedih. Papa mau pulang ke Jerman! Nggak tau kenapa rasanya nggak rela aja." Jelasnya dengan suara bergetar.
Tutih diam, menatap raut sendu putrinya untuk beberapa saat.
"Mama juga disuruh tinggal disini susah banget. Dia pasti nyuruh aku hubungi Ibu. Katanya nggak enak kalau Mama terus disini."
Degg!!
Tiba-tiba saja Tutih merasa malu dan sedikit tidak enak hati.
Apa mungkin Sumi begitu karena sikapnya? Apa wanita itu tersinggung? Memang dirinya tidak berbicara, namun siapapun yang melihatnya pasti merasakan hal yang sama ketika dia bersikap kepada Sumi, hanya karena merasa cemburu dan takut jika perhatian dan cinta Ayumi benar-benar hanya tertuju kepada Sumi, ibu kandungnya.
"Mungkin memang ada satu dan lain hal. Makanya mereka harus pulang."
"Ibu dan Bapak mau. Tapi warung sedang ramai terus akhir-akhir ini, sayang kalau harus tutup, Ay!"
Ayumi mengulum senyum, lalu menganggukan kepala.
"Kalian butuh sesuatu? Beras, minyak dan bahan-bahan lainnya bagaimana?"
"Masih ada Ay. Sekarang Amar juga selalu memberi uang bulanan untuk tambah-tambah beli lauk. Kamu tenang saja, uang yang Randy kirim malah masih ada, belum Ibu sentuh sama sekali."
"Kalau ada apa-apa bilang yah. Nanti Abang sama Ayumi bantu, terus kalau masalah Mama, aku harap Ibu juga ngerti. Aku nggak berniat membeda-bedakan kalian, hanya saja aku lebih kasihan kepada Mama karena dia hidup sebatang kara, Ibu tahu? Keluarga Mama satu-satunya yang ada di Jerman sudah meninggal juga."
Tutih mengangguk lagi, namun kali ini dengan perasaan lebih tak menentu.
"Kalau begitu Ayumi tutup yah, mau mandi dulu. Nanti Abang pulang langsung siap-siaplah mau nengokin bayinya Abang Nior."
"Ah iya Ibu dapat kabar itu semalam, … Junior sudah menjadi ayah." Tutih tersenyum.
"Hemm, … sebentar lagi cucu Ibu yang akan keluar, doakan agar selamat ya sama sehat aku sama Baby nya."
"Iya, Nak."
Sambungan telepon keduanya terputus. Ayumi meletakan benda pipih itu di atas nakas, kemudian menurunkan kedua kakinya hendak pergi ke arah kamar mandi. Namun langkahnya segera terhenti, ketika pintu kamar dibuka dan muncul lah sosok Randy.
Pria itu masuk dengan menenteng jasnya, kemudian Randy letakan di atas sandaran kursi meja rias.
Dia tersenyum, kemudian mendekati Ayumi.
"Abang pulang?"
Ayumi langsung menghambur ke dalam pelukan suaminya, menengadahkan pandangan, berjinjit kemudian mencium bibir Randy.
"Sudah makan?" Randy menyentuh Rambut Ayumi, dan menyimpanya ke arah belakang telinga.
"Sudah tadi siang. Kalau sore belum makan, cuma ngemilnya banyak sama minum susu kotak dingin." Perempuan itu tersenyum.
Randy sedikit membungkuk, meraih tubuh Ayumi dan menggendongnya, untuk dia bawa kembali ke atas tempat tidur.
Ayumi tidak banyak protes, dia hanya pasrah apalagi saat suaminya mulai mengungkung tubuhnya di bawah tubuh yang terlihat begitu kekar.
__ADS_1
"Tumben sekali tidak protes kalau ini masih sore!" Randy bergumam.
Ayumi menggigit bibirnya, menahan senyum.
"Jadi, … apa boleh Daddy bertemu?"
Tangan Randy mulai mengusap perut Ayumi, yang kini mulai terasa adanya perubahan.
"Boleh, tapi gordennya tolong di tutup dulu. Nanti ada yang lihat."
"Tidak akan. Hanya kita yang bisa melihat ke arah luar. Sementara orang di luar tidak akan bisa melihat ke arah dalam."
Jemari Randy mulai bergerak perlahan-lahan, menyentuh tulang rahang Ayumi, dan terus turun sampai tangannya dapat menelusup masuk kedalam dress rumahan yang Ayumi kenakan.
"Daddy tutup dulu!"
Pinta Ayumi lagi. Bahkan dia sampai merengek agar dapat menghentikan kegiatan suaminya terlebih dahulu.
Pria itu menghela nafas, namun tak urung menuruti permintaan Ayumi, dia turun dari atas ranjang untuk segera menutupi kaca jendela dengan gorden tebal.
Ruangan seketika gelap. Dan tentu saja menjadi lebih syahdu, bahkan suasana panas semakin menanjak tak lama setelah itu.
Randy membuka pakaiannya satu persatu, hingga dia benar-benar polos tanpa penghalang apapun. Begitu juga dia lakukan kepala Ayumi, sampai mereka sama-sama menempel tanpa busana, di dalam selimut tebal yang Randy pakai terlebih dulu, untuk menutupi keduanya.
Tangan Ayumi bergerak-gerak mengusap punggung suaminya, sementara Randy terus mencumbu sampai perempuan itu tak dapat menahan rintihannya.
Cup!
Terakhir Randy mencium bibir Ayumi.
Dia mulai memposisikan diri, membuka kedua kaki istrinya, dan mulai menekan pinggul dengan sangat perlahan-lahan.
Mata Ayumi terpejam, dengan mulut yang sedikit menganga. Saat dia merasakan sesuatu mulai memaksa masuk memenuhi inti tubuhnya.
Randy tersenyum.
Dia mulai bergerak, menarik dan menekan pinggulnya sesuai ritme.
Suara-suara indah yang sangat Randy sukai mulai terdengar, mengudara memenuhi langit-langit kamar yang gelap pada sore hari ini.
"Abanghh!!" Ayumi mengulurkan tangannya, menahan perut Randy cukup kuat sampai membuat Randy berhenti untuk beberapa saat.
Tangan Randy menyentuh tangan istrinya, mengusap terlebih dulu sebelum dia menyingkirkan, membawa ke atas kepala dan menguncinya disana.
Pria itu kembali membungkuk, meraup bibir s*ns** milik Ayumi, dan mencumbu untuk saling memangut satu sama lain.
"Ughhhhh, … pelan-pelan, … baby-nya!" Rancau Ayumi setelah cumbuat mereka terlepasnya.
"Dia baik-baik saja sayang." Suara Randy terdengar begitu berat dan seksi di waktu yang bersamaan.
Keduanya saling menatap, dengan nafas yang memburu satu sama lain, bahkan peluh keduanya mulai bercucuran.
Randy menggeram kencang, kepalanya mendongak dengan mata terpejam. Merasakan hal yang sangat luar biasa ketika dia melakukannya. Pun dengan Ayumi, perempuan itu bahkan terus berteriak, memanggil-manggil nama suaminya, di selingi ******* juga rintihan tertahan.
Hentakan terasa semakin kuat. Dan Ayumi merasa sudah tidak dapat menahan desiran-desiran di dalam tubuhnya. Sesuatu terasa mengalir dari ujung kepala, dan berkumpul di bawah telapak kaki.
Randy menggeram lagi. Saat merasakan miliknya dicengkram begitu hebat. Sekuat tenaga Randy menahan ledakan yang hampir terlepas, tapi dia benar-benar sudah tak sanggup, apalagi ketika melihat Ayumi yang sudah tak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Dia semakin mempercepat hentakannya, mendengus dan menggeram, hal yang sama Ayumi rasakan. Hingga setelah beberapa detik semuanya terlepas, di barengi dengan lenguhan panjang.
Suasana menjadi hening, menyisakan deru nafas keduanya yang masih tertinggal.
Randy memberikan ciuman di atas kening istrinya yang tampak tengah mengatur nafas dengan mata yang terpejam.
"Mau mandi sekarang?" Bisik Randy tepat di hadapan Ayumi.
Perempuan itu menggelengkan kepala. Tenaganya benar-benar terkuras, bahkan Ayumi merasakan tenggorokan nya sedikit panas.
"Baiklah aku dulu yang mandi, setelah itu nanti aku antar kamu ke kamar mandi, oke?"
"Iya." Jawabnya dengan suara parau.
"Baiklah."
Cup!!
Randy mencium bibir istrinya, menarik diri sampai perpautan keduanya terlepas, lalu turun dari atas ranjang dan menghambur ke dalam kamar mandi, meninggalkan Ayumi yang masih terbaring lemas di bawah gulungan selimut tebal.
__ADS_1